Setelah dari makan siang bersama Jody, Rai langsung berangkat menuju rumah sakit untuk memantau oma yang masih dalam perawatan intensif di dalam rumah sakit. Selain itu, bertemu ayahnya yang masih emosional satu agenda yang harus dia prioritaskan.
“Makan dulu, Yah. Jangan sampe pas oma sembuh, Ayah yang sakit.”
“Kamu juga makan. Udah makan belum?” Ayah bertanya seolah melihat Raisa sebagai seorang putri berumur sepuluh tahun.
“Udah. Sama Jody.”
Ayah langsung tertarik saat Rai berkata Jody. Ayah tentu tahu siapa Jody, anak dari sahabat dekatnya yang sekarang tinggal di Amerika. “Gimana kabar ayah si Jody? Masih di Amerika dia?” Tanya Ayah sambil membuka satu box makanan yang dibawa Raisa.
“Masih lah. Terus mau dimana lagi?”
“Masih begitu aja tuh orang.” Raisa tentu tahu maksud Ayahnya berkata demikian. Ayah Jody masih selalu merasa sedih dan kesepian sejak perceraiannya. Rasa bersalah membuat semuanya semakin bertambah parah. Tapi, meski demikian, Jody tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri dengan kejadian itu. Buktinya persahabatannya dengan Raisa yang sudah menginjak dua tahun selalu dihiasi hal yang positif. Salah satunya bagaimana Raisa mendukung Jody saat membuka kedai kopi yang sekarang sudah bercabang.
“Menyesal kan selalu di akhir. Kalo di depan namanya pengumuman.”
Plak…! Satu jitakan mendarat di kepala Raisa dengan mulus. Seperti tidak ada rintangan apa pun yang menghadang. Membuat si empunya kepala meringis sambil merasakan area mana yang harus dia kasih balsem setelah ini.
“Ayah kayaknya sumringah. Pasti oma sudah membaik ya?”
Ayah mengangguk dan membuat hati Raisa menjadi tentram. Paling tidak, masih ada kesempatan untuk hidup lebih baik lagi setelah tragedi ini. “Bagaimana kata dokter, Yah? Sudah bisa keluar dari unit intensif?”
“belum berani memutuskan, karena menunggu dokter Bima,” jawab ayahnya. “Ngomong-ngomong, kamu masih kejar itu dokter?”
“Baru juga kemarin ayah tahu. Masa hari ini udah nyerah, sih?”
“Berani amat dia nolak putri ayah?” geram Anggara. Merasa Bima terlalu pongah untuk menolak putrinya. Seharusnya Bima tahu siapa Anggara dari profesor Andi.
“Ya … ga masalah juga. Tapi aku bisa bilang hari ini ada progres baik tentang kisah kejar-kejaran ini.”
“Apa?”
“Dia nanya alasan Rai. Kenapa suka ma dia. Itu berarti dia mulai mempertimbangkan keberadaan Rai di muka bumi ini, Yah.”
Plak …!
“Kamu becanda mulu … dah mau tiga puluh loh?”
“Ga merasa tuuuuhhhhh!” jawab Rai sekenanya. Sudah kebal rasanya kapan ditanya nikah oleh semua orang yang Rai kenal. Pada dasarnya Rai tidak memilih, tapi memang belum ada lelaki yang datang mendekatinya dengan serius. Lalu, semuanya berlagak amnesia dengan tidak mempertimbangkan siapa Rai di dunia bisnis Anggara. Bagaimana mau mendapatkan lelaki jika belum apa-apa sudah melihat Anggara.
“Kayaknya si Jody juga oke, kamu ga suka?”
“Suka. Tapi nanti setelah Bima menolak Rai secara terang benderang,” jawab Rai santai. Di dalam hatinya Rai yakin, Bima tidak akan menjauhinya lagi. Apalagi jika Bima tahu apa yang dia sembunyikan selama ini dari raisa sudah terbongkar.
Anggara tidak akan lagi bertanya lebih jauh karena pada dasarnya, dia sudah mempercayai anaknya tidak membuat keputusan salah untuk dirinya sendiri. Raisa sudah tahu apa yang diinginkannya dalam hidup. Membuat Anggara bangga karena hasil didikannya dan Alicia berhasil. Rai tumbuh menjadi gadis yang memiliki kepercayaan tinggi dan menyenangkan. Selain pintar dalam hal akademis dia juga pintar bersosialisasi. Cantik sudah barang tentu, karena Anggara tampan dan Alicia juga cantik.
Raisa meminta pamit untuk pulang duluan karena merasa sudah sangat lelah. Lagipula dia janji pada Bima untuk mengantarkan makan malam. Entahlah, banyak yang Rai ingin tuju dengan Bima. Bukan hanya ciuman atau dekapan hangat, tapi lebih dari itu. Dia ingin sebuah komunikasi yang baik terbangun, karena dengan itu pun Rai bisa memberi keputusan untuk dirinya sendiri, apakah Bima memang masih pantas untuk dia jadikan satu-satunya lelaki dalam hidupnya.
Dres floral warna hitam menjadi pilihan Rai, rambut panjangnya sengaja dia ikat sedikit ke atas untuk memperlihatkan leher putih dan jenjang miliknya. Mata sipitnya cukup diberi warna coral, untuk mempertegas kelopak matanya yang berlipat. Sepatu sneaker putih jadi pilihan dikala Raisa memang malas untuk bersikap girly di mata Bima. Dia suka menjadi dirinya yang santai tapi tidak lupa di mana dia berada.
Menyetir Audy hitam kebanggannya menjadi cara Rai dalam menghargai dirinya sendiri. Hasil jerih payahnya sebagai pekerja di kantor sang ayah tidak membuatnya minder. Ya, Raisa bekerja sebagai marketing manager di tempat ayahnya bekerja. Bukan langsung menjadi direktur seperti yang lain. Rai mendapat posisi itu setelah 3 tahun menduduki sebagai staff operasional marketing.
Perjalanannya menjadi anak sang pemilik perusahaan tidak akan merubah keadaan. Anggara tidak pernah ikut campur tentang apa pun masalah yang Raisa hadapi di perusahaan. Sesekali mengikuti meeting dengan sang ayah sebagai putri Anggara Ariesatya lah yang membuatnya mengerti begitu sulitnya membangun dan mempertahankan perusahaan dan merasa masalah yang dia hadapi begitu kecil dibanding masalah sang ayah.
Raisa sampai di sebuah rumah yang bergaya minimalis di bilangan Jakarta Selatan. Suasana hijau dan kuning masih terlihat di sore hari ini. Raisa sengaja datang sebelum malam tiba karena ingin menikmati kebun ini. Dia juga sudah mempersiapkan bahwa suasana rumah ini berubahsejak lima tahun lalu dia jambangi.
Dulu, Raisa selalu mendatangi rumah ini hanya untuk melihat Bima di pagi hari mengambil koran. Hanya di waktu itulah dia bisa melihat Bima dengan sikap aslinya. Melihat bagaimana Bima bercengkrama dengan orang sekitar membuat Raisa suka. Lelaki yang humanis. Dia kaya tapi tidak seperti lelaki sombong yang mengandalkan kekayaan peninggalan orang tua.
“Rai …kamu datang?”
“Kenapa tidak? Aku sudah janji bawain Om makanan kan?” Raisa mengangkat satu bungkusan berwarna hijau yang Bima yakini sebagai makan malam mereka.
Suatu hal yang diluar dari kebiasaan Bima menerima tamu wanita. Tapi jika tentang Raisa semua bisa berubah, wanita ini selalu membuat dunianya jungkir balik.
“Kamu serius kesini, Rai. Aku sendiri loh?” tanya Bima setelah melihat Raisa dari atas sampai bawah. Cantik sekali dan dia ingin sekali mengatakan itu di depan Raisa. Apa dia tidak tahu begitu sulitnya bagi Bima untuk memutuskan untuk menerima Raisa masuk ke dalam rumahnya? Raisa membuat goncangan berat bagai hatinya.
“Lalu? Om ada rencana memang buat nyakitin aku?” tantang Raisa dengan santai. Wajahnya yang tanpa dosa seolah mengatakan, Bima tidak akan berani melakukan itu.
“Ya engga … tapi kan saya laki-laki normal, Rai. Dan kamu … kamu cantik begini. Oh My God!” Bima langsung menjambak rambutnya sendiri karena tak tahu harus apa.
Sedangkan Raisa masih di depan pintu dan menunggu dengan sabar si empunya rumah untuk mempersilakan dia masuk. Tapi, jikalau Bima terasa berat untuk menerima kedatangannya, dia tidak masalah jika hanya memberikan makan malam itu saja.
“Apa saya taro ini saja di depan pintu dan anggap kita masih covid. ga masalah kok, Om?” Raisa langsung meletakkan bungkusan hijau itu pelan karena Bima masih mengantukkan kepalanya di pintu.
“Aku taro di sini ya … dimakan … aku dah susah-susah loh masaknya.”
Raisa mundur perlahan dan akhirnya berbalik dengan wajah santai. Dia tidak masalah jika ditolak, karena dia akan ke sini lagi nanti sampai Bima mau menerima. Reaksi Bima yang seperti ini memang sudah menjadi hal yang sudah diprediksi sebelumnya, jadi tidak heran jika Raisa merasa biasa saja.
“Rai … tunggu!”