13. Dijodohkan

1238 Words
Betapa berat cobaan yang Tuhan berikan pada Bima. Seakan tidak berhenti menampar Bima. Sudah cukup rasanya mengetahui saat sang ayah melakukan pengkhianatan yang menyebabkan semua keharmonisan itu hilang dalam keluarganya. Belum cukup sampai disitu, ibunya meninggal karena sakit mental yang sudah lama diidap. Sedangkan Bima hanya bisa menyaksikan dalam diam dan merasa sakit hati sendiri. Lalu, muncul Raisa. Wanita cantik yang selalu menggodanya dengan tak biasa. Celotehan pernikahan dini yang seolah digaungkan Raisa membuat rasa sakit hati Bima semakin besar. Entah sejak kapan, dia menjadi pembenci wanita. Membuatnya berjanji untuk tidak mencintai wanita. Waktu berjalan dan kehadiran Raisa seperti virus. Perlahan tapi pasti gangguan itu membuatnya terbiasa. Sehari saja tidak ada gangguan dari Raisa malah membuatnya rindu. Beruntung sebentar lagi dia akan menyelesaikan masa kuliahnya dan bersiap untuk para dokter. Meninggalkan Raisa adalah keputusan terbaik yang bisa dia lakukan karena janjinya untuk tidak mencintai wanita mana pun pada sang ibu. Lebih baik dia sendiri tanpa siapa pun daripada mengkhianati kesakitan sang ibu saat dulu. Lalu, beberapa tahun berselang dan dia sudah bertambah dewasa tapi bayangan Raisa selalu membuatnya gundah. Sampai takdir mempertemukan mereka kembali dan membuat semua rencana Bima berantakan. Sekali lagi, Bima merasa dipermainkan oleh takdir. "Rai … tunggu! Bima berlari menuju wanita berambut panjang itu. Dia tidak tahu apa pun lagi. Dia hanya ingin berlari mengejar Raisa. Raisa berhenti karena mendengar panggilan Bima. Rasanya senang saat mendengar suara Bima memanggil dirinya. Mungkin Bima sudah berubah pikiran atau mungkin merasa menyesal karena mendiamkan Raisa begitu? "Aku minta ma–" "Hai … Bim!" Suara wanita lain membuat Raisa menarik badannya dan melihat wanita cantik dengan kemeja putih dan memakai kacamata dan tas mahal sedang berdiri anggun di depan Bima. "Aku tadi telepon kamu, " ujar wanita berambut pendek itu. Stylish sekali, berbeda dengan Raisa yang lebih suka berpenampilan casual dan sedikit girly. "Sovia … kapan kembali?" "Dua hari yang lalu. Bukannya kamu yang jemput aku? Ko jadi amnesia gitu?" Pernyataan Sovia membuat Raisa terbakar. Bima menolak dirinya karena wanita ini? Apa benar? Karena wanita yang memang tampak lebih cantik darinya. Bima masih diam mendengar Sovia. Dia lebih terkejut dari apa pun sekarang dan berharap menghilang aja saat ini. Bima melihat wajah Raisa yang mulai memerah. Dalam hati Bima tahu Raisa pasti cemburu. Dan dia hanya diam seperti pasfung seperti ini karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. "Aku pulang dulu ya, Om!" kata Raisa sambil tersenyum seperti biasa. Mata sipitnya semakin menghilang, tapi Bima merasa senyum itu adalah senyuman berselimut pedang. Menusuk hatinya dengan cara tak biasa. Bima hanya diam saat melihat Raisa pergi dengan mobil hitamnya. Setelah beberapa saat dia mulai sadar telah melakukan hal yang salah. "Bima. Ko bengong? Ayo, katanya mau makan malam?" ajak Sovia yang langsung menggandeng manja pada tangan berotot nan gagah itu. Dengan pelan Bima melepas tangan Sovia ke bawah sambil tersenyum kaku. "Maaf, kayaknya aku lagi ga enak badan, Sovia. Kita lain kali aja deh makan malamnya." Wajah penuh kecewa dan kesal Sovia membuat Bima tidak enak sebenarnya. Namun, kepergian Raisa penyebab utama kegelisahannya. Tidak Terima perlakuan Bima, Sovia menggenggam kembali tangan Bima dengan seduktif. "Ga mau. Pokoknya kita harus dinner. Kamu tuh selalu sibuk, ga pernah ada waktu buat aku. Kamu ga tau, kan? Aku kesepian kalo lagi di Indonesia. Ga ada temen yang aku suka selain kamu, " Kata Sovia manja. Bima begitu dikit ditaklukan. Bahkan sejak dulu, Bima konsisten menolaknya. Jengah dengan perlakuan Sovia, membuat Bima akhirnya tersenyum kesal lalu masuk ke dalam rumah begitu saja sambil membawa bungkusan Raisa. Sedangkan Sovia masih mencoba menggedor pintu yang sudah tertutup rapat itu dengan sepenuh tenaga. Sovia memang salah satu wanita keras kepala yang membuatnya pusing. Ingin rasanya menyumpal mulut cerewet itu dengan sandal agar para tetangga tidak terganggu. "Apa sih, Sovia? Kamu ga ngerti kata penolakan? Aku tuh capek, badan lagi ga enak dan aku sudah dua hari begadang di rumah sakit. Jadi bisa ga kamu hentikan sikap manja kamu sekarang? Kita dinner lain kali, oke?" Mendengar omongan panjang dari Bima membuat wajah Sovia benar-benar murung. "Maafin aku. Tapi janji kita akan pergi, Bim. Please… ! Bima mengambil napas panjang lalu mengangguk pelan untuk membuat Sovia pergi dari sini dan tidak berisik lagi. Sesaat setelah Sovia pergi, Bima langsung menuju meja makan dan membuka bungkusan hijau yang diletakkan Raisa di pintu. "Made with love for my lovely Om. " Bima menggeleng dan akhirnya berteriak kesal. Sebenarnya dia ingin sekali bersama Raisa dan menyesal kenapa begitu bodoh untuk membiarkan Raisa pergi. Padahal dia sudah tahu tujuan Raisa mendekatinya. Tapi kenapa dia menjadi sangat bodoh untuk tidak memperbaiki? Bima merasa dirinya sekarang sudah bukan Bima yang sebenarnya. Dan perasaan seperti ini membuat dirinya sendiri jengah. Mungkin ponsel bisa membantu Bima membuat keputusan. Dia bermaksud untuk menghubungi Raisa dan semoga Rai masih mau mendengar penjelasannya tentang Sovia. "Rai … kamu dimana?" "Kenapa memangnya?" Dari nada suaranya, bisa dipastikan Raisa masih kesal dengan dirinya. Siapa yang tidak? "Aku minta maaf. Aku hanya bingung." "Aku pikir sikapku jelas. Tapi mungkin kamu yang memang tidak suka." Bima menutup mata. Sikap ketus Raisa membuatnya sulit sekali memutuskan. Ingin sekali mengatakan 'bukan'. "Aku … aku … intinya tidak ada hubungan dengan Sovia." "Terima kasih untuk menjelaskan. Lalu kamu mau apa dari aku? Kemarin nanya alasan aku, sekarang kamu campakkan, besok kamu bilang suka, besoknya lagi ditinggal." "Kamu hanya tidak tahu, Rai. Apa kamu mau mengerti? Alasan aku begini?" Batin Bima. "Ya sudah. Selamat makan." Jawab Bima tanpa berniat menjelaskan. Dia hanya membuka box makanan yang tampak sedap itu sambil menunggu jawaban Raisa lagi. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tapi tidak ada balasan lagi Raisa, hanya hembusan napas pelan yang terdengar di telinga Bima. "Kamu juga." Sudah? Hanya seperti itu? Tidak ada menuntut penjelasan lagi? Jawaban singkat Raisa sukses membuat Bima bingung sendiri. Tut… tut… tut… Dan Raisa menutup ponselnya begitu saja. Rasanya dia malas meladeni ke plin- planan Bima saat ini. Setelah menutup ponselnya, Raisa melajukan mobilnya lagi dari rumah Bima. Ya, sejak tadi dia belum beranjak dari kawasan rumah Bima. Raisa hanya memutar dan menyembunyikan mobilnya dari jangkauan penglihatan Bima. Dia parkir di pojok pohon tinggi, tapi cukup jelas melihat Sovia pergi dari rumah Bima tidak lama setelah dia pergi. Bukti Itu membuat Raisa yakin bahwa Sovia bukanlah siapa-siapa bagi Bima. Kenyataan itu membuat Raisa lega, tapi rasanya menyenangkan jika bermain- main sebentar, membuat Bima merana. Raisa memutuskan untuk memberi sedikit pelajaran pada dokter tampan itu. Mungkin merajuk sebentar akan membuat lelaki berkacamata itu sadar bahwa dia memang menyukai Raisa dan cukup malu untuk mengakuinya. Sesampainya di rumah, Raisa melempar tasnya begitu saja ke tempat tidur lalu beranjak ke kamar mandi. Hari ini melelahkan, dan Raisa belum makan sedari tadi. Maka dia langsung keluar kamar dan teriak dari atas kamarnya untuk memanggil pengurus rumah tangga yang bernama Amina. "Bi Mina … bikinin Indo*ie pedes ya… sayur dan dagingnya yang banyak. Oke?" "Pedes level dewa atau jikustik?" jawab Bi Minah. "Saykoji ada ga, Bi?" "Ga ada, Non. Kalo Say-yundari Soekotjo ada… " "Huuu.. Plesetan ceritanya?" "Bukan… tapi ple-jinan!" Tawa Bi Amina dengan ukuran badan triple XL itu. Raisa seakan sudah biasa mendengar asisten rumah tangganya yang memiliki IQ di atas rata-rata jalan itu. Selesai mandi, Raisa turun lalu ke dapur untuk memakan pesanannya. Namun, betapa terkejutnya Raisa saat meja makannya terdapat banyak sekali makanan resto. "Dari siapa nih, B?" "Goj"k, Non." "Ya maksud saya, siapa yang kirim?" "Seseorang dengan inisial BW. Kenapa ga merah aja sekalian?" Tanya Bi Minah sok iyeh. "Bima Wiranata? Benarkah?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD