Sungguhpun di dalam hati Bima dia ingin menjadikan Raisa sebagai kekasih hati. Tapi, semuanya sudah terlambat. Dia tidak bisa membuat keputusan yang hanya menuruti hatinya. Bisakah jika kali ini saja dia berkhianat? Raisa dan kecantikannya sejak dulu tidak pernah berubah, selalu mengguncang dunianya.
Satu jarinya terulur ke udara, menimbang apakah pantas dia melakukan hal ini pada Raisa. Gemuruh di d**a membuatnya gila, terus terang Raisa lah yang selalu membuatnya semangat untuk merubah diri. Raisa yang selalu mengejarnya tanpa lelah membuat Bima sampai pada keputusan untuk menghilang, karena merasa tak patut. Semua pertikaian batin yang membuatnya terpuruk, merindu Raisa sama sakitnya dengan seribu belati yang menusuknya.
Sampai kepada pertemuannya kembali pada profesor Andi yang dulu sempat menjadi terapisnya. Menyadarkannya kembali bahwa masih ada jalan menuju bahagia di tengah semua kemuraman hidup yang menimpa. Namun, pertemuan kembali ini pula yang membuat Bima kembali mengingat Raisa, wanita yang ingin selalu dia miliki.
“Kamu yakin? Karena saya lelaki normal, Rai. Saya tidak akan berhenti.”
“Aku ga mau kamu berhenti.”
Sentuhan lembut dirasakan Raisa di pipinya, tanpa bisa mengelak dan hanya menikmati setiap gerakan jari yang menyusuri tulang pipinya. Perlahan dan pasti menuju bibirnya yang tanpa sadar sudah merekah sempurna. Alam bawah sadar Rai menginginkan Bima teramat sangat.
“Rai … kamu selalu bikin aku lemah,” lirihan Bima membuat hati Raisa mencelos. Kenapa Bima begitu sedih di saat seharusnya dia bisa bahagia jika bersamanya. Raisa sangat yakin bisa membahagiakan Bima, lalu dimana salahnya? Pertanyaan itu serta merta datang beriringan seperti gulungan salju yang belum tahu akan mendarat dimana.
“Sebaliknya denganku!”
Hembusan napas Bima terasa lebih panas dari yang dia ingat sebelumnya. “Please, Rai. Sebaiknya kamu lari sebelum aku kehilangan kesadaran.”
Tangan Raisa yang sejak tadi berada di samping langsung mengikuti irama tangan Bima, menyentuh halus dagu yang ditumbuhi bulu halus di sekitar rahangnya. “Aku bukan penakut, Bima.”
Tidak bisa ditahan lagi, Bima mengambil pinggang kecil Raisa untuk semakin dekat dengannya. Mengambil satu bibir lembut itu untuk dia rasakan, pelan tapi menuntut dan semakin Raisa tidak menolak sedalam itu pula dia bertindak jauh. Bima kehilangan kesadarannya jika menyangkut Raisa, itulah yang membuatnya harus berlari terus menerus. Namun, sepertinya takdir selalu menariknya dalam pusaran wanita itu.
“Maaf, Raisa.”
Raisa tersenyum dan malah mengatakan, “terima kasih. Ciuman pertama aku yang sungguh mendebarkan.”
Mata Bima membelalak sempurna. Kata-kata pertama kali membuat desiran hebat di d**a Bima. Membuatnya benar-benar kehilangan akal, karena sekali lagi ingin merasakan bibir lembut yang telah menyentuh sisi terdalam gairahnya. “Aku mau kamu, Rai.”
“Tidak. Kita masih di kampus,” tolak Raisa sambil memeluk Bima dan menghidupkan lampu untuk mengambil tas nya yang terjatuh di lantai.
Bima langsung menarik Raisa kembali. dan berkata, “saya akan menyakiti kamu.”
Raisa tidak lagi heran dengan pernyataan Bima yang masih berupa petunjuk. Lelaki itu belum mau terbuka padanya, dan dia harus terima itu. Semuanya tidak akan semudah membalik telapak tangan. “Tidak masalah kamu mau menyakiti aku berapa kali pun. Aku ada di sini, Om!” jawabnya dengan senyum simpul.
“Sini mendekat. Aku bersihin lipstik aku dulu sedikit!
Bima langsung mendekat kembali dengan tatapan yang sulit sekali diartikan dengan kata. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi barusan. Dia melanggar sumpahnya sendiri untuk tidak mendekati Raisa. Sumpah yang mendadak membuatnya kesal karena sadar semua itu adalah cikal bakal dia kehilangan Raisa.
“Abis ini aku mau ke rumah sakit. Om mau kemana?”
“Aku bukan Om kamu.”
“Kamu tuh om-om kesayangan aku.”
“Menyebalkan.”
“Tapi suka, kan?”
Bima tidak menjawab kembali perkataan Raisa karena fakta mengatakan perasaannya buat wanita cantik ini tak berubah sejak dulu. Dan rasanya sia-sia sudah pengorbanannya selama 5 tahun untuk menjauh, jika pada akhirnya dia juga yang melanggar.
“Jadi mau ke rumah sakit?”
“Tidak. Sepertinya aku pulang dulu saja. Oma kamu sudah ada yang jaga malam ini.” Penjelasan Bima membuat Raisa sadar, apalagi intonasi dan sikap Bima yang berubah kembali. Berbeda sekali saat tadi menciumnya, penuh kelembutan dan kehati-hatian.
Rai tentunya tidak tahu apa yang terjadi, juga tidak mau menyimpulkan lebih dini apa yang terjadi. Satu yang dia pahami, Bima menyukainya. Bukan cinta pastinya, karena rasanya jauh jika mengharapkan Bima akan jatuh cinta padanya sedemikian cepat.
“Bagus banget. Istirahat yang banyak. Aku akan kirim makan malam buat Om, Okey?"
"Kamu tahu rumah aku di mana?"
Raisa mengangguk. Apa yang tidak diketahui Raisa ada alasan penolakan Bima akan kehadiran dirinya. Tapi sudahlah, Rai menganggap hal itu hanya batu sandungan kecil di dalam perjalanan cintanya.
"Oh iya, Nandi dan Jody sahabatku. Jadi, jangan cemburu buta sama mereka, percuma juga karena dari dulu aku suka sama Om-om yang ada di depan Rai. "
Bima semakin yakin jika Rai wanita yang senekat itu. Bagaimana jadinya jika bukan Bima? " Kamu ga tahu pikiran lelaki saja. Mereka berdua itu aku yakin punya tujuan yang sama.”
"Yaitu?" tanya Raisa menyambung pernyataan Bima yang berhenti begitu saja.
"Ya ajak kamu tidur lah. Memangnya apa lagi?"
Ucapan Bima yang bernada proteksi membuat Raisa senang luar biasa. Tahapan hubungan ini bisa jauh juga rupanya, dan hal itu membuat Raisa kembali ke dalam mode pengetesan. Apa tujuan Bima sebenarnya dalam hal mendekatinya. Semua orang yang memiliki kesadaran tentunya mempunyai tujuan.
“Kurasa aku juga sudah cukup dewasa untuk memutuskan ingin tidur dengan siapa, bukan? Tapi aku lebih senang tidur dengan kamu tentunya.”
Bima semakin geleng kepala mendengar semua omongan Raisa. Selalu bisa membuatnya berpikir dua kali untuk bicara dan bertindak. Rai tidak bodoh, dia tentunya bisa menemukan apakah lelaki di sekitarnya melakukan simulasi ataukah manipulasi.
“Baiklah saya menyerah. Kamu lakukan yang kamu mau, tapi saya sudah peringatkan. Jangan berharap banyak pada saya.”
Sambil tertawa miris, Raisa mengatakan, “jangan mentang-mentang baru dikasih sarapan sekali terus aku ga akan bisa berpikir jernih buat ngadepin om-om kaya kamu. Tenang aja, aku lebih kuat dari yang kamu duga kok!”
Raisa berbalik lalu memutar kenop pintu dan keluar.
Bima memandang saat Raisa memutar kenop pintu dan keluar dari ruangan. Ia tak bisa menahan perasaan kebingungan dan rasa ingin tahu tentang niat sebenarnya Raisa. Apakah dia benar-benar tertarik padanya, ataukah dia hanya bermain-main? Bima tahu bahwa Raisa adalah wanita yang kuat dan mandiri, tetapi ia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar yang terlihat pada Raisa.
Saat Raisa menghilang dari pandangannya, Bima menghela nafas dan bersandar pada dinding. Ia bertanya-tanya apakah dia telah membuat keputusan yang tepat dengan membiarkan Raisa pergi begitu saja. Mungkin seharusnya dia berjuang untuknya, mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya, dan menanyakan tentang niat Raisa sendiri.
Terbenam dalam pikirannya, Bima menyadari bahwa dia tidak bisa hanya duduk diam. Dia merasa perlu mengejar Raisa dan mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Ia tak ingin ada kesalahpahaman antara mereka, terutama setelah melihat kekuatan dan keteguhan hati Raisa.
Bima bergerak cepat, meninggalkan ruangan dan berlari menuju pintu keluar. Dia ingin menemui Raisa dan mengatakan betapa pentingnya dia baginya. Ia tahu bahwa jika dia tidak melakukannya sekarang, dia akan menyesalinya nanti.
Saat Bima mencapai pintu keluar, ia melihat Raisa berjalan dengan langkah cepat di koridor. Tanpa ragu lagi, Bima berlari mendekatinya dan menarik tangannya, memaksa Raisa untuk berhenti sejenak.
"Raisa, tunggu sebentar!" seru Bima, nafasnya terengah-engah.