9. Kamu Akan Sakit Hati

1114 Words
“Ya, Om?” tanya Raisa saat berada di dekat Bima. Harum tubuh lelaki itu membuat Raisa semakin hapal. Tetap sama sejak 5 tahun yang lalu. “Kenapa ga pernah ganti parfum?” tanya Raisa random. Bima hanya bisa melihat ke arah Rai dengan wajah datar yang membuat Rai jadi salah tingkah. Tanpa menjawab, Bima hanya jalan menuju pintu dan menguncinya lalu mematikan lampu. Melihat adegan horor ini, membuat pikiran Raisa jadi melanglang buana. Bukan hanya soal cumbuan panas yang bisa saja terjadi, atau kejutan dengan lilin cantik sebagai pemanis, tapi adegan penyekapan disertai mutilasi juga hadir dalam bayangan Rai, dan yang terakhir itu membuatnya merinding. Raisa langsung berlari menuju pintu untuk menjangkau Bima yang masih berdiri di dekat pintu. Tapi tenaga Bima yang kuat itu tak bisa Raisa kalahkan dengan mudah. Hanya dengan sekali hentak, Raisa sudah ada di dekapan Bima begitu saja. Hembusan napas Bima menyentuh hangat di leher putih Raisa membuatnya merinding seketika. Tapi dekapan hangat Bima juga membuat sisi gairahnya terbangkitkan. “Terima kasih ya. Buat sarapannya.” Raisa mendengar Bima berterima kasih dan itu jelas di telinganya. Rasa hangat langsung membuat bulu roma Raisa berdiri. Tidak ada yang pernah memperlakukan dirinya seintim ini. Bahagia? Tentu saja Raisa bahagia. “Kenapa lampunya dimatiin?” tanya Raisa tanpa menjawab pernyatan Bima dulu. “Saya malu.” Lingkaran tangan Bima di perutnya membuat Raisa bertambah senang. Baginya romantis, “om ga sedang ngerjain saya, kan?” “Tidak. Saya cuma mau peluk kamu sebentar. Lima menit saja,” ujar Bima yang langsung melabuhkan dagunya di leher Raisa. Pada titik ini, Raisa menyadari jika Bima sedang mencapai titik lelahnya. Membiarkan Bima memeluknya semoga bisa mengisi baterai yang sudah hampir padam itu. Entah berapa lama posisi intim ini berlangsung. Bagi Raisa, dia hanya ingin seperti ini selamanya. Dia ingin lelaki ini untuknya dan semakin yakin mengejar cintanya dengan reaksi Bima sekarang. Meskipun untuk menyimpulkan sebuah rasa cinta Bima rasanya masih jauh dari gapaian. Raisa tidak mau berangan lalu terhempas begitu saja. “Kamu punya pacar?” tanya Bima setelah berapa lama. “Tidak. Om mau jadi pacar aku?” tanya Raisa balik. Berani, selalu hal itu yang dia gaungkan di dalam dirinya. Dia harus berani jika menyangkut Bima. Lelaki yang hadir kembali setelah lima tahun tak pernah terlihat. “Tidak.” “Kenapa? Belum suka sama aku?” tanya Raisa menyimpulkan begitu saja. Bima tidak menjawab lagi. Dia hanya diam lalu melonggarkan pelukannya pada Raisa. Gadis berambut panjang itu mencoba melihat wajah Bima dengan jarak sedekat ini. Ingin rasanya menyelami ke dalam lautan manik hitam itu dan bertanya apa yang ada di pikiran lelaki tampan ini. “Memangnya kamu suka saya?” “Ga nyadar dari dulu saya ngejar-ngejar, Om?” Bima malah menyatukan keningnya dengan Raisa dan semakin menarik pinggul itu mendekat ke tubuhnya. “Saya suka wangi kamu. Jangan ganti parfum!” Ingin rasanya mengambil bibir itu untuk dia rasakan, tapi Raisa tahu mahluk gaib seperti Bima sungguh tidak bisa ditebak. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, dia hanya membuka jalan untuk di dekati, tidak mengambil langkah untuk lebih intens. “Ga usah ngerubah topik deh, Om!” Bima hanya tertawa mendengar celotehan Raisa, lalu tersadar bahwa mereka masih di sekitar kampus untuk melakukan tindakan yang lebih ekstrim seperti merasakan bibir indah Rai untuk dirinya. “Jangan mau sama saya. Pusing kamu nanti.” “Terus ini ngapain? Deketin aku, kalo memang ga suka?” Bima tertawa pelan lagi. “Kamu memang layak untuk diperlakukan seperti ini.” Jawaban Bima yang tidak pernah jelas di pikiran Raisa selalu membuat penasaran. Dan mungkin inilah kelebihan lelaki berzodiak Capricorn itu. Ga bisa ditebak. “Eh, saya mau dipeluk begini hanya buat orang-orang tertentu.” “Kaya laki-laki klimis itu?” Dahi Raisa berkerut, dan dengan berani menarik ujung kerah Bima untuk lebih mendekat lagi dengannya. Memberi jalan, tapi tidak untuk memulai duluan. “Om cemburu?” selidiknya dengan suara pelan dan mendesah. “Kamu kira?” jawab Bima tak kalah tenang. Raisa benar-benar menjadi godaan besar buat Bima saat ini. Wanita cantik ini selalu memancing sinyal gairahnya setiap bertemu. Apalagi dengan posisi tubuh saling menghimpit seperti ini. “Tentu saja om cemburu,” jawab Raisa dengan desahan super pelan dan menggoda. “Kamu memang mau menggoda saya, Raisa.” “Lalu?” Tanya Raisa tanpa sedetik pun gentar di hadapan Bima. Dadanya sempat bergerak tidak beraturan, tapi langsung mencoba menenangkan diri karena tahu dia tidak boleh mengambil langkah duluan. Raisa bertahan sekuat mungkin di depan Bima, karena tidak mau kehilangan lelaki itu untuk kali kedua. Baginya sebuah takdir bertemu lagi dengan Bima. Lelaki yang mempunyai nilai lebih dalam perspektifnya. Jangan tanya apakah sudah memvalidasi apa yang dia ketahui tentang Bima? Bahkan Raisa sudah menyewa jasa seseorang untuk mencari tahu latar belakang Bima. “Kamu akan sakit hati, jika sama saya!” “Aku sanggup,” balas Raisa secepat angin. “Kamu gegabah. Apa yang kamu lihat tidak sepenuhnya benar.” Raisa menangkap ada satu beban besar di pundak Bima. Mungkin ini saatnya mencari tahu lagi, ada apa dengan dokter tampan itu. “Aku tahu dan sadar apa yang aku lakukan. Saat ini pun, apa yang aku inginkan dan apa yang ingin aku raih sepenuhnya sadar. Aku tahu apa yang terbaik untukku, Om!” “Apa yang kamu inginkan?” tanya Bima dengan suara yang sudah mulai memberat. Dia ingin tahu apa pendapat wanita cantik ini. Apa yang dia inginkan sebenarnya. Tapi, semakin lama menunggu, tidak ada jawab yang keluar dari bibir mungil Raisa, hanya gerakan telunjuk yang mengarah ke dadanya. Dan gerakan itu sudah menjawab semua pertanyaan Bima, meski berkali-kali dia ingkari. “Kamu naif sekali, Rai!” Memang terdengar naif, tapi bagi Raisa pendapat Bima tersebut keluar karena dia belum percaya bahwa memperjuangkan seseorang yang memiliki nilai itu berbeda daripada hanya melihat paras, jabatan, atau kekayaan. “Kamu hanya harus percaya setelah membuktikan!” Bima menatap jelas ke arah Raisa, semakin lama dia semakin terbawa pada pemikiran Raisa yang meski terlihat kecentilan, tapi bicara ke intinya. Wanita yang tidak mau berbasa basi. Wanita yang sepertinya sangat tahu apa yang diinginkannya. “Kamu yakin? Karena saya lelaki normal, Rai. Saya tidak akan berhenti?” Raisa sedikit gentar dengan perkataan Bima, tapi dia juga penasaran dengan apa yang akan lelaki itu lakukan selanjutnya. Mendamba dan membuat lumpuh otak saat membayangkan apa saja yang bisa dia lakukan dengan lelaki yang selalu dia kejar. Perlahan semua indranya mulai merasakan sensasi yang tidak biasa, Rai bisa mendefinisikan sebagai alarm waspada atau bisa juga alarm gairah. Demi apa pun di dunia ini, dia rasa sesuatu akan terjadi saat ini dan dia menunggu. Seperti prinsipnya, dia hanya membuka jalan dan tidak akan memulai. “Bima …” “Rai …”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD