Pagi yang cerah itu, Bima duduk di meja makan, wajahnya tampak serius. Dia telah merencanakan sesuatu yang ingin dia sampaikan kepada Raisa. Meski begitu, saat matahari pagi bersinar terang melalui jendela, menerangi ruangan mereka yang hangat dan nyaman justru otaknya mendadak tidak sinkron dan tak bisa memulai bicara apapun. "Bim, apa yang ingin kau bicarakan?" Raisa bertanya, sambil meneguk secangkir kopi hangatnya. Dia mencoba membaca ekspresi wajah Bima yang tampak begitu khusyuk. Bima menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab, "Rai, aku ingin berbicara tentang sesuatu yang sudah lama ada di pikiranku. Aku ingin kita mengadakan pernikahan kedua." "Hahh." Raisa sedikit terkejut mendengar usulan itu. Dia menempatkan cangkir kopi di atas meja dan menatap Bima dengan perasaan campura

