“Soal kita...hmm...apa ya aku sudah jauh-jauh ke sini untuk mencarimu. Kita cari tempat untuk ngobrol, tempat ngopi atau santai-santai sore,”ajak Kenzie.
Seva mengingat-ingat dimana tempat ngobrol santai dan pastinya tidak akan ada rekan sekantor berkunjung ke sana.”Hmmm...Bapak tinggal dimana selama di sini?”
“Oh ya justru saya mau bertanya, Ibu tinggal dimana...supaya saya bisa cari tempat yang terdekat dengan tempat tinggal Ibu.”
Seva menggeleng-gelengkan kepalanya, ia berjalan ke lift, Kenzie mengikutinya.”Lebih baik kita bicaranya nanti saja, Pak, kalau sudah di tempat ngopi.”
“Baiklah... Kebetulan asisten dan pengawalku udah pulang. Jadi, saya nebeng ya, Bu.” Kenzie terkekeh.
“Baik, silakan ...”
Seva melajukan kendaraannya, ia segera menuju salah satu kafe. Tempat itu lumayan jauh dari kantor, meminimalisir kemungkinan orang kantor menuju ke sini.
“Wah, selera kamu bagus juga.” Kenzie turun dari mobil.
Seva tidak menjawab, ia langsung masuk dan mencari meja yang nyaman. Ia segera memesan kopi untuknya dan Kenzie. Lalu keduanya duduk berhadapan, diam beberapa saat, saling bertatapan.
Kenzie berdehem,”Maaf, langsung saja...aku ingin tahu kenapa kamu menarikku masuk ke dalam kamar dan mengajakku b******a?”
“Aku juga minta maaf, sebenarnya aku salah orang.” Seva mengusap tengkuknya.
“Salah orang? Memangnya kamu nggak bisa ngenalin orang yang akan datang ya? Nggak kaget gitu, pas bangun kok bukan orang yang kamu kenal.” Kenzie menatap Seva curiga.
“Aku memang nggak kenal sama orang itu, karena aku ...memang menyewa laki-laki untuk tidur sama aku.” Seva jujur saja, lagi pula tidak ada gunanya ia menyembunyikan dari Kenzie, pria itu bukanlah orang sembarangan. Kenzie bisa dibilang sebagai pemilik perusahaan dan memiliki foto b***l bahkan sudah menidurinya. Wajah Seva tiba-tiba saja memerah.
“Wah, kenapa...” Kenzie cukup kaget mendengarkan pengakuan itu.
Seva merengut “Rahasia.”
“Ah, maaf...”
“Lagi pula kenapa kamu nggak menolak?”selidik Seva.
Kenzie pura-pura berpikir keras, itu adalah hotel milik keluarganya. Pada saat itu, ia menginap di hotel itu karena memang baru saja ada acara di sana. Saat itu dia ingin tidur, memakai kamar yang ada di lantai yang sama dengan kamar yang dipakai oleh Seva. Tapi, saat berjalan di lorong, seorang wanita keluar dari kamar, mengenakan gaun malam. Terlihat seksi.
“Aku nggak bisa menolak, ya...aku juga nggak tahu kenapa.”
“Kamu keberatan?”
“Nggak...”
“Lalu kenapa kamu cari-cari aku? Kamu tahu identitasku dari mana? Kamu stalker ya? Cek semua barang pribadiku?” Seva menatap Kenzie tajam.
“Aku minta identitas kamu sama resepsionis, karena itu hotel milik keluargaku!”kata Kenzie akhirnya. Seva jadi tidak penasaran lagi.
“Terus ...kenapa kamu masih cari aku sampai ke sini? Apa aku punya hutang? Aku sudah selipkan uang di bajumu kan?”
“Karena...” Kenzie menopang dagu dengan tangannya.”Aku merasa malam itu begitu indah. Ciumanmu...benar-benar nikmat, sentuhanmu lembut dan menggairahkan, dan...kamu sangat ahli di ranjang. Begitu bangun...aku benar-benar merasa segar. Pagiku terasa indah dan aku langsung cari kamu. Katanya... kamu sudah chek out. Aku langsung jatuh cinta padamu.”
“Jangan gila!”pekik Seva.
“Aku serius...” Kenzie menggenggam tangan Seva.
Seva menarik tangannya dengan cepat,”tolong jangan begini di tempat umum. Saya nggak mau menimbulkan fitnah...apa lagi posisimu sebagai pemilik perusahaan.”
“Statusku sekarang pengangguran, aku ini cuma cucu dari pemilik perusahaan, belum tentu akan memiliki atau memimpin. Jangan seperti itu, lagi pula tujuanku ke sini betul-betul untuk menemuimu.”
Seva menggeleng. “Sudahlah...sekarang aku banyak urusan dan pekerjaan. Jangan bebani aku dengan hal seperti ini. Apa lagi itu kejadian cuma salah paham, kan, aku nggak keberatan dan kamu juga. Kita sama-sama diuntungkan juga dipuaskan. Sudah sampai situ saja.”
“Tapi, aku nggak bisa, Bu Seva...aku kepikiran terus.” Kenzie menyandarkan kepalanya di meja, persis seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu pada orangtuanya.
“Terus maunya bagaimana?” Seva menatap Kenzie datar.
“Kamu single, kan?”
“Iya...”
“Kita pacaran ya, Bu Seva...”
Seva memutar bola matanya, kesal pada Kenzie. Moodnya sedang tidak begitu baik hari ini.
“Aku nggak ada waktu untuk nenanggapi hal-hal seperti ini, Kenzie...” Seva membawa cup kopinya keluar dari sana. Kenzie mengejar Seva ke parkiran, lalu menariknya, membenturkan tubuh wanita itu ke mobil, dilumatnya bibir Seva.
Seva memukul tubuh Kenzie pelan, tapi Kenzie menahan leher Seva dan terus melumat bibirnya.
“Aku tergila-gila dengan sentuhanmu!”bisik Kenzie di sela-sela ciumannya.
Seva mendorong tubuh Kenzie dengan kuat. Tangannya sudah melayang ingin menampar Kenzie. Pria itu sudah memejamkan mata, ia diam saja di tempat tanpa protes. Melihat ekpresi itu Seva jadi tidak tega dan menurunkan tangannya.
“Kita ini baru kenal, jangan bersikap begitu. Kali ini kumaafkan, tapi, lain kali kalau kamu ulangi...aku bakalan tuntut kamu!”kata Seva.
“Iya...maaf,tapi apa yang aku bilang barusan benar, Seva...”
Seva menggeleng kuat, harinya sudah kacau. Sebaiknya ia segera mengakhirinya dengan segera pulang dan istirahat.”Kamu pulang sendiri aja ya. Mau naik taksi atau apa terserahlah. Aku harus pulang sekarang.” Seva menyerahkan cup minumannya ke tangan Kenzie.
“Oh...” Kenzie mematung di tempat.
Seva masuk ke dalam mobilnya, melaju meninggalkan tempat itu. Sementara Kenzie masih mematung di tempat. Pria itu tersenyum, menyedot minuman milik Seva tadi, lalu berkata,”Seva, kamu itu seperti senja, cantik, indah, dan mengagumkan. Tapi, sayang...cepat berlalu.”
“Mas Kenzie!”
Kenzie melompat kaget, dilihatnya ke belakang, ternyata Alvin. Pengawalnya itu memang mengikutinya sejak Kenzie dan Seva keluar dari gedung kantor. Ia harus memastikan kondisi Kenzie dalam keadaan baik dan aman.”Hah...ngagetin aja. Sekarang kita kemana?”
“Ke hotel saja, Mas. Hotel Kakek,”jawab Alvin.
“Sudah dapat info tentang Seva?”tanyanya sambil menikmati minuman milik Seva, entah kenapa rasanya lebih nikmat, mungkin karena bekas bibir wanita itu.
Alvin mengangguk,”Devan sudah kirimkan data-datanya ke email, Mas.”
Kenzie mengangguk.”Ya udah, kita jalan pulang sambil jalan. Sementara di hotel Kakek aja.”
“Mari, silakan, Mas...” Alvin mengarahkan Bos mudanya itu ke mobil.
Di dalam mobil, Kenzie membuka ponsel, membuka file yang dikirimkan Devan ke emailnya. Informasi mengenai Seva. Sambil terus menyedot minuman, Kenzie membacanya dengan hati-hati.
Nama Lengkap : Sevalina Jayanti
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 4 mei 1984.
“Wah, sudah sedewasa itu ya?,tapi, nggak kelihatan usia tiga puluh lima. Nggak apa-apalah, cinta tidak mengenal usia.” Kenzie terkekeh pelan.”Ternyata dia juga bukan asli orang sini ya...”
Kenzie kembali membaca informasi selanjutnya.
Status perkawinan: Janda.
Kenzie melonjak kaget. Ia memanggil Alvin dengan memajukan badannya.”Vin, informasi ini dapat dari mana?”
“Dari personalia langsung, Mas. Maksudnya...dari staff yang berwenang. Devan memintanya atas perintah pemilik perusahaan,”jawab Alvin sambil fokus menyetir. Sesekali ia melihat ke layar ponselnya untuk melihat arah jalan.