“Oh...oke, terima kasih...” Kenzie terdiam. Pria itu terlihat melamun dan tidak melanjutkan membaca informasi selanjutnya.
Sementara itu, Seva menuju ke rumahnya, melewati kemacetan di jalan dengan sabar. Harusnya ini tidak terjadi jika tadi ia langsung pulang. Seva menghentikan mobilnya karena lampu merah, ia melihat ke arah luar.
Tiba-tiba saja ia kepikiran Kenzie di kafe tadi. Bagaimana laki-laki itu pulang, sepertinya ia sudah jahat karena meninggalkan Kenzie di sana. Bukankah Kenzie baru tiba di kota ini. Ia pasti tidak tahu menahu dengan keadaan di sini.
“Ah, dia sudah besar. Zaman sekarang tidak perlu dikuatirkan. Tinggal pesan online, sudah aman. Tidak ada uang, bisa transaksi pakai aplikasi, apa lagi dia masih muda, nggak mungkin nyasar atau nggak bisa pulang. Dia orang banyak duit.” Seva berusaha menenangkan dirinya agar tidak memiliki perasaan bersalah pada Kenzie.
Wanita itu mengambil ponselnya, membuka browser dan mencari tahu tentang profile dari Musim Panas Grup. Semoga saja ada berita mengenai Kenzie. Biasanya para ahli waris sudah mulai menjalankan tugas mereka masing-masing, entah sebagai apa pun itu. Sejak muda, mereka sudah dilatih untuk menjadi leader atau bekerja dengan tim. Tapi, sayangnya Seva tidak mendapatkan informasi apa pun tentang Kenzie.
Tapi, kemudian ada yang menarik perhatian Seva, seorang wanita yang berfoto dengan jajaran Direksi. Namanya Kellyana Summer , anak pasangan dari Kenzo Adiguna dan Yuanita Watanabe. Memiliki saudara bernama Kennita Summer dan Kenziro Aaron. Kenzie anak bungsu dari salah satu keluarga itu. Hanya itu informasi yang didapatkan oleh Seva.
Bunyi klakson mobil di belakang membuat Seva tersentak. Wanita itu menyimpan ponselnya, lalu melajukan kendaraannya. Entah apa yang akan terjadi esok hari, semoga saja Kenzie menghentikan kelakuannya itu, nanti akan menjadi semakin kacau apa lagi jika orang kantor tahu. Dan lagi, Kenzie masih sangat muda, bahkan terlihat seperti masih anak baru gede. Tapi, biar pun begitu, bukankah pria itu cukup memuaskannya di ranjang pada malam itu. Wajah Seva merona, ia menggeleng cepat dan menghilangkan pikiran anehnya.
**
Seva memasuki kantor, usai pemeriksaan ia melangkah menuju lift. Kantor belum begitu ramai, jadi, Seva masih bisa santai berjalan tanpa merasa cemas oleh tatapan aneh dari orang-orang.
Wanita itu duduk di ruang tunggu sambil memainkan ponselnya.
Fadli datang, melihat Seva masih duduk santai, ia menghampirinya.
“Selamat pagi, Bu Seva.”
“Selamat pagi, Fadli...”
“Bu Seva, besok ujian tertulis untuk peserta yang lulus adminisrasi.”
“Oh iya...” Seva menggeleng-gelengkan kepalanya. Hal sepenting ini ia bisa lupa. Bilang sama yang lain, siapkan tempat dan alat-alat yang dibutuhkan ya. Nanti laporannya kasih ke saya,”kata Seva.
“Baik, Bu, nanti saya sampaikan pada staff yang lain.”
“Oke, makasih, Fadli.”
“Saya masuk duluan, Bu!”
“Iya, silakan, Fadli.” Seva tersenyum hangat. Seva tampak membuka tasnya, mencari sesuatu sampai-sampai tidak sadar ada yang berdiri di hadapannya.
“Bu!”
“Eh!” Seva tersentak, ditatapnya laki-laki di hadapannya itu dengan heran.”Siapa ya?”
Kenzie mendecak.”Kenzie, Bu, masa lupa sih.”
“Ah, masa?” Seva memerhatikan Kenzie dengan intens. Pria di hadapannya memang benar mirip Kenzie, tapi, penampilannya sangat jauh berbeda dengan kemarin, saat mereka bertemu pertama kali.
“Hari ini ada ujian seleksi karyawan, kan, Bu? Untuk di Perkebunan?”tanya Kenzie.
Seva mengangguk.”Iya, benar!”
“Nah, saya diperintahkan untuk mengawasinya. Ini pertama kali saya bekerja di sini, jadi, mohon bantuannya!”kata Kenzie.
Mengawasi ujian? Ini akal-akalan Kenzie saja atau pria itu memang benar-benar ditugaskan demikian. Keduanya memiliki peluang yang sama untuk terjadi, karena Kenzie memiliki kuasa di sini. Ia bebas melakukan apa saja, baik yang lazim maupun tidak.
“Iya,”jawab Seva singkat.
Fania dan Arian datang,tentu saja kehadiran Kenzie di sini menjadi pusat perhatian, terutama kaum wanita.
“Bu, ini siapa? Staf baru kita ya?”tanya Fania dengan antusias.
“Ini Pak Kenzie,cucunya pemilik perusahaan. Kebetulan datang berkunjung untuk mengawasi proses seleksi karyawan perkebunan,”kata Seva memperkenalkan Kenzie.
“Selamat pagi, Pak, saya Fania staf di HRD.” Fania menyapa Kenzie ramah.
“Hai, Fania.”
“Arian, kamu bantu Pak Fadli menyiapkan ruangan dan alat-alat untuk ujian besok ya. Jangan sampai ada yang terlupa. Mereka datang dari berbagai kota, jangan sampai pelayanan kita mengecewakan,”kata Seva.
“Baik, Bu. Kami duluan.” Arian menarik Fania pelan.
“Arian, apaan sih...masih mau ngobrol sama Pak Kenzie tahu!”protes Fania.
“Eh, yang sopan,lah,mereka masih ngobrol. Lagi pula kerjaan kita tuh banyak!”omel Arian.
“Iya...iya...”
“Pak Kenzie, ujian masih dimulai besok. Jadi,Bapak bisa mengawasinya besok.” Seva tersenyum paksa pada Kenzie, padahal di dalam hati ia masih ada sedikit kekesalan karena pria itu menciumnya kemarin.
“Ya sudah kalau gitu, dimana ruangan Ibu?” Kenzie berjalan memasuki ruangan Divisi, berjalan mencari-cari tahu dimana tempat Seva biasa bekerja.
“Mau ngapain, Pak?”tanya Seva saat melewati meja Fania dan Arian yang menatap mereka dengan penuh tanda tanya.
“Saya mau ngawasi sistem kerja di divisi ini,”jawabnya santai.”Dimana ruangan Ibu?”
“Di sana!”tunjuk Seva.
“Ayo kita masuk, saya mau lihat beberapa laporan,”katanya berjalan menuju ruangan Seva.
Seva mengembuskan napas panjang. Kemudian ia berjalan mengikuti Kenzie dan menutup pintu.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
“Ada.” Kenzie duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi Seva.
“Apa itu?”
“Saya sedang sakit...di sini,”tunjuknya pada hatinya.
Seva memutar bola matanya.”Sudah kuduga, kamu ke sini tuh modus aja, bukan untuk kerja.” Seva menghempaskan tubuhnya ke kursi. Setelah di dalam tidak ada lagi bahasa formal dan kepura-puraan.
“Aku memang lagi latihan di sini, menjadi karyawan atau apa lah itu,”kata Kenzie.”Papa yang suruh aku untuk belajar, karena suatu saat nanti suka atau tidak suka aku akan bertanggung jawab atas kantor ini.”
“Lalu...hubungannya denganku apa? Aku ini cuma karyawan...”
“Kepala Divisi!”ralat Kenzie.
“Iya, intinya tetap karyawan, orang yang dibayar. Bukan pemilik atau Bos.”
“Tentu aja aku perlu bantuan kamu, bahkan bukan hanya kamu...tapi Kepala Divisi yang lain juga. Kebetulan hari ini aku ke sini.” Kenzie menopang dagunya dan menatap Seva dengan tatapan memuja.
“Oke, tapi, ingat! Harus profesional. Jangan bicarakan hal pribadi apa pagi mengancam menyebarkan foto!”
“Oh itu ya...” Kenzie tersenyum penuh arti.”Baik. Tapi, kalau di luar jam kerja sudah boleh kan membicarakan hal pribadi?”
“Masih membahas itu? Sebenarnya tujuan kamu ke sini itu, mencari aku, atau untuk kerja?”
“Keduanya. Sambil menyelam minum air, setali tiga uang,begitulah kira-kira pribahasanya, Bu Seva...”
Seva memejamkan mata, menarik napas panjang, dan berusaha sabar.”Baik,terserah kamu sajalah.”
“Bu Seva, saya sudah pindah ke hotel yang dekat rumah Ibu.”Kenzie memainkan kedua alisnya.
“Ya ampun, mau kamu apa sih?” Seva mulai menggeram.