“Kamu sudah tahu, kan,tujuanku. Kenapa harus bertanya ulang?”
“Kamu sudah tahu jawabanku, kan? Kenapa bertanya ulang?”balas Seva tidak mau kalah.
“Aku akan terus berjuang.” Kenzie tidak mau kalah lagi.
Seva melipat kedua tangannya di d**a. Ditatapnya Kenzie dengan tatapan meremehkan,”Kalau begitu, selamat berjuang, Bapak Kenzie.”
**
Hujan turun deras malam ini, Seva baru saja selesai mandi. Karena urusan persiapan ujian besok, Seva harus pulang lebih lama hari ini. Ia harus memastikan semuanya beres agar besok pelaksanaan ujian bisa berjalan dengan lancar. Seva duduk di ruang tamu sambil mengeringkan rambut. Satu tangannya membuka ponsel, sepertinya ia akan memesan makanan saja malam ini. Ia malas sekali keluar rumah karena hujan.
Setengah jam berlalu, Seva berbaring di sofa. Daster bewarna pink itu ia turunkan, kakinya ia lipat ke atas sedikit agar tertutupi kain daster. Ia menunggu makanannya datang sambil menonton televisi. Bel rumahnya berbunyi, Seva mengambil uang yang sudah ia siapkan lalu membuka pintu.
Seorang pria bercelana pendek, memakai kaus hitam, dan juga topi. Payungnya yang basah ia tundukkan sedikit menutupi wajahnya.
“Mas, masuk ke teras sini biar nggak kehujanan,”kata Seva.
Pengantar makanan itu masuk ke teras rumah Seva.”Ini makanannya, Bu.”
“Ini uangnya, Mas, kembaliannya buat Mas aja,”kata Seva.
“Baik banget, Ibu...” Pria itu menaikkan topinya sedikit.
“Kenzie!” Seva tersentak.”Kok kamu yang antar?”
Kenzie terkekeh pelan. Sejak tadi ia mencari cara untuk bisa bertamu ke rumah Seva. Tapi, ia hanya bisa termenung di dalam mobil di depan rumah Seva seperti stalker. Di saat itu ia melihat ada ojek online yang mengantarkan makanan.
Ia memberikan bayaran dua kali lipat pada sopir ojek online itu agar mau bekerja sama dengannya.”Aku kurirnya. Jangan lupa kasih bintang lima dan review yang bagus ya, Bu?”
“Ya!”balas Seva sambil meraih bungkusan dari tangan Kenzie.
Kenzie melangkah masuk ke dalam rumah, tapi,kemudian Seva menghalanginya.”Mau kemana?”
“Mau masuk.”
“Memangnya aku ngizinin masuk? Nggak aku persilakan juga, kan?”
“Kan hujan,”kata Kenzie beralasan.
“Tuh, tadi ke sini bisa hujan-hujanan. Pulangnya kenapa nggak bisa?”
“Aku mau bertamu ke sini, sebentar saja.”
“Hadehhh, kamu nggak nyerah juga ya.” Seva mengalah, membuka jalan masuk lebar-lebar untuk Kenzie. Pintu ia tutup kembali karena angin begitu kencang.
Kenzie duduk bersila di atas sofa. Seva melirik kelakukan Kenzie, kemudian pergi ke dapur untuk mengambil mangkuk. Ia memesan dua porsi bakmi, ia ingin makan satu porsi sisanya untuk tengah malam nanti sambil nonton drama korea. Tapi, sepertinya sekarang ia harus merelakan salah satunya untuk dibagikan pada Kenzie.”Ayo makan bakmi!”
Kenzie bangkit dari sofa dengan semangat, ia segera menuju meja makan yang memiliki dua kursi saja itu.”Wah, dingin-dingin makan bakmi. Pasti enak.”
“Kamu mau minum apa?”
“Teh hangat ya, jangan manis-manis, soalnya manisnya udah ada di kamu,”kata Kenzie tanpa melepaskan pandangannya dari semangkuk bakmi di hadapannya.
Seva menggelengkan kepala mendengarkan rayuan manis Kenzie. Ia membuat dua gelas teh hangat dan menyiapkan dua gelas air putih. Mereka pun makan berdua.
“Kok nggak tinggal di rumah Dinas?”tanya Kenzie.
Seva menggeleng.”Nggak mau...”
“Kenapa? Nggak kebagian rumah ya?”
“Bukan. Memang males aja, jauh. Dikasihkan ke yang membutuhkan aja,”jawab Seva.
Kenzie mengangguk-anggukkan kepalanya.”Udah dikasih bintang lima belum sama abang ojeknya?”
“Oh iya.” Seva mengambil ponselnya dan memberikan rating tinggi.”Sudah...”
“Syukurlah...”
“Memangnya kamu belum makan ya? Kok delivery? Makan mie pula,”komentar Kenzie.
“Lagi pengen makan mie. Lagi pula kamu juga kayaknya belum makan tuh?”balas Seva tak mau kalah.
“Iya harus kumakan satu, supaya kamu nggak makan mi banyak-banyak. Nggak sehat tahu!”
Seva mengangkat kedua bahunya,untuk orang seperti dirinya makan itu yang penting bisa bikin suasana hati jadi senang kembali.
Kenzie melihat ke arah dinding, ada foto pernikahan Seva.”Suami kamu belum pulang?”
“Aku nggak punya suami,”balas Seva singkat.
“Itu...,”tunjuk Kenzie dengan mulutnya ke arah foto yang ia lihat. Seva menoleh cepat,masih ada satu foto yang tidak ia lepas dari sana.
“Oh itu mantan suami.” Raut wajah Seva langsung berubah.
“Oh...oke.” kenzie kembali melahap bakminya.”Habis ini kubelikan makanan pengganti ya. Bakmimu kan udah kumakan.”
“Boleh, belikan tenderloin steak ya,”kata Seva sambil tertawa kecil.
“Iya iya kubelikan.” Kenzie menyeka mulutnya.”Oh ya, Seva...kamu nggak takut kamu hamil? Waktu itu aku nggak pakai pengaman loh.”
“Aku nggak akan hamil, Kenzie,”balas Seva santai.
“Kenapa nggak mungkin?” Kenzie menaikkan sebelah alisnya.
“Aku ini nggak bisa punya anak, makanya diceraikan suamiku.”
“Ah, lemah sekali laki-laki seperti itu,”gerutu Kenzie.
Seva tersenyum tipis.”Ya realistis saja, lelaki pasti ingin punya penerus, kan? Kalau dia masih bisa dapat dari wanita lain, ya, wajar saja dia berpaling. Orang-orang seperri itu nggak perlu dipertahankan, isi otaknya terlalu sempit.”
“Nggak begitu juga, lah...memang dia bukan untukmu. Kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik darinya.”
“Aku nggak berniat menikah lagi kok,”sambung Seva.”Percuma...aku nggak bisa kasih keturunan.”
“Memangnya ada sesuatu yang salah di dalam sana sampai tidak bisa punya anak?”tanya Kenzie penasaran.
“Aku divonis kena PCOS, Ken, selama lima tahun aku berusaha tapi gagal terus,”jelas Seva dengan suara bergetar.
Kenzie meletakkan sumpitnya, lalu meraih tangan Seva.”Kamu yakin sudah program dengan benar? Kakakku juga PCOS loh. Dia sudah punya anak dua sekarang. Kamu jangan memvonis diri kamu tidak akan pernah punya anak. Mungkin Tuhan memang belum memberikannya sama kamu. Tuhan sedang menguji kesabaran kamu, Seva. Tuhan juga menguji kesetiaan mantan suami kamu, artinya Tuhan sayang sama kamu. Dengan peristiwa ini, kamu jadi tahu kalau suami kamu tidak sesetia itu.”
Seva menangis, luka yang belum sembuh betul itu terbuka kembali. Ia kembali dihadapakan sebuah kenyataan yang baru ia sadari. Zayn memang tidak sesetia itu. Seharusnya zayn mendampinginya di saat ia juga terpuruk oleh keadaan. Dibicarakan keluarga besar lantaran tidak kunjung memiliki momongan. Harusnya Zayn menyabarkan hatinya, bukan menuruti saran orangtuanya untuk bercerai. Zayn tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja karena sebuah kekurangan yang tidak pernah ia minta.
Usai makan, Seva merapikan meja dan mencuci mangkuk. Kenzie duduk di ruang tamu menunggu Seva. Hujan masih deras, Kenzie memutuskan untuk tinggal di sini beberapa menit lagi sampai ia yakin Seva sudah tidak sedih.
Seva selesai, ia mengeringkan tangannya lalu menuju ruang tamu.”Kamu belum mau pulang?”
“Oh sudah disuruh pulang, ya?” Kenzie mengerucutkan bibirnya.
Seva terkekeh.”Kira-kira begitu, sih.”
“Kalau aku pergi, apa kamu bisa menjamin kalau kamu nggak bakalan nangis di balik bantal? Kalau kamu bisa meyakinkan aku, ya udah aku bakalan pulang sekarang.”