Bab 14

1148 Words
Seva menoleh kaget, lift yang ramai membuatnya tidak sadar ada Kenzie di sini.”Oh...” Seva kaget melihat penampilan Kenzie. Rambutnya di tata rapi, memakai stelan kerja yang mahal dan berkelas, benar-benar menunjukkan bahwa ia memang pewaris dari Musim Panas Grup. Sangat kontras dengan semalam yang hanya mengenakan celana pendek dan kaus, tak lupa sandal jepit yang dibeli di warung. “Cuma Oh?” Kenzie menatap Seva tak percaya. “Maksudnya, saya sudah baca pesan Bapak.” Seva tersenyum lebar, kembali menjaga sikap karena saat ini sedang ramai. Satu persatu karyawan keluar lift, Seva keluar begitu ia sampai di lantai tempat ia bekerja. Kenzie mengikutinya.”Pak, sepertinya ruangan Bapak satu lantai di atas ruangan ini.” “Ah, iya ya...” “Iya. Silakan naik lift lagi,”kata Seva sambil menghentikan langkahnya. Kenzie berhadapan dengan Seva.”Semalam...kamu ketiduran.” “Maaf soal itu...” “Jadi, Kepala Divisi GA itu mantan suamimu?” Kenzie menundukkan wajahnya. Seva mundur satu langkah.”Iya.” “Aku mendengar semua pembicaraan kalian.” Seva membuang wajahnya, ia malu karena aibnya diketahui oleh orang lain.”Maaf, itu urusan kami berdua.” “Berhenti menyakiti dirimu sendiri, Seva. Orangtua kamu pasti paham dan akan mendukung kamu sepenuhnya. Semua orangtua akan memprioritaskan kebahagiaan anaknya. Jangan pernah takut berkata jujur hanya karena kamu mengalami kemunduran, kadang kala kita mundur satu langkah...tapi dengan satu langkah itu kita bisa melompat sejauh seribu langkah. Pikirkan itu.” Kenzie tersenyum, ia meletakkan tangannya di puncak kepaka Seva dan mengusapnya sebelum pergi. Pria itu meninggalkan Seva dan masuk ke dalam lift. Seva terdiam beberapa saat karena ucapan Kenzie. Perlahan senyumnya terukir, ia berputar ke kanan untuk berjalan, tapi, kemudian ia terpaku karena di depannya ada Fania dan Jenni . Mereka pasti melihat dirinya bersama Kenzie tadi. Wajah Seva merah karena malu, ia berjalan cepat melintasi keduanya. “Kau lihat tadi?”bisik Fania sambil menyikut Jenni. “Itu katanya Pak Kenzie, generasi penerus Musim Panas,”balas Jenni.”Ganteng ya...” “Bukan itu!”Fania mendengus sebal. “Terus apa?” “Pak Kenzie ngusap-ngusap kepala Bu Seva. Jangan-jangan ada sesuatu sama mereka,”balas Fania. “Astaga...mana mungkin, kudengar Pak Kenzie itu masih seusia kita. Masa sama Bu Seva yang udah berumur gitu.” Jenni tertawa kecil, keduanya berjalan menuju ruangan ujian. Seva masuk ke ruangannya, meletakkan tas ke atas meja dan menghempaskan tubuhnya ke kursi. Apa yang dikatakan Kenzie ada benarnya, tapi, Seva belum memiliki keberanian untuk itu. Ia tidak ingin orangtuanya sakit karena memikirkan kejadian ini. Pintu ruangan diketuk, Fadli masuk.”Bu, para peserta gelombang pertama sudah berkumpul di ruangan.” Seva mengangguk.”Semua sudah beres?” “Sudah, Bu.” Seva bangkit dari kursinya,”baik, kita briefing dulu. Kumpulkan yang lain.” “Baik, Bu.” Fadli mengumpulkan semua staff di divisi yang dipimpin oleh Seva. Wanita itu memberikan bimbingan dan arahan sebelum memulai pekerjaan hari ini. Mereka harus mengawasi ujian seleksi masuk dengan ketat. “Baik, sekarang silakan laksanakan tugas kalian masing-masing,selamat bekerja, utamakan kesehatan dan keselamatan dalam bekerja,”kata Seva mengakhiri briefingpagi ini. Mereka membubarkan diri, lalu masuk ke ruang seleksi. Ujian dimulai, sesekali Seva mengawasi dari kejauhan. Di tengah-tengah ujian, Seva melirik ponselnya yang memancarkan lampu pemberitahuan. Ia membuka ponselnya. Satu pesan masuk dari sang Mama. “Seva, kalau sudah nggak sibuk telpon Mama segera ya.” Seva mengerutkan keningnya, tidak biasanya sang Mama seperti ini. Tanpa menaruh rasa curiga, Seva segera menghubungi Mamanya. Ia menjauh dari ruangan ujian. “Halo, Ma,”sapa Seva. “Seva, kamu bisa pulang?” “Memangnya ada apa, Ma? Kalau memang sangat gawat, Seva bakalan langsung pulang. Kalau memang masih bisa ditunda, Seva pulang weekend.” “Papa sakit. Mau ketemu kamu, katanya.” Jantung Seva berdebar keras, perasaannya mulai tidak enak.”Sakit apa, Ma?” “Tadi...” Suara Mama Seva bergetar, ia berusaha kuat agar tidak semakin memperburuk suasana.”Tadi...Zayn telpon dan memberi tahu soal kalian.” Hati Seva hancur lebur seketika.”Iya, Ma. Seva segera pulang. Mama tunggu di rumah, nanti kita bicarakan semuanya.” “Iya, Seva.” “Ma, Seva baik-baik saja...” “Iya, Mama tahu. Hati-hati di jalan...” “Iya, Ma.” Sambungan terputus, lalu kaki-kakinya gemetaran dan tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Ia hampir jatuh ke lantai, tapi, Arian yang melihatnya langsung berlari menolong. Arian berteriak minta tolong, Fadli datang dan segera membantu memapah Seva dan membawanya ke ruang kesehatan. Beberapa staff yang mendengar kabar perihal Seva menyempatkan diri menjenguk ke ruang kesehatan sebentar. Seva baik-baik saja, ia hanya butuh waktu untuk memikirkan semuanya dengan tenang. Kenzie mendengar kabar tentang Seva. Pria itu langsung pergi padahal ia sedang ngobrol dengan Mintoro. Kenzie masuk ke ruang kesehatan, lalu duduk di tepi ranjang.”Kamu nggak sarapan?” “Sarapan...” “Kurang enak badan ya. Pulang saja dan istirahat,”balas Kenzie. “Iya, aku memang mau pulang, mau berangkat ke Jakarta,”jawab Seva dengan lirih. Entah kenapa ia menceritakannya pada Kenzie. Meski menyebalkan, Kenzie cukup bisa dipercaya. “Kenapa mendadak? Kamu baru aja cuti, kan?” “Papa sakit...karena Zayn mengatakan semuanya. Padahal...sebelum kami sepakat bercerai, Zayn menyanggupi permintaanku untuk tidak memberi tahu masalah perceraian ini pada mereka. Aku akan memberi tahu sendiri dengan caraku.” “Terus...selama ini kalian pura-pura terus ya? Mungkin Zayn tidak enak pada istrinya yang sekarang.” Sejak masuk ke dalam kehidupan Seva, Kenzie sudah seperti wanita saja, mendengarkan gosip dari sana sini tentang Seva, lalu ia mengumpulkan data dari sana. “Iya. Masalahnya rumit. Tapi, ya sudahlah...sudah terjadi.” “Terus kenapa masih di sini, kamu harus ke Bandara, kan? Mau naik pesawat jam berapa?”tanya Kenzie, ada sedikit harapan di hatinya untuk mengantarkan Seva ke Bandara. “Ujian seleksi masih berlangsung, Ken, aku harus tunggu sampai selesai,”kata Seva beralasan. “Itu kan bisa diatasi sama staff bawahan kamu, Seva.” Seva menggeleng, ia memang memiliki staff dan memerintahkan apa saja pada mereka. Tapi, seleksi seperti ini sangat penting, harus dilaksanakan dengan jujur dan hasil yang murni. Ia takut ada yang berbuat curang, membayar staffnya untuk meluluskan mereka. Jika tidak diawasi ketat, Seva bisa kecolongan. Biasanya mereka yang memberi uang sogokan itu memiliki kemampuan yang pas-pasan, hingga akhirnya memperlambat produktivitas kerja. Perusahaan bisa rugi.”Aku harus awasi ketat, aku nggak mau ada nepotisme.” Lagi pula ini tanggung jawab yang besar, masa depan perusahaan juga berasal dari karyawan-karyawannya. Kalau aku gagal memilih mereka, aku gagal sebagai Kepala Divisi.” Kenzie menggeleng-gelengkan kepalanya.”Seva, pekerjaan memang penting. Tapi, tidak lebih penting dari keluarga. Kamu terlihat begitu mendedikasikan diri dengan perusahaan tanpa memikirkan diri kamu. Kalau kamu sakit parah, kamu masuk rumah sakit. Kamu mungkin akan dapat asuransi, tapi, Perusahaan pasti akan cepat mencari pengganti. Namamu tidak akan diingat, tapi, keluargamu mengenangmu seumur hidup. Jadi, jangan habiskan waktumu terlalu banyak untuk berkorban....karena...”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD