“Stop!”kata Seva.”Jangan nasehati aku yang jauh lebih tua darimu...”
“Seharusnya kamu yang jauh lebih tua paham dengan apa yang kubicarakan tanpa kuberi tahu.” Kenzie melipat kedua tangannya di d**a sambil membuang pandangannya.
“Aku paham...”
“Kalau paham, kenapa masih kaulakukan?”tatap Kenzie.”Sudahlah, jangan keras kepala. Pergi pulang temui orangtua kamu supaya mereka lega. Masalah perekrutan, aku akan turun langsung mengawasi, menggantikan kamu. Nggak akan ada nepotisme.”
Seva mengembuskan napas berat. Ia harus bergerak sekarang agar segera tiba di Jakarta. Seva mengambil ponselnya dan memesan tiket untuk keberangkatan sore ini. Setelah membayarnya melalui internet banking, ia bangkit dan duduk di sisi tempat tidur.”Aku harus pulang, periksa keadaan rumah.”
“Nanti kuperiksa,”kata Kenzie.”Aku punya kunci rumahmu.”
“Ah, iya...” Seva mengusap keningnya.”Ya sudahlah, minta tolong ya jagakan rumah. Aku nggak tahu sampai kapan ada di Jakarta.”
“Iya. Kamu selesaikan urusan kamu di sana. Aku bakalan kawal terus perekrutan ini sampai selesai. Kalau kamu belum pulang juga sampai saat itu, aku bakalan balik ke Jakarta.” Kenzie tertawa kecil.
Seva tersenyum tipis, wanita itu tertunduk sedih. Sepertinya ia belum kuat untuk segera berangkat ke Bandara dan menghadapi semuanya sendirian.
“Seva...” Kenzie menggenggam jemari Seva. Wanita itu malah menangis terisak. Ia hanyalah wanita yang berpura-pura tegar, disentuh sedikit saja ia akan hancur.”Aku antar ke Bandara sekarang ya?”
Seva mengangguk pelan dengan linangan air mata. Kenzie mengambil ponsel miliknya dan menyuruh Devan mencarikan sopir untuk mengantarnya ke Bandara. Setelah itu ia menyuruh Devan mengambilkan tas di ruangan Seva. Beberapa saat kemudian, Fadli yang membawakan tas Seva itu.
“Kamu urus masalah cuti Bu Seva ya, ada urusan keluarga yang harus diselesaikan,”kata Kenzie pada Fadli.
“Baik, Pak.”
Mobil datang, Kenzie membantu Seva bangkit dan membawa wanita itu keluar. Butuh waktu hampir satu jam menuju Bandara, Seva masih punya banyak waktu. Di perjalanan Seva terisak, entah apa yang edang dipikirkan wanita itu.
Kenzie yang duduk di sampingnya terkejut, kemudian merengkuh tubuh Seva. Wanita itu pasrah dalam pelukan Kenzie sambil melepaskan segala kesedihannya.
“Tidak apa-apa, hanya sakit sebentar sekalian minum pil pahit. Setelah itu kamu nggak akan tertekan lagi, semuanya akan berlalu,”hibur Kenzie.
Seva mengangguk dalam pelukan Kenzie. Pria itu mengusap-usap punggung Seva dengan sabar. Sebelum ia ke sini, ia sudah menyerahkan urusan kantor pada Devan, semoga saja pria itu bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Sementara Alvin dan Sopir di depan tampak asyik membicarakan pertandingan MotoGP semalam.
Seva mendongakkan wajahnya menatap Kenzie. Kenzie tersenyum, lalu menyeka air mata wanita itu.”Semua baik-baik saja, kan?”
Seva mengangguk lemah.”Terima kasih.”
“Itulah kenapa ...Tuhan mengirimkan aku ke sini, untuk menemani kamu...”
Kata-kata Kenzie langsung menyejukkan hati Seva. Dalam hitungan detik setelah itu, Seva memejamkan matanya karena lelah, tapi, pikiran Kenzie tidak menganggapnya demikian. Ia pikir Seva minta dicium.
Perlahan ia menundukkan wajahnya dan melumat bibir Seva. Seva membuka matanya perlahan, mata mereka bertatapan. Gerakan bibir Kenzie berhenti,mata mereka tak lepas dari tatapan itu. Melihat tak ada reaksi apa pun, Kenzie meneruskan ciumannya dan mendapat balasan dari Seva.
Sopir langsung mengarahkan kaca ke arah lain agar ia tidak melihat kejadian itu. Ia dan Alvin hanya bisa tertawa sesekali karena berada dalam posisi yang canggung ini.
Kenzie memandang Seva yang sudah masuk ke ruang tunggu. Raut wajahnya terlihat sedih sekaligus kecewa, ia tidak bisa menemani wanita itu. Ia bisa saja ikut berangkat ke Jakarta dan nenyerahkan semua tugas pada orang di kantor, tapi, ia sudah janji pada Seva akan mengawasi seleksi penerimaan karyawan. Ia juga sedang proses belajar, harus turun langsung untuk melihat kondisi di lapangan. Dengan begini, Sang Papa akan yakin padanya kalau ia bisa menjadi laki-laki yang punya tanggung jawab.
“Kita pulang sekarang, Mas?”tanya Alvin.
Kenzie menoleh dengan tak semangat, lalu ia mengangguk pelan.”Iya. Langsung ke kantor ya.”
“Baik, Mas.”
Sementara itu Seva menunggu boarding dengan tegang. Ia mengirim pesan pada sang Mama dan memberi tahu kalau ia sudah di Bandara dan sebentar lagi berangkat. Wanita itu memang tidak lagi mengeluarkan air mata, semuanya sudah ia habiskan sepanjang jalan. Ia tidak peduli jika Kenzie atau orang-orang yang melihatnya mengatakan ia adalah orang yang cengeng. Orang tidak pernah tahu bagaimana rasanya dicampakkan begitu saja saat hubungan rumah tangga sedang baik-baik saja, lalu tiba-tiba diceraikan alasan tidak bisa memberikan keturunan.
Tentu Seva tidak mau karena ia mencintai Zayn, suaminya dulu. Tapi, tekanan dari beberapa pihak membuat Seva harus kalah, merelakan melepas pria yang ia cintai, lalu menikah dengan wanita lain yang ternyata ia kenal. Ia tidak malu dikatakan belum bisa move on dari Zayn. Perihal cintanya pada lelaki itu, ia bisa membunuh perlahan, tapi, sakit dan traumnya sungguh membekas tak terlupakan. Orang lain tidak akan pernah paham bagaimana sakitnya.
Pemberitahuan bahwa pesawatnya sudah akan berangkat menyadarkan Seva. Wanita itu menyandang tasnya dan segera bangkit lalu masuk. Ia akan segera terbang ke Kota kelahirannya, mengabarkan secara langsung rasa duka yang ia sembunyikan sejak lama. Sepanjang perjalanan Seva memilih untuk tidur, ia harus memiliki banyak energi untuk tiba di rumah. Ia harus menjelaskan banyak hal dan mempertanggung jawabkan kebohongannya.
Seva keluar dari taksi, berdiri di depan rumahnya dengan takut. Dilihat banyak mobil dan sepeda motor di garasi dan halaman. Itu adalah milik saudara-saudaranya. Apa mungkin sakit Papanya separah ini sampai mereka semua datang. Seva meremas dadanya, berjalan dengan kaki gemetaran. Ia memencet bel, lalu pintu terbuka.
“Selamat ulang tahun!” Suara riang dan riuh itu menyambutnya malam ini.
Seva mematung di tempat, semua anggota keluarga ada di sini, mulai orangtuanya,sepupu-sepupu, keponakan, Om, Tante, sampai Pakde dan Budenya. Ruang tamu ini sudah didekorasi dengan indah, lengkap dengan makanan-makanan khas buatan Bude yang selalu menjadi favoritnya.
“Mama...Papa....” Seva menangis seperti anak kecil. Tas yang ia pegang jatuh ke lantai. Semua anggota keluarga berkerumun dan memeluk Seva.
“Eh, ini hari bahagiamu...jangan menangis. Kami sudah menyiapkan semuanya untuk kamu.” Bude Sri mengusap lengan Seva.
“Iya, Bude....” Seva mengangguk, lalu pandangannya tertuju pada sang Papa yang duduk di kursi roda. Enam bulan lalu Papanya masih segar bugar, tidak pucat dan duduk di kursi roda seperti ini.
“Papa...katanya, sakit?” Seva berlutut di hadapan sang Papa.
Papa Seva tersenyum, ia merentangkan tangannya ingin memeluk Seva. Seva berlabuh dalam pelukan sang Ayah lalu menangis di sana.”Papa sudah sehat begitu dengar kamu langsung pulang. Kamu sudah melewati masa-masa sulit sendirian. Sekarang, kami ada di sini untuk merayakan hidup barumu.” Papa Seva mengusap punggung anaknya dengan lembut.