“Jadi, Mama sama Papa nggak apa-apa kalau sekarang Seva sudah jadi janda?” Seva menatap Mama dan Papanya bergantian.
“Jika itu yang terbaik dan membuat kamu terbebas dari ketidak bahagiaan, Mama dan Papa akan mendukung, Seva. Yang penting kamu bahagia.” Mama Seva mengusap puncak kepala Seva.
“Menjadi janda bukan sesuatu yang buruk, Seva. Jadilah single happy! Dengan gitu...kita bisa jalan bareng lagi, kan?” Shifa memainkan alisnya.
Seva tertawa lirih, ia bangkit dan memeluk Shifa, sepupunya.”Dasar...anak nakal.”
“Sudah...sudah, Bude sudah masak kesukaan kamu. Sekarang kamu mandi dulu, habis itu ke sini ya. Kita makan sama-sama,”kata Bude sambil mendorong Seva pelan.
“Iya nih bau,”sahut Bella yang juga sepupu Seva.
“Ih, apaan baru datang dikatain bau,”kata Seva tertawa kecil. Wanita itu segera pergi ke kamarnya untuk mandi. Tubuhnya memang terasa lengket karena kebanyakan menangis.
“Ingat ya semuanya. Di depan Seva jangan ada bahas masalah Zayn, pernikahan, atau pun anak. Kita harus mengalihkan perhatian Seva pada kegiatan-kegiatan baru. Bikin Seva bahagia. Dia udah melewati masa sulit sendirian selama setahun,”kata Bude mewanti-waniti anak dan keponakannya.
“Iya, Ma.”
“Iya, Bude.”
Mama Seva memeluk kedua lengannya sendiri sambil menatap pintu kamar Seva yang sudah tertutup. Ia jatuh ke lantai dan menangis.
“Kak, yang kuat,”bisik Nana,adiknya.
“Na, bagaimana aku bisa kuat melihat kondisi anakku seperti itu. Ditinggalkan gitu aja karena nggak bisa punya anak. Lalu dia nggak mau kasih tahu ke kita karena malu dan takut bikin kecewa, takut Papanya sakit,”ucap Mama Seva lirih.
“Hati kita semua hancur mendengarkan nasib Seva seperti ini, Mila. Semua sudah terjadi, kita mau marah sama keluarga Zayn pun rasanya sudah nggak ada arti. Kita bersyukur saja karena sudah dijauhkan dengan orang-orang seperti itu. Yang terpenting...adalah Seva. Kita harus kuat demi Seva. Kita bangkitkan semangat dan percaya diri Seva lagi. Hidup masih panjang, aku yakin suatu saat nanti Seva akan bisa punya anak dari laki-laki yang sangat mencintainya.”
Mila mengangguk kuat, ia menghapus air matanya. Kakaknya itu benar, ia harus kuat supaya Seva juga bisa bangkit kembali. Jika selama ini Seva bisa melewatinya sendiri, maka sekarang ia juga harus bisa kuat.
Lima belas menit kemudian Seva turun. Mereka makan malam bersama. Suasananya begitu hangat dan menyenangkan. Seva terasa hidup kembali. Bermain kartu sampai tengah malam bersama sepupu-sepupunya yang masih lajang, rasanya terasa begitu nenyenangkan. Untuk sementara ia bisa tebebas dari kenangan masa lalu.
Sementara itu, Kenzie bolak-balik melihat ponselnya. Pesannya sama sekali tidak terkirim ke Seva. Mungkin saja Seva lupa mengaktifkannya kembali. Kenzie tidak ingin menghubungi karena ia yakin saat ini Seva sedang sibuk dan juga butuh waktu menyendiri untuk menyelesaikan masalahnya.
Ponselnya berbunyi, Kenzie kaget, lalu melihat layar ponselnya. Pria itu mendengus sebal, lalu menggeser layarnya.
“Ada apa, Kak?”
“Eh...kenapa langsung jutek gitu jawabnya?”
“Iya...iya, Kakakku yang cantik sedunia. Ada yang bisa kubantu?”tanya Kenzie dengan nada yang dibuat semanis mungkin.
“Kamu dimana?”
“Di Medan. Kenapa pakai basa-basi,sih, Kakak juga pasti sudah tahu aku ada dimana,”gerutu Kenzie.
“Kudengar kamu kerja ya?”tanya Kennita dengan nada menggoda.
“Iya...sedikit...”
“Ah, baguslah...tapi, kamu nggak punya niatan lain kan?”
“Aku belajar kerja, sesuai dengan permintaan Papa,”jawab Kenzie.
“Kapan balik ke jakarta?”
“Nggak mau...”
Tiba-tiba saja Kennita tertawa di seberang sana.”Hei, kalau berlama-lama di sana...sekalian saja ambil jabatan dan kerja.”
“Kerja?”
Kenzie merenung sejenak, bekerja adalah impiannya, namun, terlahir sebagai anak orang kaya membuatnya tidak mewajibkan ia bekerja usai ia menyelesaikan studi di salah satu Universitas. Selama ini, ia lebih sering mengikuti Kennita,membantunya sedikit. Tetapi, Kennitra sangat menyayangi Kenzie, begitu berebihan, hingga tidak membiarkan Kenzie capek.
“Kamu nggak mau kerja? Ini kesempatan loh, kamu, pengen kerja,kan?”
“Iya, sih. Oh ya, Kak,apa perempuan akan menolak laki-laki pengangguran?”
“Ya iya...makanya kamu kerja supaya nggak ditolak,”kata Kennita pada adik kesayangannya itu.
“Memangnya kalau aku kerja di sini, akan jadi apa? Di sini stafnya sudah lengkap. Tapi, kebetulan Kepala Divisi HRD sedang cuti, aku gantikan sementara,”cerita Kenzie dengan bangga.
Kennita menautkan kedua alisnya.“Oh ya...atas persetujuan siapa?”
“Ah, tentu saja persetujuan dari Direktur. Apa pun yang kubilang, Pak Direktur dengan senang hati mengatakan 'Ya',”jelas Kenzie dengan bangganya.
“Direktur di sana begitu?”
“Iya, mungkin kalau aku minta posisi lain, dia juga bakalan kasih.” Kenzie terkekeh.
Kennita menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. “Ah ...sementara jadi Kepala HRD sajalah, nanti kita pikirkan lagi. Kakak juga belum bicara sama Papa soal masa depan kamu.”
“Masa depanku ada di tangan kakak!”kata Kenzie dengan semangat. Untung ia punya dua kakak yang sangat menyayanginya. Selalu menjadi pelindung di saat ia dihukum oleh sang Papa.
“Kenzie...belajar yang bener di sana ya. Kamu itu anak laki-laki, Papa sangat berharap sama kamu. Jangan bandel lagi. Kakak nggak bisa terus-terusan lindungi kamu, apa lagi nanti kakak menikah…tentu nggak bisa terus awasi kamu,”kata Kennita.
“Iya, Kak...aku bakalan giat belajar. Tapi, please...sekali ini saja minta sama Papa supaya aku ditugaskan di Kota ini,”rayu Kenzie.
“Kamu, kan memang udah di Kota itu, Kenzie…kenapa harus merayu papa lagi?”
“Ya, Kakak, kan tahu sendiri…bisa saja tiba-tiba Papa nyuruh Kenzie pulang. Pokoknya Kenzie mau di sini dulu. Iya, ya, Kak?”rengek Kenzie.
Kennita menghela napas panjang. Ia tidak akan pernah bisa menolak permintaan adik tersayangnya itu.”Oke. Ya sudah hati-hati di sana. Kalau kekurangan sesuatu suruh Devan hubungi Kakak.”
“Iya, Kak.”
“Jangan macem-macem loh di sana, kalau sampai terjadi sesuatu…nggak bakalan Kakak toleransi, kamu harus segera balik ke sini dan nurutin apa pun yang kakak suruh,”ancam Kennita.
“Iya, kakak…Bye...” Kenzie memutuskan sambungan teleponnya.
Dipandanginya layar ponsel yang belum Sepertinya malam ini ia akan susah tidur karena memikirkan itu.
**
Matahari terik memasuki jendela, menyilaukan mata Seva yang baru bangun. Semalam ia dan sepupu-sepupu lajangnya bermain kartu sampai pukul empat pagi. Wajar saja ia baru bangun di saat matahari terik begini.
“Astaga...jam berapa ini?” Seva bangkit, dilihatnya sudah tidak ada orang di sekitarnya. Padahal mereka berkumpul di sini pagi tadi.
Wanita itu bangkit, kepalanya sedikit pusing. Ia pergi ke toiket untuk mencuci muka dan sikat gigi saja, karena setelah bergadang ia memang menghindari mandi agar tidak sakit. Setelah itu ia pergi ke dapur mencari sang Mama.
“Ma,”panggil Seva.
Mila yang sedang memanggang roti itu kaget mendapat pelukan dari Seva. Wanita itu tertawa, membalikkan badan dan memberikan pelukan balasan.”Baru bangun ya ampun...seru banget semalam ya.”
“Ya dong, aku menang terus. Besok Bella sama Dino traktir aku makan,”kata Seva sambil mengintip roti yang dipanggang Mamanya.”Lapar, Ma.”