Bab 17

1172 Words
“Itu di meja udah Mama siapin. Nggak ada sarapan ya, adanya makan siang.” “Papa kemana, Ma?” “Papa pergi sama Pakde, katanya mau mancing.” “Papa bukannya masih sakit, Ma?”tanya Seva. Mila tersenyum, ia membalikkan badan ke arah Seva yang duduk di kursi makan.”Papa sudah sehat begitu kamu pulang. Percaya sama Mama.” “Iya, Ma. Seva makan ya...lapar.” “Iya. Habis ini makan roti isi sosis,”kata Mila sambil mengecek hasil panggangannya. “Iya, Ma. Nanti Seva makan semuanya.” Diam-diam Mila tersenyum lega, usahanya untuk mengumpulkan semua anggota keluarga di sini semalam tidak sia-sia. Seva terlihat begitu bersemangat dan kembali menjadi dirinya sendiri. Jam makan siang sudah usia. Kenzie kembali ke kantor dengan wajah datar seperti biasa. Tatapan dan ucapannya begitu dingin sampai-sampai staff seperti Fania dan Jenni tidak berani beramah tamah padanya. Kenzie masuk ke ruangan Seva yang sementara ini adalah ruangan miliknya. Ia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi wanita itu. Semoga saja sudah aktif. Nada hubung berbunyi, Kenzie menghela napas lega. “Hai!”kata Seva dengan nada bersemangat. “Ah, bagaimana kabar kamu? Sudah sampai di jakarta ya?” “Iya. Aku baru aktifkan hape,”balas Seva sambil berbaring di sofa. Kenzie memutar bola matanya, ia sudah menduga seperti itu.”Kamu sudah makan siang?” “Sudah dong!” Kenzie mengerutkan keningnya dengan heran. ”Semangat sekali... “Iya dong, semuanya sudah berakhir...” Kenzie memperbaiki posisi duduknya.“Apanya?” “Ya semua kesedihan dan bebanku selama ini. Tahu nggak ...gitu aku sampai di rumah...ternyata semua anggota keluargaku ngasih kejutan ulang tahun, mereka nggak ngebahas masalah Zayn, mereka suruh aku lupain semuanya dan jalani kehidupan baru,”cerita Seva dengan antusias. Kenzie tersenyum penuh arti.”Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong...selamat ulang tahun ya?” “Terima kasih. Aku mau kado...”Seva terkekeh. “Baik, nanti kalau kamu sudah di sini aku kasih kado, sangat spesial.” Kenzie ikut terkekeh. “Aku tunggu. Oh ya, aku belum tahu kapan kembali....” “Kamu harus segera kembali, Seva. Karena aku kangen sama kamu,”ucap Kenzie. “Kangen atau kamu sudah capek menggantikan posisiku di sana?”tanya Seva. “Aku senang gantiin kamu di sini, tapi, aku lebih senang lagi kalau kamu juga menemani aku kerja di sini. Aku nggak nyuruh kamu cepat pulang, kamu juga butuh waktu berkumpul bersama keluarga, kan. Tapi, setidaknya kamu harus memikirkan aku yang tersiksa karena rindu.” “Itu bukan urusanku!” Seva tertawa keras membuat Mila menyipitkan matanya. Wanita itu pura-pura menonton televisi saja sambil menajamkan pendengarannya. “Kenapa kamu setega itu. Apa kamu nggak rindu dengan bibir seksiku?”goda Kenzie. Seva mengigit bibir bawahnya sambil membayangkan bibir Kenzie dan ciuman mautnya.”Ah...nggak!” Seva cepat-cepat menepisnya. “Hati dan mulut bisa saja nggak sejalan, kan?”kata Kenzie lagi, terus menggoda Seva.            “Hmmm...” Seva melirik Mamanya yang seperti sedang mengawasinya. Wanita itu bangkut dari sofa dan pergi ke kamar, ia menguncinya rapat-rapat.”Aku tidak pernah merindukan bibirmu itu, sama sekali tidak seksi.” “Aku nggak perlu pernyataan itu, cukup fakta yang berbicara,”balas Kenzie tak mau kalah.”Segera kembali, kita akan lewati malam-malam b*******h berdua.” Seva tertawa keras, sangat geli membicarakan masalah intim di siang terik seperti ini.”Sudah, kerja saja sana.” “Hah, kamu masih saja tidak mau terbuka. Padahal kita pernah saling memuaskan malam itu,”kata Kenzie kembali memancing Seva. “Kenzie...” “Pak Kenzie, rapatnya sudah bisa dimulai.” Kenzie terkejut setengah mati karena tiba-tiba Fadli muncul saat ia sedang bicara mesra pada Seva “ah, iya...saya segera keluar.” “Baik, Pak.” “Seva, sudah dulu ya. Aku mau rapat membahas seleksi kemarin. Nanti kutelpon lagi, Muuuahh!!” Kenzie memberi kecupan sebelum memutuskan sambungan. Seva tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.”Dasar, Brondong edan!”   **    Keesokan harinya, Dino dan Bella menepati janjinya untuk mentraktir Seva. Sejak sore, Bella dan Seva sudah bersiap-siap. Sementara Shifa sudah menunggu di salah satu pusat perbelanjaan dimana mereka janjian untuk ketemu. “Seva, Bella, cepetan dong!”teriak Dino dari mobil. “Ini anak!” Bella menggeram sambil merapikan tasnya. “Ya udah kalian pergi cepetan. Kasihan tuh Dino.” Mila terkekeh melihat tingkah anak-anak itu. “Tante, Dino itu memang begitu...rese.” “Ma, pergi dulu ya?” Seva mencium pipi Mila, lalu berangkat bersama Bella. Mila tersenyum lega. Pikiran Seva teralihkan dan ia bisa memiliki banyak kesibukan selama di sini. Berbeda dengan enam bulan yang lalu, saat Seva pulang sendirian dengan alasan Zayn tidak bisa cuti. Anaknya itu “Ih sabar dong, baru juga lima menit,”omel Bella yang keluar bersama Seva. “Ah, muke lo juga nggak berubah, sih!”komentar Dino yang sudah merengut sejak tadi karena terlalu lama menunggu Seva dan Bella bersiap-siap. “k*****t banget lo!”balas Bella sambil masuk ke dalam mobil. “Udah yuk berangkat!”kata Seva dari bangku belakang. Ini pertama kalinya ia jalan-jalan dengan anak gadis dan bujang yang usianya jauh dengannya. Dulu, semasa gadis ia sering pergi bersama Fika dan Nirina, yang sekarang sudah berkeluarga dan punya anak. “Ya ampun, cantik banget berasa seumuran deh,”komentar Shifa. “Eh, jelas dong...umur gue tuh cuma beda setahun sama lo,”balas Seva tak mau kalah. “Tuh rasain!” Dino terkekeh. “Iya iya iya, apa saja yang penting kamu bahagia.” Shifa mengalah.”Kita kemana, nih?” “Main di game zone yuk, seru kali ya,”kata Dino. Shifa menggeleng.”Ah, kayak anak kecil...” “Ayok!” Seva menarik tangan Dino dengan semangat menuju game zone. Bella dan Shifa bertukar pandang. Tapi, kemudian mereka menganggukkan kepalanya. Tugas mereka adalah membuat Seva bisa seperti dulu lagi. Mereka pun mengikuti Seva dan Dino yang sudah hampir sampai. Sementara itu di tempat lain, Kenzie berjalan di tengah-tengah keramaian sebuah mall, mengenkan celana pendek di atas lutut, kaus hitam yang sedikit kebesaran, topi hitam, dan sandal jepit merk burung terbang. Di belakangnya Alvin dan Devan mengikuti, tentunya membawa tas berisi dompet-dompet dan barang berharga milik Kenzie. Kenzie berhenti di depan toko perhiasan. Tanpa memberi aba-aba, ia langsung berbelok. Alvin dan Devan buru-buru mengikutinya. “Mas, mau beli apa?”tanya Devan heran. “Mau lihat-lihat aja,”katanya dengan cuek. “Mau lamar Bu Seva kali ya,”bisik Alvin. “Masa?” Alvin mengangkat kedua bahunya, ia berdiri di belakang Kenzie dengan siaga. Kenzie berdiri di depan etalase berisi deretan cincin. Pria itu berdiri sambil berkacak pinggang dan melihatnya dengan teliti. “Kalau untuk laki-laki yang di sana itu, Mas,”tunjuk Devan ke arah kanan. Kenzie menggeleng.”Nggak suka pakai cincin.” “Oh...” Devan terdiam, ia melirik Alvin , sepertinya dugaan pria itu benar. Kedua pria itu berdiri dengan sabar di belakang Kenzie yang masih diam misterius di depan etalase. Sepasang suami istri masuk ke toko itu, lalu sang pria melihat Kenzie dan langsung menghampiri. “Pak Kenzie apa kabar?” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD