The Paradise

1038 Words
Kelab itu selalu ramai setiap harinya. Penuh sesak dengan orang-orang yang mencari kesenangan akan dunia malam. Setelah seharian bekerja, mereka membutuhkan tempat untuk melepas penat. Tidak salah, The Paradise sendiri memang surga dunia bagi mereka. Tak hanya anggur terbaik yang disajikan, para wanita tercantik dan Disc Jockey ternama berkumpul. Di sanalah Kenhart, Christian juga beberapa teman mereka bertemu setiap jumat malam. "Akhirnya kau datang juga kepala batu." Christian menepuk bahu sahabatnya itu. Dia yakin, Kenhart tidak akan melewatkannya. Ada seorang DJ pendatang baru cantik yang akan menjadi tamu malam ini. "Aku hanya sebentar," jawabnya malas. Sepanjang hari dia terbayang akan pipi kemerahan milik Tiffany. Lalu bagaimana dia bisa bersenang-senang dengan wanita lain? "Hei! Kau kenapa? Tak biasanya begini. Apa kau marah karena perkataanku tadi pagi?" tanya Christian. "Aku marah. Tapi aku tidak akan melayangkan tinju. Tanganku terlalu bersih untuk melakukannya," ucap lelaki itu. Christian tergelak lalu berkata. "Jadi, kau akan mengutus seseorang untuk menaburkan racun di minumanku. Benar?" tebaknya. "Kau memang jenius. Tak salah aku memilihmu sebagai teman." Kenhart mendorong bahu Christian dengan sedikit keras, membuat lelaki itu tersentak dan terkejut. Apa yang terjadi kepada Kenhart? Mengapa kali ini dia sensitif sekali. "Sorry, Ken. Jangan marah soal itu," sesalnya. "Kau menyebar nomor ponselku tanpa izin. Itu sungguh menjengkelkan." Hampir saja dia mengucapkan kata-kata kasar. Untunglah masih bisa menahan diri. Bagaimanapun, Christian yang sejak dulu dekat dengannya, menghadapi berbagai macam permasalahan. Mereka mendirikan kantor pengacara bersama-sama, dan memulai semua dari nol. Sejenak laki itu membuang wajah. Setengah harinya hanya dihabiskan untuk menjawab berbagai macam panggilan. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mematikan ponsel. "Ayolah, mereka sumber uang," bujuk Christian. Jika berhasil, tentu saja dia akan mendapatkan tambahan bayaran. Dia membutuhkannya untuk membeli sebuah mobil ford keluaran terbaru. Kenhart tertawa sinis. Uang? Tanpa bekerja pun, ayahnya akan dengan senang hati memberinya semua kemewahan dunia. Melihat itu, Christian tersadar. Salah jika berharap sahabatnya itu akan setuju. Harusnya dia mengumpan seorang wanita cantik, karena itulah yang disukai keluarga mereka. Uang bukanlah sesuatu yang harus ditakuti oleh kenhart. Konon katanya, keluarga Andersons memiliki harta yang tidak akan habis hinga tujuh turunan. Betapa beruntungnya jika bisa menjadi bagian dari mereka. Sayang, tidak ada keturunan wanita yang lahir salah satu bangunan megah milik keluarga Anderson di kota ini. Jika saja ada, mungkin Christian akan mendekatinya. Tiba-tiba, dia teringat akan sesuatu yang mungkin bisa menjadi jalan keluar. "Ken. Lihat di ujung sana. Sekretarismu yang cantik itu sedang bermain dengan orang lain. Apa kau tidak cemburu?" pancingnya. Lelaki itu menoleh. Margaretha, wanita pintar dan cantik yang selama dua tahun ini menjadi sekretarisnya itu sedang bermesraan dengan seorang lelaki berambut pirang. Seketika perutnya menjadi mual. Dia bukanlah lelaki suci, hanya saja tak pernah mengumbarnya di depan umum. Kenhart akan mencari tempat yang nyaman dan memperlakukan sang wanita dengan sangat baik sekalipun dia membayarnya mahal. "Aku tidak tertarik padanya, Chris." "Why?" Christian mengernyitkan dahi. Dia pikir semua wanita yang berada di sekeliling si tampan ini telah ditaklukan. Ternyata .... Sayang sekali jika Kenhart menolak. Margaretha merupakan idaman para lajang di klub ini. Hanya saja dia memilih teman kencannya. Dan, Christian bukanlah lelaki yang beruntung. Kenhart mengabaikan ucapan sahabatnya itu. Dia harus cepat pulang. Jika terlalu malam, maka dia akan bangun siang keesokan hari, dan kesempatan untuk bertemu dengan Tiffany akan hilang. Jika sampai itu terjadi, maka peluangnya untuk mendapatkan gadis itu kecil, mengingat ada dua saudara laki-lakinya yang akan berbuat sama. Oh, jangan sampai dia dahului. Mereka bertiga memang penggila wanita. Bedanya, dia tak akan melakukan hal kasar, seperti yang dilakukan kedua saudara lelakinya. "Aku pulang sekarang." Dia membalikkan badan dan hendak melangkah pergi, saat terdengar teriakan. "Hei! Apa kau tak ingin berdansa dengan DJ yang akan tampil sebentar lagi?" pekik Christian. "Untukmu saja," balasnya. Lalu dengan langkah pasti dia berjalan keluar. Mengabaikan beberapa wanita yang mendekati dan mencoba merayunya. Ah, Tiffany yang masih ranum memang lebih menggoda. *** Jarum jam menunjukkan angka satu saat mobilnya memasuki pekarangan rumah. Dia melempar kunci di atas kasur dan meletakkan begitu saja sepatu dan tas kerja. Lelaki itu berjalan ke arah kamar mandi, merendam diri ke dalam bath up dan mengisinya dengan busa sabun yang melimpah. Aroma lavender seketika menguar di setiap sudut ruang itu. Di jam-jam begini, rumah sudah sepi karena semua penghuninya sudah kembali ke kamar masing-masing. Lagipula siapa yang akan peduli jika dia tidak pulang sekalipun. Bagi orang tuanya, mengurus bisnis dan mencari uang lebih penting daripada menghabiskan waktu bersama keluarga. Dan dia muak. Setelah membasuh tubuh dengan air hangat yang keluar deras dari lubang-lubang shower, Kenhart mengambil handuk dan melangkah keluar. Tetesan air dari rambut membasahi lilitan handuk. Sebenarnya jika dilihat dari dekat, wajah Kenhart tidaklah setampan kedua adiknya. Jika mereka setiap minggu menghabiskan waktu di gym untuk membentuk otot perut agat tercetak sempurna, dia memilih bersantai di kamar sambil menonton film. Ada yang mengatakan bahwa dia lebih gendut beberapa tahun terakhir ini. Tapi, siapa peduli? Tiffany bahkan merona saat dia menyentuh pipinya tadi pagi. Itu membuatnya gemas dan ingin melakukan lebih. Harusnya dia tidak usah mampir ke klub dan membuang waktu berbual dengan Chistian. Apalagi melihat kelakuan Margareth yang membuatnya risih. Untunglah gadis itu bekerja dengan baik dan cetakan. Jika tidak, mungkin dia akan memecatnya. Seketika perutnya berbunyi. Mungkin di dapur ada sepotong roti dan kopi panas untuk menghangatkannya malam ini. Harapnya jika Tiffany bisa menemani tentu saja akan lebih menyenangkan. Namun, dia tidak boleh terburu-buru. Dia baru saja datang, jika bertindak gegabah, bisa saja membuat gadis itu ketakutan. Setahunya, yang datang dari desa biasanya pemalu walaupun itu tak berlaku untuk semua. Mendekati Tiffany tidak semudah itu. Ibunya pasti akan menjaga dengan ketat. Jadi, semua perlu perhitungan yang matang. Sama seperti saat memutuskan untuk mengerjakan suatu kasus. Bisa membuatnya namanya melambung, tapi bisa mencelakakan jika kurang beruntung. Langkah kaki Kenhart terhenti di ujung tangga saat mendengar suara seorang wanita. Ternyata bukan hanya dia yang pulang larut malam ini, tapi juga salah satu saudaranya. Dia sendiri belum membawa wanita malam masuk ke dalam rumah mereka. Kamar mereka memang sengaja dipisah jauh dari bagian inti rumah, karena itulah mereka bebas membawa siapapun yang disukai. Kenhart berbalik naik ke atas. Lebih baik dia minum soda dan keripik kentang yang tersimpan di kulkas yang ada di kamar. Lupakan sepotong roti mentega, secangkir kopi panas, juga bayangan Tiffany. Kenhart jijik mendengar suara itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD