Pool

1253 Words
Suara riuh di sebuah kolam renang berukuran raksasa milik keluarga Andreson terdengar menggema. Weekend kali ini, ketiga putranya mengundang beberapa orang teman mereka untuk bersenang-senang. Richard, sang putra bungsu, membawa teman kuliahnya yang seksi dan cantik. Sekalipun usianya paling muda, dialah sang petualang cinta. Di kampus, lelaki itu menjadi idola baik senior ataupun teman seangkatan. Kenhart sedari tadi hanya duduk di kursi santai sambil menikmati hidangan yang disiapkan oleh para maid. Dia sendiri tak berniat bergabung bersama mereka, sekalipun itu sangat menggoda. Berbeda halnya dengan Richard, putra kedua Anderson itu sejak tadi berendam di dalam air dikelilingi beberapa gadis cantik pilihannya. "Apa kau tak tertarik bergabung bersama kami, Ken?" Raymond duduk di sebelah kakaknya. Entah mengapa dia merasa kakak sulungnya ini sepertinya enggan untuk ikut bersama mereka. "Aku sedang ingin duduk dan melihat kalian. Itu cukup," ucap Kenhart sambil menyodorkan sepiring sushi kepada adiknya. Dengan senang hati, Raymond mengambilnya kemudian melahap satu persatu hingga habis. Berenang memerlukan energi, jadi ketika naik ke atas perutnya seketika lapar. "Mereka cantik-cantik, bukan?" Dia melambaikan tangan ke arah para gadis yang sedang asyik bercerita, yang kemudian dibalas dengan teriakan. Mereka menginginkan dua lelaki lajang itu bergabung, hanya saja tak berani mendekat karena melihat wajah Kenhart yang dingin sejak tadi. "Ya, tapi aku tidak berminat," jawab Kenhart singkat. Pikirannya melayang ke arah Tiffany. Apa yang sedang gadis itu lakukan di rumah inti. Para maid hanya menyiapkan makanan, namun yang datang menyajikan semuanya adalah maid khusus area ini. Benak Kenhart melayang, bagaimana caranya agar sesering mungkin bertemu dengan gadis itu, tidak hanya di ruang sarapan, namun juga jangan sampai bertemu dengan kedua adiknya. Pelik dan hingga sekarang dia belum menemukan jalan keluarnya. Ibunya pasti tidak setuju jika dia meminta gadis itu menjadi maid mereka. Itu sama saja mengumpan daging ke kandang buaya. Dan dia sendiri ... salah satu buaya itu. "Akhir-akhir ini aku lihat kau sering melamun. Apa kau sedang jatuh cinta?" Raymond menatapnya dengan curiga. "Jangan sok tahu Ray. Kau masih kecil," ucapnya. Raymond tertawa geli mendengar ucapan kakaknya. "Aku lebih berpengalaman soal wanita dibanding kau, Ken. Usiamu tiga puluh satu tahun dan kau belum menikah hingga saat ini. Kau hanya sesekali berkencan dan tidur dengan wanita. Tidak pernah membawa gadis ke base camp kita," gelaknya. Base camp adalah sebutan untuk area kamar mereka. Semacam sarang yang bebas digunakan untuk berbuat apa saja. Hanya tidak boleh ada obat-obatan terlarang yang masuk. Jika sampai itu terjadi, Jack mengancam akan mengusir mereka. Pak tua itu tidak mentolerir barang haram itu masuk ke rumahnya dengan alassan apapun. Susah menyuap aparat untuk menutupinya, dan jika sampai itu terjadi, maka nama keluarga mereka akan tercemar. "Aku belum menemukan yang cocok, dan itu tidak perlu terburu-buru. Wajahku cukup tampan dan uangku banyak. Siapapun bersedia menjadi nyonya Kenhart, bukan?" ucapnya angkuh sambil memandang Raymond. "Benar sekali, Ken. Tapi aku melihatmu aneh beberapa hari ini. Seperti tidak berselera dengan wanita. Hei, ayolah. Aku membawakan kalian gadis terbaik di kampusku," katanya berpromosi. "Pergilah dan jangan ganggu aku," usirnya. Tangan besarnya meraih sepotong daging barbeque yang lezat karena dilumuri dengan saus yang banyak. Raymond berdiri hendak meinggalkan kakanya dan kembali bergabung dengan para gadis. Namun, sebelum itu dia berkata. "Aku tahu kau menyukai Tiffany. Sepupu jauh kita yang polos itu. Mommy bercerita kepadaku." Wajah Kenhart berubah mendengarnya. Apa yang telah ibunya katakan kepada para saudaranya? Apa ibu diam-diam memperhatikan? Oh, dia lupa, seorang ibu mempunyai perasaan yang kuat kepada anaknya. "Aku tidak akan merebutnya darimu, Ken. Tidak tahu apa Richard juga mengincarnya atau tidak. Kau pastikan saja!" Lalu dia berjalan menjauh. Kenhart meletakkan sendok. Dia kehilangan selera makan. Jika Raymond mengatakan hal hal itu, berarti dia benar. Adik bungsunya itu jarang berbohong. Lagipula di kampusnya lebih banyak yang menggoda. Sudah pasti tidak akan tertarik dengan Tiffany yang hanya gadis biasa. Tapi Richard? Kenhart harus waspada. Di antara mereka bertiga, putra kedua Andreson itu yang paling tampan. Dengan perut sixpack dan wajah bak dewa yunani. Hanya perlu menyapa dan wanita yang akan mendekatinya. Entah bagaiaman proses pembuatan Richard terjadi, hingga dia sempat berpikir. Apa kedua orang tuanya pilih kasih dengan mengahdiahkan Richard wajah dan bentuk tubuh yang sempurna. Oh ya, Kenhart mungkin lupa. Adiknya itu rajin berlatih di gym untuk mendapatkan bentuk tubuh yang proporsional. Lelaki itu berjalan meninggalkan pool menuju taman belakang. Mungkin melihat bunga-bunga yang cantik akan mengembalikan moodnya. Dia sedang tidak ingin keluar, berjalan-jalan atau duduk menonton channel favoritnya. Tiba-tiba saj dia teringat sesuatu. Bukankah Tiffany senang sekali datang ke sini. Gadis itu pasti akan mengulanginya, melihat tanaman indah yang sedang bermekaran. Kakinya melangkah pelan menuju tempat itu, sambil bersiul mendendangkan lagu. Kiss From A Rose menjadi pilihannya. Suara Seal yang khas memang memukau siapa saja, dan Kenhart menyukai filmnya juga. Matanya melirik ke arah kanan dan kiri. Sepi. Hanya ada alat penyiram air otomatis yang berputar di setiap rumpun taman sehingga mereka tidak akan layu karena kekeringan. Pengurus taman juga tidak ada. Biasanya dia akan beraksi di pagi buta saat mereka masih terlelap. Jika sudah siang begini, lelaki itu akan mengerjakan hal lain seperti membersihkan kolam ikan atau membeli pakannya. Siulan Kenhart terhenti saat terdengar langkah kaki. Dua orang gadis datang memasuki taman. Dia berhenti dan menetap sejenak. Itu Tiffany dan salah seorang maid lama. Mereka berdua tampak senang, berjalan sambil bercerita. Lelaki itu menatap dengan intens. "Aku beruntung bisa melihat taman indah ini. Sebelumnya kami tidak berani mengunjunginya. Sungguh bosan hanya berada di dapur atau di kamar setiap harinya.," ucap si maid itu. "Aunty memberiku izin untuk mengunjunginya, karena itu aku mengajakmu," jawab Tiffany senang. "Kau beruntung, masih memiliki hubungan drah dengan keluarga ini. SEbagian fasilitas bisa kau nikmati," keluh maid itu. "Hanya keluarga jauh. Lagi pula aku juga membantu kalian memasak di dapur dan membersihkan setelahnya." "Kau beruntung karena bisa bertemu dengan para Andreson yang tampan setiap harinya. Sedangkan kami hanya sesekali." Tiffany tergelak. Ternya itu yang mereka irikan. Sungguh lucu, dia bahkan takut jika berhadapan dengan keluarga besar pemilik rumah ini. "Aku tidak tertarik dengan mereka. Lagipula tidak ada pria kaya yang menyukai gadis miskin. Itu hanya dongeng anak kecil sebelum tidur," ucapnya menghibur. "Ya, kau benar. Tapi bisa saja mukjizat Tuhan terjadi. Kau beruntung bisa mendapatkan salah satu di antara mereka. Akuu dengar lajang Anderson suka pada gadis muda. Dan kau masih ranum," bisiknya. Sepertinya mereka tak menyadari bahwa Kenhart sejak tadi memeprhatikan dari kejauhan. Taman ini cukup luas hingga sosok besarnya terlindung di balik rumpun bunga yang besar. Dua gadis itu masih saja bercerita sambil berkeliling, hinga tak menyadari Kenhart yang mengikuti dari belakang. Lelaki itu memilih diam. Tak terdengar jelas juga apa yang mereka bicarakan. Kenhart tersenyum saat mendengar suara tawa renyah yang berasal dari mulut Tiffaby, hingga tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah teriakan. Gadis itu terjatuh karena tersandung batu besar di depannya. Dengan cepat dia berjalan mendekati. Kedua orang itu terkejut saat mendapati tuan mereka berada di tempat yang sama. "Kau berdarah." Kenhart memeriksa lutut Tiffany yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah cukup banyak. Sepertinya luka itu cukup besar. "Aku tidak apa-apa. Kami akan kembali ke dalam," tolaknya saat lelaki itu menawarkan bantuan. "Sebaiknya kita segera kembali ke dalam," ajak maid itu. Dia memabntu Tiffany berdiri. Namun karena tubuhnya sama mungil, mereka hampir saja terjatuh kembali. Dengan sigap, Kenhart meraih tubuh Tiffany dan menggendongnya. "Kau!" Dia menunjuk ke arah maid, lalu berkata. "Kembali ke dalam dan bilang pada Mommy, Tiffany ada di tempatku. Dia berdarah dan aku akan mengobatinya." Lalu Kenhart berjalan begitu saja tanpa memerdulikan reaksi gadis itu yang masih syok karena perbuatannya. Lelaki itu dengan mantap berjalan menuju area mereka dan membawa Tiffany ke ... kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD