"Duduk yang benar." Kenhart memberi perintah setelah melihat Tiffany yang tampak ragu saat mereka sudah berada di kamar.
Mata wanita itu menatap sekeliling ruangan. Luas sekali hingga membuatnya takjub. Design interiornya sungguh mewah, dilengkapi dengan perabotan mahal. Entah berapa banyak uang yang dimiliki oleh paman dan bibinya hingga harga satu ruangan ini lebih mahal dari pada satu rumah penduduk di desanya.
Gadis itu merapikan ujung baju karena sedikit tersingkap saat Kenhart meletakkannya di sofa.
"Darahnya mengotori sofa," ucapnya. Sudah dibersihkan dengan kapas namun masih saja mengalir. Bahkan, kini lututnya terasa nyeri dan menimbulkan bekas yang mulai membiru.
"Tunggu, aku akan mengambilkan obat." Lelaki itu membuka laci dan sibuk mencari, apakah ada sesuatu yang bisa menghentikan pendarahannya. Setelah beberapa menit dan akhirnya ... ketemu.
Dengan cetakan, Kenhart mengoles obat dan menutup luka itu dengan perban. Tiffany sendiri hanya bisa pasrah, membiarkan tangan lelaki itu bekerja sambil memperhatikan wajah Kenhart dengan malu-malu.
Mengapa semua keturunan Anderson berwajah tampan? Dia belum pernah melihat lelaki yang begitu gagah, berkulit bersih dengan rahang kokoh seperti ini. Di desa, rata-rata lelaki akan berkulit cokelat karena terbakar sinar matahari. Satu lagi, sikap mereka kasar. Mungkin karena harus bekerja di luar ruangan. Ayahnya sendiri seperti itu, sering berteriak saat memanggil ibu atau kakaknya.
Gadis itu memilih diam, tak tahu harus memulai pembicaraan. Apalagi mereka hanya berdua di kamar itu. Semoga Kenhart tak berniat jahat kepadanya.
"Terima kasih," katanya sopan setelah semua terbalut dengan sempurna.
"Kau di sini sampai lukamu sembuh. Aku akan memangil dokter." Dia mengambil ponsel di nakas dan mendial sebuah nomor. mengucapkan beberapa kata dan menutup panggilan.
"Tapi, aunty akan bertanya, dan ini ... tidak sopan," kata Tiffany gugup. berulang kali dia memilin baju dan mengusap rambut karena gemetaran.
"Apa maksudmu tidak sopan?" tanya Kenhart penasaran.
"Aku di dalam kamarmu," katanya polos.
Kenhart tertawa geli. Lalu dia menarik tubuh gadis itu mendekat. Tangannya meraih dagu yang terdapat belahan di tegah, kemudian berkata.
"Apa kau berpikir aku akan melakukan sesuatu padamu, Nona?" Senyum tipisnya tercetak di bibir. Dia ingin tahu, jika diperlakukan seperti ini, Tiffany akan bereaksi seperti apa. Benar sesuai dugaan, gadis itu gemetaran karena ketakutan.
"Itu ... aku tidak tahu." Dia menepiskan tangan besar itu dari wajahnya. Namun, sepertinya akan mustahil untuk rengkuhan di pinggang.
"Bagaimana jika aku berbuat sesuatu yang diinginkan semua lelaki pada gadis secantik dirimu?" Dia memancing.
Mata Tiffany terbelalak. "Aku akan mengadukan kepada aunty," katanya mengancam.
Jika sampai putra sulung Anderson ini berani bertindak asusila, dia akan bicara kepada Marry. Sekalipun akibatnya akan diusir dari rumah ini, karena tuduhan merayu salah satu putranya. Kehormatannya saat ini lebih penting dari apapun.
Gelak tawa Kenhart bergema. Dia melepaskan rengkuhan. Kini tangannya malah menutup mulut, berusaha menahan tawa. Sungguh lucu sekali gadis ini.
"Apa kau tidak pernah disentuh lelaki, Tif?" Akhirnya dia bertanya dengan mimik wajah yang dibuat senormal mungkin.
"Ayahku seorang mandor di peternakan milik keluargamu, Tuan. Tidak ada yang berani berbuat kurang ajar kepadaku," ucapnya dengan nada suara yang meyakinkan.
Dan Kenhart harus menahan tawa untuk yang kesekain kali. Bukankah gadis yang masih suci ini sungguh menantang? Di kota ini, mungkin hanya ada satu dari seribu. Lalu, mengapa tidak dari dulu mereka bermain-main di desa dan mencicipi para gadis di sana? Sungguh kotor sekali dia hingga berpikir seperti itu. Dan ... sungguh beruntung para lelaki di desa karena para gadis masih suci tak terjamah.
Hanya saja, berhubungan dengan mereka harus terikat seumur hidup dalam pernikahan. Dia sendiri belum ingin melakukannya.
"Jadi, kau belum punya kekasih?" cecarnya. Mudah sekali menggali informasi. Tiffany akan dengan senang hati menceritakan tentang dirinya. Dia hanya perlu sedikit mengintimidasi, sama seprti saat dia melakukan pekerjaan.
"Ayahku tidak memberi izin." Mata bulat itu menatap Kenhart dengan aneh. Untuk apa lelaki itu bertanya banyak hal kepadanya?
Kenhart mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah. Aku rasa cukup pembicraan kita kali ini. Kau, berbaringlah di sana." Dia menunjuk ranjang besar yang ditutupi dengan kain satin lembut berwarna putih. Juga bed cover tebal yang hangat. Tentu saja kasurnya sangat empuk, dan bisa dipastikan akan nyaman seharian berada di situ.
"Mengapa aku harus berbaring di ranjangmu?" tanya gadis itu ketakutan.
Tanpa menjawab, lengan besar itu kembali mengangkat tubuh Tiffany dengan cepat, lalu meletakkannya di tempat tidur.
"Kau mau apa?" Gadis itu berusaha menjauh saat Kenhart mulai mendekatkan diri.
"Ini kamarku dan aku bebas berbuat apa saja di dalamnya." Nada suara lelaki itu dingin dan penuh penekanan. Tubuhnya mulai merapat hingga mereka hampir tak berjarak.
Ketika Tiffany mencoba menghindar, lelaki itu malah memegang kedua lengannya hingga dia tak dapat bergerak.
"Ya Tuhan, lindungi aku dari kebejatan lekaki ini." Begitulah doanya dalam hati.
Dia tidak ingin kesuciannya terenggut begitu saja oleh orangyang baru saja dikenal sekalipun mereka masih memiliki hubungan keluarga.
"Diam atau aku akan memaksamu!" ancam Kenhart.
Hiks!
Terdengar suara tangis yang membuatnya terkejut. Gadis itu meneteskan air mata di kedua sudutnya.
Melihat itu, Kenhart malah tertawa geli kemudian melepaskan cekalan. Niatnya tadi hanya ingin menggoda. Dia meminta gadis itu berbaring karena merasa kasihan melihat Tiffany yang mengeryit kesakitan saat menekuk kaki. Jika diluruskan di tempat tidur, mungkin rasanya akan lebih nyaman.
"Maaf aku hanya bercanda. Kau tak perlu menangis. Sebentar lagi dokter akan datang karena itulah aku menyuruhmu berbaring." Lelaki itu menjauh dan duduk di sofa. Dia mengambil remote televisi dan membuka sebuah channel. Membiarkan layar itu menyala begitu saja.
"Kau tak perlu memanggil siapapun. Biarkan aku pergi dari tempat ini," pintanya sambil menghapus sisa air mata yang membekas di pipi.
"Lukamu dalam, mungkin bisa infeksi. Aku pernah menegalami hal yang sama, karena itulah aku memanggil dokter. Jangan banyak bicara atau aku akan benar-benar menyumpal mulutmu dengan bibirku."
Kali ini dia serius. Sejak tadi memang hal itulah yang berkeliaran di benaknya. Bibir Tiffany yang merah menggoda.
Gadis itu memilih diam kembali dan menatap layar televisi.
"Aku akan pergi sebentar. Kau tunggu di sini. Dokter yang datang serang wanita. Kau tak perlu takut." Dia berjalan keluar dan meninggalkannya begitu saja.
Helena. Seorang dokter cantik yang pernah menjadi teman kencan, memang belum pernah berkunjung. Sehingga Kenhart memilih untuk menyambutnya di depan. Tadi saat menelepon, gadis itu terkejut saat dia meminta datang.
Saat tiba di depan, dia bertemu dengan Richard yang baru saja kembali dari pool dengan dua orang gadis. Sepertinya mereka akan melanjutkan permainan bertiga. Dia tidak perduli, dan tidak berselera sama sekali.
"Siapa yang kau bawa ke kamar, Ken?" ejek putra kedua Anderson itu.
Mereka tidak terlalu akur karena bersaing dalam karir. Richard juga merasa kesal karena kakak pertamanya itu tidak mau bekerja sama di perusahaan milik keluarga, sehingga Jack harus membayar pengacara lain untuk melindungi usaha mereka. Kenhart malah mendirikan kantor sendiri bersama teman-temannya.
"Bukan urusanmu, Rich," jawabnya singkat, tak mau berbasa-basi.
Padahal dulu sejak kecil mereka selalu bermain bersama. Kenhart meninggalkan adiknya dan dua wanita yang sedang berbisik-bisik.
Lelaki itu lebih mengkhawatirkan kesehatan Tiffany saat ini. Sepertinya dia sudah mulai jatuh cinta.