Kenhart meletakkan sebuah amplop berisi uang dihadapan Christian. Lelaki itu terbelalak melihatnya. Apakah sahabatnya ini serius?
"Apa kau mengemis dan merangkak di kaki Jack?" kata Christian setelah membuka amplop dengan mata terbelalak. Dia tak menyangka ternyata Kenhart bersungguh-sungguh dengan ucapannya bahwa mereka akan mengembalikan uang para pejabat itu.
Satu minggu ini dia diabaikan. Sehingga merasa Kenhart sudah tak menganggapnya sebagai teman lagi. Dia juga tak bersemangat pergi ke klub. Selain karena pekerjaan yang menumpuk, juga karena teror dari mereka yang tak hentinya. Sidang para pelaku korupsi itu akan dimulai sebentar lagi. Mereka butuh tambahan pengacara untuk memperkuat tim agar bisa memenangkan kasus.
Kenhart dan teman-temannya adalah salah satu pengacara muda yang sedang ramai diperbincangkan. Selain karena prestasi, juga nama besar di belakangnya. Jack Anderson memang punya banyak pengaruh di semua lini. Sehingga, apapun yang berada di bawah kuasanya, akan terlindungi dari jeratan hukum.
Tanpa Kenhart sadari, dia telah banyak dibantu oleh ayahnya secara tidak langsung. Dia ingin lepas dari nama besar itu, tetapi itu sungguh sulit. Jack telah mengultimatum siapapun yang berniat jahat kepada keluarganya.
"Aku menjual sebagian sahamku di beberapa tempat. Demi kau!" Kenhart menunjuk wajah Christian. Itu membuatnya merasa semakin bersalah.
"Mereka tetap tidak bisa menerima, Ken. Mereka ingin kita membantu. Agar tim mereka kuat dan bisa dibebaskan bersyarat," lirih Christian. Lelaki berambut pirang itu sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Jika sampai para pejabat korup itu marah dan mengancam, ini bisa fatal.
"Itu urusanmu. Kembalikan uang mereka secepatnya. Jika kau sampai melalaikan, maka kau akan kutendang dari kantor ini. Kau boleh melamar pekerjaan dimanapun, tapi aku pastikan, tidak akan ada yang menerima," ancamnya.
Dia sungguh muak melihat kelakuan Christian selama ini. Mungkin, dia terlalu memanjakan teman sehingga mulai berulah. Salahnya, mengapa bisa kecolongan seperti ini.
"Nyawaku bisa menjadi taruhan." Christian mengiba. Nasibnya kini bagai diujung tanduk.
"Salahmu sendiri. Mengapa kau mengambil keputusan tanpa persetujuan kami. Apa kau sungguh miskin sehingga harus menerimanya? Sungguh berani bermain di belakangku," katanya tegas.
Jika boleh memilih, biarlah mendapat sedikit upah dari kasus lain daripada berlimpah menangani kasus korupsi. Apalagi setelah mendengar cerita Tiffany tentang betapa sulitnya kehidupan sebagian orang, Kenhart semakin jijik melihat para koruptor itu. Ah, bukankah ayahnya juga? Dan dia masih menikmati hingga sekarang.
"Aku butuh uang, Ken!" bentak Christian. Lama-lama dia menjadi terpancing emosi.
"Untuk bersenang-senang? Atau untuk membeli barang mewah? Aku ingin semuanya bersih, tak peduli jika kepalamu menjadi taruhannya. Aku tidak akan membantu meraka." Kenhart berjalan ke arah pintu dan membukanya. Secara tidak langsung dia mengusir Christian agar segera keluar dari ruangannya.
Kali ini dia tidak akan terpancing emosi. Lebih baik dia fokus mengerjakan kasus perceraian yang akan maju sidang bulan depan. Seorang pengusaha terkenal yang berselingkuh dan digugat istri sahnya. Namun, si pengusaha tidak mau berpisah. Kenhart jadi teringat kedua orang tuanya. Betapa kuat hati Marry menerima semua pengkhianatan yang dilakukan Jack. Ayolah, dia juga bersenang-senang dengan banyak wanita. Namun, tidak akan mengulanginya jika sudah menikah nanti. Entah bagaimana kedua saudaranya, dia tidak perduli.
Melihat ibunya disakiti, tentu saja dia tidak terima. Namun, membenci Jack itu juga tidak mungkin. Bagaimanapun ada banyak kelimpahan kasih sayang yang diberikan ayahnya semasa dia kecil hingga sekarang. Kenhart hanya ini mandiri dan tidak ingin bekerja di bawah tekanan ayahnya. Soal uang? Dia menikmati sekalipun aset atau tabungannya sendiri tidak sebanyak milik Richard. Adiknya itu bahkan sering berlibur keluar negeri jika bonus tahunan dari Jack dicairkan.
Christian menatapnya marah. Masalah ini tidaklah berat asalkan si sulung Anderson itu mau menerimanya. Tentang uang yang dipakai oleh para pejabat itu bukanlah urusan mereka. Biar saja para hakim dan jaksa yang memutuskan. Ada banyak kasus korupsi dan bukan sekali ini terjadi. Memang sepanjang beberapa tahun, ini salah satu yang terbesar.
"Kau mengusirku, Anderson?" sungutnya.
"Aku memintamu untuk segera mengembalikan uang itu. Jangan terlalu banyak berbual di sini. Aku masih punya pekerjaan lain. Kausus yang kuserahkan kepadamu harus segera diselesaikan. Kau bisa dapat bayaran yang cukup daripada memakan uang mereka," ucapnya tegas.
Matanya menatap tajam, Kali ini dia tidak main-main. Jika sampai Chrisian mengabaikan, dia akan melakukan ucapannya tadi, menendang sahabatnya itu dari kantor ini.
Mendengar Kenhart mengucapkan itu, Christian segera melangkah keluar dengan membawa amplop. Dia harus menemui mereka segera. Pikirannya masih waras untuk mengembalikan uang ini. Namun, jika dibiarkan terlalu lama, itu akan menjadi godaan yang lain. Tanpa menoleh pada sapaan sang sekretaris yang selama ini menggoda, dia meninggalkan kantor itu. Sebelah tangannya memegang ponsel, menghubungi nomor seseorang untuk meminta dibuatkan janji temu khusus.
***
Kenhart memasuki rumah dengan langkah gontai. Dia duduk di ruang keluarga yang sepi. Entah bagaimana kabar nenek dan ibunya, terkadang dia tak ingat sama sekali. Betapa menyedihkan nasib para wanita di rumah ini. Kadang dilupakan begitu saja oleh para lelakinya.
"Kau sudah pulang?" Suara Marry membuyarkan lamunannya.
Kenhart menoleh dan baru menyadari bahwa wanita itu sudah sangat tua. Banyak helai putih yang bergandengan dengan rambut hitamnya. Marry tidak pernah mau mengecat rambut supaya tampak lebih muda. Ibunya selalu memakai topi atau syal jika berpergian. Harusnya dia berdandan, merubah penampilan agar Jack kembali. Atau mungkin dia sudah lelah dan membiarkan penuaan itu terjadi begitu saja, tanpa perlu khawatir apa yang akan terjadi kelak.
Wanita yang telah dikecewakan oleh cinta hanya akan menjadi dua. Pasrah dan menerima kenyataan hidup sekalipun itu pahit, atau memilih untuk bangkit dan mengubah diri ... untuk menarik yang lain.
"Kau ada masalah?" Dia duduk di sebelah putranya. Bertanya untuk yang kedua kali karena Kenhart tak kunjung menjawab.
"Banyak. Dan sebaiknya mom tidak perlu mengetahuinya." Dia menatap ibunya dengan gamang.
Marry tersenyum. Setiap kali dia bertanya dengan semua lelaki Anderson di rumah ini, jawabannya selalu sama. Entah mereka tidak ingin membebaninya dengan masalah yang ada, atau malas berbicara, karena sejujurnya dia memang tidak mengerti. Padahal para wanita cukup senang jika dijadikan teman bercerita, sekalipun mungkin tak bisa memberikan solusi.
"Maksudku. Ini sangat memusingkan. Aku tidak mau mom ikut memikirkannya," jawab Kenhart ketika melihat rona kecewa di balik senyum itu.
Marry menarik napas panjang sebelum berkata. "Usiamu tahun depan tiga puluh dua tahun, Ken. Apa kau tak ingin berubah?"
"Maksud Mom?" Dia berpura-pura tidak tahu. Padahal sangat mengerti apa maksudnya.
"Aku ingin ada bayi di rumah ini. Aku berharap kepadamu dan Richard. Tapi sepertinya kalian menyukai wanita hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk melanjutkan keturunan." Dia menatap putranya dalam.
"Mungkin Raymond yang akan memberikannya duluan," jawabnya asal.
"Dia masih terlalu kecil. Aku ingin dia bersekolah dengan benar. Kau yang tertua. Menikahlah, Ken. Jangan biarkan ubanku bertambah banyak hanya karena memikirkan kalian. Harus ada seorang wanita yang mengurusmu." Panjang lebar nasihat yang diberikan Marry.
Lelaki itu terdiam sejenak. Menyadari bahwa ucapan ibunya benar. Namun, siapa yang pantas menjadi istrinya? Bahkan selama bertahun-tahun, dia tak sempat memikirkan itu Hanya beberapa waktu ini, saat bertemu Tiffany.
Mengingat gadis itu, hatinya berdenyut. Entah bagaimana kabarnya, dia melupakannya selama beberapa hari. Terakhir mereka bertemu saat malam itu ketika dia kelaparan dan mendapat adiknya sedang merayu Tiffany. Setelah itu, dia disibukkan dengan pekerjaan. Sempat beberapa kali memikirkannya, namun terlupa saat pagi-pagi harus berangkat bekerja.
Satu minggu ini dia tidak sarapan di rumah. Memilih berangkat pagi-pagi, mengurus pekerjaan, menjual sebagian saham untuk mengembalikan uang yang dipakai oleh Christian. Jika sibuk begini, bagaimana nasib anak istrinya kelak? Apa akan sama seperti dirinya, yang sejak kecil ditinggal Jack bekerja? Entahlah.
"Aku belum isa berjanji hal itu kepadamu, Mom," jawabnya jujur.
"Aku sungguh wanita malang. Mengahabiskan masa tua dengan merawat ibu mertua, tanpa cucu, dan ditinggal oleh kalian karena kesibukan." Wanita itu menyandarkan kepalanya di sandara sofa. "Apa kau benar menyukai Tiffany?" tanya Marry kemudian.
Kenhart menoleh kepada ibunya.
"Jika kau mau, aku akan bicara kepada Jack." Wanita menatap dengan sungguh-sungguh. "Jika ayahmu setuju, aku akan ke desa dan memintanya untukmu."
"Dia menyukai Richard," jawab Kenhart.
"Tapi Richard hanya ingin bersenang-senang. Sepertinya kau lebih serius karena telah membawanya ke Villa."
"Aku menyukainya, Mom. Hanya tak ingin memaksakan."
Marry tergelak. Putranya yang pintar dan berprestasi sejak kecil ini, malah kalah oleh cinta. Sungguh lucu.
"Aku akan bicara kepada Jack kalau begitu. Semoga dia tidak sibuk dengan yang lain," ucap Marry yang membuat hati Kenhart terenyuh.
Dia tahu maksud dari kata "yang lain" ibunya ucapkan. Tak mau membuat wanita itu bersedih lama, dia berkata.
"Cepat, sebelum Richard menidurinya. Mata Tiffany berbinar setiap kali melihat putra keduamu."