Pieces of Cake

1019 Words
Kenhart mengempaskan diri di kasur yang empuk, dimana ada kenangan bersama Tiffany disitu. Lelaki itu tersenyum geli saat teringat. Terbayang jika gadis itu menjadi miliknya. Dia akan merayu semalaman. Jika perlu, tidak akan keluar kamar untuk beberapa hari. Entah bagaimana rasanya jika benar-benar bisa mencicipinya. Mungkin dia akan mati dalam lautan asmara. Dia menarik napas panjang, lalu memejamkan mata. Tiba-tiba saja perutnya berbunyi. Kenapa harus merasa kelaparan di tengah malam. Apa dia harus memesan delivery untuk mengganjal lambung supaya tidak terasa perih? Di dalam lemari hanya ada makanan ringan juga beberpa beer kalengan dan soda. Juga beberapa jenis minuman lain yang sangat disukai adik bungsunya. Apakah dia perlu ke rumah inti dan memeriksa isi dapurnya? Pasti ada banyak makana lezat disana. Setidaknya dessert, semacam puding atau cheese cake kesukaan ibunya. Sebenarnya dia bisa saja menelepon kepala dapur untuk dibawakan apa pun yang disukai. Hanya saja, kakinya justru melangkah keluar dan berjalan menuju ke sana. Siapa tahu, dia bisa bertemu dengan Tiffany dan berbincang sebentar. Setelah hari itu di Villa, mereka belum bertemu lagi. Tadi pagi maid lain yang mengantarkan sarapan. Ingin bertanya kepada Marry, tapi suasana cukup tegang. Sepertinya ayah dan ibunya sedang bertengkar. Entah apa, Marry tak pernah mau menceritakan kepada mereka. Kenhart sempat berpikir mengapa mereka tidak berpisah saja, jika Jack memang lebih nyaman bersama wanita lain. Apakah cinta itu namanya jika ibunya rela menyakiti diri untuk tetap bertahan, sementara hatinya terus disakiti. Langkah kakinya terhenti saat mendengar suara berisik di dapur. Ini mungkin sekitar jam sebelas malam dan siapa yang masih berada di dapur? Dia mengintip dan terbelalak saat mendapati ada dua orang sedang berpandangan sambil tersenyum. Itu Richard dan ... Tiffany. Mereka berda terlihat malu-malu. Tiffany sedang mengaduk minuman di gelas. Sementara Richard sedang menatapnya dengan senyuman ... maut. Itu bukan cinta atau sayang seperti yang dia rasakan. Mata adiknya itu diselimuti dengan hasrat. Dia tahu, karena dia juga lelaki. Kemhart hendak berbalik saat mendengar suara seseorang memanggilnya. "Hai, Ken. Apa yang sedang kau lakukan? Mengintip?" Rahangnya mengeras menahan kesal. Sejak pagi Christian berulah, kini adiknya membuat emosinya tersulut kembali. "Aku kelaparan dan mencari sesuatu. Tapi sepertinya akan menganggu kalian. Jadi, sebaiknya aku pergi," jawabnya. Berusaha setenang mungkin. Apalagi melihat wajah Tiffany yang salah tingkah. Gadis itu terlihat canggung. Ternyata diam-diam Richard mendekati kekasihnya. Adiknya telah berbual selama ini. "Tuan, Ken. Aku punya sesuatu jika kau lapar." Ucapan Tiffany menghentikan langkahnya. Kenhart berbalik dan menatap mereka bergantian. Melihat tuannya saling bersitegang, gadis itu segera membuka lemari es dan mencari beberapa makanan yang sekiranya bisa disuguhkan di malam hari begini. Dia menemukan roll cake yang berlapis keju. Sepertinya, ini akan disukai. "Aku pergi dulu, Tif. Kau berhati-hatilah." Saat mengucapkan itu, mata Christian melirik kakaknya. Itu membuat Kenhart menjadi geram. Ingin dia menghantam wajah tampan itu dengan sebuah tinju yang cukup keras. Sehingga adiknya itu berhenti untuk bersikap kurang ajar. "Terima kasih," ucapnya saat wanita itu menyerahkan sepiring potongan roll cake dan sebuah garpu. "Duduklah di sana. Aku akan membuatkanmu minuman." Gadis itu menunjuk sebuah meja panjang tempat para maid makan. Ruang makan mereka terpisah, dia sendiri tak mau berjalan menuju kesana. Bisa menjadi perhatian Marry jika sampai terlihat di CCTV. Hanya dapur inilah yang bebas dari pemantauan. Tidak ada satu pun kamera yang terpasang disini. Kenhart mengambil sepotong cake dan mengunyah pelan. Matanya menatap gadis itu dengan lekat. Ternyata cukup sulit meluluhkan hati wanita. Apalagi, peluangnya semakin kecil. Sudah jelas Tiffany akan memilih Richard. "Aku tidak akan berhenti, jika kau mau tahu," ucapnya sat gadis itu mengambil tempat duduk di sebelah. Tangan besar itu meraih cangkir dan menyesap kopi panas dengan pelan. "Itu hakmu, Tuan. Aku tidak bisa melarang," balasnya. "Kau berpacaran dengan dia?" tanya Kenhart tanpa basa-basi. "Tuan Rich ke dapur dan mencari makanan. Sama sepertimu. Aku kebetulan memang sedang membereskan beberapa pekerjaan. Kemarin aku libur karena mengikutimu ke Villa. Aku mengganti jam keja dengan malam ini," jelasnya. Lelaki itu tersentak, Sungguh kasihan sekali gadis ini. Sekalipun mereka masih bersaudara, status Tiffany adalah pekerja di rumahnya. "Apa kau masih merawat grandma?" Kenhart bertanya. Setahunya, alasan Marry membawa gadis ini adalah untuk itu. "Sejak kemarin tidak lagi. Bibi memanggil perawat khusus yang terlatih. Aku ditempatkan di dapur. Mengurus sarapan pagi dan mencuci piring," lanjutnya. Kenhart menatap potongan cake terakhir yang tersisa di piring. Dia masih lapar. Gadis itu menunduk sejak tadi berbicara dengannya. "Lalu kenapa tadi pagi kau tidak terlihat?" Dia bertanya lagi. "Aku diminta menemani salah satu maid ke pasar. Selama disini aku tidak pernah kemana-mana. Sesekali, kami ingin keluar." Kali ini dia menatap Kenhart dengan wajah yang sulit ditebak. Memang benar, para pekerja di rumah ini seperti terkurng karena rumah mereka dikelilingi oleh tembok tinggi. Sebenarnya, tak hanya rumah ini, beberapa pemukiman yang lain juga. Hanya ibunya lebih ketat terhadap orang yang keluar masuk. Ayahnya seorang pengusaha besar, bisa saja ada yang berniat jahat ingin menyusup. Petugas kemanan saja ditempatkan di masing-masing sudut. Dua puluh empat jam nonstop secara bergantian. Banyak teror yang keluarga mereka terima, apalagi jika ayahnya memenangkan tender. Entah itu dari lawan yang kalah dan tidak terima, atau orang-orang yang meminta bagian dari hasil pembangunan. "Apa kau senang selama berada disini?" Mata Kenhart melirik ke arah ujung baju, dimana gadis itu memilinnya berulang kali. Sepertinya, hal ini akan dilakukan jika dia merasa gugup. "Jika boleh memilih, aku ingin kembali. Namun, ayahku butuh uang untuk berobat." Lalu Tiffany mulai menceritakan bagaimana kondisi kesehatan orang tuanya. Ibunya yang bekerja sebagai buruh. Ayahnya yang hanya bisa mengawasi sesekali di peternakan. Kebaikan Tuan Jack yang masih memberikan pembayaran penuh sekalipun ayahnya sudah tak bisa bekerja dengan maksimal. Dia juga menceritakan bahwa kedua kakaknya tidak bisa membantu banyak, mengingat kehidupan mereka sama sulitnya. Kenhart mendengarkan dengan seksama, lupa bahwa tadi Richard telah mengacaukan suasana hatinya. Tiffany sendiri merasa bingung, mengapa dia malah menceritakan kisah hidupnya dengan lelaki ini. Kenhart seperti kakak yang nyaman untuk tempat bercerita. Sedangkan Richard seperti seorang kekasih jika perasaannya berbalas. Tiffany mulai merasakan sesuatu yang berbeda saat putra kedua Anderson itu menggendongnya. Juga saat tadi bertatapan sebelum Kenhart datang memergoki mereka sedang berdua. Debar-debar yang tak dirasakan saat bersama si sulung. Bahkan di saat mereka bersama Kenhat, dia malah menyebut nama Richard.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD