The Contract

1012 Words
Christian memandang wajah sahabatnya dengan tatapan kesal. Dia tak percaya bahwa Kenhart telah menolak mentah-mentah untuk menangani kasus korupsi para pejabat, sementara dia sendiri sudah mengiyakan. Sudah beberapa kali dia mencoba merayu Kenhart, namun usahanya gagal. "Apa kau yakin, Tuan Andersons?" Lelaki itu menatapa tajam. Harus bicara apa dia kepada mereka. Sementara sebagian uang pembayaran untuk menangani kasus itu sudah diterima. "Aku pikir, jika mereka mendapatkan keringanan, itu tetaplah tidak adil. Uang yang dikembalikan kepada negara hanya sedikit. Mereka mencuci uang dan menyimpannya di tempat lain. Setelah bebas, tentu saja masih bisa dinikmati. Sementara rakyat dirugikan banyak." Kenhart menjelaskan panjang lebar. Dia ingin Christian tahu, jika Jack Anderson banyak melakukan kecuragan dalam hidup untuk menimbun kekayaan, maka Kenhart Anderson tidak akan melakukan hal yang sama, sekalipun sejak kecil dia dihidupi dari uang itu. Perusahaan Real Estate yang keluarga mereka miliki bisa besar hingga sekarang, bukanlah terjadi dalam sekejap dan begitu saja. Dia mengetahui banyak kecurangan yang dilakukan ayahnya, dari pemenangan tender hingga penyuapan oknum pemerintah. Hasilnya? Jack Anderson dalam usia separuh abad menjadi milyarder yang disegani oleh banyak orang. Jaringannya kuat, ada di mana-mana. Ayahnya bahkan membayar preman untuk menjaga beberapa kawasan agar tetap aman dan tidak diganggu. "Kau terlalu idealis, Ken." Christian melipat tangan di d**a. "Ayahmu sendiri bahkan melakukan banyak cara agar usahanya berkembang," ucapnya santai. "Kau benar dan aku tahu itu. Biarlah Jack yang mengalami itu. Aku tidak akan mengulangi. Tak banyak yang tahu bahwa ayahku jarang tertidur nyenyak di malam hari hanya karena memikirkan banyak hal." Tangan besarnya mengambil segelas air dan meminum dengan cepat. Sejak tadi, Christian tak berhenti bercerita, bagaimana kebaikan para pejabat korup itu kepadanya, juga kepada masyarakat. Mereka menggelapkan uang karena tuntutan, bukan keinginan sendiri. Apa yang harus dibanggakan dari seorang pencuri? Sekalipun itu sistem dari pemerintahan yang menuntut. Kenhart sama sekali tak mau terlibat. Dia sudah pernah melihat ayahnya yang kacau karena hampir ketahuan melakukan penyuapan, hingga melakukan penyuapan lainnya untuk proses tutup mulut beberapa lembaga. Begitu terus hingga sekarang. Jika tidak, uang tidak akan mengalir. Bagaimana bisa Jack menghidupi semua karyawan dan melindungi asetnya jika melepas itu semua? "Belum tentu kau akan mengalami hal yang sama. Jangan berpikiran buruk sebelum menjalaninya, Bung!" "Jika kau mau, kau boleh mengambilnya. Tapi jangan bawa nama kantor ini. Aku masih ingin menghidupi mereka semua dengan hasil yang jujur dan tidak ingin terlibat sama sekali." Dia berjalan malas ke arah sofa dan menyandarkan kepala. Christian yang tadinya berdiri di depan meja Kenhart, kini mengikutinya. Lelaki itu mengempaskan tubuh di sampingnya, lalu berkata. "Kemana saja kau kemarin? Seharian ponselmu tidak aktif. Mereka menanyakan kepastian dan aku tak bisa menjawab," keluhnya. "Aku sedang bersenang-senang." Bibir lelaki itu melengkung. "Apa kau sekarang mempunyai kekasih?" Mata Christian mendelik. Melihat wajah sahabatnya yang berseri, membuatnya penasaran. "Katakan, siapa dia! Apa artis pendatang baru yang sangat seksi itu?" Kenhart tertawa geli. Dia pernah mengencani beberapa selebriti dan itu sangat menyenangkan. Namun ketika mereka mulai menuntut waktu, apalagi menginginkan agar dia tampil di televisi dan mengakui sebagai pasangan, dia mundur teratur. Privacy keluarga mereka terusik. Marry marah akan hal itu. Jack sendiri diam tak bergeming. Kenhart tahu, ayahnya sekalipun sudah memiliki dua istri, tetap saja tak puas dan bermain dengan beberapa wanita. "Sedikit lagi. Aku sedang mendekatinya," jawabnya santai. "Kau merahasiaknnya kepadaku. Tunggu saja, cepat lambat aku pasti akan mengetahui," ancam lelaki itu dengan nada bergurau. Mendengar itu Kenhart mendelik. "Aku akan membunyikannya darimu. Dia tak boleh terjamah oleh siapa pun kecuali aku." Christian menarik napas panjang. Sejak tadi, dia mencoba untuk tetap tenang. "Begini, Ken. Ada hal lain yang ingin aku sampaikan kepadamu," ucapnya serius. Dia tidak mungkin mengembalikan uang pemberian para pejabat itu. Selain karena sudah habis dipakai, juga sudah pasti mereka akan marah jika dibatalkan. Kenhart menatap wajah tirus Christian dengan dahi berkerut. Ada apa ini? "Kasus itu tak bisa kita tolak karena ..." Wajahnya menatap Kenhart dengan perasaan bersalah. "Aku telah menerima sebagian pembayarannya. Juga menanda-tangani sebuah kontrak tertulis. Hanya tidak berkekuatan hukum, selembar kertas tanda bahwa aku bersedia membantu mereka. " Dia menjelaskan secara rinci apa saja hasil pertemuan dengan para pejabat. Mata Kenhart terbelalak, lalu mendengkus kesal. Rahangnya mengeras, dengan tangan terkepal. Sungguh tak menyangka Christian telah bermain-main di belakang. Ini terlalu berani dan berisiko tinggi. Apa Christian tidak berpikir panjang sebelum menerimanya. "Maaf, Ken. Aku membutuhkan uang itu." Dia tertunduk lemas. Ketika setumpuk dollar dihadapkan ke wajahnya, seketika semua terlupa. Dia bahkan langsung pergi ke klub dan membayarkan semua tagihan para pengunjung malam itu. Christian serasa dewa yang dipuja-puji. Para gadis datang dan mendekati menawarkan kehangatan. Namanya langsung melambung seketika, mengalahkan kebesaran Anderson. "Tuan Christian yang baik hati dan royal. " Begitu mereka menyebutnya. "Apa gajimu di kantor ini masih kekurangan, Chris?" Napasnya memburu, menahan amarah. "Aku bahkan memberikan bonus yang lebih banyak di banding kantor pengacara lain, karena aku tahu kondisi keuanganmu." Kenhart sedikit mengungkit jasanya. Dia bahkan mengorbankan bagian sendiri karena baginya uang segitu tidaklah seberapa dibanding dengan persahabatan mereka. "Itu ... mereka mendesak. Maafkan aku." Christian berkilah. Padahal dia yang langsung menerima ketika tawaran itu muncul. Bahkan dengan bersemangat sekali, karena mendengar nominal uang yang ditawarkan. Kenhart menarik napas entah untuk yang keberapa kali. "Berapa uang yang sudah kau terima?" Dia bertanya dengan nada suara yang dingin. Lalu Christian menyebutkan angka yang membuatnya terbelalak. Uang segitu cukup banyak baginya yang saat ini mencoba mandiri. Namun, kecil sekali bagi Jack jika dia yang meminta. Ayahnya pasti akan memberikan secara percuma. Hanya saja ada harga yang harus dibayar. Dia harus ikut bekerja bersama mereka. "Keluar dari ruanganku sekarang." Lelaki itu menunjuk daun pintu. "Tapi, Ken ..." "Pergi dan biarkan aku memikirkan semuanya. Kali ini kau benar-benar membuat ulah." Dia mengusap wajah berulang kali. Ketika pintu tertutup, lelaki itu mengambil gelas dan melemparnya ke lantai. Sahabatnya sungguh keterlaluan kali ini. Kenhart kembali duduk di meja kerjanya. Membuka beberapa file dan menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena perbincangan tadi. Masalah tadi solusinya hanya dua pilihan. Hanya tinggal menetapkan hati, apakah akan menerima kasusnya atau meminta bantuan Jack. Untuk pilhan yang kedua sungguh berat hatinya untuk diambil. Sepertinya untuk percintaan dia sudah tak punya banyak waktu lagi karena disibukkan pekerjaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD