Dua lelaki itu duduk dan bertatapan tajam. Sepertinya kali ini pembicaraan mereka sangat serius. Bisanya hanya berbasa-basi di meja makan, kini saling berhadapan. Anderson yang lebih tua menepuk bahu putranya. "Apa kau yakin akan menerimanya sebagai istri?" tanya Jack kepada putra sulungnya. Kenhart mengangguk kemudian berkata. "Tiffany hanya perlu disembuhkan. Luka batinnya cukup dalam. Dia berteriak hampir setiap malam," ucap Kenhart. Sudah satu minggu ini dia memantau semua kelakuan gadis itu. Di saat siang hari, dia bersikap normal seperti biasa. Namun, ketika malam tiba, tingkahnya berubah. Gadis itu akan bermimpi buruk dan terbangun dengan ketakutan. "Bagaimana dengan pelaku?" tanya Jack. Kenhart mengeluarkan sebuah berkas dari tasnya. Sebuah map berisi data-data pendukung untuk

