Dokter Helena

1085 Words
"Dia baik-baik saja, Ken. Kau tak perlu khawatir." Tangan cekatan Helena mengganti perban yang sebelumnya sudah membalut lutut Tiffany. Dia juga memberikan obat anti nyeri dan antibiotik untuk mencegah infeksi. Untunglah Kenhart cepat menghubunginya sehingga tertangani. Mereka berjalan keluar meninggalkan Tiffany seorang diri. Gadis itu sebenarnya sudah tidak betah, tetapi Kenhart melarang keluar. Beberapa kali Tiffany mencoba berjalan tapi ternyata rasanya sakit sekali. Sehingga dia memilih pasrah, berdiam diri, entah sampai kapan. Perutnya sudah berbunyi sejak tadi. Ada lemari es di pojok dekat nakas, tetapi dia tak berani membuka dan memeriksa isinya. Nanti setelah Kenhart kembali dia akan meminta dibawakan makanan. Bagaimana dia bisa terlelap malam ini jika perut dalam keadaan kosong? "Aku pikir kau memanggilku untuk ..." ucapan Helena tergantung di bibir. Dia mengharapkan ada sesuatu yang manis di antara mereka. Namun, tak seperti yang dibayangkan, ternyata ada wanita lain. "Dia terluka dan aku sungguh mengkawatirkannya," ucap lelaki itu. Mereka berjalan duduk di sofa depan. Base camp ini seperti sebuah rumah kecil yang ditempati oleh mereka bertiga. Ada pintu keluar sendiri yang menghubungkan dengan jalan raya, sehingga tak perlu melewati rumah inti jika tamu datang berkunjung. Mereka hanya diwajibkan untuk ikut sarapan bersama setiap pagi, karena itulah momen keluarga berkumpul. Selebihnya, para lelaki Andersons bebas memilih apa yang akan dilakukan, Marry tak terlalu ketat mengatur putra mereka, kecuali dalam beberapa hal. Pernikahan misalnya. Itulah penyebab hingga saat ini Kenhart masih melajang. Belum ada satupun wanita yang cocok di mata kedua orang tuanya. Perjodohan? Lupakan itu. Sampai kapanpun, kebiasaan kuno seperti itu tidak akan dipilihnya. "Kau ... menyukainya?" tanya wanita itu dengan mata penuh selidik. Helena mengenal lelaki ini sejak lama. Sejak dulu mereka berteman dan berada di kampus yang sama. Dia memilih mengambil kedokteran, sedangkan Kenhart mengambil jurusan hukum. "Dia sepupu jauhku. Baru datang dari desa," jawab Kenhart mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin banyak ditanya mengenai perasaannya kepada Tiffany. "Setahuku, kau belum pernah perhatian seperti ini sebelumnya," lanjut Helena. "Bagaimana dengan pasiennmu di rumah sakit?" Kenhart memandang wanita itu dengan senyum. "Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku bertanya, apakah kau menyukainya?" Helena membalasnya dengan tatapan tajam. Dia kini bahkan mulai mendekat, sehingga membuat lelaki itu tersentak. Kenhart menarik gadis itu dengan cepat. Itu membuat Helena merasa senang. Sejak dulu dia memang menyukai lelaki ini. Mereka beberapa kali berkencan. Hanya tak pernah ada kata cinta yang terucap. Hanya makan malam biasa yang berakhir dengan .... "Kau rindu padaku?" tanya Kenhart memancing. Tangannya meraih dagu runcing itu, yang membuat Helena seketika malu. Sudah lama mereka tidak bertemu, terakhir satu atau dua bulan yang lalu. Mungkin gadis ini ingin menghabiskan hari bersamanya. Beberapa waktu ini, Kenhart memang disibukkan dengan pekerjaan. Ditambah dengan perbuatan usil Christian yang memaksanya untuk menangani kasus itu, membuatnya semakin kewalahan. Jika pada akhirnya nanti diharuskan menerima, akan Kenhart pastikan mereka semua koruptor berakhir dibalik jeruji besi. Dia hanya akan mengajukan keringanan masa tahanan, dan uang hasil itu kembali kepada negara. "Kau sendiri?" Kini gadis itu balik memancing. Kenhart tersenyum geli. Helena begitu cantik dengan tampilan bak model di catwalk. Ditambah dengan profesinya yang bagus. Lelaki mana yang tidak tertarik? Begitupun dia, hanya saja untuk dijadikan istri sangatlah tidak mungkin. Gadis ini memiliki kehidupanan bebas sama sepertinya. Dan Kenhart tahu, ada banyak lelaki yang singgah. Berbeda dengan Tiffany yang masih lugu. Bukankah itu yang diinginkan semua laki-laki? "Aku sibuk. Maaf lama tak menghubungimu," ucapnya seraya melepaskan rengkuhan. Sungguh, semanjak bertemu Tiffany, Kenhart jadi tak bertarik dengan wanita manapun. Ngomong-ngomong, sedang apa gadis itu sendirian di dalam? "Kau sibuk dengan gadis itu," rajuk Helena. Biasanya jika dia mendekat, Kenhart tak pernah menolak. Lelaki itu akan bersamanya semalaman. Jangan ragukan kemampuannya menyenangkan wanita, Kenhart salah satu jagaoan dari sekian banyak yang dia jumpai. "Tiffany baru saja datang beberapa hari ini. Kami hanya merasa kasihan karena keluarganya. Ibu membawa dan menyuruhnya bekerja," jelasnya. Kenhart masih berusaha menutupi dan mengalihkan pembicaraan. Padahal apa yang dikatakan oleh Helena itu benar adanya. "Kau menyukainya. Jangan menyangkalnya, Ken!" "Kau cemburu?" "Tentu saja. Kita sudah lama bersama tapi kau tak pernah memperlakukan aku seperti itu. Kau bahkan panik saat meneleponku tadi," tuduhnya. Matanya mendelik saat melihat reaksi Kenhart yang tampak biasa saja. Apa cantiknya gadis itu hingga membuat seorang Anderson terpesona? Hanya wajah biasa tanpa make-up juga usia yang masih sangat muda. Secara fisik, tentu saja dia menang. "Sebaiknya kau kembali ke rumah sakit. Pekerjaanu sedang banyak, bukan?" "Kau mengusirku?" Matanya terbelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Si sulung Anderson ini menyuruhnya pergi? Kenhart membuang wajah. Jika dia lama berbincang dengan Helena, tentu saja waktunya untuk bersama dengan Tiffany menjadi berkurang. Sedangkan bisa saja ibunya akan datang dan membawa gadis itu kembali ke rumah inti. Rencana pendekatannya bisa gagal jika begitu. "Aku tahu kau sedang sibuk. Jika senggang, aku akan menelepon," ucap Kenhart tenang. Berhadapan dengan wanita yang marah atau merajuk memang harus seperti itu. Kepala harus tetap dingin. "Baiklah. Sampaikan salamku kepada Marry dan Jack. Juga kedua adikmu. Semoga aku diundang lagi untuk ikut makan malam bersma keluarga kalian." Helena berjalan keluar. Kali ini, Kenhart memilih untuk tidak mengantarnya hingga ke gerbang. Dia hanya melambaikan tangan dan menunggunya menghilang dari pandangan. Dengan cepat, Kenhart berbalik ke kamar. Entah apa yang dilakukan Tiffany, dia benar-benar khawatir kali ini. Langkah besarnya berderap, menimbulkan bunyi di sepanjang lorong. Ketika membuka pintu kamar, dilihatnya wajah gadis itu berseri. "Aku lapar," ucap gadis itu tanpa malu-malu. Sejak tadi perutnya berbunyi. Kepalanya juga terasa pusing karena tidak ada nutrisi yang masuk. "Aku akan meminta maid membawakan makanan." Kenhart mengangkat gagang telepon. Tak lama terdengar suaranya berbicara kepada seseorang di seberang sana. Sekilas Tiffany mendengar sepiring spagetti, kentang tumbuk, roti bakar juga cokelat panas. Itu membuatnya semakin kelaparan. Setelah menutup telepon, Kenhart berjalan mendekat. "Apa masih sakit?" Dia bertanya dengan hati-hati. Tiffany mengangguk dan memandangnya dengan tatapan yang ... entah. "Kau harus makan dulu sebelum meminum obat. Helena bilang, obatnya menimbulkan perih di lambung." Kenhart memandang luka itu. Terlihat lebih baik karena balutan yang benar. Tiffany memandang lelaki itu dengan ragu, lalu dia berkata, "Apa setelah ini aku boleh kembali? Aku tidak mungkin berada disini terus." Sekalipun Kenhart tidak berkeberatan, tetap saja rasanya ini tidak pantas. "Kau di sini sampai aku mengizinkan kembali," ucapnya tegas. "Aku sudah bicara kepada Mom dan dia tidak mempermasalahkan," lanjutnya dengan meyakinkan. Padahal Kenhart belum memberitahu sama sekali. Bisa saja Marry akan marah karena keponakannya ada disini. Namun, dia Kenhart sudah punya jawaban yang cocok jika ibunya bertanya nanti. "Lalu, aku akan istirahat dimana?" tanya Tiffany ketakutan. "Di sini," jawab Kenhart dengan santai. "Dan kau?" Kenhart tersenyum lalu berkata, "Di sebelahmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD