Jera dalam Trauma
“panji pergi pak, dia meninggalkan surat ini,” kata kidung terbata-bata, dia masih terlihat terengah-engah karena berusaha berlari cepat kearah yanuar, yanuar pun mengambil surat yang berada di tangan kidung lalu membacanya dan tak selang lama yanuar pun terjatuh tak sadarkan diri. “ayah, bangun yah,” isak rania rapuh di samping Yanuar, sorot mata Rania teralihkan oleh secarik kertas pada tangan Yanuar dan dia mengambil lalu membacanya, seketika kedua matanya memanas menahan air yang tak ingin jatuh, rahangnya pun ikut mengeras dan tangannya mulai mengepal meremas kertas yang ditinggalkan oleh Panji.
***
Hidup ini seakan tak adil lagi untuk rania, seorang wanita yang kini mendapat predikat seorang janda di tambah lagi dengan sebutan janda semalam yang malang, ya begitu lah nasib yang saat itu sedang menimpa rania, sebab tepat di malam pernikahan nya pria yang telah di pilihkan oleh ayahnya dengan sadar telah meninggalkan pesta pernikahan dengan alasan yang begitu mengejutkan setelah acara ijab kabul, pesta pernikahan yang seharusnya membawa kebahagiaan malah berubah menjadi pusat gunjingan dan penyesalan mendalam yang membuat rasa trauma hebat untuk rania sendiri. Malu sekali rasanya, sampai saat ini rania masih mengingat dengan jelas suara para tamu waktu itu, rasa yang seperti menghimpit dadanya semakin dalam ketika pikiran itu melintas dalam ingatan, karena saat itu rania mampu melihat dengan jelas betapa kekecewaan terpancar jelas pada tatapan yanuar sebelum akhirnya tumbang, orang yang sangat di percayainya malah menjadi orang yang menorehkan luka padanya. Dan saat itu Rania hanya bisa mematung terdiam melihat keributan yang ada di hadapannya, dan sejak saat itu pula rania sudah tak mau lagi mengenal cinta.
***
4 Tahun Kemudian,
Waktu sudah berlalu begitu lama dan semua sudah terlihat lebih baik dari apa yang di bayangkan, namun tidak dengan rania yang masih terpuruk dalam rasa trauma yang mendalam. dan gunjingan yang tak kunjung meredam itupun akhirnya membuat rania dan yanuar memilih merantau ke kota paris van java, rania bergegas melamar pekerjaan disalah satu perusahaan penerbitan. dan ya, usahanya selama hampir 4 tahun ini sangat membuahkan hasil, rania sudah menjadi salah satu karyawan yang membantu mengembangkan jasa perusahaan penerbitan dengan pesat.
Rania adalah suatu keberuntungan untuk kavita, presiden dari genggam pusaka itu seakan mendapat rejeki nomplok setelah bergabungnya rania pada perusahaan, rania seperti memiliki magnet untuk membuat para mitra mau bekerja sama dengan perusahaan kavita, rania tipe orang yang sangat mampu bekerja dengan keras dan ceria, dia tak pernah mengeluhkan kesusahannya pada siapapun dan bisa di katakan jika rania adalah jiwa para rekan kerjanya. Ya itulah cara rania melupakan trauma yang seakan tak pernah mau pergi dari pikirannya, tidak ada yang tau bagaimana rania berjuang sembuh dari rasa trauma itu kecuali kavita.
Tak ada rahasia sama sekali antara rania dan juga kavita karena kavita sudah menganggap rania seperti anak nya sendiri, kavita sangat tau bagaimana rania melawan rasa trauma dalam hati nya yang selama ini begitu mengganggu setiap malamnya dan tiba-tiba kavita pun di kejutkan dengan ucapan mila kakak ipar kavita yang ingin mempersunting rania dan menjadikannya sebagai menantu.
“bagaimana ran? Kamu mau kan jadi menantu tante?” tanya mila kembali memastikan, mila sudah mengenal rania selama 2 tahun belakangan ini karena mila sering berkunjung ke kantor genggam pusaka, dan sejak pertama kali bertemu pun mila sudah sangat jatuh hati pada sikap dan kepribadian rania yang begitu menggugah hatinya. Dibandingkan dengan para gadis yang pernah di temuinya rania sama sekali tak sama seperti mereka semua.
“tante mohon sayang, mau ya,” pinta mila merengek, rania di buat gundah dengan perasaan nya sendiri sebab mila sudah begitu baik dan sangat menyayangi nya, dia takut jika penolakan nya akan menyakiti hati mila namun rania sendiri tak bisa mengingkari jika dirinya masih trauma dengan pernikahannya dulu, rania takut jika mengalami kegagalan apalagi saat ini dia tidak pernah sama sekali bertemu dengan putra semata wayang mila itu, apakah rania harus menerima pinangan mila kali ini dan mencoba kembali memberi kepercayaan pada seorang pria. Begitu banyak bentrokan dari perasaan dengan pikiran rania.
“kamu bisa bertemu dengannya terlebih dulu ran, kenalan dulu gitu loh maksud tante.” Bujuk mila lagi, dalam seperkian detik pandangan rania dan kavita saling bertemu, rania seakan meminta persetujuan jawaban dari seseorang yang sangat di percayainya. Kavita pun mengangguk dan berkata “jika memang kamu kurang yakin kamu boleh tidak menemuinya ran, tapi menurut mami sih nggak ada salahnya kamu berusaha berdiri lalu perlahan keluar dari ruang gelap hidupmu.” Sejenak rania memejamkan kedua matanya dan menghela nafas panjang, “baiklah, rania akan menemui anak tante,” jawabnya pasti.
“terima kasih sayang, tante akan segera mengaturnya,” semburat senyuman pun mengembang di sela bibir mila, impiannya untuk melihat putranya menikah akan segera tercapai dan mila sangat berharap jika keduanya akan bisa jatuh cinta satu sama lainnya.
***
Ketekunan rania dalam bekerja malah menjadi suatu ketakutan tersendiri untuk yanuar, rania seakan tak pernah mementingkan kesehatannya sendiri, sebab terakhir kali dirinya gila kerja hingga tak kenal waktu sampai membuatnya jatuh sakit dan di rawat begitu lama, semua itu membuat yanuar sering memberi peringatan pada putrinya sebab hanya rania lah satu-satunya harta yang di miliki oleh yanuar saat ini. Yanuar masih menunggu kepulangan putrinya di ruang tamu walaupun sebenarnya yanuar sudah tau jika rania akan pulang larut seperti biasanya. Sorot mata yanuar terarahkan pada bingkai foto yang berada di nakas almari piala milik rania, dia beranjak menuju foto tersebut kemudian di usapnya dengan sayang lalu memeluknya, entah apa yang saat ini sedang di rasakan oleh yanuar, dia seakan tak bisa membayangkan kembali bagaimana dirinya bisa melewati semua cobaan yang selama ini menimpanya dari awal kelahiran rania hingga kini dia sudah menjadi wanita dewasa.
Masih teringat dalam ingatan masalalu nya, dimana saat kedua tangan yanuar berusaha untuk menggendong rania lalu membawanya pergi di tengah hujan yang begitu deras dengan bermodalkan jubah hitam miliknya yanuar melilitkan jubah itu pada tubuh mungil rania agar si kecil tetap mendapatkan kehangatan. Dia meraih payung yang juga sudah di siapkannya dan kemudian melangkah menuju halte bis yang tak jauh dari tempatnya mengambil rania, seakan nasib baik sedang memihak padanya karena tak perlu menunggu lama bis yang di tunggunya pun terhenti pada halte tersebut, dia menaiki bis itu dan memilih duduk pada bangku belakang, tatapannya terpaku pada putri kecil yang tengah terlelap dalam dekapannya itu, yanuar mendekatkan wajahnya dan kemudian mengecup kening pelan.
“ayah akan selalu membersamai mu sayang, ayah akan berjanji akan merawatmu dengan baik, tumbuhlah menjadi wanita yang kuat nak, ayah menyayangi mu rania,” perlahan yanuar mencoba menutup kedua matanya, perasaan yang sangat sulit untuk di artikan ini seakan mempora-porandakan hatinya. Sebenarnya tak ada persiapan ataupun kesiapan sama sekali pada diri yanuar tapi ada pedasaan yang sangat dalam yang pada akhirnya membuat yanuar berani mengambil keputusan untuk mengambil jalan ini.
“anisa, apakah kamu melihatnya, putri kecil itu sekarang sudah beranjak dewasa, dia begitu cantik sama seperti dirimu,” Kedua matanya mulai terbuka kembali dan di pandanginya lagi foto yang ada si tangannya itu, begitu lama yanuar memendamnya sendiri tanpa ada yang mengetahui semua kesakitan yang telah di lewatinya.