Pria Pelindung

940 Words
Elina mengulas senyum simpul di bibirnya mendengar pria pujaannya itu membicarakan soal pernikahan. Membuat jantung wanita itu berdebar cepat dan tak karuan, rasanya jantung wanita itu ingin melompat keluar meninggalkan raganya.  "Benarkah?" Suara Elina terdengar riang dari dalam ponsel. "Ehem tentu saja benar. El aku sudah memimpikan ini sejak lama, dan hanya menunggu beberapa hari Lagi-lagi saja. Aku akan mewujudkan impian kita, aku akan menikahimu. Kita akan hidup bahagia bersama," seru Tristan. Wanita itu melengkungkan senyum manis di bibirnya. "Ya, tentu saja. Aku harus menepati janjimu padaku. Aku kan menunggumu Tristan. Aku sangat merindukanmu," Sergah Elina terlihat jelas dari Binar mata wanita itu. Ia menyimpan kerinduan yang begitu dalam terhadap pria yang kini tengah berbincang lewat telepon dengannya. "Aku juga El aku sangat merindukanmu, bahkan lebih dari pada yang kau tahu dan pikirkan. Aku sangat mencintaimu El, sangat," suar pria itu terdengar lirih. Mereka berdua bak pasangan muda yang tengah di mabuk asmara saat ini. " Aku juga mencintaimu," jawab Elina. "Ehem aku tahu itu. Ingat jaga dirimu baik-baik sebelum paku pulang, jangan melakukan yang bukan-bukan." "Ish menyebalkan sekali. Kenapa kau mengatakan hal seperti itu. Hei aku ini anak baik-baik kau tahu itu kan," tukas Elina. "Ya, kau tahu itu. Tapi kau selalu saja bertindak sesukamu dna tidak pernah berpikir sebelum melakukan sesuatu. El aku tidak ada di sana untuk menjagamu jadi kau harus menjaga dirimu baik-baik. Ingat jangan bepergian sendirian minta Naya untuk menemanimu jika ingin pergi. Kau selalu saja mudah tidur sembarangan jika sudah mengantuk." "Selama ini aku yang selalu menjagamu, sekarang kau harus lebih memperhatikan dirimu sendiri El," kata pria itu. Dari yang ia katakan sudah jelas kalau mereka sangat dekat satu sama lain. Pria itu sangat mengerti bagaimana Elina.  "Ya, baiklah Aku mengerti. Apa kau puas sekarang hah, ish kenapa kau selalu saja bersikap seperti itu. Bahkan saat kau tidak ada di dekatku, kau selalu saja bersikap seperti bodyguardku," rutuk Elina. "Ya, tentu saja. Aku ini pelindungmu, dan aku akan melindungimu seumur hidupku El." Wanita itu kembali tercenung, untaian kata manis yang dilontarkan pria itu selalu saja membuat Elina terbuai dan tak jarang wanita itu juga terkenal dengan ucapan manisnya. Elina selalu saja dibuat semakin jatuh cinta pada pria itu. "Hei Tuan Tristan aku tidak butuh janji manis mu itu. Yang aku ingin adalah bukti," sergah Elina mencintai pria itu. "Kau tenang saja aku akan membuktikannya padamu, hanya tunggu dua Minggu lagi semua janji yang pernah aku ucapkan padamu sejak kita kecil, aku akan menepatinya. Jadi El tunggu aku dengan baik disana, jangan nakal atau aku akan menghukummu," seru Tristan yang balik menggoda Elina. "Baiklah aku akan menunggumu Tristan," jawab Elina pelan. Mereka bercanda gurau lewat sambungan telepon hingga tanpa terasa bus kini telah berhenti di halte selanjutnya. EL bergegas turun dari dalam bus, bersama dengan beberapa penumpang lainnya.  "Baiklah Tristan aku baru saja turun dari bis kau akan menelponmu lagi nanti," pungkas Elina. "Ya, baiklah hati-hati saat berjalan. Jangan bicara dengan orang asing atau siapapun itu. El aku mencintaimu, jaga dirimu dengan baik selagi aku tidak ada di dekatmu," sergah Tristan. "Ya-aku juga mencintaimu," jawab Elina sambil menyunggingkan senyum manis di bibirnya. Sambungan telepon terputus setelahnya. Elina memasuk tas ponselnya ke dalam tas, wanita itu memasukan kedua tangannya kedalam saku jaket setelahnya. Ia mendongakkan kepalanya sejenak keatas melihat bintang yang bertaburan diatas langit adalah hal yang selalu membuatnya sangat tenang. Wanita itu menarik nafas dalam, hal seperti ini selalu membuat Kita lebih tenang dan rileks. Elina kembali melanjutkan langkahnya. Tak lama kemudian langkah wanita itu sampai di sebuah rumah dua lantai yang mewah, wanita itu menekan bel di depan pintu gerbang. Tak berapa lama pintu kecil di sisi gerbangpun terbuka. "Baru pulang Non," sapa seorang security dengan ramah. "Iya pak baru pulang nih," Elina menjawab dengan begitu ramah. Senyum manis selalu menempel di wajah cantik wanita itu.  Hingga membuat siapapun yang melihatnya juga akan ikut tersenyum apalagi setelah berinteraksi dengannya. "Saya masuk duluan Pak," ucapnya kemudian, sambil menyunggingkan senyum simpul. "Iya Non," jawab pria paruh baya itu.  Elina tidak pernah memilih dalam bersikap sopan wanita itu selalu bersikap ramah dan sopan pada siapapun yang ia temui. Meski orang itu setatusnya lebih rendah jika mengulik tentang status keluarganya yang terbilang kaya raya. Karena bagi wanita itu semua orang sama saja dan tidak ada yang berbeda. Elina masuk kedalam rumah, rumah mewah dengan dekorasi yang begitu indah juga berkelas. Namun seketika langkah wanita itu terhenti saat menaiki rumah tamu. Terlihat seorng pria paruh baya tengah duduk terdiam disana.  "Papa," panggil Elina. Wanita itu lantas mengambil langkah mendekat. Pria itu lantas menoleh saat suara lembut itu menyapanya. Raut wajah yang semula terlihat gusar perlahan menghilang dari wajah pria paruh baya itu. "El, kamu dari mana saja. Ini sudah jam sembilan kenapa baru pulang," ujar pria itu, tak di pungkiri nada suaranya terdengar begitu cemas. "Maaf Papa, tadi aku habis bertemu dengan Naya," jawab Elina dengan pelan, wanita itu hanya menunduk kepalanya saat berbicara. Rasanya ia tidak sanggup jika melihat wajah cemas juga gusar pria paruh baya di hadapannya saat ini. "Masuk dan istirahatlah. Tidurlah ini sudah malam." "Baik Papa, maaf membuat Papa menungguku. Sebaiknya Papa juga tidur sekarang," sergah Elina. "Ya, tidak perlu cemas. Ayo masuk kekamarmu sekarang" jawab pria itu.  "Iya. Selamat malam Papa," sergah El wanita itu mendekat dan memeluknya dengan hangat.  "Selamat malam." Elina lantas bergegas pergi kekamarnya dan pria itu juga melakukan hal yang sama. Matanya mentap lurus pada flapon kamar yang di cat putih mengkilap.  Senyum sumringah tampak mengembang di bibirnya saat ia kembali mengingat perbincangannya dengan Tristan di telpon. Jantungannya berdegup begitu cepat. Rasanya ia tak sabar ingin segera bertemu dengan pria pujaan hatinya itu. Elina pun tertidur lelap saat memikirkan Tristan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD