Wanita itu teringat akan sesuatu. Sesuatu yang masih melekat tajam di ingatannya. Dibenaknya waktu seakan mundur ke beberapa tahun lalu. Masih ditempat yang sama dua orang remaja pria dan wanita tengah berjalan beriringan. Mereka berdua terlihat sangat bahagia, berjalan santai di trotoar dan masih mengenakan seragam sekolah.
"El, kapan kau akan berhenti makan permen lolipop. Kau sudah menghabiskan dua sejak tadi," suara pria itu terdengar nyaring.
Wanita itu hanya terdiam menjilati permen lolipop berbentuk love yang ia pegang, wanita itu sangat menyukai permen lolipop.
"Kau tahu, aku sangat menyukai permen lolipop ini. Rasanya sangat enak," jawab Elina dengan polosnya. Ia kembali menjilati permen lolipop itu.
"Uh," pria di sampingnya menarik nafas dalam. "Gigimu akan rusak jika kau terlalu banyak makan permen. Apa kau ingin pergi ke dokter gigi lagi, aku tidak mau mengantarnya jika kau mengeluh gigimu sakit lagi," cetus pria itu sedikit ketus. Mereka berdua terlihat sangat akrab, seakan tidak ada batasan di antara mereka satu sama lain.
"Ish menyebalkan sekali. Kau bilang akan menemaniku sampai kapanpun bukan, ingat janjimu. Kau akan menemaniku dalam keadaan senang susah saat sakit juga sehat. Ckckck kenapa kau malah bicara seperti itu. Apa kau ingin mengingkarinya? Lagi pula kau kan yang membelikan aku permen lolipop ini. Kenapa sekarang jadi kau yang mengeluh," sahut Elina sedikit kesal. Elina mengangkat dua gagang permen lolipop dengan bentuk yang sama yang ia pegang sejak tadi.
Ia menunjukkannya pada pria yang berjalan di sisinya sejak tadi.
Pria itu menghembuskan nafas lesu, ia mengangkat tangannya menepuk jidat. "Aku membelikan permen lolipop bukan untuk kau habiskan sehari. Kau hanya boleh memakannya satu perhari," sergah pria itu. Di tangan kirinya, ia juga memegang dua permen lolipop.
"Aku tidak akan membelikanmu permen lolipop lagi kalau kau masih memakannya seperti ini," lanjutnya berbicara.
Seketika Elina menghentikan langkahnya, ia menghentakkan kakinya sedikit kasar pada aspal yang ia pijak saat mendengar ucapan pria itu. Ia langsung menoleh pada pria itu dengan sorot mata tajam dan bibir yang mengerucut.
"Dasar pelit, kenapa kau pelit sekali. Ini kan hanya permen kau bilang kau akan membelikan aku permen lolipop yang sangat banyak jika kau sudah bekerja dan memiliki uang sendiri nanti kan."
"Tapi lihat sekarang kau bahkan belum bekerja, tapi kau sudah ingin mengingkari janjimu begitu. Ckckck wah Tristan kau sangat pintar sekali," ucap Elina sambil mendesis sinis.
Wanita itu bahkan saat ini bertolak pinggang di hadapannya seakan melakukan penolakan Keras.
Sudut bibir pria itu terangkat, saat ini ia malah ingin tertawa melihat tingkah Elina padanya. Pria itu langsung mengangkat tangannya dan menyentil kening wanita itu dengan pelan.
"Ckck lihat ini, kau sudah berani melawan ku begitu. Sudah merasa pintar sekarang?" seru Tristan. "Lagi Pula bagaimana bisa kau bilang aku pelit, aku yang selalu membelikan mu permen lolipop kan. Aku bisa dimarahi Ayahmu jika dia tahu diam-diam aku memberikan permen lolipop padamu. Tapi lihat ini, bukannya berterimakasih kau malah menentangku," kata pria itu dengan tegasnya.
"Hahah," Elina tertawa kecil melihat tingkah pria itu. "Oke baiklah, aku minta maaf. Kau memang yang terbaik, sekarang boleh aku meminta sisa permen ku. Berikan itu, kau membelikannya untukku bukan. Tapi sejak tadi kau terus menggenggamnya," pinta Elina sedikit memaksa, wanita itu menjulurkan tangannya seraya memerintahkan Tristan untuk memberikan permen lolipop yang Tristan genggaman padanya.
"Tidak mau, kau akan menghabiskannya langsung jika aku memberikannya," pira itu menolak keras permintaan Elina dan malah menyembunyikan tangannya kebelakang.
"Ish berikan itu, itu milikku kan," tukas Elina. Wanita itu berusaha meraih tangan Tristan namun bukannya memberikan permen itu Tristan justru malah mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Agar Elina tidak bisa mengambil permen itu darinya.
Tinggi badan Elina yang Hanya sebatas bahu pria itu membuatnya kesulitan meraih permen yang Tristan genggam saat ini. Bahkan meski Elina sudah melompat sekalipun tetap saja tangannya tidak sampai untuk meraih permen lolipop itu.
"Berikan itu padaku Tristan. Kenapa kau malah seperti ini, ayo cepat berikan," ucap Elina sambil melompat berusaha meraih tangan Tristan.
Tristan tertawa melihat tingkah Elina bukannya memberikan lolipop itu Tristan justru semakin jadi menggoda Elina. Semua orang yang berjalan di trotoar mulai memperhatikan mereka.
Beberapa dari mereka terlihat tersenyum simpul dan juga terkekeh melihat tingkah dua anak remaja yang terbilang romantis di jalanan seperti ini.
Waktu seakan kembali ke semula di dalam benak wanita itu. Lagi senyum simpul kembali mengembang di bibirnya. Tampak binar kerinduan di bola mata wanita itu.
Langkah wanita itu tertuju pada halte bus yang berjarak tidak terlalu jauh dari restoran itu.
Elina terlihat mengotak atik ponselnya saat langkah wanita itu berhenti tepat di di halte bus. Wanita itu memutar musik kesukaannya.
Selang beberapa menit bus dengan label Transjakarta berjalan melambat ke arah halte bus, hingga bus itu berhenti. Beberapa penumpang turun dna beberapa penumpang lainnya naik. Begitupun dengan Elina.
Dan Seperti biasa wanita itu selalu duduk tepat di samping jendela, itu adalah tempat yang paling ia suka saat naik bus. Atau mungkin lebih tepatnya itu adalah tempat yang membuat wanita itu nyaman jika naik kendaraan umum.
Elina bahkan selalu memastikan bahwa ada kursi kosong di samping jendela bus, jika tidak ada wanita itu lebih memilih untuk menunggu bus selanjutnya.
Bus mulai melaju, wanita itu duduk dengan tenang sambil menatap keluar jendela. Suara musik yang terdengar di telinganya membuat wanita itu merasa semakin tenang.
Hingga beberapa menit kemudian. Suara musik yang ia putar berganti dengan suara nada dering ponsel.
Bip… Bip… Bip…
Wanita itu langsung mengalihkan pandangan matanya menatap layar ponsel, sudut bibir wanita itu terangkat menciptakan senyum manis kala mendapati panggilan masuk dari Tristan. Tak berpikir panjang, Elina langsung menekan tombol terima panggilan.
"El," suara berta seorang pria terdengar begitu jelas. Pria itu memanggil namanya dengan begitu akrab bahkan terdengar sedikit manja.
"Ya," Elina menjawab dengan pelan.
"Hei, kenapa suaramu terdengar lesu," sergah pria dari dalam ponsel. Pria itu langsung dapat menebak suasana hati Elina saat ini, bahkan hanya dengan mendengar suaranya saja. "Apa terjadi sesuatu?" Tanya pria itu.
"Tidak ada semuanya baik-baik saja. Aku hanya habis memikirkanmu, itu saja," jawabnya jujur.
"Aku juga sama. El aku sangat merindukanmu," pria itu berterus terang, nada suaranya terdengar sangat mesra.
"Aku juga sangat merindukanmu Tristan," jawab Elina.
"Kau tenang saja, tidak lama lagi kita akan bertemu. Aku akan pulang dua Minggu lagi, aku akan langsung bertemu dengan Ayahmu dan akan langsung melamarmu. Aku akan menikahimu El. Aku akan membicarakan pernikah kita dengan Ayahmu setelah aku pulang nanti," ucap pria itu dengan begitu yakinnya.
Elina tersentak bukan main, wanita itu tersenyum lebar setelah mendengar ucapan Trianta. Degup jantungnya berdetak sangat cepat, Wanita itu terlihat begitu bahagia setelah mendengar ucapan Tristan.
Pasalnya sudah lama ia dan Tristan memimpikan hal ini. Tepatnya sejak mereka berdua duduk di bangku sekolah, kedengarannya memang konyol. Tapi Tristan pernah menjanjikan itu saat mereka berdua berada di kelas tiga sekolah menengah atas.
Satu bulan sebelum kelulusan Tristan berjanji akan menikahi Elina di masa depan. Dan sejak saat itu, hal ini bukan hanya menjadi impian Tristan namun juga Elina.
Bersambung~