“Iya, Mas, aku janji.” Mawa tersenyum, dibalas anggukan singkat Ares. Seolah paham suasana hati Mawa yang masih kalut, ia memilih untuk berpamitan, meninggalkan wanita yang beberapa saat lalu pergi bersamanya ke pesta. Setelah mobil hitam milik Ares lambat laun lenyap dari pandangan, Mawa menghela napas panjang. Hatinya masih berkecamuk. Adegan ketika Dave memeluknya secara tiba-tiba itu masih terputar jelas di benaknya. Sialnya, memori itu akan abadi, tidak bisa ia lupakan meski ingin. Dibukanya pintu perlahan, gelap. Nenek dan kakek pasti sudah istirahat. Dia berjalan hati-hati, tak ingin membuat suara yang akan membangunkan ke duanya. Mawa mendesah pelan tatkala tubuhnya mendarat di atas kasur. Dia mengembuskan napas kasar, lalu melepas heels, lalu memijit kaki yang terasa berdenyu

