Bab 6

1056 Words
Termangu, diam dalam hening yang membeku. Sekalimat yang cukup membuat sosok Dave Anderson itu mendadak kelu. Ia menatap mata Mawa yang sendu, lalu membuang pandangan ke sembarang arah. Ke mana perempuan lembut yang selalu mengucapkan kalimat-kalimat tenang itu? “Jangan melewati batas, katanya.” Dave menggumam, jemarinya mencengkeram kemudi lebih kuat dari biasanya. Mawa juga memilih bersandar di kursi, memejamkan mata. Menghayati lagu jazz yang terdengar sopan di telinganya. Dave sendiri bingung kenapa bisa bertindak sejauh itu. Dirinya yang datang tanpa undangan, menarik Mawa pergi, bersikap seolah masih punya hak. Bukankah ia sendiri yang melepaskan? Di kursi penumpang, Mawa duduk diam, enggan membuka percakapan lagi setelah kalimat terakhirnya terucap. Tidak ada lagi perlawanan, ia bahkan terlalu enggan untuk sekadar menoleh atau berdiskusi soal pertanyaan. Justru sikap itulah yang membuat d**a Dave terasa sesak. Seolah wanita yang selalu hadir bak payung siaga sebelum hujan itu benar-benar terlepas dari genggamannya. “Antar aku sampai depan saja,” ucap Mawa akhirnya, “aku tidak mau jadi bahan omongan tetangga.” Dave melirik sekilas, lalu mengangguk singkat. Tidak ada bantahan. Mobil berhenti di depan perumahan. Begitu turun, Mawa langsung melangkah masuk tanpa menoleh lagi. Tidak ada basa-basi seperti biasa, hanya anggukan singkat sebagai tanda pamit. Dave sempat hendak memanggil, tetapi urung. Saat Mawa melintas di dekatnya, hidung Dave menangkap sesuatu yang asing, aroma parfum pria. Bukan aroma sabun yang biasa dipakai Mawa, bukan pula wewangian bunga-bungaan dan buah yang dulu selalu ia kenali. Ares. Terkesiap, kesadaran itu membuat rahang Dave mengeras. Darahnya berdesir panas, sementara dadanya berdegup lebih keras dari biasanya. Namun, ia menahan diri. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Mawa sudah masuk ke dalam rumah, dan Dave hanya bisa duduk terpaku beberapa saat sebelum akhirnya pergi. “Aku benar-benar tidak menyangka, secepat itu orang baru menggantikan diriku, Mawa,” gumamnya pelan. Dengan napas berat, ia memutar kemudi dan pergi dari sana. Tiada hasrat untuk sekadar masuk dan menyapa kakek neneknya. *** Sejak hari di mana Dave berpisah dengan Mawa, Mona terlihat selalu semringah dan bahagia. Kemarin malam semua asisten rumah tangganya diberi bonus 2x lipat dari gaji. Tukang kebun dan satpamnya juga diberi intensif tambahan. Mereka bingung, bertanya-tanya. Apakah ada perayaan? Mona berdalih, semuanya mengalir begitu saja. Ia akan rajin mengasihi bila hatinya berbunga-bunga dan semua itu karena Julia. “Dave, hari ini kita cari cincin, ya. Sekalian fitting baju. Mama juga mau bahas lokasi pernikahan,” ujarnya bersemangat. Dave yang sedang menandatangani berkas hanya mengangkat kepala sekilas. Lalu kembali menenggelamkan diri ke dalam lapiran laporan yang memuakkan itu. “Tidak bisa sekarang, Ma, aku masih banyak kerjaan,” jawab Dave menolak mentah-mentah. Mona mengernyit kecewa, menatap sang putra dengan pandangan tajam. “Terus cincinnya? Rencana kalian?” “Suruh asisten antar Julia. Dia bisa pilih sendiri.” Mona mendengkus kesal, tetapi merasa tidak punya kuasa untuk membantah. Walau batinnya berperang, bagaimana bisa Julia dibebaskan begitu saja? Mereka yang menikah, seharusnya mereka berdua juga yang menentukan. Julia yang mendengar kabar itu jelas terpukul. Ia akhirnya mendatangi Dave sore harinya, berdiri di depan meja kerja pria itu dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Kamu benar-benar tidak mau pergi bareng aku?” tanyanya pelan, “ini cincin pernikahan kita, Dave, bukan membeli sesuatu yang kurang penting.” Dave terdiam. Tatapan Julia membuatnya merasa bersalah. Ya, apa pun itu, Julia adalah calon istri masa depannya. “Maaf, tapi aku tidak bisa. Ada banyak berkas yang harus ditinjau secepatnya. Kamu bisa pergi bareng Mama atau Papa, ya? Biar aku yang transfer uangnya, atau mau minggu depan? Aku ambil libur,” jawab Dave merasa bersalah. “Aku mau secepatnya, Dave, mama kamu juga yang memaksa. Lagi pula aneh rasanya kalau cuma aku yang pergi. Apa kata orang-orang nanti? Kesannya kamu tidak peduli,” ungkap Julia menunduk sedih. Dave menarik napas panjang, lalu meninjau sejenak sisa dokumen yang belum dia baca. Sebelum akhirnya berucap, Dave lebih dulu bangkit dan meraih tangan Julia. “Oke, kita pergi sekarang. Kamu bersiaplah,” ucap Dave membuat senyum Julia akhirnya terbit juga. Mall megah di sore itu cukup ramai karena ada acara kuliner. Dave berjalan di samping Julia, melihat beberapa etalase perhiasan cincin tanpa benar-benar diperhatikan. Sementara Julia sibuk mencoba satu per satu, meminta pendapat, tersenyum lebar setiap kali Dave mengangguk. Ah, tidak seru rasanya. Sesekali Julia ingin mendengar pendapat Dave juga, tidak sekadar mengiyakan pilihannya. “Dasar lelaki wajah es. Dari dulu tidak pernah berubah,” gumam Julia salah tingkah. Namun, di sudut lain toko perhiasan, seorang pria berdiri dengan ekspresi fokus. Kedua alisnya menyatu sempurna, seolah pilihannya kali ini sangat krusial. Ia tengah memilih anting, memperhatikan detail kecil dengan serius. Tidak puas, ia meminta pegawai itu mengeluarkan anting yang paling mahal dan terbaru. Dave tidak menyadari kehadirannya. Hanya Julia yang sempat menangkap sosok itu, jantungnya berdebar tanpa alasan jelas. “Ares?” Ia memilih diam meski sangat ingin memberi tahu Dave. Namun, Julia tidak ingin merusak momen kebersamaan ini. Kesempatan baginya memperkuat cinta mereka, jangan sampai kacau karena hadirnya rival abadi Dave. “Benar kata Dave, dia seperti hantu yang selalu mengekor ke mana pun,” batin Julia geleng-geleng heran. Setelah selesai, mereka pulang. Sepanjang perjalanan, sesekali Dave menanyakan keperluan lain dalam waktu dekat. Sebagai perempuan yang perfeksionis, Julia telah membuat list apa saja yang belum diurus. Dave menerima file itu di ponselnya dan akan dibuka nanti sesampainya di rumah. Begitu tiba, Dave inisiatif membukakan pintu untuk Julia. Hal yang tidak pernah ia lakukan kepada Mawa dulu. “Kamu tunggu di sini. Aku mau mandi dan ganti baju. Kalau perlu apa-apa tinggal panggil Mama di kamar, ya,” kata Dave yang dibalas anggukan oleh Julia. Julia menunggu di luar kamar sementara Dave masuk untuk berganti pakaian. Ia berdiri canggung, memandangi lorong yang sunyi, merasa seperti tamu di rumah calon suaminya sendiri. Tak lama, pintu kamar terbuka. Dave berdiri di ambang pintu, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya tampak lelah. Sejenak Julia terpukau, jatuh cinta berulang kali melihat ketampanan Dave. “Ambilkan baju kaus yang biasa kupakai, Mawa.” Waktu seolah berhenti untuk sepersekian detik, atmosfer dingin di sekitar seperti mengambang antara ada dan tiada. Dave tersadar sepersekian detik kemudian. Nama itu keluar begitu saja tanpa ia sadari, reflex yang membuat ia sendirian tidak mengerti. Julia membisu, matanya menatap Dave dengan campuran kaget dan sakit hati. Sementara Dave tidak bergeming lagi. Sudah terlanjur ke luar, dan ia sendiri tidak mengerti. “Mawa? Kamu menyebut nama Mawa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD