Bab 7

1059 Words
Tatapan hangat Julia berubah datar, ia berkaca-kaca menahan tangis. Berharap ia hanya salah dengar, tetapi nyatanya semua terlalu jelas. Bagai menatap pecahan kaca yang tercecer di lantai, tiada cara lain selain membuangnya dibanding disatukan kembali. Julia tidak langsung bergerak. Dadanya kembang kempis, menahan gejolak emosi dan sakit di dalam sana, seolah paru-parunya lupa cara bekerja. Ia menatap Dave yang berdiri di ambang pintu dengan rambut masih basah dan wajah syok. Wajah pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, tetapi barusan menyebut nama perempuan lain di depannya. “Kamu menyebut nama Mawa?” tanya Julia dingin. Ia bahkan enggan menatap mata Dave. Dadanya mengirim rasa sakit yang berbeda. Saat orang yang ia cintai menyebut nama perempuan lain, ada luka yang menganga. “Maaf, Julia. Aku refleks karena terlalu lelah dan banyak pikiran. Maaf sekali lagi. Aku harap kamu tidak memasukkannya ke dalam hati,” ujar Dave. Refleks katanya? Refleks apa yang harus menyebut nama Mawa? Julia menelan ludah. Ia ingin tertawa, lucu saja alasannya, bahwa refleks tidak mungkin muncul tanpa kebiasaan. Kebiasaan hanya lahir dari seseorang yang terlalu lama hadir dalam hidup Dave sebagai pasangan, bukan sekadar teman masa kecil. Julia tersenyum getir. Senyum yang justru menjadi sinyal bahaya untuk Dave. Susah payah dirinya menahan bulir-bulir air mata itu terjatuh membasahi pipinya. Namun, Dave seolah biasa saja dengan ekspresi datar tanpa makna. “Tidak apa-apa, Dave. Aku mengerti,” balas Julia setelah bungkam beberapa saat. “Kamu yakin?” tanya Dave memastikan. Ia mengelus pipi Julia yang ranum dan merona itu. “Iya, Dave. Aku juga lelah sama sepertimu karena merencanakan beberapa hal sendirian. Aku mau pulang dulu. Terima kasih, ya untuk waktunya.” Ia meraih tasnya tanpa menunggu balasan Dave. Langkahnya terasa berat, tetapi egonya menepis agar tidak menoleh sama sekali. Harga diri dipertaruhkan, harusnya Dave yang mengejar jika memang ingin menebus kesalahan. Nyatanya tidak, Julia benar-benar dibiarkan pergi. Dave memberi ruang, mungkin Julia butuh waktu tenang. Tidak berbeda jauh dengannya, Dave juga muak akan kehidupan. Sehari-harinya dituntut kuat dan berkuasa, tidak boleh lengah. Selalu ada celah bagi musuhnya mengambil kesempatan itu. *** Dave bangun pagi dan mendapati sisi tempat tidur kosong. Meski enggan menaruh perasaan, Mawa tetap diizinkan tidur seranjang dengannya. Namun, kali ini berbeda dan hampa. Kemejanya tidak lagi tergantung rapi, di susun berdasarkan warna. Tidak ada dasi yang sudah dipilihkan sesuai jadwal rapat. Sementara jam tangannya masih berada di dalam laci. Padahal biasanya selalu siap di atas meja. Ia berdiri di depan lemari cukup lama, menatap isinya seperti orang asing. Selama ini ia berpikir semua itu sepele. Ternyata ketika harus memilih sendiri, semuanya terasa merepotkan. “Hm, Mawa perempuan yang hebat dan multitalenta juga.” Di dapur, ia menuang kopi sendiri. Rasanya pahit. Bukan karena gulanya terlalu sedikit, entah mungkin tangan yang membuatnya adalah tangan yang berbeda. Biasanya seseorang akan menyedihkan kal pagi, Dave akan bangun dengan sarapan yang sudah siap disantap di atas meja. Mawa selalu melakukan itu tanpa diminta meski Dave sudah menyiapkan asisten rumah tangga yang khusus mengurus bagian dapur. Dengan alasan bosan jika tidak melakukan pekerjaan rumah, Dave membiarkan Mawa melakukan sesuka hatinya. Dave menghela napas panjang. Ada sesuatu yang hilang, tetapi ia baru menyadarinya ketika semuanya benar-benar tidak ada. Beberapa hari belakangan, Julia tidak banyak menghubungi. Ia sibuk mengurus pernikahan, sibuk menjadi calon istri yang sempurna. Sesekali Dave membantu, tapi lebih sering diurus oleh Mona. Sedangkan dirinya tenggelam dalam kesibukan tiada henti. Atau lebih tepatnya melarikan diri. Dave membenci sesuatu yang ribet dan terlalu kaku. “Entah apa jadinya nanti, aku hanya mengikuti takdir yang seolah mempermainkan. Selamat datang, Julia. Aku akan berusaha menghargaimu agar tidak menyesal kedua kalinya,” ucap Dave sambil mengelus kotak cincin merah itu. *** Gedung pernikahan berdiri megah, diterangi cahaya lampu-lampu kristal bergantungan yang berkilau seperti hujan seribu bintang. Karpet merah membentang panjang, deretan bunga-bunga mahal memenuhi udara dengan aroma yang manis dan cenderung ringan. Para tamu berdatangan dari berbagai kalangan pebisnis, kerabat, rekan politik keluarga. Dave berdiri di pelaminan dengan jas hitam sambil menunjukkan ekspresi dingin. Ia terlihat berwibawa dan berkuasa, seolah seluruh isi dunia berada dalam kendalinya. Julia muncul di ujung ruangan, mengenakan gaun putih panjang yang menjuntai anggun. Tudung putih dengan mahkota berukuran sedang itu menghiasi rambut hitamnya. Ia membawa bunga tangan, senada dengan konsep dan tema pernikahan. “Congratulations, Julia! You look so beautiful!” puji Denada, teman sekampus Julia dulu sekaligus partner bisnisnya. “OMG, thank you. I’m so happy,” balas Julia semringah. “Kalian sangat serasi. Pasangan yang ditakdirkan langit.” “Ah, terlalu berlebihan.” Julia tersenyum manis. Inilah hari kemenangannya, merebut kembali tempat yang sebelumnya dikuasai oleh Mawa. Tidak peduli status Dave yang menjadi duda. Dave mencium kening Julia. Deretan flash kamera serentak berbunyi, mengambil momen sebanyak mungkin. Namun, di balik senyum banyak orang itu, ada ruang kosong di d**a Dave yang tidak terisi oleh sorak-sorai siapa pun. Dan di antaranya keramaian itu, Dave memilih membawa Julia kabur. Kamar pengantin dihiasi bunga-bunga berwarna cerah dengan lilin beraroma lembut. Cahaya remang-remang yang sengaja diciptakan untuk menyempurnakan malam pertama mereka. Dave sedikit payah ketika menggendong Julia masuk. Alkohol masih menyisakan hangat di kepalanya, membuat perasaannya tumpul dan sulit terkendali. Julia memeluk leher Dave erat. Jantungnya berdebar cepat. “Sayang,” panggil Julia pelan, sedikit menggoda dan mendayu. Ia telah sampai di garis akhir. Tidak ada lagi Mawa. Dan bayangan masa lalu tentangnya. Dave menurunkannya perlahan di atas ranjang. Sentuhan-sentuhan kecil yang menggerayangi inci demi inci. Tubuh indah yang tidak pernah dipandang sempurna, kini terpampang nyata. Melihat dengan jelas bagian yang selalu dijaga dan ditutupi. “Emh ….” Julia mendesah kecil, telinganya digigit gemas oleh Dave yang menegang. Dave tahu apa yang dia lakukan, membuat Julia hanyut dalam hasrat menggebu-gebu. Segala cara ia lakukan, bahkan mengisap sesuatu di sana yang membuat Julia melolong panjang. Dan tibalah ke bagian inti, puncak dari permainan dewasa ini. Dave membuka kedua paha Julia perlahan, mengarahkan miliknya yang telanjur berdiri tegak. Julia yang sudah sangat basah dan pasrah itu memejamkan mata. Takut dengan cerita banyak orang tentang malam pertama yang menyakitkan. “Jangan tegang begitu. Rileks saja. Awalnya memang sakit,” bisik Dave menenangkan. “Ehm, okay.” Baru memulai, belum ada setengah jalan dan Dave memilih berhenti ketika mendengar rintihan kecil dari Julia. Sampai akhirnya Dave berhasil membobol pertahanan Julia sepenuhnya, tetapi heran karena ada yang kurang. Ia tidak merasakan menyobek sesuatu seperti Mawa dulu. “Kenapa … kenapa kamu tidak berdarah?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD