“Berapa kali harus kujelaskan bahwa kami sudah tidak memiliki hubungan apa pun, kenapa kamu begitu yakin kalau kami masih berhubungan?” Aku berusaha menahan amarah yang mulai melesak keluar, sesak sekali jika kubiarkan mendekam di dalam d**a. Terlebih lagi melihat ekspresi Julia yang seolah menganggapku begitu murahan. “Jika kalian memang sudah tak punya hubungan apa pun, lantas kenapa Mas Dave masih begitu peduli padamu dengan mengirim oleh-oleh murahan semacam itu?!” Nada bicara wanita ini mulai meninggi, dan tentu saja aku tak bisa diam. “Apa sebatas itu rasa percayamu pada Tuan Dave?” Aku mencoba menarik napas lebih dalam, memberanikan diri untuk menyelam ke dalam manik mata sombong milik istri baru mantan suamiku. “Apa rasa percaya dirimu luntur hanya dengan sebingkis oleh-oleh

