Bab 5.

1004 Words
POV. Julian Liberia Aku melihatnya dari kejauhan, wajahnya begitu cantik. Tapi sayang kali ini aku tidak bisa mendekatinya karena banyak sekali permasalahan di istana. Walaupun aku mendengar bisik-bisik orang berkata bahwa dia tak cocok menjadi selir kesayangan tetap saja aku memandang wanita itu bukan dari satu sisi. Jenderal Fang sedang berusaha mencari pasukan bayangan yang dipimpin oleh menteri Roas. Sebenarnya aku juga tidak percaya dengan jenderal Fang, tapi untuk saat ini kedamaian kerajaan juga sangat penting. Jika aku menemukan pasukan bayangan, maka Menteri Roas tidak akan bisa berbuat sembarangan padaku. Aku tidak menginginkan peperangan ini, tapi menteri kiri Roas dan Jenderal Fang selalu berselisih paham. Mereka mengadu kecepatan agar Liberia menundukkan satu kerajaan berikutnya. Sebagai Kaisar yang tidak di anggap aku mulai bermain dengan kata-kata, tapi sayang aku juga terjerumus di dalamnya, seperti saat ini, aku yang menginginkan Raja dan Ratu Ebis di bebaskan tak di beri kekuasaan sama sekali. "Aku tidak tahu siapa yang memiliki Liberia. Dari sekian banyak permasalahan, dan dari sekian banyak peperangan. Aku tidak mendapatkan apapun, tapi sekarang aku menginginkan sesuatu tapi kalian tidak bisa memberikannya. Terserah jika kalian menilai aku tergila-gila pada wanita, tapi aku sungguh menginginkan yang aku katakan pada kalian. Jika tidak ada yang ingin membebaskan orang-orang Ebis, maka aku yang akan melakukannya." "Kaisar, jika kita melakukan itu pada kerajaan Ebis, maka yang lain akan menginginkan hal yang sama." "Hah, tentu saja tidak bisa! Mereka harus tahu selir kesayangan Kaisar berasal dari negara tersebut. Selama ini kalian sangat mudah memutar kalimat, lalu kenapa tak bisa menjual namaku untuk permasalahan kali ini?! Aku tidak mau tahu, sebelum matahari terbit semua orang-orang itu sudah kembali ke negerinya. Aku ingin menunjukkan betapa cinta diri ini kepada Alice, Aku menyukai dia sejak pandangan pertama." Mendengar hal itu orang-orang kembali berbisik, "Kaisar, jika ini tentang selir kesayangan anda. Maka kami akan melakukannya." Ucap Menteri Roas yang sedikit mengintip ke arah Jenderal Fang. "Seharusnya semua orang mendukung apa yang Kaisar, bukankah negeri ini adalah milik Kaisar?!" Aku melihat wajah menteri Roas, entah rencana apalagi yang sedang diusung saat ini. senyumnya terlihat sangat sinis dan mengerikan, aku tak suka itu. Karena dari kecil aku sudah mengenalnya, jadi aku seolah paham apa yang ada di kepala pria itu. "Menteri Roas sungguh pengertian, aku tidak bisa membalas kebaikan menteri Roas. Padahal semua orang tidak ada yang setuju dengan keinginanku ini, hanya menteri Roas yang pengertian." "Apa yang tidak bisa saya lakukan untuk Kaisar, lagipula kerajaan ini adalah milik anda, peraturan terkuat adalah yang keluar dari mulut Anda, Kaisar." Pencari muka ini memang tidak pernah habisnya. Aku hanya bisa tersenyum simpul melihat wajahnya yang penuh dengan rencana. Setelah dia selesai bicara, aku pun berdiri dan keluar dari ruang rapat. Aku tak bisa berbohong, dalam hati ini terus saja memikirkan tentang Alice, Aku akan melakukan apapun untuknya. "Yang Mulia Kaisar, saya Kesatria Liam. Apa ada hal yang ingin Kaisar lakukan?! Kami sudah mengkonfirmasi kegiatan menteri kiri, dia sedang mengambil semua pasokan makanan untuk para penjaga di perbatasan. Makanan tersebut dikirimkannya untuk sebuah desa, setelah kami selidiki ternyata desa tersebut hanya dihuni oleh para lelaki berumur 14-50 tahun. Kami pun kembali menyelidikinya, ternyata menteri kiri sedang membangun pasukan." "Kenapa berhenti?!" Kesatria Liam tampaknya enggan untuk bicara. "Jangan ragu katakan saja semua yang kau ketahui, karena lambat laun semua itu tetap akan terungkap. Tentu saja lebih baik jika kita melakukan dan mengetahui lebih awal." "Ibu Suri terlihat beberapa kali mengunjungi desa itu. Dan yang saya lihat, Ibu Suri dan menteri Roas sangat dekat secara emosional." Aku tahu yang Kesatria Liam maksud. Aku dulu memang anak kecil yang tidak mengetahui apapun. Tapi semakin bertambah umur aku semakin menyadari, hubungan antara ibu Suri dan menteri kiri tidak berlebihan jika dikatakan di luar logika. Mereka memadu kasih, walaupun tidak kasat mata bagi orang lain, tapi tidak bagiku. "Aku sangat mengerti dengan yang kau maksud, untuk sementara ini tetap awasi dia. Aku lihat dia tidak ingin membuatku bergejolak karena hal ini. Lagipula menteri kiri dan Jenderal Fang berseberangan, kita akan memanfaatkan situasi ini." "Kaisar, kalau begitu saya undur diri. Setelah ini saya akan melaporkan hal-hal yang paling penting untuk Kaisar." "Tidak, jangan laporkan hal yang penting saja. Laporkan semuanya kepadaku agar kita tidak salah langkah, ada beberapa hal yang kita lihat biasa tapi merupakan poin terpenting." Kesatria Liam mengangguk, dia mengerti yang di maksud oleh Kaisar. "Saya permisi Kaisar." Hembusan angin yang begitu kuat membuat aku sadar bahwa dunia ini tidak baik untuk ditinggali. Begitu banyak hal yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Begitu banyak penipu yang bertebaran dengan wajah ramah dan merayu. Aku adalah Kaisar, tapi tak memiliki kekuatan yang mampu membantu rakyat sendiri. Aku memiliki tujuan terpenting dalam hidupku, tapi semua ini jelas butuh perjuangan dan kekuatan. Tidak mudah untuk meruntuhkan orang-orang yang memiliki ego, Aku benci ketika mengakuinya. "Kaisar, apa yang di katakan Penyihir Limeng pada anda." Jantungku hampir saja lepas saat mendengar suara bertanya tepat di belakang tubuhku. "Maaf jika anda tidak suka dengan pertanyaan saya." Jenderal Fang tertunduk. "Penyihir Limeng adalah sekutu bagiku, tapi dirimu belum bisa ditempatkan di posisi manapun. Aku tidak mungkin mengatakan sebuah rahasia kepada orang yang tidak perlu untuk mengetahuinya. Aku benci untuk mengakui ini, orang-orang yang berada di pihakku tidaklah banyak." Jenderal Fang terdiam, "jika saya memutuskan menjadi sekutu anda, bisakah anda membantu saya. Ini tentang penyihir Limeng." Aku rasanya ingin tertawa, orang keras seperti jendral Fang malah kalah dengan cinta. Dia sepertinya sangat menginginkan sang istri kembali dalam pelukan, tapi sungguh itu tak mudah. "Aku tidak bisa mengatur hati seseorang, tetapi penyihir Limeng mengatakan sesuatu hal yang penting bagiku. Kau memiliki kesempatan yang sangat besar untuk memperbaiki semua ini jenderal." "Kaisar," dia langsung menunduk di bawah kaki Julian, "saya mohon, saya berani melakukan perjanjian darah dengan anda. Saya mohon kembalikan Limeng pada saya." "Aku tidak mencurinya, dialah yang ingin berpisah denganmu karena dia tahu prinsip kalian telah berbeda." Mendengar hal itu, jenderal Fang semakin kacau. "Kaisar," sretz, dia melukai tangannya sendiri hingga cairan merah mengalir sangat deras. "Atas darah yang tumpah, saya bersedia melayani Anda sampai maut memisahkan." ucap Jenderal Fang dengan berani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD