Bab 6.

1058 Words
Pernikahan yang sepertinya sangat elegan bagi para selir yang lain, tapi tidak bagi Alice. Dia merasa dirinya begitu konyol karena berada dalam situasi seperti ini. Kemarahan gadis itu pun masih berusaha dia tahan, keadaannya tak cukup baik. Semua mata tertuju padanya dan ini membuat hati Alice bergetar. “Saya mohon untuk tidak memperlambat pernikahan ini, kita berdua sama-sama tahu kerajaan saya baru saja Yang Mulia bumi hanguskan. Jika dalam kerajaan Liberia tak memiliki perasaan, ini sangat berbeda dengan negeri kami yang selalu memegang teguh belas kasih. Saya mohon maaf jika ini menyinggung Kaisar, tapi mengertilah.” Julian memang tak berkata apapun, tapi dia tahu jika Alice dan negeri Ebis memang tempat yang terkenal damai selama ini. Dia pun tidak ingin Alice kecewa, apalagi jika dia benar-benar kekasih yang selama ini dirinya cari. Kekasih yang selalu mengganggu malam harinya, rasanya sungguh menyakitkan dan memilukan sekali jika mengingat hal itu. “Aku akan melakukan apapun untukmu, Alice. Kita akan selesaikan secepat mungkin prosesi ini dan saling menikmati setelahnya. Kau tahu aku sudah lama sekali menunggu, jangan sampai perasaan ini campur aduk karena wajah muram itu. Rasanya menyebalkan sekali, Alice.” Permaisuri, Selir dan pada pejabat yang ada di sana sangat terkejut karena Kaisar mereka seperti tergila-gila dengan seorang gadis. Memang ini lucu, tapi Julian tak ingin membohongi hatinya. Dia menginginkan setiap hari tentang mereka berdua, Alice dan Julian adalah pasangan yang serasi, itulah yang ada di pikirkan sang Kaisar. Setelah beberapa jam, semua upacara pernikahan selesai di gelar. Permaisuri Charlotte terlihat enggan menatap Alice, mungkin kemarahannya kini sudah sampai ke ubun-ubun. “Kaisar, tolong jangan begitu dekat dengan saya. Keberadaan saya di sini tidak sebentar, bisa saja saya menghabiskan masa tua di sini. Saya tidak ingin mengambil resiko bertengkar dengan selir dan lebih parahnya dengan Permaisuri, saya tidak menginginkan hal itu. Jadi tolonglah saya agar mendapatkan kedamaian.” Julian terdiam, yang di katakan Alice benar. Selama ini Selir dan Permaisuri saling baku hantam karena dirinya tak pernah mengunjungi mereka barang sekali pun. Lalu bagaimana jika ada seorang putri yang menjadi selir dalam sehari dan menjadi kesayangan Kaisar?! Julian tahu semua akan menjadi sangat parah. Dengan memegang tubuh Alice, Julian pun berkata. “Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, bukan?! aku sudah mengatakan ini berkali-kali, jadi tidak perlu takut akan apapun. Suatu hari kau akan mengerti kenapa aku melakukan dirimu sangat istimewa Alice.” Di saat ini Alice sadar jika yang ingin di lakukan oleh Julian tidak akan sesuai dengan yang dirinya inginkan. Kaisar sudah salah paham padanya, Julian menganggap jika Alice tidak ingin di ganggu dan ketakutan. Padahal yang di maksud oleh Alice tidak seperti itu. Alice ingin Julian tidak terlalu dengan dengan dirinya. Kini Julian dan Alice berada di paviliun Bunga. Mereka saling melihat dan memandang, walaupun Kaisar lebih dominan. Sesekali Alice menjadi canggung karena Julian tak berpaling darinya dan itu membuat suasana menjadi kian tidak nyaman. “Saya tidak pernah mendengar kalau Kaisar datang ke kamar Selir.” ucap Alice yang membuat Julian tersenyum, “lalu kenapa anda di sini sekarang?! bukankah Kaisar Liberia sangat tergila-gila dengan pekerjaannya?! lalu apa ini? Kenapa anda terlihat sangat menyukai romansa?! Alice bingung dan kini ingin bertanya langsung. “Apa rumor itu salah?!” Julian tidak menjawab, tapi matanya terus menatap ke arah Alice. “Apa aku terlihat sangat menyeramkan?! padahal semua akan baik-baik saja jika kita saling mengenal lebih jauh, aku memiliki satu keinginan darimu.” “Apa itu Yang Mulia?!” Julian meremas tangan Alice, “jika kau mengingat sesuatu tentangku maka katakanlah. Setelah itu kita akan menjadi sepasang suami istri yang sesungguhnya. Tapi menjelang itu aku akan selalu datang kemari, bermain dan mendengar cerita tentangmu.” “Mengingat sesuatu tentang Yang Mulia?! apa kita pernah bertemu sebelumnya?! saya penasaran sekali.” Alice menatap bingung Kaisar, “jika kita sebelumnya memang sudah pernah bertemu sebaiknya Yang Mulia katakan saja. Kenapa malah meminta saya untuk mengingat?! bukankah itu hanya membuat orang lain penasaran?!” “Kau merasa begitu?!” Alice tersenyum, “Sebaiknya jika anda tidak ingin bicara maka simpan saja di dalam hati. Hari ini begitu melelahkan, saya ingin beristirahat. Apa Yang Mulia tidak kembali ke Paviliun Naga?!” “Aku dan kau akan kembali ke sana sekarang, tempat ini tak cocok untukku. Pelayan, antarkan kami kembali ke Paviliun Naga.” Alice rasa Kaisar sedang jatuh cinta padanya, tapi gadis bodoh itu masih belum yakin karena dia sendiri belum pernah merasakannya. “Alice, kenapa melihatku dengan wajah seperti itu?!” Julian mendekat, lalu mengecup bibir Alice. “Matamu sekarang semakin besar, sungguh indah dan menakjubkan sekali.” “Anda membuat saya gugup Yang Mulia.” Tak lama mereka sampai di Paviliun Naga dimana Julian tinggal selama ini. Alice adalah wanita pertama yang ada di sana. Ini memang sangat menakjubkan bagi banyak orang. “Alice, malam ini aku harus pergi karena ada pemberontakan di wilayah selatan. Aku sungguh merasa tidak nyaman jika Jenderal Fang malah pergi sendiri bersama pasukan.” “Sampai kapan semua ini akan terjadi Yang Mulia?!” Julian tidak ingin menjawab, dia kembali salah paham karena berpikir pertanyaan itu karena Alice tak ingin sendirian. “Alice, apa kau tidak ingin berpisah denganku?! aku hanya pergi ke perbatasan dalam waktu dua minggu, setelah itu aku akan mengajak dirimu jalan-jalan. Ingatlah untuk tidak keluar dari paviliun ini, kau tinggal di sini sampai aku kembali. Kalian semua mendengarnya, pelayan?!” “Ya, Kaisar, kami mendengarnya.” Senyum dari bibir pria ini terpampang sangat indah, Alice jadi malu sendiri karena sudah membuat sang Kaisar bertingkah konyol. “Semoga anda kembali dengan selamat.” Setelah malam pengantin mereka, Alice yang ingin bersikap biasa saja malah di kerjai oleh para Selir senior. Jela saja dalang dari semua ini adalah Permaisuri. “Wah, baru dua haru sampai di Liberia tapi sudah seperti penguasa saja. Tinggal di Paviliun Naga menggunakan jubah Phoenix, sungguh perayu ulung.” Alice berusaha tidak menanggapi. “Coba katakan padaku di mana kau dapatkan penyihir yang bisa membolak-balik hati Kaisar.” “Yang Mulia, saya tidak pernah melakukan apapun pada Yang Mulia. Kalimat anda sungguh menimbulkan provokasi, ini tidak baik Yang Mulia, semoga anda bisa mengerti kondisi kita saat ini. Saya merasa tidak bisa sebanding dengan anda, lalu kenapa anda gelisah. Di sini juga saya ingin sampaikan bahwa antara saya dan Kaisar tidak melakukan apapun. Kami tidak berciuman ataupun melakukan hubungan suami istri, saya harap kalian semua merasa puas setelah mendengarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD