Dari awal permaisuri Charlotte adalah orang yang menyebalkan, dia orang yang licik dan mudah memutar balikan fakta. Apalagi dukungan dari para menteri membuat dirinya berada di atas angin. Permaisuri Charlotte terlahir dari pasangan Putri negara Liberia dan menteri kiri Roas. Sejak kecil dia sudah sangat menyebalkan, banyak anggota bangsawan Liberia yang enggan berurusan dengannya. Apalagi dia sangat pandai mencari muka, mengerikan sekali.
"Apa?! Kau terdengar sangat angkuh di telingaku." Senyum mengejek permaisuri Charlotte terlihat sangat jelas, apalagi saat dia melangkah dengan penuh keangkuhan. Permasuri Charlotte sangat percaya diri, hanya dia yang boleh mengendalikan para selir. "Namamu Alice ya?! Aku merasa pernah mendengarnya, tapi lupa entah dimana. Bagi negara Ebis pesta adalah hal yang tidak menyenangkan, disitu aku bisa melihat kalau kau bukan orang yang cocok berada dalam lingkungan ini." Permaisuri Charlotte meremas dagu Alice menatapnya jijik. "Tanganku akan gatal setelah memegang wajahmu, hah... Aku yakin hatimu sangat besar apalagi saat kaisar menempatkan dirimu di paviliun naga. Sampah kecil sepertimu seharusnya sudah dibuang sejak awal."
Alice bukan orang yang kuat, tapi dia juga bukan orang yang lemah. Walaupun tubuh Alice rapuh, tapi dia tidak akan membiarkan dirinya ditindas.
"Saya rasa permaisuri Charlotte datang kemari hanya ingin menggoda saja. Tapi sayang waktunya tidak tepat, saat ini adalah jadwal saya membaca buku. Belum lagi kaisar meminta saya untuk membuat rencana kegiatan malam bulan purnama untuk perayaan bunga."
Semua yang ada di sana terlihat sangat terkejut. "Kau sengaja mengatakannya agar aku marah, merasa iri padamu, bukan?! Hahhaaaa, lucu sekali kau Alice. Seharusnya otakmu bisa mencerna, mana ada permaisuri yang melakukan kegiatan hina seperti itu. Permaisuri pekerjaannya adalah menikmati malam bulan purnama di festival bunga. Kau yang hanya seorang selir memang seharusnya melakukan itu, jadi terima saja takdirmu dan jangan mengeluh."
"Wah, anda benar sekali permaisuri." Jawab Alice dengan wajah mengejek. "Saya permisi semuanya!" Charlotte merasakan sesak didadanya, dia menyentak tangan Alice hingga gadis itu terjatuh dan masuk ke dalam kolam teratai. "Permaisuri saya rasa Anda sudah sangat keterlaluan, ini adalah tindakan tidak bermoral. Bagaimanapun saya adalah istri kaisar, saya tidak akan tinggal diam akan hal ini."
"Terserah padamu saja, kau yang terlebih dahulu menyinggung diriku. Semua yang ada di sini juga mengetahuinya, kalian tidak perlu sungkan untuk membuka mulut." Alice berusaha menahan diri, "jangan ada yang yang berani membantunya naik ke atas, aku akan sangat murka dan memberikan kalian 100 pukulan." Ancam permasuri Charlotte yang sudah tak bisa menahan diri. "Jangan menatapku dengan wajah menjijikkan itu, kau bukan orang yang aku pilih sebagai pesaing, berani sekali menganggap dirimu hebat." Permaisuri Charlotte meninggalkan Alice yang masih berada dalam kolam teratai.
"Nyonya Alice..."
Pelayan Soha langsung berlari ke arahnya. Pelayan muda yang selama ini terlihat lemah dan muda itu belari dengan cepat kearah Alice. Kolam teratai yang cukup dalam membuat gadis itu sulit untuk naik ke atas.
"Nyonya Alice, anda harus segera mandi. Saya menyiapkan air panas untuk anda," dia bergegas membantu Alice naik ke dalam bathub. "Ini adalah bak mandi kiriman dari negara Qin. Mereka membuatkannya khusus untuk kerajaan Liberia. Kerajaan itu terkenal dengan desain unik dan pekerja yang handal."
"Mereka juga dikenal sebagai provokator, dengan memiliki banyak bubuk peledak dan senjata api. Jangan mengatakan tentang negara itu lagi di hadapanku. Negara Qin sangat terkenal dengan jurus adu domba. Sayang sekali kerajaan Liberia yang mendapatkan keuntungan dari mereka tidak melihat dari sisi ini." Alice dengan sengaja mematahkan kalimat pelayan Soha. "Selain itu, negara Qin, pasti menginginkan sesuatu pada kerajaan Liberia, kita lihat saja bagaimana kedepannya. Jika tebakanku benar, negara Qin hanya menjadikan kerajaan Liberia ujung tombaknya. Mereka memanfaatkan sikap arrogant kerajaan Liberia."
"Nyonya, anda jangan pernah mengatakan hal itu dengan orang lain. Anda bisa dikatakan sebagai pengkhianat. Saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada nyonya," pelayan Soha mengeluh dan memperingatkan Alice. "Tembok kerajaan ini bisa bicara, makanya kita tidak bisa sembarangan mengatakan apapun, Nyonya. "Saya berharap hidup anda akan baik-baik saja. Anda adalah kesayangan kaisar, jika sesuatu yang buruk terjadi pada anda, maka kaisar pasti akan sangat sedih." Alice tak menjawab, dia hany termenung karena bingung kenapa malah dirinya yang di jadikan kesayangan oleh Kaisar. "Apa Anda sangat bingung kenapa kaisar menyayangi anda?!"
"Apa kebingunganku ini tidak wajar?! Dari sekian banyak selir, di tambah permaisuri aku bukanlah siapa-siapa. Dari segi fisik, dan kekuatan di negara ini aku tidak membantu kaisar sama sekali. Para penjaga berbisik jika aku menggunakan sihir untuk menundukkan Kaisar. Saat mendengar itu aku merasa lucu sekali, hatiku selalu bertanya, apakah benar Kaisar jatuh cinta padaku."
"Bukankah cinta itu buta?! Saya memang masih sangat muda. Tapi begitu banyak buku tentang percintaan yang saya baca, Nyonya. Mereka bilang cinta buta tidak bisa diartikan dengan hal apapun. Saya percaya suatu saat, Nyonya akan menyadari ketulusan Kaisar."
Alice terdiam seribu bahasa, dia tidak menginginkan cinta dari siapapun saat ini. Alice tidak ingin jatuh cinta pada Kaisar, karena dialah yang menghancurkan negeri Ebis. Di mana semua kedamaian berada di sana, tidak ada orang-orang seperti di negara Liberia.
Setelah satu jam berendam sambil mengobrol, Alice yang sudah kembali beesih pun duduk di aula paviliun naga. Dia teringat kembali saat sang Kaisar memanggilnya kemari, ada sesuatu yang aneh dari sikap Kaisar. Dia seperti sedang mencari seseorang.
"Soha, ada orang di luar! Coba kau lihat, siapa di sana!"
"Baik, Nyonya." Tak lama Soha kembali sambari berlari. "Nyonya, utusan ibu suri datang menjemput anda. Permaisuri murka karena melihat anda jadi kesayangan Kaisar. Beliau fitnah anda, pelayang yang menjemput bilang kalau anda sudah mendorong tubuh permaisuri sampai masuk ke kolam teratai."
Inilah yang tidak ingin Alice rasakan, dia hanya ingin hidup dengan damai dan tentram. Sekalipun Kaisar tidak menjenguknya, diletakkan di paviliun paling jauh. Semua itu sungguh tidak masalah, karena Alice enggan meributkan apapun.
"Jadi apa yang mereka inginkan?!"
"Mereka ingin membawa anda menemui ibu suri."
Alice berdiri, "baiklah semua tidak bisa dihindari, setidaknya aku harus menemui Ibu Suri dan permaisuri yang menunggu. Huft, Aku ingin mengetahui seberapa besar kekuatan permaisuri hingga dia merasa bisa menindas siapapun."
"Nyonya, Anda harus hati-hati menghadapi mereka. Ibu Suri adalah kakak kandung ibu permaisuri. Jadi anda tidak bisa melawan mereka begitu jauh." Alice memeluk Soha agar gadis itu tenang.
"Alice Ebis menghadap ibu suri."