Pintu terbuka membuat Alice menahan napasnya, padahal sejak awal dia tidak ingin membuat masalah dengan siapapun di kerajaan ini. Kaisar udah mendorongnya ke tempat yang paling jauh hingga berurusan dengan ibu Suri dan permaisuri. Alice sudah mengatakan dengan terang-terangan kepada kaisar bahwa dia tidak ingin memiliki kasih sayang. Di kerajaan ini Alice hanya ingin hidup tenang dan damai. Tapi semua percuma karena keadaan semakin buruk.
"Wah, ini selir yang buruk rupa itu? Tapi bagaimana bisa kau mendapatkan kasih sayang Kaisar?!" Ibu Suri berdiri, ia berjalan ke arah Alice. "Mantra apa yang kau berikan pada Kaisar?! Padahal semua itu jelas tidak mungkin, kaisar selama ini tidak menginginkan wanita manapun. Bagaimana mungkin kau melakukannya dalam satu hari tanpa sihir." Ibu Suri meraih dagu Alice, dia menekannya dengan sangat kuat. Suara desahan napas ibu suri sampai terasa di wajah Alice. "Aku paling muak dengan wanita sepertimu, pasti kau mengandalkan tubuhmu yang rapuh ini. Membuat seolah-olah kau membutuhkan hal lebih dibandingkan orang lain. Kau pikir sampai kapan Kaisar akan mencintaimu?! Jangan bodoh dan bermimpi tinggi, semua itu tak ada gunanya bagiku."
"Ibu suri, maaf jika saya membuat anda sakit hati. Bukankah semua istri seharusnya disamaratakan?! Saya adalah selir rendahan bagaimana mungkin bisa mengambil hati Kaisar. Jika pun itu terjadi, arti standar saya lebih tinggi daripada yang lain." Ibu suri yang mendengar itu langsung membulatkan matanya, sungguh berani gadis ini karena sudah melawan perkataan ibu suri. "Jika anda ingin marah, silahkan marah kepada kaisar. Saya tidak ingin mengetahui apapun tentang kehidupan percintaannya. Lagipula Kaisar tidak ada di sini, rasanya tidak cukup adil jika kita membicarakannya."
Ibu suri langsung mendorong tubuh Alice hingga terjatuh. "Berani ekali kau membuat aku merasa tidak senang, padahal sudah jelas kalau Kaisar tidak akan pernah mengutamakan dirimu dibandingkan aku."
Permaisuri yang melihat kemarahan sang ibu suri sangat terkejut. Pasalnya dia tidak pernah bersikap penuh emosi seperti itu. Ibu suri selalu membuat dirinya elegan, bagaimanapun marahnya dia selalu mengatur setiap kalimat yang keluar dari mulut. Tapi saat ini sangat berbeda, dia sangat emosional dan marah, bahkan kemarahan itu tidak bisa dikendalikan lagi. Ibu Suri mengeluarkan semua kalimat kejam, dia juga menghina Alice habis-habisan. Sejujurnya permaisuri merasa sangat senang, tapi dia takut berita ini sampai pada Kaisar.
"Ibu suri, tenangkan diri Anda. Jangan terbawa suasana hingga merendahkan diri Anda sendiri. Dia hanya memancing Ibu suri agar bersikap tidak waras. Semua pelayan menatap ke arah ibu, lebih baik sudahi ini." Charlotte menarik bahu ibu suri hingga kembali duduk di singgasananya. "Ibu, anda tidak sepatutnya bersikap di luar batas demi dia. Itu hanya mencoreng wajah ibu sendiri." Bisik Charlotte. "Kau Alice, silahkan kembali ke Paviliun, kami disini tidak ingin melihat wajahmu lagi."
Alice pun keluar dari paviliun dengan kaki terseret. Ibu Suri sangat kuat memukulnya, permaisuri jadi takut jika Kaisar mengetahui. Walaupun ibu Suri mengatakan Kaisar tidak akan membantahnya, tetap saja yang terjadi beberapa hari ini adalah yang pertama kali. Julian, tidak pernah menginginkan wanita manapun di istana. Permasuri yang merasa sakit hati dengan sikap Kaisar menyelidikinya pelan-pelan. Rumor yang beredar, karena peperangan yang cukup lama di wilayah Utara beberapa tahun yang lalu. Membuat organ reproduksi milik Kaisar tidak mampu berdiri. Bahkan untuk mengeluarkan air seni saja benda itu begitu loyo. Begitulah dasar khusus yang didengar oleh permaisuri.
"Nyonya!" Soha langsung berteriak saat melihat Alice yang menyeret kaki sebelah kirinya. Wajah Nyonya itu membiru karena sebuah pukulan yang pastinya cukup keras. "Nyonya bagaimana bisa terjadi kepada anda?! Wajah anda membiru, apakah anda tidak mampu membuka mata?! Bagaimana jika Kaisar kembali dan melihat semua ini. Saya pasti akan mendapatkan pukulan, tapi bagaimana dengan Nyonya?! Yang Mulia pasti tidak akan mengunjungi Nyonya lagi." Soha merengek, dan itu terlihat sangat lucu bagai Alice. "Kenapa Nyonya malah tertawa?! Apa ada sesuatu di wajah saya?! Jangan katakan apapun Nyonya, biarkan saya yang memeriksanya."
Alice menarik tangan Soha. "Jangan berlebihan, aku tertawa bukan karena melihat wajahmu, tapi tingkahmu itu membuat aku bingung, kenapa kau bersikap seperti orang bodoh. Aku tidak apa-apa, jika Kaisar tidak menginginkan aku itu malah bagus sekali karena aku jadi tidak perlu memikirkan mereka yang merasa Kaisar berlebihan padaku."
"Huh, kenapa Nyonya. Bukankah ini lebih baik, jika anda menjadi kesayangan Kaisar. Maka rakyat Ebis akan mendapatkan kekuatan karena sudah pasti Kaisar berpihak pada mereka. Bayangkan saja, anda bisa meminta bantuan materi untuk membangun kembali kerajaan Ebis. Walaupun berada di wilayah kekuasaan Liberia, tetap saja Ebis memerlukan bantuan untuk membangun kerajaan kembali. Para selir mendekati Kaisar dengan tujuan ini, mereka ingin meminta bantuan dengan menjadi kasih sayang Kaisar. Pikirkan kembali nyonya, bagaimana nasib rakyat Anda yang tertinggal di sana. Nikmati kesempatan ini, anda tidak boleh egois."
Air mata Alice jatuh, dia merasa terpukul karena yang di katakan oleh Soha sangat benar. Jika dirinya mendapatkan kasih sayang Kaisar, Maka Negeri Ebis maka mendapatkan nilai lebih. Selain mendapatkan bantuan materi, negeri Ebis akan mendapatkan kekuatan militer.
"Terimakasih Soha, terima kasih karena kau sudah mengingatkan aku. Betul yang kau katakan, akulah yang egois, harusnya dari awal aku memanfaatkan kasih sayang Kaisar. Aku egois, aku bodoh sekali!" Alice jatuh ke dalam pelukan Soha, dia menangis sangat kuat. "Jangan katakan apapun lagi Soha, sekarang bantu aku agar luka di wajah ini cepat pulih. Aku tidak ingin Kaisar jijik melihatku."
Soha menggelengkan kepala, "tidak Nyonya, anda harus memanfaatkan ini agar Ibu Suri tahu seberapa kuat diri Anda. Sekaligus memberitahu permaisuri dan selir lainnya jika anda bukan orang yang bisa ditindas. Mereka salah besar jika melakukan itu pada anda. Alangkah baiknya kita pelihara saja semua luka ini, dan ketika Kaisar kembali dia bisa melihat dengan jelas."
"Soha, kenapa kau bisa menjadi selicik ini?! Padahal baru beberapa jam yang lalu wajahmu masih polos dan tak memiliki keberanian."
"Nyonya, saya jadi seperti ini karena tidak sanggup melihat anda di permainkan oleh mereka. Kita juga manusia, lalu kenapa mereka membuat kita seperti binatang." Soha meraih tangan Alice, "kakak perempuan saya adalah pelayan ibu suri. Beliau kembali ke rumah dalam keadaan terbujur kaku, keluarga kami meminta keadilan tapi malah kami yang di tuntut hingga memaksa saya menggantikan kakak. Saat tak ada pelayan yang ingin mendampingi Anda, saya melangkah maju. Karena di dalam pikiran ini sangat kacau Nyonya, saya takut anda mendapatkan ketidakadilan."