Bab 9.

1014 Words
Kaisar sudah kembali, itu yang Alice dengar dari Soha. Tapi sayang pria itu sama sekali tidak datang ke Paviliun. Padahal Alice sudah memutuskan untuk memanfaatkan keadaan, dia akan mengambil keuntungan seperti yang Soha katakan. Jika memang menjadi kekasih Kaisar mendapatkan banyak hal yang diimpikan, maka suatu keegoisan kalau Alice tidak menginginkan.  Tak lama, Soha berlari kecil ke arah Alice. Dia berbisik kepada Nyonya tersebut apa yang terjadi sebenarnya. Soha bilang Kaisar ketika kembali langsung menemui Ibu suri, dia memberitahu kepada ibu suri bahwa tidak ada yang boleh mengganggu Alice. Selama ini Kaisar selalu memberikan dan melakukan apapun yang Ibu suri inginkan, sekarang sudah saatnya semua orang mengikuti apa yang dia inginkan. Jika sekali lagi ibu suri melakukan tindakan bodoh kepada Alice. Setelah itu Kaisar langsung mendatangi permaisuri, dia juga mengatakan hal yang sama kepada wanita itu. Permaisuri yang tahu dia tidak akan bisa menang melawan Kaisar pun hanya terdiam, Kaisar saat ini melakukan rapat tertutup bersama para menteri dan jenderal.  "Nyonya, itu Kaisar." Soha langsung menarik tangan Alice, lalu merapikan pakaiannya. "Kaisar tiba." Teriak penasehat kerajaan.  "Alice, maafkan karena aku pergi terlalu lama. Tapi tenang saja semua orang yang mengganggu sudah aku peringatkan, wajahmu menjadi seperti ini karena mereka." Julian menyentuh wajah Alice yang masih terlihat memar. "Kakimu juga terluka?!" Alice mengangguk, "panggilkan dokter kerajaan, kau tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Aku akan menghukum mereka apapun yang terjadi untuk membalaskan sakit hatimu." Julian menggendong Alice menuju ranjangnya. "Jangan Kaisar, saya tidak ingin membuat banyak masalah disini. Anda tidak bisa selamanya menjaga saya, anda melakukan perjalanan jauh, belum lagi saat perperangan. Sungguh saya tidak ingin melakukannya, karena hal buruk akan terjadi saat anda tidak ada." Alice mulai berakting, walau tidak terlalu pintar. "Kaisar, apa saya kembali ke Paviliun saja?!" "Tidak, tetaplah berada di paviliun naga. Kau lebih aman disini, aku juga sangat senang bisa melihatmu setiap hari. Ini sangat penting bagi kita berdua karena aku ingin mendapatkan momen kebersamaan yang selama ini hilang." Pelayan masuk membawa beberapa hadiah, "semua ini adalah hadiah yang aku pesankan untuk dirimu. Sepanjang jalan aku berpikir apa yang pantas untuk wanita yang paling cantik di dunia ini. Karena aku tak dapat memilih, aku ambil saja semua yang paling bersinar." Hah, rasanya Alice tidak tahu harus beraksi seperti apa. Padahal dia dan Kaisar hanya beberapa kali bertemu, tapi Kaisar sepertinya sudah tergila-gila pada dirinya. Ini terlihat sangat aneh dan tak lazim, apalagi dari segi fisik Alice bukanlah siapa-siapa. Tidak ada yang menonjol, tidak ada yang menarik bagi dirinya. Semua itu jelas saja membuat orang lain curiga jika dia memang menggunakan sihir. "Kaisar baik sekali, saya tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Kehidupan ini sangat singkat, semoga kita berdua akan bertemu di lain waktu setelah kehidupan ini. Agar saya bisa membalas semua kebaikan Kaisar." Ucap Alice, "Ayo kemari Kaisar, saya sedang makan buah ceri. Apakah Kaisar ingin mencicipinya?! Buah ini dipetik langsung dari pohonnya, masaknya hampir sempurna." Julian yang sejak tadi hanya menatap wajah Alice mengoceh pun menyunggingkan senyum, dia membelai rambut Alice, hingga gadis itu terkejut. Julian menghela, lalu berkata pada Alice sembari memegang tangannya. "Kelihatannya kau masih takut denganku, tapi aku bersyukur karena kau sudah mencoba untuk berada di sisi ini. Aku benar-benar tidak akan menyia-nyiakan dirimu, Alice. Aku menyukaimu, Aku harap mulai sekarang kau pun belajar untuk mencintaiku. Tidak akan ada hati yang di duakan. Aku tidak pernah menyentuh wanita lain di istana ini, kau percaya padaku, Alice?! Jangan pernah bertanya kenapa aku seperti ini, yang penting bagiku kau adalah wanita yang paling istimewa." Alice gugup mendengarnya, dia tahu saat ini sangat salah. Dia berencana mempermainkan hati Julian sang Kaisar, asal semua ini tidak ketahuan tentu akan aman. "Kaisar, saya sudah berpikir selama kepergian Kaisar. Saya tahu semua ini akan sangat sulit, jalan berliku dan saingan di istana begitu banyak. Saya bisa saja celaka di sini, Kaisar tahu walaupun begitu setelah saya memutuskan pasti akan tetap berusaha." Julian pun menarik tangan Alice, dia tidak ingin mengambil kesempatan secepat ini. Apalagi saat Alice sudah menyatakan akan hidup bersama dirinya menghabiskan waktu bersama. Saat mereka keluar, Alice terkejut saat para selir dan permaisuri menatap mereka. Julian yang melihat ekspresi Alice pun mengecup tangannya. "Jangan takut, hal ini sangat penting, aku harus menunjukkan betapa hebat Selir jelek ini." "Kau bilang aku jelek?! Lalu kenapa bisa mati-matian mencintai diriku. Lucu sekali, orang yang berteriak dan memarahi ibu suri sekarang mengatakan diriku jelek." Julian memeluk Alice, "ya, kau Selir terjelek yang pernah ada, tapi kau adalah milikku, kekasihku. Yang mengatakan kau jelek hanya aku saja, tidak ada orang lain yang boleh mengatakan itu." Julian sangat mesra dengan Alice, sedangkan Ibu suri sejak tadi sudah perhatikan mereka pun mulai gerah. "Pelayan, Aku ingin kau memanggil orang penting. Orang yang bisa membunuh tanpa diketahui orang lain. Aku tidak akan rela Julian direbut begitu saja, gadis jelek itu sudah berusaha memonopoli Kaisar. Berani sekali dia padahal sudah jelas aku adalah orang yang penting di negeri ini. Julian seharusnya hanya mendengarkan aku, kenapa dia lebih memilih selir dari negara yang di hancurkan. Ini memalukan sekali, aku tidak terima." "Ibu suri, saya akan langsung mencari orang itu. Anda duduklah dengan tenang di paviliun." Ibu suri pun kembali ke Paviliun, sedangkan Kaisar dan Alice pergi ke taman. "Alice, besok aku harus pergi lagi ke daerah Utara. Kau tidak boleh keluar dari Paviliun dan istana. Jangan sampai terpancing oleh apapun, karena sebaik-baiknya aku menjagamu, kau tetap harus menjaga dirimu sendiri." Alice mengangguk, dan Julian memperlihatkan bunga-bunga yang bermekaran padanya. "Wah, indah sekali." "Seindah dirimu, aku suka saat kau mengatakannya." Julian mengusap bibir tipis Alice dengan ibu jarinya. "Aku tidak akan buru-buru karena kau sudah mengatakan ingin bersama denganku, ini semua sudah lebih dari cukup, Alice. Kita akan melakukannya secara perlahan. Kapanpun kau menginginkan aku, kapanpun Alice." Alice menunduk, dia tidak tahu ini benar atau salah. Yang jelas dia inginkan sebuah keuntungan, tapi jika dia meminta dengan cepat setiap sentuhan. Maka Julian akan sangat curiga, ini juga tidak baik untuk dirinya. "Baiklah, kita akan mulai secara perlahan. Saya sangat senang karena Kaisar ingin mengerti diri ini. Terimakasih Kaisar, saya hanya datang pada anda. Saya berjanji, Kaisar." Julian mengangguk, "Ya, itu sudah cukup untukku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD