Bab 2.

1055 Words
Julian Liberia adalah satu-satunya Putra Kaisar terdahulu, ini adalah tahun ke 10 kepemimpinan dirinya. Sikapnya yang dingin dan tak memiliki ekspresi membuat para Menteri terkadang bingung membaca situasinya. “Kemenangan Liberia tidak akan terjadi jika Kaisar hanya berada di Kerajaan menantikan pesan dari para Kesatria. Kehadiran Raja di medan perang membuat musuh tertegun dan menjadikan para prajurit beserta kesatria bertambah kuat. Jenderal perang Fang memberi salam pada Baginda Kaisar, sekaligus selamat yang luar biasa pada anda atas kemenangan Negeri Ebis.” Julian seperti biasa, dia tidak ingin banyak bicara di setiap pertemuan para Menteri dan Jenderal Negeri Liberia. Sesuai yang mendiang sang ayah katakan, sangat sulit menentukan bahwa mereka menjadi teman atau musuh. “Kaisar, saya Menteri kiri Roas seperti biasa saya sudah menempatkan Putri Kerajaan Ebis di bagian paling ujung istana. Kami akan melatih dia menjadi Selir kerajaan.” Julian melirik ke arah para Menteri. “Aku menginginkan Putri Alice Ebis malam ini, silahkan siapkan segalanya untukku!” dia berdiri dari singgasana dan pergi begitu saja. Semua menjadi riuh, bagaimana tidak! Ini adalah pertama kalinya Julian meminta untuk bersama gadis yang di dapat dari kekalahan Kerajaan. “Apa yang terjadi pada Kaisar?! padahal putri itu sangat jelek, tubuhnya datar seperti anak kecil walaupun usianya 20 tahun. Selain itu, lihatlah cadar yang dia gunakan! Mana ada gadis cantik yang menutupi wajahnya seperti itu.” “Menteri kiri Roas, saya harap anda tidak terlalu banyak bicara! Saya takut itu akan menyinggung Kaisar! Telinga di Istana ini terkadang menyerupai dinding.” “Hahaha, Jenderal Fang, yang kau katakan itu benar sekali! Lebih baik aku kembali ke kediaman dan tidur tenang. Aku takut matahari terbit dari arah berbeda besok pagi.” Menteri Kiri Roas dan Jenderal Fang memang tidak pernah akur sejak lama, dan mereka terkadang membuat keributan kecil di Istana. Mulai dari hal-hal kecil dan besar tidak pernah sependapat, tapi mereka memiliki satu pemikiran yang sama. Kerajaan Liberia harus Jaya tanpa pengganggu walaupun hanya sekecil biji padi. Menteri Roas berjalan keluar Istana dan berbisik pada orang suruhannya. “Awasi gerak-gerik Kaisar, dan laporkan semuanya padaku! Apa yang sebenarnya dia pikirkan sampai ingin tidur dengan Negara yang sudah dia hancurkan.” “Baik, Menteri Roas! Saya akan menyelidiki Kaisar.” Pok, pok, pok. “Kau menyewa mereka hanya untuk menyelidiki Kaisar! Atau memang kau adalah Tuan mereka?! huh, pembunuh bayaran, bagaimana kau menjelaskan padaku wahai Menteri?!” “Jenderal Fang, aku dan kau sama-sama bisa melihat dan berpikir secara cerdas, jadi untuk apa mempeributkan hal yang tidak penting, hah?! yang penting semua ini tidak merugikan Kerajaan.” Dia mengangguk, “Ya, Menteri Roas selalu mementingkan Kerajaan. Aku tahu itu, jadi kau tidak perlu khawatir akan menjadi suatu kesalahpahaman, karena Jenderal perang Negara ini sangat percaya denganmu. Aku permisi Menteri Roas!” Jenderal Fang melewati dirinya dengan senyum melecehkan. “Putri Alice, kami kemari untuk mempersiapkan malam pertama anda! Jadi mari kepemandian yang sudah kami siapkan. Putri Alice akan kami dandani setelahnya, lalu kita akan ke Paviliun Bunga, tempat dimana Kaisar beristirahat.” “Malam pertama bersama Kaisar?!” “Tentu, Putri!” “Tapi kami belum menikah, bagaimana bisa melakukan malam pertama. Saya tidak bisa melakukannya, tolong sampaikan pada Kaisar, saya tidak bisa! Lagipula kerajaan kami baru saja kalah. Bagaimana bisa saya melakukan kesenangan batin di bawah penderitaan rakyat. Saya mohon ampun pelayan, tolong sampaikan pada Kaisar.” Yang Putri Alice katakan benar, mereka belum menikah dan baru saja tiba. Bagaimana bisa Kaisar meminta malam pertama darinya. Kepala pelayan pun tidak habis pikir karena itu. Tapi sungguh dia takut jika menyinggung perasaan Kaisar dan membuat dirinya mati tebrbunuh begitu saja. “Putri, anda bisa mengatakan pada Kaisar setelah sampai di kediaman beliau. Kami hanya pelayan kecil yang takut mati, anda tahu sendiri bagaimana Kaisar bertindak. Pedang beliau tidak akan menunggu lama untuk membunuh orang lain. Antara cinta kasih dan rasa ingin membunuh sangat kuat di hati beliau.” Para pelayan perempuan berbisik, ya walaupun mereka berbisik masih bisa di dengar oleh Kepala Pelayan dan Alice. Mereka tertawa karena selera Kaisar yang nyatanya sangat rendahan. Tubuh Alice tidak menggoda sama sekali, hanya kulit putih dan tubuh yang rapuh. Itulah yang bisa mereka lihat saat ini. Rambut kuning emas sampai batas pinggang sama sekali tak membantu penampilan Alice menurut para Pelayan. Putri Alice terdiam, dia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Dia mengikuti apa yang di perintahkan padanya hingga waktu semakin berlalu. “Putri, semua sudah siap, kami akan mengantarkan anda menuju Paviliun Bunga. Tempat yang di inginkan semua wanita di Negeri ini.” Putri Alice menunduk, dia tetap akan mengatakan apa keinginan pada Kaisar nantinya. “Putri Alice Ebis tiba!” suara pintu yang berlapis-lapis terbuka. Alice berjalan dengan anggun, cadar di wajahnya masih terpasang sangat erat. Kembali para Pelayan berbisik, menurut mereka Putri Alice menggunakan mantra cinta pada Kaisar hingga pria kuat nan tampan itu lupa diri. “Putri Alice masuk!” teriak kepala pelayan dan membuat Alice berjalan sendiri saat pintu utama di buka. Alice berjalan cukup jauh, sampai dia mendengar suara gemercik air yang sangat jelas. “Putri Alice Ebis menghadap pada Yang Mulia Kaisar.” “Lepaskan pakaianmu!” Suara barito itu terdengar sangat kuat di telinga Alice. Dia pun menegakkan kepalanya dan melihat Kaisar Julian Liberia tepat di hadapan. Dia tidak menggunakan apapun dan sangat percaya diri! ya, bagaimana tidak tubuhnya sangat luar biasa. “Kaisar!” Alice bersujud di kaki Julian. “Kaisar, saya tidak bisa melakukan ini!” Julian menatap Alice lamat. “Saya setidaknya menikah dengan anda terlebih dahulu sebelum melakukan malam pertama dengan anda!” ucap gadis itu dengan suara bergetar. “Saya akan melakukan semua yang anda inginkan setelah kita menikah! Tapi tidak sekarang, Yang Mulia.” Julian hanya menghela, dia berjalan dengan tubuh telanjang miliknya ke arah pakaian yang sudah di siapkan. “Lepaskan pakaianmu!” hanya kalimat itu yang terus dia ulang. Alice menjadi gugup, “Kaisar…” “Lepaskan!” Sepertinya kalimat itu tidak bisa di ganggu gugat sama sekali. Dia pun berdiri dengan lemah, membuka satu persatu pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benang pun. “Berputar, aku ingin melihat seluruh tubuhmu.” Alice menutup mulutnya menahan tangis karena malu dan takut. "Kenapa kau mennagis seperti itu?! apa kau menyakiti dirimu?! padahal aku tidak ingin melakukan hal buruk tapi kau malah membuat kesan seperti itu, Alice."  Julian berjalan menjauh, dia tak pandai merayu seseorang saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD