POV Julian Liberia
Untuk pertama kalinya bagiku setelah kemenangan tidak ada perasaan bahagia. Negeri yang indah ini seolah bernyanyi mengingatkan aku pada masa lalu, hatiku terasa sedikit sakit ketika api memadamkan di setiap sudut negeri ini. Aku melihat ke arah sang Raja, dia tidak berkata apapun padaku. Hanya air matanya yang jatuh berlinang, tentu saja aku berusaha untuk tidak kacau. Aku tahu Liberia harus memperluas kekuasaannya.
Hari ini tidak ada yang tersisa, aku membakar seluruh rumah yang ada di sini. Bahkan kerajaan pun telah roboh. Aku perintahkan kepada seluruh ksatria untuk membawa orang-orang di negeri ini kembali ke negeriku. Mereka tidak akan memiliki kasta di sana, kecuali keluarga kerajaan yang akan aku tempatkan pada rumah-rumah bangsawan. Sedangkan salah satu Putri mereka akan aku jadikan selir yang lebih ke dalam arti seorang tawanan.
Terkadang aku pikir sampai kapan Liberia akan seperti ini?! Apa tak cukup tanah yang luas sepanjang mata memandang untuk menjadi sebuah kerajaan? Bahkan negara tetangga dan sahabat pun telah diratakan dengan tanah. Ini seperti sebuah obsesi yang menggila, sedangkan aku adalah ujung pedang pelaksana.
Mereka berbisik, mereka mengatakan bahwa hatiku terlalu dingin dan kejam. Mereka lupa siapa yang sudah membuat jiwa ini, aku adalah Julian, Bakan seekor semut pun tak ingin aku bunuh. Tapi raja terdahulu sudah membuat seorang pria bernama Julian ini berubah total. Dan akhirnya aku menjadi orang yang tak memiliki perasaan.
"Yang Mulia, Putri Alice Ebis sudah siap."
Aku mengangguk ketika nama itu disebut, untuk kali ini aku berusaha percaya dengan apa yang aku lihat. Mata gadis itu sama persis dengan orang yang aku cari selama beberapa tahun ini. Aku memang tidak salah ingat, saat usiaku 12 tahun. Ayah memberikan aku sebuah pesta yang sangat meriah, yang mengundang negeri tetangga dan para sahabat untuk merayakan pesta bersama kami.
Di saat itulah aku bertemu dengannya, seorang
gadis yang bahkan aku tak ingat siapa namanya. Senyumnya begitu indah, bicaranya sangat lembut. Tapi dia bisa membunuh seekor ular demi menyelamatkan aku yang lemah kala itu. Sayang sebuah keberanian saja tidak cukup, dia di gigit oleh Ular hingga pingsan dan tak sadarkan diri.
Aku berlari memanggil orang-orang agar menolong kami, mereka membawanya pergi dan sejak itu aku tak pernah melihatnya di pesta yang kerajaanku gelar. Aku merindu, aku pikir karena aku kelelahan hingga tubuh ini menjadi lemas. Tapi semua orang salah, aku sudah terobsesi dan tergila-gila dengannya. Gadis yang sudah menyelamatkan diriku.
Waktu berlalu, perasaan dan hatiku masih sama. Bahkan saat aku menikahkan dengan wanita tercantik di kerajaan ini. Dia adalah Charlotte, dan saat ini permaisuriku. Tapi jujur saja aku belum pernah menyentuhnya sama sekali, bahkan aku enggan melihat wajahnya. Karena jika aku ingat lagi, dia adalah gadis yang aku minta untuk memanggil orang-orang, tapi bukannya memanggil orang dewasa, dia malah menyelamatkan dirinya sendiri karena takut di salahkan dengan apa yang terjadi.
Wajar saja dia bersikap seperti itu, ternyata Charlotte yang melempar ular ke arahku saat kejadian tersebut. Dia berusaha mencari perhatianku, dan malah membuat masalah. Aku sangat tak suka melihat orang lain yang berusaha menguasai diriku, mereka pikir siapa aku ini?!
Kegilaan ini membuat diriku mengundang seluruh gadis bermata biru, aku ingi melihatnya sekali lagi. Aku ingin mengatakan padanya betapa hati ini sakit saat merindukan senyum ramah di bibirnya.
Hingga perang negeri Ebis terjadi, Putri Alice yang diserahkan di bawah kakiku terlihat sangat mirip dengan dia. Mata biru, rambut hitam panjang sampai ke pinggang. Tubuh rapuh dengan kulit putih bersih yang bersinar. Kakinya yang mungil, dan suara gugupnya terdengar sangat patuh. Tapi itu sekilas saja sampai dia menghembuskan pedang padaku, dan di sana aku semakin yakin. Dia adalah wanitaku, pujaan hatiku.
"Yang Mulia, saya Putri Alice."
Menatap wajahnya dengan lamat menjadi hobi terbaru untukku. Aku mendengar apa saja yang dia katakan dengan seksama. Dia menginginkan pernikahan denganku sebelum kami melakukan yang aku inginkan. Dia mengatakan semua yang ada di kepalanya, tapi aku hanya menginginkan satu bukti.
Aku mau meminta Putri Alice untuk membuka seluruh pakaiannya, dia malah mengamuk. Tapi aku semakin senang dan tidak takut, aku tidak akan melepaskan dirinya sedikitpun. Jika dia terbukti adalah gadis yang aku cari selama ini.
"Berputar!"
Aku menuliskan telingaku, tidak ada yang perlu kudengar darinya. Dialah yang harus mendengarkan perkataanku. Tak lama setelah seluruh pakaiannya terbuka, aku mendengarkan suara tangis yang cukup jelas. Aku tidak ingin menatap wajahnya, berusaha memalingkan wajah sejak tadi.
Setelah tak ada yang tersisa di tubuhnya aku pun mencoba mencari yang sudah menjadi obsesiku selama ini.
Aku mengoreksi tubuhnya, tidak ku temui bekas gigitan ular beberapa tahun yang lalu. Padahal aku sudah sangat yakin dia adalah gadis yang kucari, tapi kenapa tanda itu malah tidak dimilikinya. Perasaan hati ini sangat kacau, aku yang kesal tanpa sadar mendorong tubuh Alice yang polos hingga terjatuh di lantai.
Annabelle yang terbangun karena keributan kami datang mendekat. Macan dahan betina itu tak suka orang lain berada di hadapannya. Aku pikir Alice akan mati hari ini, tapi Annabelle melakukan hal lain. Dia menjilati Alice seolah sangat mengenal dirinya.
"Gunakan pakaianmu!"
Suaraku terdengar sedikit membentak, padahal dalam hati ini begitu bahagia. Mungkin saja bekas luka itu sudah menghilang, lihatlah Annabelle, dia begitu menyukai Alice. Masih ada kemungkinan untuk diriku, ya... Aku yakin Alice adalah dia.
"Yang Mulia, saya sekali lagi mengatakan pada anda. Apapun yang anda inginkan akan saya berikan setelah kita menikah. Maaf jika saya merepotkan Yang Mulia."
Aku hanya diam saja, aku menyantap makanan yang ada di hadapanku. Sedangkan Alice masih berdiri menatap setiap makanan yang masuk ke dalam mulut ini.
Aku tersenyum tipis, sesuatu yang tidak pernah aku lakukan selama ini. Aku yang meyadarinya pun sedikit terkejut, aku jadi semakin ingin mengerjai Alice, aku suka melihat wajah angkuhnya.
"Kalau lapar makan saja, tidak usah sungkan terhadapku. Lagipula besok kita akan menjadi suami istri. Setidaknya biasakan untuk hidup bersamaku, melayaniku."
Dari semua kalimat yang sudah aku ucapkan, keyakinan dalam hati ini tidak mungkin meleset. Hanya kata MELAYANIKU, yang gadis itu ingat.
"Yang Mulia, jangan makan terlalu banyak. Tubuhmu sudah begitu besar, kasihani aku yang kurus ini."
Aku tersenyum tipis lagi, dia berani melawanku. Satu-satunya wanita yang sanggup melakukan itu, dia tidak ingin harga dirinya di nodai. Tidak seperti wanita yang sukarela naik ke atas ranjangku, dia sangat berbeda. Dan aku mulai yakin kembali bahwa dia adalah gadis yang aku inginkan.
Aku melihat wajahnya, dia mengatakan semua yang diinginkan dengan sangat hati-hati. Kelamaan aku sangat penasaran dengan sikap gadis ini. Aku menginginkan dia lebih dari yang aku pikirkan. Namun sayang sekali, semua momen ini terganggu oleh kedatangan Jenderal Fang, dia mengatakan padaku bahwa seseorang sedang menunggu kami.
"Alice aku harus pergi sekarang, lanjutkan saja makanmu karena aku tidak mungkin kembali dalam waktu dekat."
Dia tidak bergeming sama sekali setelah aku mengatakannya, untuk terus makan tanpa terlalu peduli dengan apa yang aku katakan. Saat pintu paviliun tertutup, aku sedikit berbalik dan menatapnya. Aku yakin dia gadis yang aku inginkan.
"Kaisar,ada seseorang yang sangat merasa ingin bertemu dengan Anda. Saya sudah melarang, tapi dia memaksa untuk bertemu. Karena itu, saya memberikan umpan padanya, kita lihat saja apa yang akan terjadi."
Aku heran dengan pernyataan Jenderal Fang, apalagi melihat senyum sinisnya. Jenderal Fang, adalah orang yang sangat sulit untuk tersenyum. Jika dia melakukannya pasti ada yang sedang dikerjai.
"Kau mengerjainya, Jenderal?!"
Jenderal Fang hanya tersenyum, dan aku yang melihat hal itu semakin yakin bahwa ada sesuatu yang seru saat ini di paviliun istana.
"Kaisar!"
Orang yang Jenderal Fang maksud adalah penyihir Limeng. Dia adalah penyihir yang selalu enggan jika diminta untuk datang. Kehadirannya hari ini tentu saja mengejutkan, apalagi untuk Jenderal Fang yang merupakan mantan suami Limeng.
Mereka berdua saling mencintai, hanya saja Jenderal Fang yang tak ingin Limeng mempertaruhkan nyawanya untuk meningkatkan ilmu berkahir dengan sebuah perpisahan. Wanita itu pergi tanpa permisi dan meninggalkan anak semata wayang mereka.
"Turunkan semua penjaga itu." Pinta Julian pada Limeng yang sudah membuat semua kesatria dan penjaga terawang di udara. "Aku tidak bisa bicara dengan orang yang tidak mengerti bahasa manusia."
Limeng menurunkan penjaga dan Kesatria, dia tak melirik sedikitpun ke arah jenderal, dan tentu saja itu membuatnya sakit hati.
"Aku juga ingin bicara padamu, Limeng."
Dia hanya sedikit melirik, dan aku mengerti betapa Jenderal Fang mencintai dirinya, sedangkan Limeng membatasi diri.
"Jenderal, kami akan bicara terlebih dahulu. Masalah keluargamu lebih baik ditahan, aku yakin Penyihir Limeng datang kemari karena sebuah alasan. Aku berharap kau bisa menjaga hubungan baik ini, urusan keluarga kalian lebih baik dibicarakan di luar istana."
"Mana mungkin aku bisa bicara padanya Kaisar, dia bicara denganmu, setelah itu dia akan menghilang bak di telan bumi. Aku hanya ingin dia tahu bahwa anaknya sudah tumbuh besar."
Aku menghela, jujur saja aku bisa mengerti perasaan Jenderal yang selama ini menemaniku di medan perang. Dia selalu merindukan istrinya, dan selalu membicarakan anaknya. Sangat mudah bagi seorang jenderal untuk menikah dengan gadis yang diinginkan. Tapi Jenderal Fang sepertinya tidak menginginkan hal itu.
"Aku akan menahannya untukmu, setelah selesai bicara dengan Penyihir Limeng aku akan keluar. Jadi Jenderal tenang saja, kalian berdua pasti akan bicara."
Jenderal terlihat sangat lesu, aku tidak mungkin mematahkan pembicaraan dengan penyihi Limeng, dia adalah penyihir terbaik yang pernah aku temui, masa depan yang di sampaikan olehnya jarang sekali meleset.