Seorang gadis dengan dua buah kantong plastik di kedua tangannya. Berjalan memasuki sebuah rumah dengan sangat terburu-buru.
Putri, seorang gadis yang sebelumnya menabrak Andy saat dirinya berbelanja buah-buahan di toko buah di pinggir jalan. Ternyata, Putri ini adalah Putri yang Dyandra cari selama ini.
Sebenarnya, Putri baru saja pindah dua minggu yang lalu untuk menempati sebuah rumah kos yang tidak begitu jauh dari tempat kuliahnya sekarang. Ini adalah pengalaman pertamanya menjadi seorang mahasiswa mandiri yang jauh dari rumah. Semenjak neneknya meninggal beberapa bulan yang lalu, Putri pun memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Jakarta di bandingkan harus ikut dengan tantenya ke Jerman bersama suami barunya.
Bukan hanya itu, tapi Putri juga berniat untuk mencari keberadaan keluarga Dyandra yang sangat dia rindukan.
Dengan berjalannya waktu, kini Putri telah tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa dan yang pasti dia juga menjadi gadis cantik seperti ibunya dulu.
Putri berjalan menuju ke arah dapur, dia menghampiri pintu kulkas dan tiba-tiba salah seorang teman Putri bernama Mela pun menyadari kedatangan Putri lalu menghampirnya.
“Dari mana Put?” tanya Mela mengambil segelas air di meja untuk dia minum.
“Abis beli buah-buahan Mel.” Jawab Putri.
Mela namanya, teman satu kos Putri yang juga adalah teman Putri sejak SMA. Mereka berdua bersama-sama pergi ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah mereka dan mewujudkan mimpi mereka bersama.
“Oh…”
Putri pun hanya tersenyum menatap Mela. Setelah menaruh buah-buahnya ke dalam kulkas. Putri pun segera mencuci tangannya dan memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
***
Keesokan paginya Putri dan Mela berjalan terburu-buru di halaman kampus, mereka berdua terlihat tarik menarik hingga membuat Nisa yang juga baru datang pun malah keheranan melihat keduanya.
Nisa, dia adalah anggota BEM yang terkenal sangat alim. Walaupun gaya bicaranya sedikit ceplas-cepkamus tapi Nisa ini sangat baik dan orang yang sangat tidak enakan.
Dan ternyata Nisa mengenal Mela yang merupakan keponakannya dari Bandung.
"Mel!!! Mela!!!” teriak Nisa.
Putri dan Mela pun menoleh ke arah sumber suara yang terdengar masih memanggil nama Mela sejak tadi.
"Ateu Ica..." gumam Mela.
Putri pun menatap heran pada Mela dan dia alihkan lagi tatapannya pada Nisa yang saat ini sedang berjalan ke arah mereka berdua.
“Jadi, selamat dateng keponakannya Ateu…”
“Hehe, iya Ateu Ica.” Jawab Mela terkekeh canggung.
Nisa adalah sosok tante yang sangat cerewet bagi Mela. Itulah sebabnya kenapa dia lebih memilih menyewa kamar kos di bandingkan harus tinggal di rumah Nisa.
Nisa pun terkekeh mendapat sambutan dari Nisa.
“Eh, iya Ateu, kenalin ini Putri, temen Mela dari Bandung juga temen satu kosnya Mela.” Kata Mela mengenalkan Putri pada Nisa.
“Oh, ini Putri?”
Putri pun mengangguk sambil tersenyum malu.
“Hai kak, salam kenal.” Kata Putri.
“Iya salam kenal juga. Mela sering ceritain kamu. Jadi, ini yang namanya Putri.” Kata Nisa menatap cara berpakaian Putri dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Mel, kalau pulang ngampus nanti jangan maen kemana-mana ya? Jakarta sama Bandung itu beda! Jadi jangan banyak main!” pesan Nisa pada Mela setelah melihat cara berpakaian Putri yang terlihat seperti anak-anak selebgram zaman masa kini.
“Oh iya, satu lagi," kata Nisa menggantung sambil menunjukan jari terlunjuknya pada Mela. Mela dan Putri pun menatap Nisa. "Jangan lupa sholat!” lanjut Nisa.
Mela pun hanya mengangguk faham.
“I-iya Ateu…”
“Yaudah Ateu tinggal ya. Inget pesen Ateu!” pamit Nisa dengan delikan matanya yang tidak beralih dari Putri sehingga membuat
Putri menjadi sedikit kurang nyaman.
Mela hanya bisa mengangguk membiarkan Nisa pergi.
“Itu tante kamu Mel?” tanya Putri.
“Iya.”
“Masih terlalu muda jadi tante.”
“Emang, tapi dia bawel Put!” jawab Mela langsung meninggalkan Putri dan Putri pun langsung menyusuli langkah kaki Mela.
***
Dyandra dan Andy sedang berjalan di koridor kampus. Keduanya berencana pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan tugas mereka. Namun, saat mereka berdua sampai di depan pintu perpustakaan, Andy tiba-tiba meminta izin untuk pergi ke toilet pada Dyandra.
"Ndro, aku ke toilet dulu bentar ya? Nih, titip kamera." Kata Andy menitipkan paksa kameranya pada Dyandra.
Dyandra pun dengan cekatan langsung menangkap kamera Andy. Jika tidak, sepertinya kamera Andy sudah rusak karena terjatuh.
"Ck! Yaudah buruan! Aku tunggu di tangga." Kata Dyandra.
"Okay!" jawab Andy mengacungkan jempol tangannya dan setelah itu langsung berlari meninggalkan Dyandra.
Dyandra hanya menggelengkan kepalanya sambil melanjutkan langkahnya, dia tidak langsung masuk ke dalam perpustakaan melainkan memilih untuk menunggu Andy agar bisa masuk bersama.
Dyandra pun duduk di sudut tangga, dia menyibukan dirinya untuk melihat gambar-gambar yang ada di dalam kamera milik Andy yang ternyata berisi foto para gadis.
Dyandra hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Andy-Andy..." gumam Dyandra tersenyum simpul.
Dyandra yang masih sibuk melihat hasil jepretan Andy pun tiba-tiba di hampiri oleh Nisa yang kebetulan melintas di sekitar sana.
"Heh! Anak seni, ngapain coba duduk di tangga ngehalangin jalan!" goda Nisa sambil terkekeh.
Suara cempreng bak suara lebah itu pun berhasil membuat Dyandra menoleh ke arahnya.
"Apa sih Caaaaa?" ledek Dyandra dengan suara yang dia buat menyebalkan dan terdengar aneh.
Nisa pun duduk di sebelah Dyandra.
"Gimana liburan kamu, Ndra?" tanya Nisa.
"Dih, tumben Ica nanya, lagi riset ya? Nggak akan aku jawab, ah." Jawab Dyandra terkekeh membalas Nisa.
Ya, jadi Nisa ini adalah anak Psychologist. Dyandra sangat tahu kalau Nisa ini memang biasanya sering melakukan riset sosial eksperimen kepada siapapun yang dia temui.
"Ih, nyebelin banget sih kamu, orang nanya bener juga." Kata Nisa memukul pelan bahu Dyandra.
"Iya, kan aku juga ngasih kamu pertanyaan barusan."
"Hmm! Emang ya, anak seni tuh aneh-aneh semua." Kata Nisa memutar bola matanya malas.
Tiba-tiba Andy pun datang dan dengan antusiasnya segera menghampiri Nisa dan Dyandra yang sedang mengobrol di tangga.
"Eh, ada Ica anaknya pak Tohir." Sapa Andy menaik turunkan alisnya dan telunjuknya pun sekarang sedang sibuk mencolek-colek hidung Nisa.
"Apaan deh?!" sewot Nisa menepis tangan Andy.
Andy pun terkekeh, lalu dengan sangat rusuh dia pun mengambil posisi tepat di tengah-tengah antara Dyandra dan Nisa.
"Hahaha, kemaren gimana Ca? Lancar ngospeknya?" tanya Andy.
"Lancarlah. Walaupun ada beberapa junior yang rese tuh kaya kamu!" jawab Nisa mendelik.
"Ih."
Dyandra pun tertawa sangat puas saat Andy menjadi objek sasaran Nisa kali ini. Andy mendelik ke arah Nisa dan Dyandra yang saat ini sedang mentertawakannya sambil mendengus kasar.
"Eh, ceweknya pada cakep nggak?" tanya Andy yang mencoba melupakan perkataan Nisa sebelumnya.
"Cakep-cakep Ndy, pada baik lagi."
"Wah... satu dong Nis, buat penyemangat." Kata Andy dengan wajah yang terlihat sangat antusias.
"Eh, bukannya udah ada Dyandra ya?"
“Hah???!!!”
Mendengar apa kata Nisa barusan, Andy dan Dyandra pun saling bertukar tatap kaget. Bahkan saat ini keduanya pun sedang menahan rasa mual mereka masing-masing.
"K-kamu a-apaan sih Ca? Masa iya aku sama si Indro sih? Yang bener aja!" celetuk Andy tertawa canggung dan dia lemparkan tatapannya ke arah lain.
"Ya lagian, siapa juga yang mau sama kamu?! Iewh!" sambar Dyandra bergidik ngeri dan ikut mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Hahahaha... canda eh. Serius amat sih kalian!" kata Nisa terkekeh.
Andy dan Dyandra saling bertukar tatap kembali dan dengan reflek mereka pun melemparkan tatapan mereka ke arah lain. Dan itu, berhasil membuat Nisa semakin tertawa melihatnya.
"Kamu mau deketin junior Ndy?" tanya Nissa agak serius.
Andy pun hanya mengangguk mantap menjawab pertanyaan Nissa.
"Emang bakal ada yang mau gitu sama kamu?" tanya Nisa dengan wajah meledeknya.
"Ih Nisa, Omongan kamu ya... lebih tajem dari pada silet deh." Kata Andy kesal namun tubuhnya sengaja dia sandarkan pada Nisa.
Melihat tingkah Andy, Nisa pun langsung mendorong Andy yang terkadang memang suka mencari kesempatan.
"Anddyyyyy! Kamu nggak sadar body banget deh! Badan gede gitu kamu sender-senderin ke aku ih!!!" kata Nisa yang kembali berjuang untuk mendorong badan Andy agar menjauh darinya.
"Hajaarrr Nis!" kata Dyandra memberikan support namun lebih terlihat seperti memprovokasi.
Mendapatkan support dari Dyandra, Nisa malah tambah bersemangat mendorong Andy. Bukan hanya mendorong, tapi tangannya juga sudah mulai berani memukul-mukul dan mencubiti Andy sampai Andy kesakitan.
Sementara Dyandra, dia masih saja tertawa sampai dia pun menangis karena saking lucunya. Nisa yang lama-lama merasa kesal pun langsung berdiri dan bersiap untuk melangkah pergi meninggalkan Andy dan Dyandra.
"Nggak usah malu-malu gitu dong sayang." Kata Andy yang masih saja menggoda Nisa.
"IEWH!"
Nisa langsung pergi sambil menghentak-hentakan kakinya. Dyandra terus saja tertawa terbahak-bahak.
"Ah! Dasar cewek, suka malu-malu gitu, padahal aku yakin banget tuh kalau Nisa demen sama aku, Ndro." Kata Andy sangat percaya diri.
Dari kejauhan, mereka berdua pun melihat Nisa menghentikan langkahnya lalu berbalik, dan tidak lama dia pun menjulurkan lidahnya meledek Andy.
"Hahaha si Nisa tuh tipe cewek yang nggak peka Ndy. Udahlah, cari lagi yang lain." Kata Dyandra memberikan usul.
"Maksud kamu cari yang lain??? Kamu gitu maksudnya, Ndro?" tanya Andy polos.
Dyandra tidak merespon apa-apa, dia hanya mendengus sambil mendelik ke arah Andy. Namun, tidak begitu lama Dyandra pun langsung menjitak kepala Andy sampai Andy pun kaget dan terjatuh ke belakang.
"Ish, Parah banget sih kamu Ndro, temen sendiri kamu nistain!" amuk Andy.
"Makanya jangan ngomong macem-macem. Nih, kamera kamu ah!" kata Dyandra memberikan kamera Andy dengan tanpa santai.
Bukannya membantu Andy untuk bangun, Dyandra malah pergi meninggalkan Andy yang masih terduduk di bawah lantai. Dan Andy, dia bukannya cepat-cepat bangun malah sibuk memasang pose untuk memotret langit.
***