Masa Lalu

1451 Words
Sarah sedang berbaring nyaman di atas kasur mungilnya. Wanita itu berusaha untuk istirahat tetapi pikirannya penuh dengan kejadian di meeting tadi pagi. Selama ini Sarah berusaha untuk tidak mengingat kejadian di masa remaja. Kejadian yang membuat dirinya takut untuk memulai berkenalan dengan lelaki dan mengenal cinta. Malam ini ketika sendirian berbaring di atas kasur. Sarah akhirnya melepaskan ingatannya dan mengingat semua kisahnya dengan Sadewa Pratama Putra atau Dewa panggilan Sarah kepada pria itu. Flashback... Sarah dan sahabatnya Sari baru pulang dari sekolah karena ada tugas dari guru membuat Sarah akhirnya ikut ke rumah Sari untuk mengerjakan tugas tersebut bersama-sama. Sahabatnya Sari itu merupakan anak orang kaya tetapi Sarah benar-benar bersyukur mempunyai sahabat seperti Sari yang merupakan anak orang kaya tetapi mau bergaul dengan dirinya yang cuma gadis sederhana. Baru saja kedua gadis SMU itu masuk ke dalam rumah, mereka bertemu dengan abangnya Sari dan teman-teman kuliahnya yang sedang kumpul di rumah Sari. "Woi, dek nanti kalau ke dalam sekalian bilangin sama Mbak Sum suruh bikin minuman buat teman-teman Abang ya," suruh Ario Abangnya Sari. "Yee.., Abang nih, Sari juga baru pulang sudah di suruh-suruh," sungut Sari cemberut. Sedangkan Sarah yang ada di samping Sari hanya berdiri diam saja. Pandangan mata gadis itu melihat teman-temannya Abang Sari. Tatapan mata Sarah bertemu dengan sepasang mata yang menatap dengan tajam hingga membuat jantungnya berdetak dengan kencang. Gadis itu langsung menundukkan kepalanya tetapi masih saja Sarah mencuri pandang ke arah pemuda yang masih terus menatapnya. Pemuda itu tersenyum lebar membuat Sarah secara spontan membalas senyuman pemuda itu. "Kamu tuh protes aja disuruh Abang," ucap Ario kepada Sari. "Udah yuk, Sar ke kamar aku aja," ucap Sari sambil menarik lengan Sarah agar mengikutinya ke kamar. Sarah masih sempat menoleh dan melihat pemuda teman abangnya Sari sebelum pasrah mengikuti langkah Sari menuju ke kamarnya. Sarah sedang menunggu angkot yang akan mengantarnya pulang ke rumah. Biasanya gadis itu ikut mobilnya Sari yang menjemput dan dia bisa stop di depan jalan menuju kerumahnya hingga membuat Sarah jadi hemat ongkos tetapi hari ini karena tadi Sari ada acara keluarga membuat Sarah memutuskan untuk pulang sendiri saja daripada merepotkan sahabatnya itu. Sarah dari tadi celingak-celinguk mencari angkot yang akan mengantarkannya pulang ketika tiba-tiba ada mobil mewah stop di depan gadis itu. Seketika Sarah langsung melangkah mundur. Pintu mobil itu terbuka dan keluarlah pemuda yang Sarah tahu merupakan teman abangnya Sari. "Kamu teman adiknya Ario kan?" Tanya sosok pemuda itu ramah. "Iya,". "Mau kemana?" "Mau pulang kak," "Ya sudah aku antar ya ," ucap pemuda itu dengan ramah. "Gak usah kak, saya bisa pulang sendiri," Sarah berusaha menolak ajakan teman abangnya Sari itu. Karena gadis itu belum mengenal pemuda itu. "Kenapa kamu takut?, karena kita belum kenal ya," Pemuda itu lalu mengulurkan tangannya membuat Sarah mau tidak mau terpaksa menerima uluran tangan pemuda tersebut. "Aku Sadewa Pratama, kamu?". "Sarah Andini," jawab Sarah pelan. "Nama yang cantik secantik orangnya," ucap Dewa memuji. Mendengar ucapan Dewa membuat pipi Sarah merona malu. Gadis 17 tahun yang belum pernah dekat dengan teman cowok langsung merasakan debaran di dadanya karena dipuji oleh seorang pemuda yang begitu tampan menurutnya. "Nah, karena kita sudah berkenalan boleh lah aku mengantarkan kamu pulang," ucap Dewa. "Tapi kak," sahut Sarah. "Ayolah, kita buat macet jalan nih kalau kamu terus menolak," ujar Dewa. Sarah melirik jalan yang mulai macet dan klakson dari kendaraan lain karena mobil yang di parkir sembarang oleh Dewa. Sarah akhirnya mau di antarkan pulang oleh Dewa daripada semakin lama dia menolak membuat jalan semakin macet dan malah membuat keributan. Setelah memberitahukan alamat rumahnya. Sarah hanya diam saja sepanjang perjalanan menuju ke rumah. "Kamu biasa pendiam begini ya Ra," . "Ra ?" Sarah bingung dengan panggilan nama yang diberikan oleh Dewa. "Iya, nama kamu kan Sarah. Aku panggil Ara saja biar lebih dekat, gak apa-apa kan ?" ucap Dewa. "Iya gak apa-apa kak," sahut Sarah . "Jangan panggil kakak dong, panggil aja nama . Terserah kamu mau panggil apa. Kalau di rumah dan teman-teman ,aku di panggil Tama tapi ada juga yang memanggil Dewa," . "Iya," sahut Sarah pelan. Jujur saja semobil dengan pemuda itu membuat Sarah merasakan jantungnya berdetak dengan kencang sampai gadis itu takut bunyi suara detak jantungnya bisa didengar oleh Dewa. "Bagaimana kalau kita cari makan dulu Ra?" Ucap Dewa setelah mereka terdiam cukup lama. "Sarah tidak bisa kak, eh , maksudnya Dewa" sahut Sarah meralat perkataannya ketika melihat Dewa menatapnya dengan tajam. "Ya sudah lain kali ya, jangan menolak," . "Iya Wa,". Akhirnya Dewa mengantarkan Sarah pulang kerumahnya. Semenjak kejadian itu Sarah dan Dewa menjadi akrab. Setiap pulang sekolah Dewa selalu menjemput Sarah. Bahkan terkadang mereka sebelum pulang pergi makan dulu. Hati Sarah begitu bahagia apalagi ketika Dewa bilang mencintainya. Walaupun mereka hanya bertemu siang hari dan hanya sebentar ketika menjemput Sarah pulang sekolah. Gadis itu juga tidak curiga ketika Dewa tidak pernah menelponnya duluan atau mengajaknya keluar selain hanya menjemputnya dari sekolah baru mereka makan terus langsung pulang. Sarah merasa begitu mencintai Dewa dan ketika Dewa mengajaknya keluar di hari Minggu, gadis itu begitu senang dan bahagia sampai berbohong kepada orangtuanya karena Papa Sarah tidak mengijinkan putri kesayangannya itu berkenalan dengan lelaki apalagi berpacaran. Gadis itu sedikit terkejut ketika Dewa mengajaknya ke apartemen pemuda itu. "Kenapa kesini Wa, katanya tadi mau nonton?" Tanya Sarah di diparkiran apartemen. "Ini apartemen aku, kita nontonnya di apartemen aku saja ya lebih enak dan nyaman," sahut Dewa. "Tapi...," "Kamu percaya kan sama aku ?". Sarah akhirnya hanya mengangguk kepalanya dan membiarkan Dewa mengajaknya ke atas, ke apartemen pemuda itu. Dewa benar-benar anak orang kaya karena apartemen yang dimiliki oleh pemuda itu saja apartemen mewah. Sesampainya di depan pintu apartemen. Dewa segera menekan password apartemen dan menyuruh Sarah mengingat password agar kalau Sarah datang bisa masuk sendiri. Dengan ragu-ragu akhirnya Sarah melangkah masuk ke apartemen pemuda yang dicintainya itu. Setelah pintu tertutup gadis itu masih berdiri dengan canggung di depan pintu. Jujur saja dia takut karena untuk pertama kalinya dia berduaan dengan seorang lelaki. "Ayo sayang kenapa berdiri di situ saja," ucap Dewa yg langsung merangkul pinggang Sarah membuat gadis itu tersentak kaget mendapati tangan Dewa berada di pinggangnya. Sarah hanya nurut saja ketika Dewa mengajak untuk duduk di sofa. "Sebentar ya aku ambil minum dulu," ucap Dewa terus berlalu menuju ke arah mini bar yang berada di apartemen itu. Kerutan di kening Sarah terlihat ketika melihat minuman berwarna kuning yang diletakkan oleh Dewa di hadapannya. Gadis itu merasa sepertinya itu bukan air putih. Setelah Dewa memutarkan film yang ada di tv layar besar di depan mereka. Pemuda itu kembali duduk di sofa di samping Sarah. Dengan santai Dewa merangkul bahu Sarah dan mengambil minuman yang tadi disuguhkannya dan langsung meminumnya. Lalu pemuda itu mengambil minuman Sarah dan mengulurkannya kepada gadis itu. Sarah mengambil minuman itu dengan ragu. "Di minum Ra, kamu pasti haus," Ketika Sarah mengangkat tangannya dan mau meminum cairan kuning itu tercium aroma menyengat masuk ke penciumannya membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk minum. "Aku minta air mineral saja Wa kalau ada," ucap Sarah menyerah gelas yang dipegangnya kepada Dewa. "Minum saja dikit Ra," bujuk Dewa. "Gak mau, aku gak biasa minum begini, " sahut Sarah. Dewa akhirnya menuruti kemauan Sarah dan mengganti minuman Sarah. Mereka akhirnya menonton film yang diputar oleh Dewa sebuah film romantis. Ketika adegan berciuman di film. Wajah cantik Sarah memerah malu karena risih melihat adegan itu dengan ada Dewa di sampingnya. Dewa yang melihat wajah merona Sarah terpana karena wajah malu gadis itu membuatnya semakin cantik. Tangan Dewa menyentuh dagu Sarah dan membawanya agar menoleh kearahnya. Dengan perlahan Dewa mendekati Sarah. Bibir pemuda itu semakin mendekati bibir Sarah. Sarah terdiam dengan mata yang terbelalak ketika merasakan bibir Dewa menyentuh bibirnya. Ciuman yang awalnya lembut lama-kelamaan menjadi lebih panas. Dewa melumat dan mengigit bibir Sarah membuat gadis itu merintih, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Dewa lidahnya dengan nakal masuk kedalam mulut Sarah . Gadis itu dapat merasakan rasa minuman yang di minum oleh pemuda itu di mulut. "Balas ciuman aku, Ra ," pinta Dewa di sela-sela ciuman mereka. Entah karena permintaan Dewa atau Sarah yang telah terhanyut dalam hasratnya. Gadis itu sebisa mungkin membalas ciuman pemuda itu hingga membuat Dewa mengerang senang. Dewa baru menyudahi ciumannya ketika merasa Sarah mulai kehabisan napas. Gadis muda itu sedikit terengah ketika Dewa menyudahi ciumannya. Pemuda itu mengusap air liur yang berceceran di dagu Sarah. "Aku mencintaimu Ra,". "Aku juga mencintaimu Wa," sahut Sarah pelan. Dewa tersenyum dan memeluk tubuh Sarah dengan erat. Tangan pemuda itu mulai nakal menjelajahi tubuh Sarah, meraba dan meremas bagian-bagian tubuh gadis itu yg sensitif. Sementara bibir Dewa menciumi leher jenjang Sarah memberikan ciuman basah di leher gadis itu. Sarah seolah pasrah menerima apa saja yang dilakukan oleh Dewa. Bahkan ketika Dewa menggendongnya menuju ke kamar, tidak ada penolakan dari gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD