Aku terpekur memandangi tumpukan berkas yang harus aku seleksi sebelum kuserahkan kepada Pak Andres untuk di-tandatangani. Senin memang hari yang sibuk, bahkan aku sudah sengaja datang sepagi ini, tetapi memang langsung pusing melihat berkas-berkas ini.
"Pagi mbak Masayu.."
"Pagi mbakk.."
Sapa Siti dan Mega yang baru saja datang. Mereka memang selalu datang berdua karena nge-kos di tempat yang sama.
"Pagi juga.." Balas-ku.
"Mbak.. hari ini aku sama Siti ngerjain apa mbak? Tugas-tugas yang mbak kasih minggu lalu sudah selesai semua." Tanya Mega.
Wah kebetulan.
"Oh ini, Meg.. untun Siti, minta tolong sortir berkas-berkas yang masuk ini. Ini berkas vendor yang akan mengajukan diri untuk proyek kita. Tolong di cek ya Sit, masih ada yang kurang atau nggak.
Untuk Mega, tolong lusa ada kunjungan client dari Spanyol. Tolong atur akomodasi dan konsumsinya ya. Tamunya sekitar 8 orang. Kamu cek detailnya yah sama FOnya mereka, kamu telepon aja ke nomor ini. Atur juga dari kita Division Head harus pada bisa join ya, kamu atur aja jadwal mereka masing-masing." Jelas ku pada Siti dan Mega yang hanya angguk-angguk saja.
Aku masih menjelaskan beberapa hal detail untuk Mega ketika aku melihat Pak Andres datang dengan tergesa-gesa.
"Selamat pagi Pak.." Aku, Mega dan Siti bersama-sama memberikan salam kepada pak Andres, rapi tak ada sahutan ramah seperti biasa, hanya ada ekspresi serius Pak Andres.
"Masayu, ke ruangan sekarang!" Justru jawaban itu yang meluncur dari mulutnya sembari kakinya tetap melangkah tanpa menoleh kepada kami sama sekali.
Aku, Mega dan Siti hanya bertukar pandang dengan saling bertanya-tanya:
"Baru Senin aja mood nya sudah hancur begitu" Celetuk Siti sambil bergidik.
Aku tak menanggapi Siti, hanya langsung merapikan baju dan melangkah menuju ke ruangan Pak Andres.
Begitu tiba di depan pintu, aku mengetuk, tak lama kemudian terdengar suara sahutan.
"Ada apa pak memanggil saya?" tanyaku ketika sudah berhadapan dengan Pak Andres yang sedang duduk di kursinya.
"Kamu tinggal dimana sekarang, Masayu?" Tanya Pak Andres tiba-tiba.
wah ada apa nih? tak biasanya Pak Andres menanyakan informasi pribadi seperti ini.
"Saat ini saya menumpang di rumah paman saya pak." Jawabku setelah memutuskan untuk jujur saja.
"Dimana alamatnya?" Mencurigakan sekali pertanyaannya sehingga membuatku semakin penasaran.
"Gran Canyon, pak.." Singkat saja jawabanku. Feelingku sih mungkin Pak Andres sudah tau dimana aku tinggal. Apa tadi pagi dia sempat melihatku keluar dari rumah paman ya?
"Kita tetangga ya jadinya?" Nah kan.. tanpa aku menyebutkan blok dan nomor, dia langsung tahu kalau kami bertetangga.
"Eh.. maksud bapak apa?" Tanyaku kali ini tidak mau jujur. Kalau fakta memang harus jujur, tapi kalau perasaan manusia, hanya kita sendiri yang tahu kejujurannya.
"Kamu sungguh tidak tahu, atau pura-pura bodoh?" Dari tatapan Pak Andres aku tahu kalau dia sedang berusaha untuk mengintimidasiku.
"Bisa diperjelas pak?" Aku memasang wajah lugu dan tidak tahu.
"Kita bertetangga, Masayu. Apakah kamu benar-benar tidak tahu?"
"Pak Andres tinggal di Grand Canyon juga?" Wajahku aku buat meyakinkan mungkin.
"Iya, dan pas di samping rumah pamanmu" Jelasnya seolah percaya dengan penjelasanku.
"Benarkah?" Aku mencoba melotot kaget sampai sakit rasanya otot mataku ini.
"Iya.. Dan aku kakak dari Buana." Jelasnya dengan penuh percaya diri.
"Oh.." Tak tahu mau berkata apa lagi.
"Cuma oh?" Tanya Pak Andres penasaran.
"Trus harus apa pak?" Jujur kali ini aku belum paham dengan maksud pembicaraannya.
"Kamu sudah kenal lama dengan Buana?" Oo.. dia mau mencari tahu info ini toh..
"Belum lama pak." Jawabku singkat.
"Oh ya? kok bisa?" Semakin penasaranlah pak bos-ku ini.
"Pak, saya rasa ini masalah pribadi pak. Bisa kita bahas tentang pekerjaan saja? Kebetulan banyak berkas yang masuk hari ini untuk saya filter" Tolakku halus agar tak menjawab pertanyaan-pertanyaan Pak bos yang entah apa maksud dan tujuan.
"Hati-hati say.." Pak Andres mengingatkan.
"Hati-hati apa ya pak?"
"Jangan terlalu dekat dengan Buana. Dia hanyalah seorang pecundang yang menjadi parasit dalam hidup kami. Tentu saja kamu harus berhati-hati kalau tak ingin terluka olehnya."
"terimakasih atas remindernya, pak." Jawabku tak ingin terpengaruh dengan larangan dari Pak Andres.
Emang dia bapakku sampai harus melarang ini itu?
"Kalau tidak ada keperluan lagi, saya ijin kembali ke meja kerja saya pak." Pamitku sambil membalikkan badan.
"Say.." Panggilnya.
Aku menghentikan langkahku kemudiam berbalik.
"Nanti malam pulang bareng saya saja. Saya antar kamu. Besok pagi juga saya akan jemput kamu." Titah Pak bos.
Ih.. ogah. Aku sudah pernah bilangkan kl aku gak mau pulang pergi ke kantor bareng dia. Auranya benar-benar menggangguku.
"Saya bisa pulang dan pergi sendiri pak." Tolakku.
"Ini perintah, Masayu!"
Nah lihat sendiri kan, dia selalu menyalahgunakan jabatannya sehingga dia berpikir bisa memberi perintah seenak jidatnya aja.
"Maaf pak.. ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Saya tidak bisa mengikuti perintah bapak mengenai hal ini"
"Siapa bilang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan? Kamu bisa datang dan pergi tepat waktu. Sebagai atasan, saya harus memastikan aktifitas kamu tidak berlebihan. Kalau kamu sakit, saya juga yang susah kan?"
"Sekali lagi maaf pak.. tapi saya pulang pergi sendiri selama 3 minggu ini tidak terlambat pak. Jadi bapak tidak perlu khawatir, saya pasti akan datang tepat waktu. Mengenai kesehatan saya, itu sepenuhnya tanggung jawab saya pak."
"Bukankah kamu juga perlu memastikan keadaan saya sebagai atasan kamu? semua keperluan saya butuh kamu pastikan siap?"
Lah!
"Saya sekretaris utama pak, bukan sekretaris pribadi bapak. Maaf pak, saya permisi pak."
Nah.. Aku langsung saja pergi sebelum mendengar argumen aneh darinya muncul lagi. Nih orang kenapa ya? Emang aku personal asistant gitu? Males banget. Hhmm.. kayaknya bakal sulit nih kehidupanku ke depan. Dia pasti tak akan menyerah begitu saja.
"Ya Lord.. bantu aku" Gumamku meminta kekuatan dari maha pencipta.
***
Andres memukul mejanya begitu Masayu menghilang di balik pintu ruangannya.
"Sialan!" Baru pernah dia ditolak seperti ini. Oleh sekretarisnya pula. Selama ini, sekretarisnya lah yang selalu berusaha mencari perhatiannya. Kadang mereka menggunakan rok yang sangat pendek untuk memikatnya. Atau menggunakan blouse berleher V yang cukup rendah atau berleher lebar untuk memertontonkan belahan mereka. Bahkan ada yang secara terang-terangan menawarkan pijatan baginya jika ia letih, atau dengan sengaja menyenggolkan bagian tubuh mereka ke tubuhnya lalu pura-pura minta maaf tak sengaja. Padahal ia tahu dengan pasti apa maksud semua itu.
Tapi Masayu berbeda. Ia selalu tampil sopan. Rok nya panjang, bahkan lebih sering menggunakan celana. Bajunya pun selalu tertutup dengan sopan walaupun begitu Masayu tetap terlihat berpenampilan modis dan elegan. Masayu juga selalu menjaga jarak ketika ia mendekat. Bahkan saat mereka makan bersama pun, Masayu selalu berjalan di belakangnya dan menolak jika diajak berjalan sejajar, kecuali sambil membicarakan pekerjaan.
"Tidak.. aku tak boleh menyerah segampang ini" Gumam Andres. Ia justru semakin penasaran karena Masayu.
Sekretarisnya itu terlihat lembut dan mudah, tapi ternyata tidak segampang itu. Tapi Andres yakin ini masih tahap awal. Ia akan memaksa Masayu untuk selalu dekat dengannya. Walaupun tadi Masayu sudah menolaknya, tapi ia akan bersikeras mengantar dan menjemput Masayu. Bukankah wanita akan luluh dengan pria yang gigih?