#Bocil menjauh.. part ini khusus 18+#
"Permisi pak.." Sapaku kepada satpam di rumah pak Mahendra.
Setelah mengobrol panjang dengan Manda, aku mulai menjalankan rencana kami untuk mendekati si cowok ganteng tetanggaku ini.
"Eh iya mbak.. ada apa?" Suara satpam yang memunculkan diri dari pos terdengar olehku.
"Pak.. saya mau bertemu Mas Buana, pak." Jawabku.
"Oh.. Den Buana ya? Mbaknya siapa ya?" Pak Satpam yang aku baca nama di dadanya adalah Mardi, memandangku dengan penuh telisik.
"Saya Ayu pak.. tetangga sebelah. Itu yang di rumah pak Arkan." Jawabku sambil senyum senyum berusaha mencari simpati satpam.
Bukaaan! Bukan berarti aku naksir satpam. Cuma biar pe de ka te sama si ganteng mulus alias mudah dan berhasil.
"Ooh.. mbak nya pembantu baru ya di rumah sebelah?" Tanya Satpam Mardi ini yang suara-nya mulai melunak begitu mengetahui aku tetangga sebelah. Tapi.. apa? pembantu baru?
Emang kelihatan banget ya kalau aku pembantu? Eh.. bukan.. maksudnya emang aku kelihatan kayak pembantu? Ngadi-ngadi ah pak satpam ini.
"Sayangnya bukan Bang Mardi.. saya ini keponakannya Pak Arkan" Jawabku sambil berusaha menahan emosi.
"Oo bukan pembantu.. pantesan saya lihat wajah mbak-nya ini bukan wajah pembantu, tapi kok ya bawa-bawa rantang begitu?" Jelas Satpam Mardi ini sambil membuat tampang yang seolah-olah baru saja berhasil menyelesaikan suatu masalah besar.
Eh iya, aku bawa rantang ya? Niat hari mau menyogok Mamas Ganteng dengan masakkanku, yaa.. walaupun rasanya belum bisa ngalahin rasa chef di hotel bintang lima, tapi setidaknya yang makan gak bakalan nati keracunan.
"Ya itu bang Mardi.. mau kasih rantangan ini ke Mas Buana" Aku beneran harus sok kenal dengan si satpam ini. Pikirku aku harus menjadikannya rekanku untuk mempermudah pendekatan ke Buana.
"Mbak-nya gak salah nama ya? Bukan den Buana kaliii, tapi den Andres." Nah mulai sotoy ni satpam.
"Ih kok salah sih.. beneran bang Mardi.. saya mencari mas Buana." Paksaku.
"Mas Buana mah jam segini ga ada di rumah mbak.. jam perginya itu jam 10 pagi, sampai runah nanti jam 10 atau 11 malam gituuu.." Jelas Mardi.
"Yaah.. sia-sia deh ke sini siang siang. Tau gitu saya datang pagian tadi.." Sesalku.
***
Author's pov
Di sebuah ruangan yang nampak seperti kamar tidur, suara erangan dan desahan sahut menyahut terdengar. Bahkan cicak yang dari tadi menonton kegiatan panas itu hanya bisa diam menempel di tembok dan tak berani bersuara.
Di atas tempat tidur, tampak dua sejoli sedang menyatukan diri mereka menimbulkan suara decapan dan tumbukan yang bersaing dengan suara erangan mereka. Tapi ternyata bukan hanya mereka berdua, ada seorang wanita lagi yang sedang memandangi dua orang lainnya dengan tatapan penuh nafsu, sambil berusaha merangsang anggota tubuh nya sendiri.
Laki-laki yang melihat wanita itu memuaskan dirinya sendiri, memberi kode kepada wanita itu untuk mendekat.
"Saya akan buat kalian berdua berteriak teriak kenikmatan. Tapi kamu duluan!" Katanya sambil tersenyum culas.
Dua wanita itu hanya mengangguk, dan mulai tersenyum sumringah, terutama yang dipilih Andres lebih dulu.
"Akhhh.. Andress.. kau sangat nakal.." Teriak keenakan dari wanita itu, ketika tubuhnya dibuat bergetar sampai lemas. tapi lelaki itu yang ternyata adalah Andres, tak berhenti memuaskan wanita itu.
"Andres.. cukup! Biarkan aku beristirahat sejenak.." wanita itu tampak menahan geli ditubuhkan setelah pelepasannya tadi. Namun ternyata Andres belum puas, ia ingin menyiksa wanita itu dalam kenikmatan
"Nikmati saja Rea jalangku! Aku ingin intisarimu meleleh sampai tetesan terakhir" Jawab Andres dengan senyum puas yang tak dapat ditebak.
Andres menyuruh wanita yang lainnya untuk ikut memberi kenikmatan pada Rea yang sedari tadi berusaha mengumpulkan tenaganya lagi.
"Kau akan selalu memintaku memuaskanmu Rea. Tapi disini, kau lah jalangku. Pulihkan tenagamu dalam 2 menit, setelah itu, layani aku!" Titah Andres, dan beralih fokus ke wanita lainnya.
"Kamu.. siapa namamu tadi?" Tanya Andres kepada wanita yang sempat ditungganginya tadi.
"Clara" Jawab wanita itu sambil tersenyum liar.
Clara bukanlah wanita muda seperti Rea. Usianya mungkin sekitar akhir 30an. Bahkan Andres merasa mungkin Clara sudah sering bermain dengan banyak pria, karena milik Clara terasa tidak begitu nikmat bagi Andres. Bahkan di beberapa bagian tubuh Clara, banyak lemak yang merusak keindahan tubuh seorang wanita.
Sebenarnya Andres tidak terlalu suka bermain dengan Clara, yang adalah wanita bawaan Rea yang akan membayarnya cukup mahal jika ia bersedia threesome dengan kedua wanita itu.
Dibalik kesuksesannya sebagai seorang direktur, ternyata Andres adalah seorang Gigolo bertarif selangit yang membuat wanita kaya raya merasa terpuaskan. Agennya untuk mendapatkan pelanggan adalah Rea. Ya Rea yang disebut Masayu sebagai Si Kunti.
Rea bukanlah tunangan Andres. Ia hanya tidak mau dianggap rendah oleh orang lain jika tahu dirinya hanyalah agen Andres untuk menjajakan diri. Mereka berdua sudah saling mengerti aturan yang berlaku, saling menjaga rahasia agar bisnis jasa ini tetap aman dan berjalan lancar.
Mereka sudah saling berjanji kalau Andres dapat memakai Rea sepuasnya, demikian juga sebaliknya. Tapi hubungan mereka tidak boleh pakai hati. Rea bisa bebas berhubungan dengan pria manapun, demikian juga Andres. Simbiosis mutualisme lah pokoknya.
Rea punya jaringan yang luas dari kalangan atas. Pengusaha wanita, istri pengusaha, pejabat wanita, istri pejabat, artis, tua, muda, semuanya ada dalam daftar Rea. Makanya Andres hanya mau Rea saja satu - satunya sebagai agennya, agar informasi tentang jasanya hanya beredar dalam circle tertentu.
"Ada yang ingin membookingmu untuk jangka waktu lama, An?" Rea bertanya setelah dirinya berpakaian rapi dan Clara telah meninggalkan ruangan itu.
"Kau tau aturannya, Re.. hanya weekend." Andres melirik Rea sekilas sambil memainkan gawainya.
"Ah c'mon An. Bahkan gajimu sebagai direktur tidak sampai 20% pendapatanmu di sini." Rea berusaha memberikan hitungan realistis kepada Andres.
"Aku tahu yang aku lakukan. Kau tak perlu mengajariku". Andres mulai tak suka. Rea memang tidak tau alasannya sebenarnya. Tapi ia merasa memang Rea tidak perlu tahu, dan tidak boleh selancang ini mengajarinya.
"Sorry kalau kau tak suka. Aku hanya melihat ini sebagai bisnis yang menguntungkan kita berdua. Bahkan kamu tak perlu tinggal di bawah bayang bayang ayahmu. Cukup pilih wanita kaya yang mana, trus kau nikahi saja. Hartanya akan menjadi milikmu" Rea masih tetap berusaha memanasi Andres yang akhirnya tampak terlihat ragu.
"Tapi tak semudah itu Re.. kadang wanita-wanita kaya itu punya antisipasi yang cukup." Andres sepertinya mulai tergoda.
"Kau buat mereka jatuh cinta sampai klepek-klepek. Cari target yang lemah. Aku jamin tak perlu lama menggaet hatinya."
Andres tak menyahut saran Rea lagi, ia ingin segera kembali ke apartementnya yang biasa ia gunakan sebagai rumah singgahnya ketika sedang melakukan pekerjaan sampingannya ini. Besok, ia masih harus melakukan tugas yang sama.
"Jangan lupa, besok kamu masih dibooking Clara, An.. Gila emang si Clara nih, duitnya banyak banget." Reminder dari Rea membuat Andres lagi-lagi mendesah lelah.
"Dia nggak enak, Re.. Capek doank, nikmat enggak" Keluh Andres.
"Dan kamu dibayar untuk kenikmatan dia, An.. bukan kenikmatan kamu! Dia pelanggan kamu yang paling loyal loh" Jawab Rea membalikkan keluhan Andres.
Melihat Andres yang memasang tampang masam, Rea melanjutkan kalimatnya.
"Oke.. oke.. jangan cemberut begitu. Aku akan memanasi Clara supaya dia menjalani operasi supaya ketat lagi. Lagian uangnya banyak begitu, kan ga masalah kalau dipakai untuk merawat diri." Rea memberikan solusi yang setidaknya membuat Andres sedikit tersenyum walaupun kegamangan tetap masih ada di hatinya.