Feelings 18

1446 Words
#Ganesha  Saya memandang Aira yang sedang berhadapan dengan kuas dan kain kanvas yang masih kosong. Dia bilang ada tugas melukis untuk memperbaiki nilai keseniannya semester ini. Namun saya tidak mau memenuhi permintaannya membuatkan dia sebuah lukisan sederhana. Saya memaksa dia untuk berusaha sendiri menghasilkan sebuah lukisan.  "b**o deh gue. Ayo dong, Nesh! Terserah lo mau bikin lukisan apa, asal jangan yang bagus-bagus banget gitu. Benci banget sama yang namanya mata pelajaran kesenian dan budaya,” rengek Aira sambil terus menggerutu, membuat saya gemas dan berakhir dengan menyentil kening gadis itu.  "Lukis Daka, senyum sendiri macam orang gila," ujar saya sambil menunjuk Daka yang sedang duduk sambil menyandarkan punggung panjangnya ke dinding. Kemudian saya tertawa di sela ucapannya.  Dengan otaknya yang selalu dipenuhi ide-ide usil, Aira membawa tatakan cat air ke hadapan Daka. "Ngelukis di sini lebih seru kayaknya, Nesh,” ujarnya riang. “Mamam tuh henpong ya..."  Tanpa ampun Aira melumuri wajah Daka dengan cat air. Membuat Daka terlonjak kaget dan berujung memaki-maki Aira.  "Aira b**o! Anjiiirrr.... kampreeet...Lo nodai muka ganteng gue, bangke!!! Airaaa…awas aja lo!" omel Daka panjang lebar akibat perbuatan menyebalkan Aira. Sementara yang diteriaki sudah melarikan diri ke belakang saya.  Daka berlarian ke toilet untuk segera membersihkan wajahnya. Melupakan ponselnya yang tergeletak tanpa terkunci di atas meja. Ternyata keusilan Aira tidak sampai di situ. Dengan kepo Aira memeriksa ponsel Daka. Layar ponsel 7 inch itu menampilkan ruang obrolan Daka dengan seseorang di seberang sana sesaat yang lalu. Aira memperlihatkan pada saya isi chat tersebut. Kami berdua terpingkal-pingkal. Aira meletakkan ponsel kembali ke tempat semula saat melihat siluet tubuh Daka dari balik pintu.  "Cie…Cieee...ada yang lagi modusin cewek, nih. Ada yang tobat dipaksa solat. Namanya Syahila, ya, Nesh. Catet ya, SYAHILA," ucap Aira menekan suaranya saat menyebutkan nama Syahila.  "Bangsaaat...lo bongkar handphone gue? b*****t!! Aira...bangsat!!! Gue nggak mau nemenin lo latihan manjat lagi mulai detik ini, titik!"  Daka meninggalkan Aira yang terbahak sambil memegangi perutnya. Sedangkan saya hanya tertawa kecil sambil menggeleng melihat Aira yang sedang tertawa kencang seolah tidak takut pada apa pun bisa masuk ke mulutnya.  Saya nggak akan biarkan satu orang pun membuat kamu menangis, Almeira.  Lirih saya dalam hati dengan mata tak hentinya menatap Aira yang masih belum mau menghentikan tawa. Hanya doa terbaik yang bergulir di nadi saya untuk Aira. Doa-doa indah itu bahkan tidak pernah tersampaikan secara lisan pada Aira. Hanya tersimpan rapi di hati saya. Entah sampai kapan.   “Daka bilang kamu sering pulang bareng sama teman kamu, Ai? Benar?” tanya saya setelah Aira berhenti tertawa dan kembali fokus pada kanvas di hadapannya.   “Temen sekolah.”    “Yang waktu itu mengantar kamu pulang?”   “Temen gue banyak. Beberapa juga sering nganter gue pulang.”   “Kenapa tidak sama Daka lagi?”   “Daka rewel kayak nenek-nenek.”   Setelah itu Aira beranjak dari bangku kecil yang saya sediakan untuknya. “Udah! Cakep nggak, Nesh?” ujarnya sambil memperlihatkan hasil lukisannya.  Sebuah gambar bola. Saya lalu mengambil alih tatakan cat air beserta kuas di tangannya. Dalam hitungan lima menit saya memperbaiki hasil lukisan Aira. Awalnya dia tercengang, tapi detik kemudian dia berkata, “Lo sengaja bikin nilai gue makin anjlok dengan bikin lukisan sebagus itu?” lalu pergi dari hadapan saya. Seperti biasa dia ngambek tanpa alasan.  “Kenapa lagi, Tuan Putri?” tanya Daka setelah kembali dari kamar mandi yang tersedia di rumah kreatif.  Saya tidak menjawab. Hanya menunjuk ke arah kanvas hasil lukisan Aira yang telah saya perbaiki. Daka sontak tertawa sambil menunjuk ke arah lukisan. “Emang nyari mati lo!” ujar Daka.  “Kenapa nyari mati?”  “Lo nyuruh Aira ngumpulin lukisan itu untuk tugas sekolah? Mana mau dia. Jelas-jelas ketahuan kalo itu bukan hasil lukisan dia.”  “Gitu ya?”  “Iyalah. Lo lihat aja, mana bisa dia ngelukis kayak gitu? Emang tadi lukisan awalnya apa?”  “Bola.”  Daka tertawa lagi. “Oh, pantes. Cowoknya kan pemain futsal.”  “Dia beneran sudah punya pacar?”  “Kayaknya, sih. Lo tanya aja sendiri kalau mau lebih jelasnya,” jawab Daka kemudian bergegas pergi menyusul Aira.  Sepeninggal Daka dan Aira. Tiba-tiba emosi saya menjadi tidak stabil. Saya ingin marah tanpa tahu penyebabnya. Kemudian saya meraih cait air dan kuas lalu menuangnya di atas kanvas berisi lukisan bola hasil karya Aira yang telah saya perbaiki, serta menggores kuas secara tidak beraturan di atas kanvas tersebut. Tidak puas memenuhi kanvas dengan berbagai macam warna cat air, saya menendang kanvas hingga terlepas dari tempat pijakannya. Ruang lukis saya menjadi kacau balau saat ini. Khawatir Daka dan Aira kembali ke ruangan ini saya bergegas mengunci pintunya dan tidak membiarkan siapapun masuk. Termasuk Daka dan Aira.  *** #Almeira Seperti semester lalu satu bulan menjelang Penilaian Akhir Semester kelas-kelas disarankan membuat kelompok belajar oleh wali kelas masing-masing, terutama bagi yang nggak ikut les bimbingan belajar privat. Berhubung semester ini menghadapi ujian kenaikan kelas maka kelompok belajar mulai diadakan dua bulan sebelumnya. Aku nggak perlu repot-repot mencari kelompok belajar karena biasanya teman-teman yang ingin bergabung denganku. Untuk penentuan kelompok belajar di kelas sepuluh A, Miss Riris wali kelasku, memintaku datang ke ruangannya di ruang guru untuk mendiskusikan soal pembagian kelompok belajar.  Ketika menuju ruang guru aku melewati jendela kelas Daka. Seperti biasa kelas bontot itu selalu gaduh karena sedang jam kosong karena guru-guru saat ini sedang melakukan pertemuan di ruang guru.  “Fares, lo duluan gue mau mampir kelas sepuluh F,” ucapku pada ketua kelasku.  “Jangan lama-lama, Al!”  “Asyiaapp!” jawabku lalu segera melipir ke pintu kelas sepuluh F.  Di pintu aku melihat salah satu teman sekelas Daka yang hendak keluar kelas. “Panggilin Danendra, dong!” pintaku pada cowok yang aku baca dari name tag-nya bernama Deo Syafardi.  “Nggak ada,” jawab cowok itu.  “Nggak masuk?”  “Masuk, tapi tadi keluar trus nggak balik-balik sampai sekarang.”  Aku berdecak cukup keras sambil menggumam, “Kebiasaan!”  “Eh, lo Almeira temen deketnya Danendra, kan?” cowok lain dari belakang punggung cowok sebelumnya.  “Iya, dia mana sekarang?”  “Di perpus.”  “Siapa?” tanyaku bingung.  “Lo cari Danendra, kan? Dia ada di perpus sekarang,” jelasnya.  Aku menggaruk kepalaku yang nggak gatal karena agak ngebug sama penjelasan cowok itu. Bukan nggak ngerti. Tapi rasanya kok bukan Daka banget gitu.  “Temen deketnya aja bingung. Apalagi kita ya, Bro?” ucap cowok yang aku tahu bernama Leonard.  “Tapi lo keren, sih. Temen yang mampu mengarahkan ke arah kebaikan,” ucap Deo padaku.  “Gue?” tanyaku heran sambil menunjuk ke arah hidungku sendiri  “Iya, Danendra bilang waktu PAS semester kemarin gabung ke kelompok belajar lo, makanya naik drastis poinnya dari saat PTS semester satu. Kalau PTS dia semester dua ini bagus ada kemungkinan karena satu kelompok sama elo, kan?”  “Kalau waktu PAS semester satu, sih, iya. Kalo PTS semester dua gue malah nggak ada kelompok belajar. Lagian semester dua ada larangan kelompok belajar antar kelas. Wajib satu kelas anggotanya.”  Deo dan Leonard saling pandang. “Serius nggak belajar bareng elo?” tanya Deo memastikan.  Aku mengangguk beberapa kali untuk memastikan Deo dan Leonard. “Jadi lo juga nggak tau poin PTS Semester dua punya Danendra?” tanya Leonard kali ini.  “Iya, nggak tau gue.” Entah harus kecewa atau bersikap tak acuh mengetahui informasi ini. Akhir-akhir ini baik aku maupun Daka sudah mulai jarang berbagi informasi soal sekolah. Dia seolah bisa menyelesaikan urusan-urusan sekolahnya tanpa merepotkanku seperti biasanya.  “Dia di bawah gue. Bedanya cuma lima poin,” jawab Leonard yang aku tahu merupakan juara satu dari kelas sepuluh F.  “Berhasil menggeser posisinya Ferina,” sambung Deo. “Tapi gue sedih karena gue dan Fernando jadi kehilangan teman di posisi paling buncit.” Deo tertawa setelah mengatakan hal konyol itu.  “Stres lo!” umpat Leonard. “Temen maju malah sedih.”  Cowok bernama Deo yang dirangkul lehernya oleh Leonard hanya tersenyum sopan padaku kemudian mereka berdua berjalan melewatiku. Aku penasaran dan ingin membuktikan ucapan Leonard tadi. Melupakan janjiku pada Fares, akhirnya aku berjalan cepat menuju perpustakaan.  Saat melewati jendela perpustakaan aku melihat Daka sedang duduk sendirian di dalam perpustakaan. Aku tersenyum melihat dia sedang konsentrasi pada buku-buku yang ada di meja di hadapannya. Aku hendak melanjutkan langkah untuk menemuinya, tapi urung setelah melihat ada cewek yang ikut duduk di depannya. Daka tersenyum ketika melihat kehadiran cewek itu.  “Itu, kan, Kak Lala?” gumamku. Aku akhirnya hanya memerhatikan keduanya dari jendela kaca.  “Almeira! Woylah…gue bilang apa tadi? Jangan lama-lama juga. Malah mampir perpus lo!” teriak Fares menyerukan namaku dari arah pintu samping ruang guru. Aku berbalik badan, tertawa lalu berlari menuju ke arah Fares sedang menungguku. Urusan Daka akan aku tanyakan nanti saja.  ~~~  ^vee^ 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD