Feelings 17

2036 Words
#Danendra  Sejak main ke rumah Syahila, gue jadi keranjingan main ke rumah cewek itu. Selain anaknya asyik dan nyambung diajak ngobrol soal apa pun, dia juga janji mau membantu gue belajar semua mata pelajaran. Apalagi sebentar lagi menjelang PTS. Tapi kami punya kesepakatan kecil untuk nggak memperlihatkan keakraban dalam bentuk apa pun di sekolah. Kami hanya bertemu di waktu-waktu tertentu saja jika di sekolah. Seperti saat jam istirahat, itu pun langsung bertemu di perpustakaan dan tidak setiap hari. Syahila mau bertemu di waktu jam istirahat hanya pada hari Senin, Rabu, dan Jumat saja. Bukannya apa, baik gue maupun Syahila malas kalau harus menjadi bahan omongan para biang gosip kalau ketahuan setiap waktu bertemu di sekolah. Selebihnya gue bersikap sewajarnya dengan Syahila bahkan nggak ada yang mengira kalau gue sudah cukup kenal dekat dengan cewek itu. Termasuk Aira. Karena gue sendiri sudah berhenti mengganggu Aira untuk mencari informasi apalagi membahas soal Syahila.  Justru sekarang Aira yang makin sulit ditemui meski saat jam istirahat sekalipun. Kayaknya dia juga makin dekat dengan Titanium. Setiap kali gue cari cewek itu nggak pernah kelihatan di kantin maupun di kelas. Kata Angel dan Zara, Aira sekarang mainnya di kantin atas. Pasti nemuin cowok itu.  Jadi cewek, kok, b**o banget. Masa cewek nyamperin cowok! Tapi bodo amatlah. Nanti kalo dinasehatin bilangnya gue terlalu ikut campur urusan dia. Serba salah banget ngadepin Aira.  “Heh, Tuan Putri! Ayo, buruan! Laper gue!” ujar gue pada Aira yang masih sibuk di depan lokernya.  “Sabar, anjir! Ini gue lagi ngerapihin loker.”  “Dari tadi nggak kelar-kelar, emang mau dibikin model apa, sih, loker lo? Udah tumpuk aja kayak biasanya,” saran gue lalu bangkit dari bangku stainless yang gue duduki selama menunggu Aira dengan kesibukan nggak jelasnya.  Cewek moody-an ini sudah seminggu terakhir bertingkah aneh. Ada aja kelakuannya yang menguji kesabaran gue dan berujung dia ngambek lalu nggak mau bareng gue pulangnya. kayak disengaja gitu, loh. Seperti sekarang ini. Padahal lokernya itu gue yakin udah rapi tapi masih aja sibuk diberesin entah apanya yang diberesin.  “Lima menit lagi nggak kelar juga, gue tinggal beneran lo, Ai!” ancam gue.  “Tinggal aja! Bodo amat!” balasnya.  Gue mendesah kasar lalu berjalan mendekat ke tempat Aira sedang berdiri membelakangi gue. “Sialan lo, Ai! Lo sengaja ngerjain gue ya?” kesal gue sambil menekan puncak kepalanya yang hanya sebatas ketiak gue. “Loker udah rapi gitu lo bilang masih mau dirapihin!”  Aira berbalik badan lalu mendorong gue hingga membuat gue sedikit bergeser ke belakang beberapa langkah, karena nggak siap menahan badan. Dia menatap gue dengan tatapan kesal dan wajah cemberut. Aira menutup pintu lokernya dengan cukup keras. Setelah itu dia benar-benar meninggalkan gue.  “Lo kenapa, sih? Lo yang salah, lo yang ngegas. PMS lo?” tanya gue sambil berusaha mengimbangi langkah cepat Aira.  “Bukan urusan lo! Udah sana pergi. Gue nggak mau pulang bareng lo!”  Gue menahan tangan Aira, memintanya berhenti melangkah supaya kami bisa berbicara baik-baik. “Terus lo mau pulang sama siapa? Aneh banget lo sekarang!”  “Aneh gimana? Gue kayak biasanya aja,” jawab Aira, nggak terima dengan penilaian yang gue berikan padanya.  “Ya, udah kalo nggak aneh kita pulang sekarang. Lo udah nggak ada kelas, kan?”  “Gue bilang nggak mau pulang sama lo. Gue mau pulang sama Angel. Kita janjian mau cari buku bareng.”  “Angel bukannya udah pulang dari tadi?”  “Sotoy lo! Angel itu masih ada di ruang PMR. Ini gue mau ke sana,” jawabnya dengan tampang cuek.  “Kok nggak bilang dari tadi, sih, Tuan Putri!?” tanya gue. Kali ini gue bener-bener geregetan sama Aira. “Gue nungguin lo udah hampir dua jam, anjir?! Tau lo mau pulang bareng sama Angel, kan, gue pulang dari tadi pas bubaran kelas jam terakhir.” “Sory, deh. Gue lupa bilang sama lo. Gue cabut dulu, ya. Bye, Daka!” ucap Aira dengan entengnya.  “Lo mau pergi sama si Titanium itu, kan?” tanya gue. Nggak peduli Aira mau marah, ngambek, ngamuk atau apa lagi yang biasa dia lakukan untuk meluapkan emosinya yang terganggu oleh perbuatan gue.  “Mulai sekarang nggak usah ikut campur urusan gue. Urus sendiri urusan lo,” ucapnya kemudian berlari meninggalkan gue yang masih tertegun melihat punggungnya.  Nggak lama Aira berhenti berlari. Dia menundukkan kepala lalu berjalan menuju bangku taman yang baru saja dilewatinya. Ternyata untuk mengikat tali sepatunya. Seperti biasa dia mengalami kesulitan. Sesuai dugaan gue, dia hanya memasukkan tali sepatunya ke sela-sela sepatu. Ketika gue hendak melangkah untuk membantu, Aira sudah bangkit dari bangku taman dan melanjutkan langkahnya. Ralat, bukan langkah biasa tapi berlari. Kelihatan seperti sedang buru-buru.  “Gaya lo nggak usah ikut campur urusan lo, Ai. Pasang tali sepatu aja nggak pernah bener lo,” gerutu gue sambil berjalan berlawanan arah dengan Aira. Nanti juga kalau butuh dia bakal datang sendiri.  *** #Almeira  Aku bohong pada Daka soal mau pulang dengan Angel. Karena yang sebenarnya aku janjian dengan Kak Titan.  Seperti yang dibilang Kak Titan tadi malam, dia memintaku untuk menunggu di dekat mobilnya yang diparkir di samping auditorium. Dia sedang latihan futsal saat ini. Tapi aku nggak diizinkan menunggu di dalam, katanya nggak enak sama teman-temannya yang lain. Terlebih tim futsal yang sedang latihan saat ini adalah kakak kelas. Dari pada mencari masalah dengan kakak kelas aku pilih untuk menuruti ucapan Kak Titan.  Syukurnya Kak Titan nggak membuatku menunggu terlalu lama. Karena belum lama menunggu, aku lihat dia keluar dari auditorium sambil menenteng tas masih dengan mengenakan seragam tim futsal kebanggaan sekolah.  “Udah lama?” tanya Kak Titan setelah berada di samping mobil.  Aku menggeleng cepat sambil tersenyum memastikan dia kalau aku belum terlalu lama menunggu. Setelah terdengar bunyi bip dari mobilnya, dia memintaku masuk mobil.  “Nanti malam ikut aku, ya,” ujar Kak Titan setelah mobilnya meninggalkan sekolah.  “Mau ke mana?”  “Ada even festival musik. Band aku nanti malam tampil,” jawab Kak Titan sambil menyebutkan nama sebuah mall.  “Jam berapa, Kak?”  “Jam tujuh sampai selesai.”  “Selesainya jam berapa?”  “Nggak sampai tengah malam.”  “Bisa selesai sebelum jam sembilan, nggak?”  “Kita lihat nanti. Yang penting kamu ikut aja dulu. Pulang jam berapa nanti bisa diatur.”  Aku mengangguk dengan mata berbinar ceria. Aku suka setiap kali Kak Titan mau mengajakku ketemu dengan teman-temannya. Meski teman-temannya berasal dari sekolah lain mereka cukup baik padaku.  Dari sekolah Kak Titan mengajakku makan di sebuah kafe. Kami makan dan minum sebentar lalu Kak Titan mengantarku pulang. Tapi aku menolak waktu Kak Titan menawarkan ingin mengantarku sampai rumah. Aku bersikukuh mengantarku sampai depan gerbang kompleks perumahan dan aku bisa berjalan kaki sampai rumah. Aku malas disidang Ayah kalau ketahuan pulang sekolah diantar teman cowok selain Daka. Meski Ayah nggak lihat secara langsung karena nggak sedang di rumah, tapi bisa melihat melalui CCTV.  Di ruang makan Ibu menyambut kedatanganku. Dan mengajakku untuk makan bersama. Sebenarnya aku sudah makan. Tapi karena aroma masakan Ibu yang mengundang selera dan masih tersisa ruang di perutku untuk menampung seenggaknya satu porsi nasi, aku menerima tawaran itu.  “Ai ganti baju dulu, Bu,” jawabku kemudian melangkah menuju kamarku di lantai dua.  Setelah selesai ganti baju aku bergegas kembali ke ruang makan Di sana Ibu sudah duduk bersama Arsen.  “Baru pulang sekolah, lo?” komentar Arsen saat aku menarik salah satu kursi makan di samping Ibu.  “Iya. Masih belajar kelompok.”  “Sore amat!” balasnya dengan tatapan nggak percaya. Sementara Ibu nggak banyak berkomentar karena mengira kalau aku full day hari ini. Memang full day, tapi tadi saat jam terakhir kosong. Kalau langsung pulang harusnya aku sudah ada di rumah pukul setengah dua.  “Masalah buat lo?” jawabku tak acuh.  “Gue tanya baik-baik, lo jawabnya nyolot. Maunya apa, sih, lo?”  “Mau tau maunya gue gimana? Lo diem aja, nggak usah kebanyakan bacot!”  “Ish…Heran gue, kok bisa Kak Ganes sama Mas Daka tahan temenan sama lo.”  “Sebelum makan itu sebaiknya berdoa dulu, ya, anak-anak Ibu yang paling Ibu sayangi. Bukannya berdebat nggak jelas seperti ini,” ucap Ibu, melerai pertengkaran antara aku dan Arsen.  Akhirnya aku dan Arsen berhenti berdebat dan memulai acara makan kami. Aku melirik ke arah piring kosong yang kemudian diisi potongan-potongan daging ikan yang telah dipisahkan dari tulangnya oleh Ibu.  “Buat Arsen, Bu?” tanyaku.  Ibu hanya mengangguk tanpa menatapku karena fokus pada ikan yang tersisa separuh bagian di piring lainnya. Iseng aku mengambil daging ikan yang sudah dipisahkan dari tulangnya tadi lalu buru-buru memasukkannya ke mulutku.  “Aira! Bangke lo!” pekik Arsen dari seberang meja. Coba saja nggak ada Ibu, aku yakin sendok di tangannya sudah melayang ke arahku.  Aku dengar Ibu menarik napas panjang kemudian berkat, “Astagfirullah, Arsen!” ucapnya berusaha sabar saat memperingatkan Arsen karena telah berkata yang nggak patut dilontarkan di depan orang tua. “Ai juga, udah tau itu ikan punya Arsen kenapa masih dimakan, sih? Seneng banget nyari ribut.”  Aku tak mengacuhkan ucapan Ibu. Memilih melanjutkan acara makanku tanpa memedulikan Arsen juga yang kini sedang menatapku tajam seolah ingin melahapku hidup-hidup. Selesai makan aku bergegas kembali ke kamar.  Setelah solat magrib, aku menemui Ibu di kamarnya untuk meminta izin keluar rumah malam ini. Aku mengetuk pelan pintu kamar ibu. Ketukan kedua terdengar suara Ibu memberi izin membuka pintu kamarnya.  “Masuk, Ai,” ucap Ibu setelah tahu aku yang membuka pintu kamar.  Aku menutup pintu dan berjalan tenang memasuki kamar orang tuaku. Aku memilih duduk di pinggiran ranjang sambil menunggu Ibu menyelesaikan aktivitasnya sedang mengaji.  “Ada apa?” tanya Ibu sambil melipat mukenanya di depanku.  “Ai mau minta ijin, Bu,” ucapku setelah mengatur ritme jantungku.  “Ijin apa?”  “Ai mau keluar sama temen.”  “Kapan dan mau ke mana?”  “Malam ini. Mau nonton acara festival musik,” jawabku.  “Malam-malam gini? Ada siapa aja? Daka atau Ganes ada yang ikut?”  Aku menggeleng pelan. “Boleh, ya, Bu…meski mereka nggak ikut?”  “Berangkat jam segini pulangnya jam berapa, Ai?”  “Sebelum jam sepuluh sudah di rumah.”  Ibu menarik napas panjang. Sepertinya butuh berpikir keras untuk memberi izin padaku. “Karena nggak bareng Daka atau Ganes, mending Ai telpon Ayah, ya. Kalau sama Ayah diijinin, Ai boleh pergi. Tapi kalau Ayah nggak ngijinin, Ibu nggak berani ngasih izin.”  “Cuma sebentar ini, Bu. Lagian Ai nonton acara musik doang, kok. Acaranya juga di mall. Selesai acara Ai langsung pulang.”  “Iya, Ibu ngerti. Tapi Ai tetap harus telpon Ayah dulu,” ujar Ibu tegas dan nggak bisa diganggu gugat.   Aku beranjak dari ranjang. Sambil berdecak ditambah menghentakkan kaki ke lantai aku keluar dari kamar Ibu.  “Nanti kalau udah dapat izin dari Ayah, langsung kabari Ibu, ya,” ujar Ibu sambil mengusap punggungku.   Aku hanya menjawab dalam bentuk gumaman ucapan Ibu. Tanpa berkata apa-apa lagi aku meninggalkan kamar Ibu lalu kembali ke kamarku sendiri. Sesampainya di kamar aku menimbang-nimbang untuk menelepon Ayah. Akhirnya setelah memantapkan hati aku mencoba untuk menghubungi Ayah.  Ayah menerima panggilan telepon dariku setelah nada sambung panggilan kedua. Mempersingkat waktu aku segera mengutarakan niatku menghubungi Ayah. Aku mengatakan apa adanya seperti yang aku utarakan pada Ibu. Dan begini jawaban Ayah.  “Sebentar lagi PTS. Lebih baik Ai memanfaatkan waktu untuk belajar atau istirahat di rumah.”  “Sekali ini aja, Yah. Boleh, ya…”  “Ai nggak dengar omongan Ayah?”  “Denger. kok. Tapi-”  “Udah magrib-an?”  “Udah.”  “Kalau udah, makan terus belajar.”  Ayah memang seperti itu. Penolakannya memang nggak jarang langsung bilang ‘nggak boleh’. Tapi dari kalimat-kalimat yang diucapkan tadi secara nggak langsung sudah menunjukkan kalimat larangan. Akhirnya aku mengirim pesan pada Kak Titan untuk menyampaikan bahwa aku nggak bisa ikut dengannya malam ini. Kak Titan membalas pesanku hanya dengan sebuah emoticon jempol. Dia pasti kecewa karena aku menolak permintaannya.  Sepertinya aku udah salah langkah dengan mengibarkan bendera perang pada Daka. Harusnya aku bisa mengambil hatinya supaya bisa berkompromi di saat-saat dibutuhkan seperti ini. Aku benar-benar menyesal telah berkata kasar tadi siang. Kalau minta bantuan padanya saat ini rasanya sudah terlambat. Sementara kalau meminta bantuan pada Ganes, kayaknya bukan ide yang bagus.   ~~~  ^vee^ 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD