Feelings 16

2016 Words
#Danendra  Ada sekitar sepuluh menit gue berdiri di depan pagar rumah yang tampak sederhana tampilan luarnya, untuk memastikan sekali lagi kalau nggak sedang berada di rumah yang salah. Rumah ini bentuknya cukup lawas kalau dibandingkan dengan rumah gue ataupun teman-teman gue yang lainnya. Dengan penuh percaya diri gue menekan tombol bel yang ada di pagar rumah. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit seorang perempuan muda yang gue nggak tahu perannya sebagai apa di rumah ini berjalan tergesa ke dekat pintu pagar.  “Cari siapa, Dek?” tanya perempuan itu.  “Benar ini rumahnya Syahila?”  “Iya benar. Ada perlu dengan Lala?”  Gue mengangguk cepat. “Iya, Mbak. Saya ada perlu dengan Lala. Boleh saya masuk?”  Perempuan itu membalas dengan mengangguk sambil membuka gembok yang terpasang di lilitan rantai. Kemudian menggeser pelan pintu pagar selebar badan gue saja dan menutupnya kembali. Dia meminta gue menunggu di teras sementara memanggil Syahila di dalam.  Nggak perlu menunggu lama pemilik rumah yang ingin gue temui berdiri di ambang pintu sambil menyapa.  “Danendra? Kirain siapa?” sapa Syahila berjalan ke arah kursi teras di samping kursi yang tengah gue duduki.  “Lagi nungguin seseorang?” tanya gue.  Syahila menggeleng ringan. “Nggak juga. Kok, lo bisa tau rumah gue, sih?” tanya Syahila heran.  “Dari temen gue.”  “Lo nggak nyuruh temen lo buat nguntit gue, kan?”  Gue menggaruk kepala bagian belakang. Hal yang biasa gue lakukan ketika salting atau kegep melakukan sesuatu yang harusnya gue sembunyikan.  “Nggak nguntit banget, sih. Cuma sekedar nyari tau rumah lo aja. Sorry kalo lo keberatan. Tapi gue sama sekali nggak ada niatan buruk sama lo,” jelas gue sungguh-sungguh.  “Ngobrolnya lanjut di dalam ruang tamu aja, ya,” tawarnya sambil beranjak dari kursi yang baru semenit lalu dia duduki.  “Oke, boleh,” jawab gue kemudian mengikuti langkah Syahila.   Ternyata tampilan dalam di rumah ini nggak kalah lawas dan sederhana dengan tampilan luarnya. Syahila mempersilakan gue duduk di classic sofa panjang yang warnanya mulai memudar. Sementara dia duduk di sofa single yang menyerong dari posisi gue. Jujur gue baru kali ini bertamu di rumah yang  menurut gue terlalu sederhana untuk ukuran siswa siswi Bermuda High School yang terkenal high class. Aira saja yang bisa sekolah di sana karena mendapat beasiswa full study rumahnya nggak kalah mewah dari rumah gue dan juga anak-anak BHS yang lain.  “Rumah lo emang biasa sepi gini? Ortu lo lagi nggak di rumah?” basa basi gue.  Syahila menoleh sambil tersenyum merespon pertanyaan gue. “Gue yatim piatu. Nyokap gue meninggal waktu melahirkan gue. Kalau Bokap sama Nyokap tiri gue meninggal karena wabah penyakit. Gue tinggal sama adek dan nenek gue. Adek gue yang tadi bukain lo pintu,” jelas Syahila tenang.  Sial!! Gue jadi merasa bersalah. Tapi sepertinya Syahila sama sekali nggak keberatan ngasih penjelasan itu ke gue. Mungkin dia sudah move on dari rasa berdukanya. Cuma yang gue herannya dia bisa seterbuka itu sama gue, yang notabene baru-baru ini saling kenal sedekat sekarang.   “Tapi nggak ada yang tahu soal itu. Sebelum lo masuk ke gang rumah ini, lo lihat ada rumah mewah nggak?”  Gue mengangguk sambil mengingat kembali hal-hal yang gue lihat tadi sebelum sampai di rumah ini. “Kenapa?” tanya gue ingin tahu hubungannya.  “Teman-teman sekolah gue ngiranya rumah itu rumah gue. Nenek gue kerja sebagai asisten rumah tangga di rumah itu sejak gue kecil. Gue bisa sekolah di BHS karena dibiayai oleh majikan Nenek gue. Gue anak angkat nggak resmi dari pemilik rumah mewah itu,” jelas Syahila yang membuat gue cukup speechless.  Gue hanya mengangguk paham tapi dalam hati bertanya-tanya alasan Syahila bersikap seterbuka ini pada gue.  “Jadi kalau sampai informasi soal rahasia gue tadi bocor ke biang gosip BHS, lo orang pertama yang gue cari,” ujar Syahila kemudian tersenyum penuh arti.  “Lo naik apa ke sini?” tanya Syahila, tiba-tiba menghentikan pembahasan soal dirinya.  “Pakek motor.”  “Motornya di mana?”  “Di depan rumah lo. Aman, kan?”  “Aman, kok. Tapi tetap wajib kunci stir.”  “Udah.”  “Bagus, deh, kalau gitu. By the way lo mau minum apa?”  “Apa aja asal nggak ngerepotin elo.”  “Air putih doang yang nggak ngerepotin. Nggak apa-apa?”  Gue tertawa ringan. “Ya, nggak apa-apa juga. Emangnya kenapa?”  Syahila hanya jawab tertawa lalu bangkit dari kursinya. Dia pamit ke dalam mau mengambil minum untuk gue. Sambil menunggu Syahila kembali gue mengeluarkan handphone dari saku jaket. Ada pesan dari Nyokap yang mengingatkan supaya jangan lupa makan malam dan nggak pulang sampai larut malam kalau sedang main di luar rumah. Iseng gue jawab pesan dari Nyokap kalau gue mau sekalian pulang pagi. Nggak perlu nunggu lama, detik itu juga id call Nyokap tampil di layar handphone gue.  “Kenapa, Ma?” sapa gue setelah menjawab salam Nyokap.  “Daka di mana sekarang? Lagi sama Aira dan Ganesh?” tanya Nyokap.  Nggak salah sebenarnya Nyokap gue tanya begitu. Karena memang udah jadi kebiasaan gue, Aira dan Ganesha kalau sudah malam minggu gini biasanya kumpul. Entah di rumah gue atau di rumah Aira. Kadang juga nongkrong di rumah kreatif milik Ganesha yang belum sepenuhnya selesai. Sebenarnya Ganesha punya unit apartemen. Tapi dia lebih suka tinggal di mess yang disediakan oleh Anandara Foundations atau rumah kreatif. Dan malam minggu gini kebiasaan itu sedang nggak gue jalani.  “Lagi di rumah temen, Ma. Tapi bukan rumah Aira,” jawab gue apa adanya.  “Oh, tapi sama Aira juga?”  “Ya, nggak juga, sih, Ma. Temen Daka itu banyak, nggak cuma Aira sama Ganes doang, Ma. Aira juga sama, temen-temen dia nggak cuma Daka doang.”  “Iya, sih. Kadang Mama lupa kalau kalian itu sudah beranjak remaja dan butuh bersosialisasi dengan teman-teman baru. Tapi mau gimana lagi, 16 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk mengubah sebuah kebiasaan, Daka.”  “Iya, Ma. Daka paham. Udah dulu, ya, Ma. Temen Daka udah datang ini,” kilah gue. Kalau nggak buru-buru diberhentiin bakal lanjut sampai nanti ini Nyokap curhatnya.   “Daka nggak beneran mau pulang pagi, kan?” tanya Nyokap memastikan.  Gue terbahak lalu menjawab, “Emang kenapa kalo Daka pulang pagi, Ma?” tanya gue iseng.  “Mama balik ke Jakarta sekarang aja.”  Astaga, Nyokap gue makin ke sini, makin pro aja sifat protektifnya. Padahal sebelum ini nggak terlalu. ”Nggak, Ma. Abis dari sini Daka langsung pulang, kok,” jawab gue akhirnya.  “Gitu, dong. Jangan bikin Mama khawatir. Ya, udah. Mama tutup teleponnya ya. Daka hati-hati di jalan. Jangan lupa makan dan solat, ya.”  “Iya, Ma.”  Setelah panggilan telepon gue akhiri, gue memeriksa log panggilan tak terjawab lainnya. Nggak ada telepon sama sekali dari Aira. Dia hanya mengirimi gue pesan dan memaksa gue mengaku seperti biasanya kalau kami sedang bersama. Tapi gue nyuekin pesan itu dari siang. Rupanya cara gue berhasil. Karena sampai detik ini Aira nggak mengganggu gue. Terbukti cara gue ampuh untuk membuat cewek keras kepala dan seegois Aira menyerah.  Bodo amatlah dia mau ngambek atau apalah. Disogok coklat juga dia bakal nyengir kambing lagi.  Nggak lama kemudian Syahila datang sambil membawa nampan. Gue tergerak untuk mengambil alih nampan yang kelihatan berat. Syahila sama sekali nggak keberatan gue membantunya. Saat kami saling beradu tatap dia tersenyum ke arah gue.  “Silakan diminum. Seadanya ya,” ucap Syahila sopan.  Gue nyengir. Ini bukan seadanya. Minuman lengkap sama cemilannya. Ada dua toples tapi gue belum tahu masing-masing toples isinya apa. Niat bikin gue berlama-lama di sini kayaknya nih cewek. Gue tertawa dalam batin setelah bermonolog sendiri di dalam hati. Bisa-bisanya gue mencetuskan pikiran seperti itu.  “Makasih, ya, La,” balas gue meraih sebuah gelas berisi minuman berwarna coklat. Setelah gue coba sedikit baru gue tahu kalau isinya seperti milkshake coklat.  “Oiya, nama lo, kan, cukup panjang. Biasanya lo dipanggil apa sama temen-temen lo?” tanya Syahila. Dia mengikuti jejak gue mengambil gelas miliknya sendiri. Bedanya punya dia warna pink.  “Ya, Danendra kalau guru-guru dan teman sekelas. Tapi kalau yang udah cukup akrab biasanya panggil Daka.”  “Daka?”  “Iya. Nama gue lengkapnya Danendra Kamandaka. Disingkat jadi Daka.”  Syahila tertawa kecil sambil mengangguk beberapa kali. “Kalo gitu, gue boleh panggil lo Daka aja, nggak?” tanyanya setelah berhenti tertawa.  “Boleh banget.”  Setelahnya kami mengobrol ringan seputar kami berdua. Pembawaan Syahila di rumah sama di sekolah itu bisa beda banget. Kalau di sekolah itu dia dingin dan jaim banget anaknya. Tapi kalau di rumah santai dan asyik banget anaknya. Diajak ngobrolin apa aja nyambung. Anaknya juga pembawaannya tenang dan tipe cewek pendengar yang baik. Jarang-jarang gue ketemu cewek model begini.  “Gue boleh tanya sesuatu nggak?”  “Boleh aja. Soal apa?”  “Kamu ada keturunan Tionghoa?” tanya Syahila hati-hati.  “Yep,” jawab gue, mengangguk beberapa kali sambil menerima sebuah toples yang disodorkan pada gue. Berisi sebuah keripik singkong rumahan. Rasanya nggak sama kayak yang sering dibeli Aira di supermarket maupun minimarket dekat rumahnya. Jauh lebih enak dan gurih.  “Bokap gue yang ada turunan Tionghoa. Campuran Jawa Timur dan Belitung juga. Kalau Nyokap gue Arab Jawa Timur dan Minang, sih. Tapi gue lahir dan besar di Jakarta. Lo sendiri?”  “Coba tebak?”  Gue pura-pura berpikir lalu menjawab seadanya. “Gue nggak terlalu jago nebak ras seseorang. Tapi kayaknya lo bukan orang asli Jakarta, bener?”  Giliran Syahila yang mengangguk. “Kakek dan Nenek gue dari pihak Nyokap asalnya dari Banjarmasin. Kalau Bokap dari Palembang.”  “Jadi bener, nggak ada yang asli Jakarta?”  “Sama kayak elo. Gue bukan orang asli Jakarta. Kakek dan Nenek gue dari Bokap yang awalnya merantau di Jakarta. Trus pas gedenya Bokap gue kerja di pertambangan, kenal Nyokap gue, mereka nikah dan tinggal di Banjarmasin. Setelah gue lahir dan Nyokap meninggal, baru Bokap bawa gue ke Jakarta. Sampai sekarang ini.”  Gue mengangguk paham mendengar penjelasan dari Syahila. Nggak salah kalau Syahila memang punya wajah yang cantik. Cantiknya juga kelihatan alami. Nggak kayak cewek-cewek di kelas gue yang bisa-bisanya baru kelas sepuluh sudah pada ribut bikin alis pagi-pagi, bukannya ribut buat beresin PR yang dikumpulkan hari ini. Emang kelas gue isinya para b*****h. Nggak salah kalau kelasnya ada di urutan paling bontot dan ruang kelasnya paling dekat dengan ruang guru.  “Penjelasan lo cukup kasih gue paham kenapa lo cantiknya beda, sih,” ucap gue sambil meraih gelas minum gue. Gue mengambil kesempatan ini untuk menatap wajah Syahila lekat-lekat.  Syahila tersenyum penuh arti. Sepertinya dia menangkap aktivitas gue saat ini. “Berani juga lo ngerayu kakak kelas,” ucap Syahila sambil bercanda.  Gue refleks tertawa mendengar balasan Syahila. Bisa-bisanya dia mengancam gue dengan kasta sekolah. Kalau biasanya kebanyakan cewek di kelas gue, sekali dibilang cantik udah bertingkah kayak ulet bulu, gatel abis. Sedangkan Syahila jawabannya malah seperti itu. Tapi sikap Syahila yang seperti ini justru membuat gue semakin tertarik untuk mengenal cewek ini lebih jauh lagi.  “Kan, lo sendiri yang bilang kalau kita seumuran. So, salahnya di mana ngerayu kakak kelas yang seumuran?”  “Nggak salah, kok. Gue juga seneng-seneng aja dirayu sama adek kelas seumuran.”  See? Gue nggak mampu menyembunyikan senyum ketika mendengar respon blak-blakan dari Syahila.  “Jadi, nggak apa-apa, nih, kalo next time gue nemuin lo lagi?”  “Boleh-boleh aja.”  “Kalo gue nemuin lo di sekolah, apa masih boleh juga?”  “Ya, kenapa nggak boleh? Bareng aja sekalian sama temen lo. Dia juga beberapa kali main ke kelas gue.”  “Ke kelas lo? Ngomongin soal keputrian?”  “Nggak juga. Dia lagi pedekate sama Titan. Emang lo nggak tau? Bukannya kalian deket banget ya?”  “Oh, itu. Setau gue mereka nggak terlalu deket.”  “Tapi gue salut, loh, sama Almeira itu. Dia gigih banget buat deketin Titan sampai bikin Titan mau dideketin dia.”  Gue tersenyum sinis. Entah kenapa gue merasa nggak terima kalau Aira yang berjuang buat deketin Titan. Gue kira selama ini Titan yang deketin Aira. Tapi waktu gue pengen bahas soal Titan lebih jauh, Syahila seperti berusaha mengalihkan topik obrolan kami.  ~~~ ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD