#Ganesha
Papa pernah bilang bahwa pagi yang indah berawal dari melihat orang yang menjadi sumber kebahagiaan kita yakni keluarga.
Saya tidak terlalu percaya dengan pepatah ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ yang sering kita dengar dan jamak dipakai untuk mengacu pada adanya kemiripan sikap, perilaku, dan pola pikir antara orang tua dengan anak-anak mereka. Namun mendiang Bapak pernah bilang tidak melulu seperti itu, tergantung dari pola pendidikan dan konsep bahwa setiap orang terlahir dengan pribadi yang berbeda. Sekalipun ada kesamaan mungkin itu hanya kebetulan buatan Tuhan yang sedang malas menciptakan referensi karakter baru di dalam buku besar karakteristik manusia ciptaanNya. Dan menurut Mama, antara saya dan Papa memiliki persamaan karakter, tapi untuk sumber kebahagiaan, kami memiliki perbedaan konsep yang cukup mencolok. Karena sumber kebahagiaan saya bukan keluarga seperti yang pernah Papa bilang, melainkan cat, kanvas dan tawa Aira. Tiga hal itu saja sudah cukup membuat saya bahagia dalam menjalani alur kehidupan yang tidak mudah ditebak akhirnya.
Kalau dipikir-pikir memang agak konyol kedengarannya. Namun memang seperti itu kenyataannya. Ya, intinya saya dan Papa punya karakter mirip. Bedanya, kebahagiaan Papa itu bisa melihat Mama, saya dan Bathari setiap hari. Sementara kebahagiaan saya adalah kombinasi cat, kanvas dan tawa Aira.
Seperti hari ini, sejak pagi baik Papa maupun Mama sudah mewanti saya supaya pulang ke Bandung akhir pekan ini. Papa bahkan sudah mengirim sopir keluarga untuk menjemput saya di Jakarta. Sebenarnya saya sudah menyanggupi bahkan tanpa perlu dijemput paksa seperti itu. Namun sepertinya saya tidak bisa sampai Bandung tepat waktu karena ada hal yang masih harus saya selesaikan di rumah Aira. Saya harus meminta maaf pada gadis keras kepala itu. Karena prinsip pertemanan kami meskipun Aira yang bersalah tetap orang lain-lah yang harus meminta maaf padanya. Eh, salah, maksudnya prinsip itu hanya berlaku untuk saya dan Daka. Aira tidak seburuk itu dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Kalau dia memang bersalah, maka dia tidak segan untuk meminta maaf duluan, kok.
Maka di sinilah saya berada sore menjelang petang hari ini. Di rumah orang tua Aira untuk menemui Aira dan meminta maaf pada gadis keras kepala itu. Sejak kejadian kemarin dia sama sekali tidak mau menerima panggilan telepon saya. Membalas pesan pun tidak dia lakukan. Padahal biasanya dia tidak pernah melewatkan momen mengirim ucapan selamat pagi ataupun sekadar mengirim pesan berupa stiker konyol koleksinya pada saya. Maka dari itu saya menyimpulkan bahwa Aira masih dalam mode ngambek sampai detik ini.
“Ganes, tunggu di dalam aja, yuk! Nonton tv atau main di kamarnya Arsen juga boleh,” ujar Tante Meidina untuk yang ketiga kalinya dalam kurun waktu satu jam lamanya saya menunggu kedatangan Aira.
“Di luar saja, Tante Mei,” jawab saya sopan.
“Minumnya mau ditambah? Atau kamu mau yang lain? Teh tanpa gula mungkin?” tawar Tante Mei. Mungkin beliau sungkan karena tidak bisa menyajikan variasi makanan kecil atau minuman ringan selain air mineral untuk saya. Tante Mei tahu kalau saya tidak boleh berlebihan dalam mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gluten, kasein, dan kedelai, apalagi tinggi glukosa. Sebenarnya bukan hanya Tante Meidina saja yang paham soal itu. Semua orang yang dekat dengan saya terutama orang tua saya juga tahu soal informasi penting itu.
“Minum saya masih ada, Tante Mei,” jawab saya seraya mengangkat botol air mineral kemasan 500ml yang disajikan oleh Mbak Ima, dimana isinya sudah tersisa setengah botol.
“Ya, sudah kalau gitu. Kalau butuh apa-apa masuk saja langsung minta sama Mbak Ima, ya, Nesh.”
“Iya, Tante Mei. Saya paham.” Kemudian Tante Meidina kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan saya di teras.
Menjelang petang terdengar deru suara mobil yang sangat asing di telinga saya berhenti di depan pagar. Bukan bunyi deru suara mobil Daka, tapi yang keluar dari dalam mobil tersebut justru Aira. Refleks saya bangkit dari kursi untuk memerhatikan gerak gerik Aira lebih jelas. Tak berselang lama setelah Aira keluar dari mobil, menyusul laki-laki asing yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Laki-laki itu masih menggunakan seragam yang sama dengan seragam Daka. Artinya mereka teman satu sekolah. Namun Daka tidak pernah cerita soal teman baru Aira ini. Entah Daka lupa atau memang tidak tahu menahu soal teman baru Aira. Saya akan menanyakannya pada Daka nanti kalau kami bertemu.
Tangan saya mengepal berusaha mengendalikan emosi saat laki-laki asing itu mengacak pelan puncak kepala Aira. Apalagi melihat reaksi Aira setelah perbuatan teman barunya itu. Aira menunduk seperti orang sedang tersipu malu. Bila saja saya yang berbuat seperti itu, bukannya tersipu malu Aira malah mengeluh rambutnya berantakan padahal rambutnya tidak ada masalah apa pun. Apalagi Daka yang melakukannya, bisa dipastikan kaki Aira akan melayang ke p****t Daka.
Saya masih memerhatikan di tempat saya berdiri semenjak lima menit yang lalu. Laki-laki yang bersikap manis pada Aira tadi terus melambaikan tangannya ketika hendak masuk mobil. Begitupun dengan Aira. Dia terus melambaikan tangan dari balik pintu gerbang rumah, bahkan tidak lantas masuk rumah sebelum mobil laki-laki itu menghilang dari pandangannya.
Ketika Aira hendak masuk ke dalam rumahnya lewat pintu garasi yang sedang terbuka, dia mengurungkan niatnya itu karena tatapan kami bertemu di satu titik. “Eh, ada Ganes. Nggak pulang ke Bandung lo?” sapanya sambil berjalan ke arah teras.
“Mau ketemu kamu dulu,” jawab saya lalu meniru perbuatan laki-laki tadi, mengacak puncak kepala Aira.
Benar dugaan saya ketika dia menjawab perbuatan saya tadi dengan kalimat, “Apaan, sih, lo? Rambut gue jadi berantakan, tauk!” padahal saya hanya mengacak pelan, tidak sampai membuat rambutnya jadi berantakan seperti yang sedang dia keluhkan.
“Ada perlu apa?” tanya Aira sambil duduk di salah satu kursi teras yang kosong.
“Kamu masuk dulu. Salam sama orang tua kamu baru ke sini lagi,” balas saya.
Aira bangkit dari kursi sambil mencebikkan bibir bawahnya. Meski sambil manyun dia tetap menuruti saran saya. Dari teras saya hanya bisa mendengar dia sedang mengucap salam yang biasa diucapkan umat muslim saat memasuki rumah.
Tidak sampai sepuluh menit Aira sudah kembali ke teras dengan mengenakan celana pendek selutut dan kaus oblong polos warna biru langit gambar kartun The Simpsons.
“Tadi lo belum jawab pertanyaan gue,” ucap Aira.
“Saya mau minta maaf soal kemarin.”
“Oh, itu,” jawabnya enteng. “Ngomong-ngomong untung lo datang,” ujarnya sambil memasang senyum kekanakan.
“Apa hubungannya?”
“Coba nggak ada lo, udah habis diomeli Ibu gue pulang sesore ini.”
“Ini bukan sore lagi, tapi sudah mau malam. Kamu sudah ibadah?”
“Belum adzan,” jawabnya malas.
“Dari mana jam segini baru pulang?”
Aira tidak menjawab. Dia malah pura-pura menahan senyum. Saya sendiri hanya menatap datar padanya. Kemudian dia menunjukkan sebuah ponsel pada saya. Entah ponsel siapa, tapi yang jelas bukan milik Aira.
“Gue baru pulang beli handphone baru, Ganesha,” jawabnya dengan mata berbinar lalu memaksa saya untuk memegang ponsel tersebut.
“Pasti habis malakin Ayah kamu.”
“Enak aja! Bukan malakin tapi ngerayu,” jawab Aira lalu tertawa terbahak.
“Tadi siapa?” tanya saya tanpa basa basi. Sama sekali tidak tertarik soal cerita ponsel baru Aira.
“Temen. Tadi dia yang ngantar gue beli handphone.”
“Kenapa tidak sama Daka?”
“Dia nggak bisa dihubungi. Sibuk sama cewek barunya kali.”
“Cewek? Pacar? Daka pacaran?”
“Iya, dia sendiri yang bilang gitu. Dia tadi minta nomor handphone salah satu temen cewek di sekolah. Katanya cewek itu mau dipacarin,” jawabnya sambil mencibir.
“Pasti cantik, tinggi, putih, punya wajah kebule-bulean,” balas saya sembari memerhatikan dengan saksama reaksi Aira.
Lagi-lagi Aira hanya mencebikkan bibir bawahnya dan mengangkat kedua bahunya dengan tak acuh, khas dia bila sedang memandang rendah pada sesuatu hal tapi tidak bisa disampaikan lewat kata-kata.
“Nesh! Gue boleh ikut lo ke Bandung, nggak?” Tiba-tiba Aira bertanya seperti itu.
“Kenapa mau ikut?”
Aira berdecak cukup keras lalu menampilkan ekspresi wajah masam. “Lagi males diomelin, gue,” lirihnya. Bahkan suaranya terdengar seperti orang sedang berbisik-bisik. “Nanti tapi gue bilangnya lo yang ngajak. Gitu,” imbuhnya.
“Bohong dosa!”
“Kan, tapi gue ikut lo beneran. Gue mau main sama Thari. Lama juga nggak ketemu dia.”
“Sejak kapan kalian akur?”
“Gue janji nggak bakal bikin Thari sebel, deh! Gue juga nggak bakal marah sama lo lagi soal kemarin. Gue juga janji nggak bakal maksa lo untuk ngelukis wajah gue lagi. Gimana?”
Karena tujuan saya ke sini memang mau meminta maaf, akhirnya saya mengangguk menyetujui permintaan Aira. Namun tujuan saya kali ini menuruti permintaan konyol gadis keras kepala itu bukan karena ingin memanjakan dia. Tujuan saya supaya dia tidak lagi memperpanjang persoalan kemarin.
Aira melompat riang mendapat persetujuan dari saya. Setelah dia bangkit dari kursinya, dia berdiri di hadapan saya kemudian meraih tangan saya dan menyeretnya masuk ke dalam rumah. Meski dia tidak perlu menyampaikan tujuannya menyeret saya seperti ini, saya sudah paham maksudnya. Saya dipaksa meminta izin pada orang tua Aira untuk mengajak Aira ke Bandung. Dia yang punya kepentingan, saya yang disuruh berjuang. Aira…Aira.
~~~
^vee^