#Danendra
Saat bel bubar sekolah berbunyi gue bergegas menghampiri Aira di kelasnya. Gue masih optimis cewek moody-an itu berbaik hati pada gue dengan memberikan nomor handphone Syahila. Gue sudah mencoba mencari tahu lewat cewek-cewek di kelas gue. Tapi nggak ada satupun di antara mereka yang mengetahui nomor handphone pribadi Syahila. Dan kata mereka justru Aira yang cukup akrab dengan Syahila, karena Aira merupakan perwakilan kelas sepuluh untuk kegiatan Keputrian dan pernah menjalin komunikasi terkait kegiatan itu. Kalau begini ceritanya gue mending mohon-mohon pada Aira dari pada orang lain.
Setelah mengambil barang-barang pribadi yang tersimpan di loker, gue menghampiri kelas Aira. Sayangnya gue kalah cepat karena ketika gue melewati belokan ke arah kelas Aira, cewek itu berjalan membelakangi gue. Tapi dia bukan bersama Angel dan Zara. Melainkan cowok yang gue tebak adalah Titanium.
“Woy! Ngelamun aja, ntar kesambet hantu sekolah lo!” tegur Angel saat berjalan bersama Zara melewati gue.
“Kalian berdua aja? Ai mana?”
“Sama Kak Titan. Katanya mau beli handphone baru.”
“Di mana?”
“Nggak tau. Aira nggak bilang,” jawab Angel kemudian melanjutkan langkahnya.
Gue berbalik badan dan mengejar teman-teman sekelas Aira itu. “Zar, tunggu!” teriak gue.
Zara yang merasa terpanggil menghentikan langkah dan berbalik badan menunggu gue yang sedang berlari ke arahnya. “Kenapa, Daka?” tanya Zara.
“Lo kenal Syahila? Anak kelas sebelas Ilmu Alam. Ketua Keputrian,” tanya gue.
“Kenal. Kenapa?”
“Lo punya nomor handphone-nya?”
“Nggak ada gue. Aira, tuh, yang masuk group chat pengurus Keputrian. Di grup itu ada Kak Lala. Kalau gue cuma masuk group chat anggota aja. Lo ada perlu apa?”
“Biasalah, urusan cowok.”
Angel menyikut lengan Zara. Zara membalas dengan senyum tertahan. Dua cewek di hadapan gue ini seperti sedang membicarakan gue lewat gestur tubuh mereka.
“Beby kayaknya punya. Dia ikut rohis. Kak Lala Ketua Rohis juga. Dengar-dengar kalau rohis group chat-nya dipegang Kak Lala sendiri. Emangnya cewek-cewek di kelas lo nggak ada yang tau?”
“Nggak ada. Tau sendiri cewek-cewek di kelas gue terkenal gimana? Mana ada dari mereka yang ikut kegiatan Keputrian apalagi rohis.”
“Kelas morsal, sih, kelas lo,” cibir Angel. Ucapannya itu membuat Zara tertawa sampai memukul pundak Angel. Entah kode apa lagi itu. Karena tiba-tiba Zara berhenti tertawa dan Angel tidak melanjutkan ucapan bernada menyindir itu.
Zara kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Lalu mengetik sebuah pesan tanpa gue ketahui mengirim pesan untuk siapa. Mungkin temannya yang lain bernama Beby tadi. Nggak lama kemudian ponsel Zara berbunyi singkat. Dan cewek itu tersenyum ketika menatap layar ponselnya.
“Nih, simpen baek-baek nomor handphone-nya Kak Lala,” ucap Zara menyodorkan ponselnya pada gue.
“Eh, serius dapat lo?”
“Iya coba aja.”
“Thanks, ya, Zar.” Gue segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan menyalin deretan nomor yang tertera di layar ponsel Zara. Setelah menyimpan dengan nama Lala gue mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Zara.
Emang kebangetan Aira. Sulit banget membagi nomor handphone Syahila ke gue sampai bikin gue harus berusaha sendiri seperti ini.
Kami bertiga akhirnya berpisah. Gue bergegas menuju parkiran. Sesampainya di sana gue lihat mobil milik Titan sedang menunggu palang parkir terbuka. Nggak lama kemudian mobilnya melaju keluar dari parkiran. Gue nggak mencoba menghubungi Aira untuk menanyakan dia hendak ke mana dengan Titanium itu. Daripada dia ngamuk kalau gue nyari tahu soal urusannya.
***
#Almeira
Akhirnya Ayah mengizinkan aku untuk ganti handphone. Aku menolak saat Ayah menawarkan untuk mengantarku pergi mencari handphone baru. Seperti biasa aku menggunakan nama Daka supaya Ayah nggak ngotot mengantarku ke mall untuk membeli handphone baru.
Namun beberapa kali aku mencoba menghubungi Daka, cowok itu nggak merespon teleponku. Bahkan beberapa pesan yang aku kirim padanya setengah jam lalu belum satupun dibalas.
“Kayaknya kamu lagi bete banget, ya, Al?” tanya Kak Titan saat menemaniku memasuki salah satu outlet merek handphone yang menjadi tujuanku.
Aku menggeleng cepat, tak ketinggalan menampilkan senyum tiga jari supaya Kak Titan percaya nggak terjadi hal yang buruk pada perasaanku saat ini. Setelah bertanya dan membandingkan tipe-tipe handphone terbaru yang ditawarkan padaku, akhirnya aku berhasil mengambil keputusan memilih satu jenis tipe handphone.
“Mau cari apa lagi?” tanya Kak Titan ramah.
“Nggak ada, Kak. Kita pulang aja ya.”
“Sekarang? Baru juga sejam di mall, masa udah mau pulang aja. Nggak pengen jalan-jalan gitu. Atau kamu mau makan, Al?”
Aku menggeleng pelan. “Langsung pulang aja, deh, Kak,” jawabku. Aku khawatir Daka benar-benar nggak membaca pesanku tadi, yang meminta dia mengaku saat ini sedang bersamaku kalau Ayah atau Ibu menghubungi untuk mencariku. Mana bisa tenang nge-mall-nya kalau kayak gini. Gerutuku dalam hati. Aku benar-benar hampir mencapai titik bad mood sekarang ini. Tapi dipaksa senyum dan bersikap baik-baik saja di hadapan Kak Titan.
“Aku mau cari sepatu. Temenin ya. Bentar aja, kok.”
Aku yang merasa nggak enak karena tadi Kak Titan sudah menemaniku membeli handphone akhirnya menjawab, “Ya udah, deh, ayok,” jawabku sambil mengikuti langkah Kak Titan.
Saat berjalan bersisian dengan Kak Titan menuju outlet sepatu yang ingin ditujunya, tiba-tiba Kak Titan menggenggam tanganku. Aku refleks menoleh dan melihat cowok itu sedang menatap lurus ke depan tanpa bertanya apakah aku mau digandeng atau nggak. Sementara selama ini belum pernah ada satu cowok pun yang bersikap seperti ini. Meski Daka dan Ganesha sudah akrab denganku, mereka nggak pernah melakukan skinship gandengan tangan seperti ini denganku.
Demi Tuhan aku takut banget saat ini. Takut kalau-kalau ada orang yang mengenal kedua orang tuaku dan menemukan aku sedang berjalan bergandengan tangan dengan cowok yang belum pernah dikenal sebelumnya oleh kedua orang tuaku. Sepertinya Kak Titan bisa merasakan kalau saat ini aku sedang dalam keadaan nggak tenang karena sejak tadi terus memutar pandangan seperti sedang mencari sesuatu. Karena memutuskan segera mengambil satu model sepatu untuk dibelinya.
“Kamu keliatannya nggak nyaman? Kenapa?” tanya Kak Titan duduk di sampingku sambil menunggu sepatu pilihannya selesai dikemas.
“Oh…nggak apa-apa, Kak,” jawabku sambil tersenyum kikuk.
“Yakin nggak apa-apa?” tanya Kak Titan memaksaku untuk mengaku.
Aku mengangguk. Entah kenapa rasanya sulit sekali berkata jujur dan apa adanya pada Kak Titan. Ada rasa nggak enak kalau sampai dia tahu perasaanku yang sebenarnya. Apalagi dia sudah meluangkan waktunya untuk menemaniku. Aku bisa membayangkan dia pasti kecewa kalau tahu aku malah justru nggak nyaman saat menghabiskan waktu bersamanya.
“Udah, Kak? Kita bisa pulang sekarang?”
“Tunggu bentar ya. Aku janjian sama teman di dekat sini.”
“Oh, gitu. Nunggu di mana?”
“Kita janjian di coffee shop yang ada di lantai lima. Kita ke sana sekarang ya.”
Seperti kerbau dicocok hidungnya, aku menurut begitu saja ajakan Kak Titan. Kami memasuki sebuah coffee shop mewah yang terletak di lantai lima gedung pusat perbelanjaan ini. Setelah memesan minuman untuk kami berdua Kak Titan mengajakku menuju meja tempat temannya sedang menunggu. Sekali lagi Kak Titan menggandeng tanganku. Perbuatannya ini benar-benar membuat jantungku bermasalah. Antara menahan bahagia dan juga takut ketahuan Ayah dan Ibu kalau aku sedang berada di tempat seperti ini bersama cowok selain Daka dan Ganesh.
~~~
^vee^