Feelings 13

1733 Words
#Almeira  Daka terus menyeret tanganku hingga ke belakang kelas sepuluh B. Di sana memang sepi. Terkadang dijadikan tempat nongkrong anak-anak kelas sepuluh dan sebelas buat bolos. Tapi sekarang kondisinya kosong karena mungkin para tukang bolos itu sedang mengisi perut di kantin.  “Apaan, sih, lo narik-narik tangan gue?” tanyaku penuh kesal sambil memijat pelan bekas cengkraman tangan Daka.  “Habis berulah bukannya minta maaf malah seneng-seneng lo!”  “Minta maaf? Soal apa? Sama siapa?”  Daka berdecak dan menekan puncak kepalaku dengan telapak tangannya.  “Sakit, gila!!!” keluhku sembari mengusap kepala sekaligus merapikan rambutku yang tengah tergerai.  “Minta maaf sekarang!”  “Sama siapa?”  “Ya sama gue-lah! Lo nggak tau kayak apa gue nyariin lo kemarin.”  “Heh! Gue juga nggak minta dicariin, ya, sama lo!” Aku menghardik Daka penuh keberanian.  “Ya emang! Tapi kalo bukan karena Nyokap, gue nggak akan mau nyariin lo.”  “Ya udah gue nanti minta maaf sama Nyokap lo, puas???”  Aku lalu menyingkir dari hadapan Daka. Lagi-lagi dia menarikku hingga membuat aku kembali berdiri di hadapannya. “Apa lagi?”  “Lo ke mana aja, sih, kemarin?”  “Gue mau belajar mandiri. Biar nggak terus-terus tergantung sama lo.”  “Sejak kapan lo tiba-tiba insyaf kalau selama ini nyusahin gue mulu?”  “Padahal dikit lagi nyampek rumah. Taunya busnya mogok. Kampretlah!” gerutuku, saat kembali teringat kejadian kemarin.  “Trus lo pulang sama siapa?”  Detik itu juga aku nggak bisa menyembunyikan wajah bahagiaku. “Sama Kak Titan,” jawabku sambil menahan senyum.  “Titan? Yang tadi itu?”  Aku mengangguk berkali-kali seperti miniatur salah satu tokoh anime favorit Daka yang ada di dashboard mobilnya. Mendengar nama Titan, membahas tentang dia apalagi ketemu langsung sama dia, bawaannya pengen senyum mulu dan dunia jadi terasa indah penuh bunga bermekaran berseri warna warni pokoknya.  “Kok bisa dia tiba-tiba muncul gitu?” tanya Daka penuh selidik.  “Ish, lo kenapa jadi kayak Bokap gue, sih? Nanya kenapa dia tiba-tiba muncul? Ya mungkin kami berdua punya ikatan telepati atau hati kami sudah terikat secara tidak langsung. Jadi kayak punya feeling aja gitu Titan ke gue. Pas gue lagi butuh doi langsung nongol kayak superhero gitu. Ya nggak, sih?” jawabku sambil tertawa cekikikan.  Aku kira Daka akan balas tertawa atau minimal iseng menoyor keningku. Tapi Daka cuma nunjukin wajah datar tanpa ekspresi. Kayak ‘bete’ tapi nggak tahu alasan ‘bete’-nya kenapa.  “Kenapa lo?” tanyaku akhirnya.  “Bisa-bisanya, ya, lo? Orang lain susah lo-nya malah cengengesan kayak gini?”  “Lo kenapa sewot lagi, sih, Ka? Salah gue apa?” tanyaku dengan nada bicara lebih rendah dari sebelumnya.  “Nggak usah nunjukin tampang seolah elo korbannya, deh!”  “Ish, lo beneran gue tanya, nih. Kenapa, sih, lo?”  “Gue lapar, b**o!”  “Anjir lo! Lo yang lapar kenapa ngatain gue b**o???”  “Gue belum makan.”  “Ya, udah makan aja sono, Daka!”  “Temenin!”  “Manja lo!”  “Kayak elo nggak aja.”  “Tapi gue udah kenyang,” jawabku enteng.  Tanpa ampun Daka mengapit leherku di bawah ketiaknya lalu menyeretku meninggalkan tempat sepi ini menuju kantin.  “Lepasin gue anjir!?”  “Nggak bakal sebelum sampai kantin!”  “Ish, apaan, sih, lo!” Dengan penuh tenaga aku serta merta mengarahkan sikutku ke depan perutnya.  Daka mengaduh kesakitan. Cara ini berhasil membuat dia melepaskan kunciannya di leherku. Berasa mau patah leher ini gara-gara kelakuan Daka. Akhirnya kami berdua berjalan beriringan menuju kantin. Tak ketinggalan juga sambil mengobrol dan bercanda, melupakan begitu saja hal yang membuat kami sempat adu otot beberapa menit yang lalu.  “Biasanya bawa bekal lo. Tumben sekarang nggak?”  “Nyokap diajak liburan ke Puncak sama bokap,” jawab Daka, sambil membalas sapaan teman seangkatan entah dari kelas berapa, aku sendiri nggak kenal.  “Semalam gue nelpon elo, Ka. Tapi nggak ada jawaban. Emangnya ke mana lo?”  Daka kelihatan seperti gugup ketika aku melempar pertanyaan yang biasa saja menurutku. Bukannya menjawab Daka malah mengalihkan pembicaraan.  “Thanks, ya, Ai. Udah ngerjain PR-PR gue.”  “Udah terima buku-buku lo dari Angel?”  “Udah. Tadi pas di perpus gue titip ke Leonard buat dibawain ke kelas.”  “Perpus? Lo ke perpus?”  Tiba-tiba pipinya Daka seperti merah. Wajahnya yang putih berseri itu memerah seperti tomat. Apalagi kedua cuping telinganya. Aneh banget dia. Suasana hatinya berputar turun naik banget kayak roda mobil lagi ngebut-ngebutan di jalan tol.  “Tadinya mau nyariin lo di perpus. Tapi ternyata ketemu Lala di sana.”  “Lala? Kak Lala maksud lo?” tanyaku memastikan.  Daka mengangguk cepat. “Iya, Kak Lala. Gue ngobrol, dong, sama dia. Kayaknya gue suka, deh, sama dia. Udah punya pacar belum, ya?”  “Memangnya kenapa kalo belum punya pacar?”  “Ya, mau gue pacarin,” jawab Daka lalu tertawa terbahak.  Aku hanya menatap datar padanya. Nggak ada hal lucu yang mesti ditertawakan menurutku. Tapi tawa Daka seperti lepas seolah sedang membicarakan hal-hal yang sangat lucu.  “Kak Lala nggak bakal mau sama lo! Dia sukanya yang pinter apalagi kalau lebih pinter dari dia. IQ lo di bawah standar. Nggak level sama Kak Lala,” ejekku habis-habisan. Mungkin kalau sehari saja aku nggak mengejek Daka, kayaknya badanku bakal gatel-gatel semua deh.   “Lo punya nomer handphone-nya, nggak? Bagi dong, Ai.”  “Nggak ada gue. Pernah komunikasi lewat email doang.” Entah kenapa tiba-tiba otakku mengarahkan mulutku untuk berbohong. Padahal aku punya nomornya Kak Lala. Tapi aku nggak mau membaginya dengan Daka.   “Ya udah, gue usaha sendiri aja buat dapetin nomer handphone Kak Syahila,” jawab Daka sambil tersenyum padaku. Aku paling benci wajah mengiba khas Daka ini. Lebih baik dia menunjukkan wajah tengil, annoying, ngeselin, daripada seperti sekarang ini.  Langkah kami sampai di kantin. Aku melambaikan tangan pada Angel dan Zara yang kebetulan masih ada di sana. Saat aku hendak melangkah menuju ke meja Angel dan Zara sedang mengobrol, Daka menahan pergelangan tanganku.  “Apa?” tanyaku malas.  “Lo mau pesen apa?” tanya Daka seperti biasanya.  “Gue tadi udah bilang, kan. Kalo gue udah kenyang.”  “Ya nggak harus makan yang berat juga, Ai. Roti bakar, snack. Atau mau yang seger-seger. Milkshake aja, gimana?”  Aku menggeleng dan mengempaskan tangan Daka dari pergelangan tanganku. “Lo pesen aja buat lo sendiri, Ka. Gue masih kenyang beneran ini,” ucapku lalu melangkah riang menuju tempat Angel dan Zara yang terus memintaku datang pada mereka.  ***  #Danendra  Saat gue sampai di meja tempat Aira dan teman-temannya, Aira menatap nggak suka pada gue. Terlebih setelah Angel melontarkan ejekannya pada kami.  “Cie, pasutri kebanggaan BHS akur lagi, nih. Gitu, dong. Kan adem ngeliatnya. Ya, nggak, Zar?” ujar Angel sambil menyikut pangkal lengan Zara.  “Yoi, Ngel.” Gue hanya tertawa menanggapi ledekan seperti itu. Rasanya sudah kebas, kebal dan biasa mendengar ledekan semacam itu. Mengingat umur persahabatan kami yang sebaya dengan usia kami sendiri, rasanya maklum kalau orang lain menganggap pasti ada sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan di antara kami berdua. Nyatanya anggapan itu bahkan nggak pernah terjadi selama gue bersahabat dengan Aira.  “Lo kenapa ngeliatin gue kayak gitu, Ai?” tanya gue ketika meminta Aira bergeser dari bangku yang tengah didudukinya.  “Lo kenapa makan di sini? Meja yang lain udah pada kosong, tuh!” kesal Aira.  “Gue maunya di sini,” balas gue meletakkan nampan berisi bakso dan milkshake strawbery kesukaan gue.  Kemudian Aira nggak menggubris gue lagi. Dia sepertinya lebih memilih melanjutkan obrolannya dengan Angel dan Zara tanpa memedulikan gue yang sedang ada di sampingnya. Samar-samar gue mendengar Aira sedang menceritakan soal Titanium itu dengan penuh semangat.  “Beli makan apa, lo?” tanya Aira tiba-tiba.  “Bakso.”  “Bakso doang?”  Gue mengangguk sambil menusuk salah satu pentol bakso menggunakan garpu, lalu menyodorkannya pada Aira. Tanpa pikir panjang cewek itu mangap dan menerima suapan dari gue. Gue melakukannya sekali lagi untuk pentol bakso kedua. Mulut mungil Aira itu masih sanggup menampung.  “Lagi?” tanya gue menawarkan suapan pentol bakso ketiga. Aira menggeleng dengan pipi membulat dipenuhi pentol bakso berukuran cukup besar yang dimasukkan ke mulut sekaligus. Gue tertawa kecil melihat ekspresinya yang lucu. Hiburan banget lihat tampang aneh Aira setiap kali sedang makan seperti ini. Sepertinya dia kesulitan menelan pentol bakso yang sudah dikunyahnya. Akhirnya gue meraih gelas berisi milkshake strawberry milik gue, lalu menyerahkan pada Aira. Tak ketinggalan gue mengusap sudut bibir Aira yang belepotan saus dengan menggunakan tisu. “Ya ampun, kalian berdua itu so sweet banget, loh. Sumpe loh!” komentar Zara melihat interaksi antara gue dan Aira.  “Makanya cari pacar, Zara,” balas Aira dengan nada bicara bercanda, setelah meneguk milkshake milik gue.  “Kayak yang elo punya pacar aja, Ai,” balas Zara nggak mau kalah.  “Tenang, ya, everybody. Abis ini Aira udah nggak jomblo lagi,” sahut Aira tiba-tiba.  Gerakan tangan gue yang hendak menyuapkan kuah bakso ke mulut gue tiba-tiba terhenti di udara. Kemudian gue urung melanjutkan memakan bakso yang tersisa dua butir pentol di dalam mangkuk, karena terdengar suara bel tanda masuk kelas sudah berbunyi.  “Gue masuk dulu, ya, Ai,” ujar Angel dan Zara pamit secara bergantian.  “Lo nggak mau balik ke kelas, Ai?” tanya gue sambil beranjak dari kursi.  Aira kembali duduk lalu menunjuk ke arah mangkuk bekas makan bakso gue. “Bakso lo nggak diabisin, Ka?” tanya Aira.  “Gue buru-buru. Abis ini pelajarannya Pak Frans. Lo tau sendiri guru prancis itu on time parah orangnya.”  Gue kira Aira akan berlari terlebih dulu meninggalkan gue di kantin seperti biasanya. Nyatanya dia melanjutkan menghabiskan sisa bakso milik gue sekaligus meneguk milkshake yang tersisa seperempat gelas hingga tandas. Gue cukup kaget melihat tingkah Aira.  “Lo yakin udah makan, Ai? Kalau masih lapar gue pesenin lagi. Dibungkus aja biar bisa lo makan di kelas. Gimana?”  “Nggak usah. Yuk, balik kelas. Udah mulai sepi,” ujar Aira kemudian bergegas meninggalkan gue yang masih berdiri mematung menatap kepergiaan Aira. Dan seperti biasanya dia sudah berlari terlebih dahulu meninggalkan gue di kantin.  Gue menatap punggung Aira yang semakin menjauh dari kantin dan menghilang di belokan menuju kelasnya yang berada di paling ujung lorong. Bodo amatlah. Mau dia udah makan atau belum aku nggak peduli. Yang terpenting saat ini adalah menemukan nomor handphone Syahila supaya gue bisa mengajak cewek itu malam mingguan.  ~~~  ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD