#Danendra
Saat jam istirahat gue mendatangi kelas Aira, masjid sekolah, ruang ekskul wall climbing, dan terakhir kantin. Tapi itu cewek moody-an nggak kelihatan di mana-mana. Akhirnya gue menghampiri Angel dan Zara, teman sekelas yang bisa dibilang paling dekat dengan Aira. Mereka berdua sedang makan sambil duduk berhadapan.
“Aira mana? Kok tumben nggak sama kalian?” tanya gue begitu duduk di samping Zara dan berhadapan dengan Angel.
“Tadi disamperin Kakak Ketua OSIS,” jawab Zara. “Kak Titan.”
“Trus?” tanya gue lagi.
“Ya, pergi.”
“Trus?”
“Ya nggak terus juga anaknya Pak Dastan. Nggak pinter-pinter lo.”
“Sialan lo! Ngapa Bokap gue lo bawa-bawa!”
Kedua cewek di samping dan hadapan gue ini saling cekikikan menertawakan kemarahan gue.
“Oiya, ini Aira tadi titip buku Geografi dan Aljabar punya elo. Kebiasaan, ya, lo. Suka banget ngerepotin Aira buat ngerjain PR-PR lo,” omel Angel sambil menyerahkan buku tulis Geografi dan Aljabar milik gue.
“Heh, Maemunah! Lo pikir temen lo itu nggak pernah ngerepotin gue?” kesal gue pada Angel. “Lo nggak tau aja kalo dia kemarin udah bikin heboh orang banyak. Nyusahin kuadrat temen lo itu, elah.”
“Anjrit lo! Temen lo juga itu, Bambang! Lo ke dia itu bukan ngerepotin, tapi emang udah kewajiban lo sebagai sahabatnya. Sebaliknya apa yang lo lakuin ke Aira itu yang sangat-sangat merepotkan. Kalau gue jadi Aira, mah, sorry-sorry aja disuruh ngerjain setiap PR-PR dan tugas-tugas lo cuma bayaran coklat.”
“Kok, lo yang sewot, sih, Angela?”
“Lo yang mulai duluan, Danendra!”
“Udah! Udah! Kalian berdua kenapa malah jadi bertengkar?” Akhirnya Zara melerai perdebatan antara gue dan Angel. “Bentar deh…Emang Aira bikin heboh apa kemarin?”
“Dia kabur. Gue nyariin sampai magrib. Gila, nggak, tuh?”
“Kabur gimana? Gue kemarin ngantar dia sampai depan gerbang yayasan Nyokap lo, kok. Katanya mau ada perlu sama seseorang di sana. Gue nggak nanya-nanya lagi karena gue buru-buru mau ke gereja.”
“Iya dia ada perlu sama sahabat kecilnya. Ya, sahabat gue juga. Tapi karena ngambek keinginannya nggak diturutin kabur naik bus.”
“Emang kebiasaan si Aira, nih!” celetuk Angel. “Kalau nggak diturutin pasti ngambek.”
“Iya, bener. Duh, bokapnya ngamuk nggak, ya?” sambut Zara.
“Kayaknya nggak, deh, Zar. Itu mukanya Aira dari pagi nggak ada tampang-tampang abis kena ceramah sama bokapnya. Lagi ya, setau gue bokapnya Aira itu sabar banget orangnya. Cuma emang keliatan pendiam orangnya.”
“Trus sekarang kira-kira kalian pada tau nggak, Aira ke mana?”
Angel mengedikkan bahunya tak acuh. Cewek dengan tampang blasteran nanggung itu malah asyik ngelanjutin aksi gibahnya sama Zara. Sepertinya dia masih kesal pada gue karena sekarang udah nggak menggubris pertanyaan gue lagi. Bisa dibilang Angel itu saksi hidup persahabatan gue dan Aira di sekolah. Dia sudah cukup dekat dengan Aira sejak SMP. Sementara Zara baru kenal saat SMA.
“Perasaan gue nggak enak sama Ketua OSIS itu,” celetuk Angel, saat gue dan Zara sama-sama sedang berpikir kira-kira Aira sedang berada di mana saat ini.
“Nggak enak gimana?” tanya gue mendekat ke arah Angel.
“Gini, loh, Ka. Cewek di sekolah ini yang lebih populer, lebih modis, lebih cantik dan lebih-lebih yang lain dari Aira itu banyak. Tapi kenapa Ketua OSIS itu malah milih Aira. Gue bukannya mau bilang Aira nggak ada apa-apanya, ya, dibanding mereka. Cuma nggak tau, deh. Perasaan gue nggak enak aja.”
“Maksud lo Aira nggak cantik, nggak modis, nggak populer, gitu?” balas gue. “Kalau dia mau sebenarnya bisa, kok, nyaingin cewek-cewek populer yang ada di sekolah ini. Dia cuma nggak suka dandan dan mainnya suka panas-panasan makanya nggak seputih lo semua.”
Angel berdecak sekaligus mencebikkan bibir bawahnya. “Tumben lo nggak terima gue bilang gitu? Biasa juga paling semangat lo ngeledekin Aira kurang cantik, kurang modis dan kurang putih,” cibir Angel.
“Kalian berdua daripada bertengkar, gimana kalau pacaran aja. Lebih seru kali ya,” komentar Zara.
“Ngadi-ngadi lo!” balas Angel sambil menarik poni Zara.
Stres gue lama-lama deket cewek-cewek bar-bar gini. Nggak Aira, nggak teman-temannya, semua barbar. Akhirnya gue memilih meninggalkan kantin dan mencari sendiri keberadaan Aira. Gue berpikir mungkin Aira saat ini sedang ada di perpustakaan. Kadang-kadang dia juga suka ngerem di tempat itu.
Saat langkah gue melewati jendela perpustakaan pandangan gue menangkap bayangan seseorang sedang duduk sendiri sambil menunduk membaca buku. Gue balik mundur dan mengetuk kaca jendela setelah tahu kalau sosok itu adalah Syahila. Namun meski gue mengetuk beberapa kali Syahila nggak kasih respon sama sekali. Akhirnya gue memutuskan untuk masuk perpustakaan.
“ID card lo!” perintah Leonard, teman sekelas gue yang sedang piket menjaga perpustakaan mencegah gue masuk.
“Gue cuma sebentar.”
“Mau sebentar, atau mau seharian tetap lo mesti nunjukin id card untuk buka palang ini.”
“Gue teman sekelas lo. Amnesia lo!”
“Aturannya emang gitu, Danendra!”
“Buka, nggak! Atau gue lompatin juga palang ini.”
Akhirnya Leonard mempersilakan gue masuk dengan catatan nggak membuat gaduh dan nggak boleh lebih dari sepuluh menit karena gue nggak bisa menunjuk Id card atau kartu perpustakaan milik gue. Semua kartu itu ada di dalam loker dan jarang gue keluarin karena memang gue jarang banget masuk ke tempat-tempat yang membutuhkan akses id card untuk masuk ke dalamnya. Seperti perpustakaan ini.
Leonard mengarahkan id card miliknya ke sensor ultrasonic yang tersedia. Saat lampu sensor berubah warna menjadi hijau palang yang tadi turun menjadi terangkat ke atas secara otomatis dan gue bisa memasuki perpustakaan. Gue mempercepat langkah mencari keberadaan Syahila. Sayangnya gue kehilangan jejak. Dia sudah nggak ada di tempat tadi gue menemukan dia sedang duduk membaca buku. Gue berkeliling perpustakaan. Senyum gue terkembang sempurna saat melihat Syahila sedang berada di salah satu lorong rak buku dan tampaknya kesulitan mengambil salah satu buku yang ingin dibacanya.
“Nyari apa, Kak?” tanya gue dari balik punggung Syahila yang sedang membungkuk entah mencari apa.
“Cari bangku kecil. Biasanya disediakan di tiap lorong,” jawab Syahila.
“Mau ambil buku yang mana? Biar saya bantu.”
Syahila otomatis menoleh dan gue nyengir kambing ketika kami berdiri saling berhadapan.
“Ternyata kamu.”
“Gimana? Mau diambilin buku yang mana?”
Syahila kemudian menunjuk salah satu judul buku yang dia butuhkan. Dengan mudahnya gue meraih buku itu tanpa perlu repot-repot berjinjit apalagi pakai bangku yang dari tadi dicari-cari oleh Syahila.
“Boleh satu lagi nggak?”
“Boleh banget. Yang mana, Kak?”
Syahila menunjuk judul buku yang ada di deretan teratas rak buku. Tentu saja hal itu bukan hal sulit buat gue. Tinggal sedikit meluruskan tangan, gue sudah bisa meraih buku tersebut.
“Makasih, ya,” ucap Syahila. Dia melangkah menuju ke meja tempat tadi gue menemukan keberadaannya pertama kali.
Gue kira Syahila akan duduk lagi. Tapi ternyata dia membereskan buku-bukunya lalu berjalan menuju pintu keluar. Gue seperti kerbau dicucuk hidungnya karena terus mengikuti langkah Syahila.
“Kamu nggak sedang mengikuti saya, kan, Danendra?” tanya Syahila karena gue masih berdiri di belakang cewek itu. “Buku yang saya butuhkan kata Leonard lagi dipinjam. Jadi saya udahan di perpus.”
“Kalau nanti dibalikin gimana?”
“Leonard kan sekelas, nanti dia yang ngabari soal buku itu.”
Syahila mengangguk paham. Sementara gue melempar tatapan mengancam pada Leonard dan memberi kode pada cowok berkacamata itu supaya tutup mulut. Dia cuma bisa pasrah dan mengangguk sopan saat beradu tatap dengan Syahila.
“Jangan lupa kabari Danendra kalau buku yang dicari dia udah dikembalikan, ya, Leon,” ujar Syahila mengingatkan Leonard.
“Iya, Kak. Gampang itu. Kami sekelas ini, kok.”
Gue dan Syahila keluar dari perpustakaan berbarengan. Gue menambah satu langkah ke depan supaya sejajar dengan langkah Syahila. “Kak Syahila sudah makan?” tanya gue iseng.
“Lala, panggil aja saya Lala. Meski saya kakak kelas tapi usia kita seumuran karena saya sekolah lebih awal dan saat SMP mengambil kelas akselerasi.”
“Oke. Jadi nggak apa-apa panggila nama panggilan doang? Nanti saya dihajar sama teman-teman seangkatan kamu, lagi.”
“Nggaklah, santai aja.”
“Kalau gitu panggil saya Daka aja. Deal?”
“Deal…Ngobrolnya nggak usah terlalu formal juga bisa kali, ya.”
“Wah, boleh banget. Jadi, lo udah makan? Kalau belum kebetulan gue juga belum makan.”
“Kita ke kantin atas aja ya. Di kantin bawah pasti ramai banget.”
Gue menggaruk tengkuk yang sebenarnya nggak gatel. “Kayaknya nggak mungkin anak kelas sepuluh makan di kantin atas,” ujar gue.
Fyi, aja. Sekolah gue ini parah banget sama yang namanya mandang kasta. Status sosial di sini adalah hal yang paling sangat diagung-agungkan. Apalagi antar anak beda angkatan. Soal kantin aja, nih. Padahal sebenarnya kantin manapun boleh dipakai siapa saja. Namun oleh segelintir orang seolah dipetakan menjadi kantin bawah untuk seluruh murid kelas sepuluh, murid-murid kelas sebelas dan dua belas yang bukan dari kelas favorit. Sementara kantin atas dikhususkan untuk murid-murid dari kalangan kelas sebelas dan dua belas dari kelas favorit dan anak-anak konglomerat. Secara status sosial sebenarnya gue bisa-bisa saja naik makan ke kantin atas, tapi karena gue masih kelas sepuluh jadi aturan larangan masih berlaku untuk gue.
“Siapa bilang nggak mungkin? Gue tadi lihat teman lo di kantin atas,” jawab Syahila setelah kami berhenti melangkah tepat di depan pintu lift.
“Temen gue? Siapa?” tanya gue nggak ngerti.
Bertepatan dengan itu terdengar bunyi ‘ding’ lalu pintu lift terbuka. Di dalam lift ada Aira dan cowok yang gue tebak bernama Titan sedang ngobrol. Entah apa yang sedang mereka bicarakan sampai-sampai Aira tertawa seperti itu.
“Daka? Mau ke mana lo?” tanya Aira begitu keluar dari dalam lift.
Gue tersenyum sinis. Gue yang tadinya sudah melupakan tujuan gue adalah mencari Aira, seketika kembali teringat. Detik itu juga gue meraih tangan Aira dan menyeretnya dari hadapan Titan dan Syahila.
~~~
^vee^