Mata Aura dan Kaisar saling beradu, ada rasa aneh yang menjalar di hati Aura.
Tangan Aura yang masih ada di pipi Kaisar di genggam oleh Kaisar.
Mata Aura membola saat telapak tangannya dibawa ke bibi Kaisar lalu dicium nya dalam.
"Nggak ada selingkuhan, karena kamu bakalan jadi satu satunya dalam hidup ku dan hatiku."
Aura masih mencerna apa yang di lakukan oleh Kaisar hari ini.
"Cincin itu, cincin turun temurun dari papa. Dan papa bilang hanya boleh kasih cincin itu buat wanita yang akan jadi satu satunya di hidupku."
Aura masih berada dalam pelukan Kaisar. Dia tak tahu harus menghadapi Kaisar seperti apa. Karena dalam benaknya dia sama sekali tak berpikir jika calon suami Meisya adalah laki laki berbahaya seperti Kaisar.
"Tinggal disini, nggak perlu beli rumah. Dan aku bakal pulang kesini."
Lagi lagi Kaisar membuat Aura bingung dengan sikapnya.
"Kamu kasihan sama aku?" tanya Aura langsung.
Kaisar terdiam, tapi kemudian tangannya mengusap pipi Aura yang terlihat tirus.
"Aku nggak pernah kasihan sama seseorang, tapi saat aku melihatmu pertama kali aku tertarik. Terlebih kamu mampu mengalahkan ku di arena. Wanita seperti mu langka sekali."
Aku nggak mungkin jujur kalau rasa kasihan itu mendominasi hati ku. Tapi kamu bukan wanita yang mau di kasihani. Kamu seperti mama yang akan berdiri tegak dengan kaki mu sendiri, dan aku akan seperti papa yang akan selalu menjagamu juga sebagai pendukung mu. batin Kaisar.
Aura tak bisa mengatakan apapun lagi pada Kaisar. Dia terdiam cukup lama, lalu tersenyum ke arah Kaisar.
"Aku akan tinggal disini, dengan satu syarat."
Kaisar menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu nggak boleh keluar sama Meisya apapun yang terjadi tanpa seijinku."
Mata Kaisar berbinar, dia merasa jika Aura sudah membuka pintu untuknya. Tanpa menjawab apapun, Kaisar meraih tengkuk Aura lalu mencium bibir Aura. Mata Aura membola saat Kaisar kembali menciumnya. Aura tak mendorong atau menolak, dia membiarkan Kaisar menikmatinya. Perlahan mata Aura tertutup, lalu Aura mengikuti apa yang sedang Kaisar lakukan.
Aku nggak peduli kalau kamu cuma mau manfaatin aku buat balas mereka. Tapi aku pastiin kalau kamu nggak akan bisa lepas dari ku apapun caranya. batin Kaisar.
Hampir setengah jam berlalu, dan Kaisar perlahan melepaskan ciuman itu karena ponselnya berbunyi.
Nama Reynald tertera disana.
"Kai, aku di depan apartemen. Mau minta tanda tangan berkas, ada proposal yang harus di bereskan pagi ini."
Kaisar menutup telfon itu, lalu beralih pada Aura.
"Aku buka pintu dulu."
Kaisar ingin beranjak dari kamar itu, tapi tangan Aura menahannya.
Kaisar melihat Aura penuh tanya, tapi kemudian dia tahu jika Aura ingin ikut dengannya.
Kaisar menarik lembut tangan Aura agar Aura berdiri. Kaisar juga merapikan baju Aura.
"Habis ini kita beli baju dan keperluan kamu yang lain."
Aura mengangguk, lalu dia mengikuti Kaisar keluar dari dalam kamar.
Aura masih terus melihat punggung Kaisar yang lebar.
Pantas Meisya tergila gila sama laki laki ini. Tapi Meisya terlalu bodoh karena merasa dia bisa bermain dengan hidup Kaisar. batin Aura.
Ceklek....
Pintu terbuka, Reynald yang ingin mengomel langsung melongo saat melihat Kaisar bersama Aura. Bahkan tangan mereka saling bertaut.
"Ngapain bengong? Kamu nggak masuk?"
Reynald melangkah masuk seperti robot. Apalagi melihat Kaisar bersama Aura. Terlebih saat Kaisar memperlakukan Aura lembut. Jangan lupakan, Kaisar bersentuhan dengan Aura.
Ini nggak mimpi kan ya? Sejak kapan mereka bersama?
Reynald melihat Kaisar dan Aura bergantian.
Aura duduk di sebelah Kaisar. Dia melihat Reynald aneh, karena sejak tadi Reynald terus menatapnya.
"Kai, dia siapa?" tanya Aura.
Kaisar yang sedang menandatangi berkas mengalihkan perhatiannya pada Reynald.
"Asisten dan segala macam." jawab Kaisar asal.
"Hah?"
Aura melongo mendengar jawaban Kaisar, tapi berbeda dengan Reynald yang mendengus kesal.
"Sayang....."
"Hm.... eh...."
Aura menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia berdehem pelan sedikit salah tingkah karena kejadian barusan. Reynald seperti patung tak terlihat di tengah tengah mereka.
Kaisar tersenyum geli melihat wajah salah tingkah Aura. Dia mengusap kepala Aura agar Aura tak malu.
"Masuk kamar dulu istirahat. Obat dari aunty Amara jangan lupa di minum."
Aura menurut, dia lalu bergegas masuk ke dalam kamar Kaisar.
Sedangkan Reynald langsung menatap Kaisar tajam penuh pertanyaan.
"Jelaskan padaku, kenapa dia bisa ada disini? Dan tadi? Sayang? Semudah itu?" selidik Reynald.
Kaisar meletakkan pulpen yang dia pegang. Dia duduk bersandar di sofa.
Menghela napas panjang.
"Tadi pagi aku ke rumah aunty, dia sudah pergi pulang ke rumahnya. Dan gilanya aku menyusul kesana. Saat aku tiba disana, aku menyaksikan sendiri bagaimana Meisya berusaha menekan Aura. Bahkan semua orang yang ada disana memojokkannya. Yang lebih mengejutkan lagi, semua punggungnya bekas luka yang masih basah. Saat aku membawanya kesini dengan alasan memberikan mobilnya dia menceritakan, tak hanya sekali pembunuh bayaran mengincarnya."
Reynald tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Aura. Dia masih hidup sampai saat ini.
"Dan??"
"Dia bersama ku saat ini. Dia hanya mengajukan syarat jika aku tak boleh bertemu Meisya tanpa ijin darinya."
Reynald sempat tercengang dengan kalimat yang terlontar dari mulut Kaisar.
"Kamu setuju? Kamu nggak takut dia manfaatin kamu?"
"Sekalipun dia manfaatin aku, juga nggak masalah. Selama dia ada di sisiku, aku akan ikuti kemauannya. Papa dan mama sudah setuju, apa yang aku cari. Yang paling utama, ketika aku bersentuhan dengan nya, ruam di badanku tak terjadi."
Satu lagi yang bikin Reynald terkejut, melihat keseriusan Kaisar saat ini, Reynald yakin jika Aura lah yang akan menjadi pasangan Kaisar. Reynald tak sengaja melirik jari tangan Kaisar, tak ada cincin keluarganya.
"Jangan bilang kalau cincin itu?"
Kaisar mengangguk sebagai jawaban. Mereka berdua menoleh ke arah kamar Kaisar. Aura keluar dari kamar itu ingin pergi membuka pintu.
"Mau kemana?" cegah Kaisar.
"Ambil pesanan makanan."
Kaisar bangkit dari duduknya, dia menarik Aura agar Aura kembali duduk di sebelahnya.
Lalu Kaisar menggantikan Aura untuk mengambil pesanan makanan yang di maksud Aura. Reynald menelisik Aura yang terlihat polos tapi Reynald tahu jika Aura tak sepolos dan sesederhana itu.
Dan cincin Kaisar memang di pakai oleh Aura.
Cincinnya pas di jari dia? batin Reynald penuh tanda tanya.
Selama ini Reynald pernah beberapa kali mencoba cincin Kaisar tapi tak pernah pas di jarinya. Padahal ukuran jari mereka sama.
Kaisar kembali membawa beberapa makanan kesana.
"Kenapa banyak sekali?"
"Sarapan sama kamu dan dia!" tunjuk Aura dengan dagunya.
Reynald menunjuk dirinya sendiri, lalu melihat Aura mengangguk. Matanya langsung berbinar saat tahu jika Aura juga membelikan makanan untuknya.
"Kenapa dia juga di belikan?" protes Kaisar tak senang
"Biar dia nggak curiga terus kepadaku. Atau dia mau coba balapan juga dengan ku?"
Uhuk.....
Reynald tersedak minuman. Dia buru buru mengelap mulutnya lalu menatap Aura tak terima.
"Kamu menantang ku?"
Aura menggeleng, "Jika Kaisar saja yang raja jalanan kalah dengan ku, bagaimana dengan kamu?" ledek Aura.
Kaisar menahan tawanya mendengar jawaban Aura.
Sedangkan Reynald sudah komat Kamit memaki Aura dengan wajah kesalnya. Dan sialnya, dia tetap menikmati makanan yang di pesan oleh Aura.
Kaisar sejak tadi memperhatikan Aura yang sedang makan dengan tenang seolah tak terusik dengan kehadiran nya dan juga Reynald.
Spontan, tangan Kaisar meraih tengkuk Aura lalu menciumnya di depan Reynald.
Mata Aura berkedip karena kaget dengan apa yang di lakukan Kaisar kepadanya. Berbeda dengan Reynald yang langsung melotot ke arah dua orang yang sedang berciuman di depannya.
Aura mendorong d**a Kaisar.
"Apa yang kamu lakuin? Aku sedang makan!"
Kaisar mengusap bibir Aura dengan jempolnya lalu menghisap sendiri jempol itu.
Aura bergidik melihat sikap Kaisar saat ini.
"Hanya terlalu gemas dengan mu, jika kamu tak terluka mungkin aku sudah mengurung mu di kamarku!"
Wajah Aura tiba tiba panas, dia langsung menunduk dan kembali melanjutkan makannya.
Berbeda dengan Reynald yang ingin pingsan. Kaisar yang terkenal arogan dan alergi dengan wanita mengucapkan hal menjijikan saat ini.
"Sepertinya dunia akan kiamat setelah ini!" dumel Reynald.
Drrt....
Ponsel Kaisar bergetar, ada panggilan masuk dari Meisya.
Mereka bertiga saling pandang, tapi jari Aura bergerak untuk mengangkat telfon itu.
Tak lupa menyalakan fitur loud speaker agar mereka semua bisa mendengarkan.
"Kaisar, kamu dimana? Aku ingin bertemu. Nenek Melati menyuruh ku untuk menghubungi. Dia ingin makan siang bersama kita."
Kaisar melihat ke arah Aura dan Aura langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
to be continued