Aura kembali melanjutkan makannya setelah memberi gelengan kepala pada Kaisar.
"Aku sibuk, jika kamu ingin makan bersama nenek pergi saja."
Bip....
Kaisar mematikan sepihak telfon itu lalu melanjutkan sarapannya yang terganggu karena Meisya.
Tapi detik berikutnya, Aura menyeringai. Dia mempunyai rencana untuk memberi Meisya sambutan kecil kecilan.
"Tanya saja dia makan dimana, kalau kamu nggak sibuk kamu akan kesana."
Kaisar dan Reynald saling melirik, lalu melihat Aura dengan penuh tanda tanya. Sedangkan Aura terlihat santai menikmati makanannya kembali.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Kaisar penasaran.
"Membuat Meisya gila secara perlahan!"
Nada bicara Aura lebih rendah dari pada sebelumnya. Sorot mata Aura penuh kebencian pada Meisya.
Reynald yang melihat itu bergidik ngeri, jika Aura seperti ini, dia lebih menakutkan dari pada Kaisar.
Kaisar mengambil kembali ponselnya, lalu mengetikkan sesuatu disana, mengikuti apa yang di katakan Aura. Lalu mereka bertiga kembali menikmati sarapan mereka dengan tenang, seolah nanti tak akan ada hal menyenangkan.
#
Di satu sisi, Meisya yang hampir saja mengamuk langsung tersenyum lebar saat Kaisar mengiriminya pesan jika dia akan menyusulnya nanti.
"Kali ini, aku harus bisa berdua aja di mobil Kaisar. Aku nggak boleh gagal, bukannya kita udah sama sama dewasa? " gumam Meisya.
Dia lalu pergi bersiap, memilih pakaian yang paling bagus untuk bertemu dengan Kaisar.
Bella yang masuk ke dalam Meisya mengerutkan keningnya penasaran.
"Kamu jadi pergi?"
Meisya mengangguk sambil tersenyum lebar. Dia lalu memilih kembali pakaian yang ingin dia kenakan untuk bertemu Kaisar.
Bell tentu saja ikut senang, karena dia tak sabar dengan pernikahan Meisya dan Kaisar. Membayangkan dia akan mempunyai menantu yang kaya raya dan di takuti semua orang membuat Bella semakin sombong. Bahkan semua teman teman sosialita nya juga sudah di beri tahu tentang pernikahan Meisya.
"Bagus kalau kamu jadi pergi, jangan lupa selalu buat nenek Melati semakin menyukaimu. Jika dia menyukai mu, Kaisar pasti tak bisa menolak semua keinginannya."
Meisya mengangguk mengerti, selain itu dia punya rencana sendiri untuk menaklukkan Kaisar.
"Mama tenang aja, aku yakin bisa bikin Kaisar bertekuk lutut di kakiku. Dia yang akan mengemis cinta sama aku!"
Bella tersenyum puas dan bangga dengan Meisya. Selama ini dia membenci Aura yang sangat susah untuk di habisi. Berkali kali usahanya gagal, bahkan yang terakhir kali pun semua orang suruhannya dan Meisya menghilang tanpa jejak.
Meisya sudah selesai bersiap, di depan juga sudah menunggu sopir Melati yang akan membawanya pergi menemui Melati.
"Meisya jangan sampai Aura menggagalkan rencanamu lagi. Buat nenek Melati semakin membencinya. Ingat, Aura hanya boleh memberikan uangnya untuk pernikahan mu. Karena itu adalah milik kita."
Meisya mengangguk mengerti, karena dia tak akan membiarkan Aura kembali lolos.
"Ma, apa mama udah tahu dimana Aura tinggal sekarang?"
Bella menggeleng, Aura seolah di telan bumi karena menghilang begitu saja setelah kejadian kemarin.
"Biarkan saja, dia nggak akan bisa melakukan apa apa saat ini. Mama yakin dia akan muncul sendiri setelah ini."
Meisya mengangguk, dan percaya dengan yang di katakan Bella.
Selama ini, Aura bergerak sendiri dan tak ada yang membantu dia jadi tak mungkin dia bisa lolos berkali kali.
"Pergilah, jangan bikin nenek Melati menunggumu."
Meisya segera pergi menemui Melati, dan juga tak lupa mengabari Kaisar dimana mereka akan makan siang.
Setelah kepergian Meisya, Bella menghubungi seseorang untuk melaksanakan apa yang dia inginkan.
"Jika kamu bisa menemukannya, aku akan membayar kamu dua kali lipat. Dan pastikan jika dia langsung tewas saat itu juga."
#
Kaisar yang sudah mendapatkan alamat restoran itu segera berangkat bersama Aura. Reynald ternyata juga memilih ikut dengan mereka.
"Semua sudah siap, di tempat nya."
Kaisar mengangguk, dia mengikuti semua rencana Aura sekalian dia juga menyelesaikan urusan kantornya.
Kaisar kadang tak bisa menebak jalan pikiran Aura saat ini. Bahkan setiap ekspresi wajah yang keluar itu juga sering berbeda.
Selang berapa waktu, mereka tiba di resto dimana Melati dan Meisya sudah menunggu Kaisar.
"Pergilah temui mereka, biar kerjaan di urus lebih dulu sama Reynald."
Kaisar sebenarnya enggan menemui Meisya, karena selama ini hubungan itu terjadi karena Melati.
Beberapa kali Melati mengancam bunuh diri jika Kaisar tak mau pergi bertemu dengan Melati.
Aura yang melihat Kaisar enggan, menarik kerah baju Kaisar lalu mencium pipi Kaisar sekilas. Tak peduli dimana mereka berada saat ini.
"Udah kan?"
Kaisar yang kaget menoleh ke arah Aura yang sudah tersenyum manis ke arahnya.
Beruntung Reynald sudah masuk terlebih dahulu. Jika Reynald melihat itu, dia pasti akan mengomel lagi.
Kaisar mengusap kepala Aura gemas. Lalu pergi dari sana.
Aura yang sejak tadi tersenyum manis pada Kaisar, senyum itu langsung menghilang detik dimana Kaisar sudah berjalan masuk ke dalam restoran.
Aura mengambil ponselnya, menyuruh Jasmine untuk datang kesana.
Dengan wajah yang terlihat datar tapi tetap anggun, Aura memasuki restoran itu lalu memesan private room untuknya sendiri.
Di dalam ruangan itu, dia menunggu Kaisar dan Reynald juga Jasmine.
Memesan banyak makanan untuk mereka berempat. Tak lupa juga, Aura membayar pihak restoran agar tak ada orang yang bisa mengganggunya nanti saat semua sudah siap.
Dan tentu saja, restoran kelas atas itu menyanggupi permintaan Aura.
#
Di meja makan tempat Melati dan Meisya menunggu terlihat sudah ada beberapa menu untuk makan siang.
"Kaisar, nenek senang jika kamu bisa meluangkan waktu dengan Meisya seperti ini. Sering sering ajak Meisya berkencan, jangan selalu sibuk dengan pekerjaan mu."
Kaisar tak menyahut, dia masih memasang wajah yang dingin di depan Meisya.
Meisya sedikit kecewa karena Kaisar tak menanggapi perkataan Melati.
Meisya berusaha meraih tangan Kaisar tapi Kaisar langsung menghindar.
"Aku sudah datang, jadi lebih baik segera makan siang. Aku ada urusan setelah ini."
Kaisar mengambil minumannya lalu meneguknya sampai tandas.
Dia melihat Meisya yang semakin membuatnya kesal.
"Dan kamu, apa kamu nggak bisa pakai baju yang lebih layak. Lalu apa itu make up mu, apa aku harus berjalan dengan Tante Tante karena make up mu yang terlalu berlebihan?"
Meisya yang di tegur Kaisar terkesiap, berbeda dengan Melati yang langsung tak suka dengan semua kalimat yang di lontarkan Kaisar.
"Kaisar, Meisya sudah cantik. Hargai dia, jangan memarahinya seperti ini. Dia melajukan itu semua demi kamu!"
Meisya yang awalnya mulai kesal, tersenyum lebar mendengar pembelaan dari Melati. Meisya meraih lengan Melati lalu memasang wajah melasnya.
"Nenek, jangan marahi Kaisar. Aku akan beli baju baru nanti dan beli make up yang baru biar Kaisar suka."
Kaisar ingin muntah rasanya saat ini, begitu juga dengan Aura yang sejak tadi mendengarkan semua itu.
Ponsel Kaisar menyala dan terhubung dengan Aura.
"Cantik darimana? Bahkan rekan kerja ku tak pernah berpakaian atau menggunakan make up seperti ini. Dan juga, astaga Meisya. Bukannya aku sudah membelikan parfum yang baru, kenapa kamu malah pake parfum yang baunya menyengat seperti ini. Kamu lupa aku alergi dengan parfum seperti ini!"
Kali ini suara Kaisar sedikit meninggi karena badannya mulai merasa tak nyaman..
Di seberang telfon, Aura baru tahu jika Kaisar bisa Alergi dengan bau parfum.
Meisya yang kali ini benar benar membuat Kaisar marah meremas ujung bajunya karena takut.
Belum sempat Meisya membela diri ponsel Kaisar berdering dan itu dari Reynald.
"Aku segera kesana."
Kaisar yang baru saja mendapat telfon dari Reynald kembali berdiri.
"Aku ada urusan, kalian makan sendiri. Semua sudah aku bayar jadi habiskan. Jika nenek tak menghabiskan makanan ini, aku pastikan papa yang akan turun tangan langsung. Ingat kata papa, jangan sampai membuang makanan."
Tanpa menunggu jawaban dari neneknya, Kaisar pergi dari sana dengan cepat. Meisya yang tak terima Kaisar pergi, bergegas menyusul Kaisar. Saat Meisya sedang celingukan mencari Kaisar, di depannya dia melihat Aura yang sedang menggandeng seorang laki laki lalu membawanya pergi masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Tunggu, itu kan jaket Kaisar. Apa yang di lakukan Kaisar dengan Aura?" gumam Meisya.
Dia sudah meradang karena melihat Aura dan Kaisar.
Saat dia sampai di lorong ruang VVIP mata Meisya melotot karena Aura sedang berciuman dengan laki laki yang mirip dengan Kaisar.
Dengan langkah cepat, Meisya menghampiri Aura yang masuk ke dalam sebuah ruangan.
Brak....
"Aura dimana kamu hah?" teriak Meisya keras.
Semua orang yang ada di ruangan itu menoleh. Lalu mata Meisya melotot saat melihat Kaisar sedang duduk disana bersama beberapa koleganya.
"Apa yang kamu lakukan?"
to be continued