"Apa yang kamu lakukan disini? Bukannya aku sudah bilang aku ada urusan? Kenapa kamu malah mengganggu pekerjaan ku?"
Tubuh Meisya gemetar ketakutan melihat Kaisar tengah marah kepadanya.
"Siapa dia Kaisar? Dia mengganggu rapat kita!"
"Bukan siapa siapa!"
Tubuh Meisya mematung, jawaban Kaisar membuatnya sakit hati. Tapi dia tak bisa melawan Kaisar apalagi ini adalah kelalaiannya yang curiga dengan Kaisar.
Aku nggak mungkin salah lihat, tadi itu Aura tengah berciuman dengan Kaisar. Tapi kenapa dia tiba tiba tidak ada? Apa aku salah lihat? Tapi nggak mungkin. batin Meisya.
Meisya bergelut dengan pikirannya sendiri saat ini. Kaisar memberi kode pada anak buahnya untuk membawa Meisya pergi dari sana. Dia tak ingin melihat Meisya lagi.
"Usir dia!"
Mata Meisya melotot saat mendengar itu. Dia menggeleng cepat, dia tak ingin pergi dari sana. Dia ingin menemani Kaisar rapat agar orang orang itu juga mengenalnya sebagai pasangan Kaisar.
"Kaisar, jangan usir aku. Kamu nggak bisa kayak gini sama aku!"
Meisya di seret keluar oleh pengawal Kaisar. Tepat saat pintu akan di tutup, Aura keluar dari belakang tempat duduk Kaisar, lalu memeluk Kaisar dari belakang. Matanya tertuju pada Meisya yang tengah melihatnya dengan mata terbelalak. Bahkan Meisya juga sempat melihat, Aura berciuman dengan Kaisar.
"Aura, sialan kamu. Kaisar tunangan ku!!!" teriak Meisya seperti orang gila.
Melati yang menyusul Meisya melihat Meisya sedang di seret pengawal Kaisar bingung. Apa yang terjadi dengan Meisya sampai Meisya seperti itu.
"Meisya, ada apa? Kenapa kamu berteriak seperti ini?"
Meisya yang melihat keberadaan Melati, menarik tangan Melati keras yang membuat Melati marah. Dia mengibaskan tangan Meisya keras.
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan hah? Apa kamu gila, banyak orang sedang melihatnya!" bentak Melati keras.
Meisya berjingkat kaget, tubuhnya mundur ke belakang.
Lalu dia beralih pada pengawal Kaisar yang baru saja menyeretnya.
"Nenek, di dalam Aura sedang bermesraan dengan Kaisar. Aku melihatnya sendiri."
Mata Melati melebar, dia lalu beralih pada pengawal Kaisar.
"Apa yang di katakannya benar, Kaisar selingkuh?"
Meisya tersenyum lebar saat Melati mulai termakan omongannya.
"Tidak nyonya Melati. Tuan muda sedang rapat penting dengan koleganya dari luar negeri. Dan ini menyangkut investasi yang jumlahnya tak sedikit. Tapi nona ini tiba tiba menerobos masuk ke dalam dan hampir saja membuat tuan muda rugi besar."
Meisya menggeleng, dia tahu pengawal itu berbohong. Di dalam sana, dia melihat Aura yang sedang berpelukan bahkan berciuman dengan Kaisar.
"Mereka bohong nenek, ayo nenek harus lihat!"
Meisya bahkan menarik tangan Melati untuk membuka pintu ruangan itu.
Brak.....
Melati membuka paksa pintu itu, tapi lagi lagi yang di lihat Meisya sama seperti tadi. Kaisar yang sedang membahas pekerjaan dengan mereka yang ada disana. Tak ada keberadaan Aura sama sekali.
"Apalagi ini??"
"Nenek, apa yang kamu lakukan? Kenapa kalian senang sekali menggangguku?"
Suara Kaisar menggelegar disana, Melati terkesiap karena kali ini Kaisar benar benar marah kepadanya.
Dan itu semua karena Meisya.
Kaisar sudah memijat kepalanya yang berdenyut karena ulah Meisya dan Melati. Dia berdiri dari duduknya dan rapat di lanjutkan oleh Reynald.
Kaisar keluar dari ruangan itu dengan wajah yang sudah merah padam.
"Nenek keterlaluan, apa Kaisar terlalu memanjakan nenek sampai nenek tak tahu malu seperti ini. Kaisar sedang kerja, dan Nenek malah mengacaukan pekerjaan Kaisar!!!" bentak Kaisar keras.
Kapan lagi, Kaisar bisa melampiaskan semua kekesalannya pada Melati selama ini. Terlebih ini kesempatan nya untuk semakin menjauh dari Meisya.
Meisya yang melihat Kaisar membentak Melati pun mengkerut. Tubuhnya menggigil ketakutan. Sementara Melati, dia memegang dadanya karena kaget dengan bentakan Kaisar.
"Ini semua pasti karena wanita ini kan? Dia yang udah bikin nenek seperti ini? Sepertinya aku akan mikir ulang untuk menikah dengan nya. Wanita ini pilihan nenek, dan selama ini aku hanya mengikuti kemauan nenek. Dan hari ini karena wanita bodoh ini, aku rugi milyaran!!"
Meisya yang tak terima dengan perkataan Kaisar meradang.
"Kamu yang selingkuh sama Aura di dalam, tapi kamu ngatain aku bodoh? Kaisar, kamu sadar dengan ucapanmu. Aku ini tunangan kamu!"
"Siapa yang ada di dalam?"
Semua orang menoleh, dari arah lorong masuk ke ruangan VIP muncul Aura bersama Jasmine yang menatap semua orang dengan bingung.
Mata Meisya membelalak dengan kedatangan Aura disana, apalagi melewati pintu masuk ruangan VIP.
"A-aura, kamu?"
Aura menatap aneh Meisya yang sepertinya kaget saat melihatnya.
"Aku kenapa? Aku baru saja tiba disini, dan melihat kalian ini kenapa?"
Melati yang merasa di permainkan oleh Meisya menggeram marah.
Plak....
Satu tamparan keras mendarat di pipi Meisya. Aura dan Jasmine meringis seolah merasakan kesakitan di pipinya.
"Kamu berani sekali Meisya, lihat apa yang kamu lakukan. Kamu menuduh adikmu berselingkuh dengan tunangan mu. Sedangkan dia baru saja tiba disini."
Meisya menatap Melati dengan nyalang, lalu beralih pada Aura yang juga melihatnya dengan senyuman mengejeknya.
"Aura, ini pasti ulah kamu. Semua ini pasti kamu rencanakan sama mereka kan?" tuduh Meisya.
Aura menunjuk dirinya sendiri lalu tertawa.
"Meisya, kakakku tersayang. Bagiamana aku bisa merencanakan semuanya kalau aku baru tahu kalau dia tunangan kamu. Dan, aku kesini karena di ajak sama Jasmine. Dia mau merayakan ulang tahun nya di restoran ini. Jadi atas dasar apa kamu nuduh begitu."
Meisya menggeleng, tak percaya. Melati yang sudah kepalang tanggung malu dengan semuanya begitu kesal dengan Meisya. Bisa bisanya dia membuat Kaisar murka seperti itu.
"Lebih baik, bawa perempuan ini pergi nenek. Dan satu lagi, aku akan bilang sama papa dan mama kalau pernikahan aku batal. Aku nggak mau nikah sama cewek kayak dia yang nggak ngertiin kerjaan ku. Kalau nenek dan cewek ini masih maksa aku buat nikah lagi, ganti semua kerugian ku yang milyaran itu!"
Setelah mengatakan itu, Kaisar masuk ke dalam ruangan lagi meninggalkan Meisya yang sudah ambruk ke lantai.
Berbeda dengan Aura dan Jasmine yang melewatinya dengan tenang.
Aura sempat melirik Meisya penuh kemenangan.
Ini baru permulaan Meisya, semua akan aku kembalikan berkali kali lipat dari yang udah kamu kasih ke aku. batin Aura.
Jasmine menggenggam tangan Aura erat. Dia yang sejak tadi membuat Aura bertahan untuk tak emosi.
Saat Aura sampai di ruangan yang dia pesan, disana sudah ada Kaisar juga Reynald yang menunggunya.
Kaisar menepuk kursi yang ada di sebelahnya. Aura tersenyum lalu berjalan ke arah Kaisar.
Jasmine mengambil tempat di sebelah Reynald. Tatapan matanya tertuju pada Kaisar dan Aura yang tiba tiba bersama. Bahkan Kaisar dengan santai memeluk bahu Aura tanpa sungkan. Sesekali mencium rambut Aura di depan Jasmine dan Reynald tanpa malu.
"Jadi katakan, apa yang terjadi sama kalian berdua. Kenapa tiba tiba banget kalian bersama, dan juga rencana ini? Padahal beberapa waktu lalu kalian masih balapan."
Aura menggaruk pelipisnya bingung. Sedangkan Kaisar enggan menjelaskan lebih rinci.
Saat ini mereka berempat ada di ruangan yang gandeng dengan ruangan yang di buat meting oleh Kaisar tadi. Bukan berniat bohong, tapi meting tadi hanya meting biasa dan tak akan membuatnya rugi. Orang orang yang ada disana, anggota Kaisar yang sering sekali mengadakan balapan mobil. Jadi mereka juga kenal dengan Aura. Awalnya mereka syok, dengan semua rencana itu. Tapi ternyata mereka bersedia membantu. Selentingan tentang keluarga Aura pernah mereka dengar. Apalagi mereka juga sering bersama Aura. Banyak sekali Aura membantu mereka saat di arena balap.
"Aura, jelaskan padaku. Kenapa malah diam aja?"
"Kaisar yang nolongin aku waktu aku di serang kemarin. Dan ya, dia yang ngasih aku tumpangan tempat tinggal. Sekalian juga aku bantuin dia pisah sama Meisya."
Jasmine tak serta merta percaya pada perkataan Aura begitu saja. Matanya menyipit curiga kepada Aura.
Kaisar yang sejak tadi bermain dengan helai rambut Aura menatap Jasmine tajam.
"Aku nggak akan sakiti sahabatmu ini. Kamu tenang aja, bukannya kamu juga baru aja mutusin Reynald. Jadi mendingan urus urusan kalian sendiri!"
Mata Aura melebar, lalu Aura melihat ke arah Kaisar dengan penuh tanda tanya. Sedangkan Jasmine sudah gelagapan seperti cacing kepanasan.
Aura menatap tajam ke arah Jasmine karena dia baru tahu jika Jasmine berhubungan dengan Reynald
"Hehehe, maaf Aura. Bukan nggak mau bilang, cuma aku belum nemu waktu yang pas buat cerita."
Aura mencebikkan bibir bawahnya mendengar alasan klasik dari Jasmine. Reynald sendiri sejak tadi hanya diam tak menyahut sama sekali.
"Jadi kamu masih ngira Reynald selingkuh?"
to be continued