Meisya memburu Kaisar dengan naik tangga darurat. Dia benar benar melihat Aura dan Kaisar berciuman di lift tadi. Pikirannya kembali kacau, semua ingatkan tentang kejadian di restoran tempo hari kembali muncul. Meisya sangat yakin jika Aura benar benar bersama Kaisar saat ini. Kedua kalinya Meisya melihat kejadian yang sama.
Kaisar sendiri menikmati apa yang Aura lakukan kepadanya. Semua rencana Aura membuatnya untung banyak. Kaisar tak merasa dimanfaatkan oleh rencana gila Aura yang ingin membuat kesal Meisya.
Apalagi dengan rencana gila itu, Kaisar juga bisa lepas dari Meisya.
Reynald yang melihat Meisya menggila dengan naik tangga darurat sebenarnya kasihan tapi dia ingin sekali tertawa. Lift yang di gunakan Kaisar adalah lift khusus. Meskipun ada tulisan nomer yang bergerak tapi setiap detail mempunyai ruangan khusus untuk Kaisar.
"Kaisar.... gimana rasanya bercinta di dalam lift?" goda Aura.
Kaisar menaikan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Aura yang tiba tiba. Sesuatu yang membuatnya semakin tertarik dengan Aura. Hal gila dan juga idenya yang kadang tak masuk akal untuk Kaisar.
"Mau coba baby? Kalau kamu mau coba aku bisa wujudin yang kamu mau."
Aura mendekat ke arah Kaisar, menggoda Kaisar dengan sentuhannya. Tangan Kaisar memencet tombol private untuk lift itu.
Reynald yang mendapatkan notif di ponselnya, lagi lagi hanya bisa menghela napas.
"Benar benar ya mereka berdua!"
Lift itu berhenti di tengah, tepatnya di ruangan pribadi Kaisar yang hanya Reynald yang tahu.
Kaisar menarik pinggang Aura, mencium bibir Aura. Memojokkan Aura di dinding lift.
Bermain lidah, saling membelit dan saling menikmati. Mereka saling melumat dan bermain lidah beberapa waktu. Saat di rasa napas mereka mulai pendek, mereka saling melepaskan ciuman itu.
Terlihat di mata Kaisar bibir Aura yang bengkak karena ulahnya.
"Masih kuat?" goda Kaisar.
Kaisar tak keberatan jika hanya berciuman, meskipun dia harus menahan mati Matian hasratnya tapi Kaisar tak akan memaksa Aura untuk bercinta dengan nya.
"Kalau kita lanjut sekarang, aku khawatir Meisya akan menangis darah karena mencari mu."
Kaisar tersenyum, dia bahkan lupa jika masih ada satu orang yang membuat masalah di perusahaan nya.
Kaisar lalu mengambil ponselnya, dia menghubungi Reynald untuk mencegah Meisya naik ke lantai ruangannya.
Setelah itu, Kaisar menarik tangan Aura untuk keluar dari lift itu.
Aura tercengang karena ternyata ruangan yang dia masuki bukan ruang kerja Kaisar tapi kamar tidur milik Kaisar.
"Kamu tunggu disini, dan lihat apa yang aku lakuin dari sana."
Awalnya Aura bingung tapi kemudian layar monitor di depannya menyala menunjukkan cctv ruangan lainnya.
Setelah Aura mengerti, Kaisar pergi dari sana menyusul Reynald melewati jalan lain.
"Kantornya banyak banget rahasianya. Benar benar Kaisar banget kalau gini."
Aura duduk manis di pinggir ranjang sambil menikmati minuman kaleng yang tersedia di kamar itu.
Sementara Kaisar sudah masuk ke dalam ruangannya. Disana juga sudah ada Reynald yang sedang menghadang Meisya masuk ke dalam ruangannya.
"Aura, dimana kamu!!"
"Keluar kamu!"
Meisya lagi lagi menggila, dia mencari Aura di dalam ruangan Kaisar tanpa peduli dengan tatapan Kaisar yang nyalang.
Brak.....
Kaisar menggebrak meja di depannya dengan kuat. Barulah Meisya tersadar dengan apa yang dilakukannya.
Meisya ingin mendekat ke arah Kaisar, tapi Kaisar langsung menodongkan senjata nya pada kepala Meisya.
" Cukup aku bilang, kamu kesini membuat onar. Membuat berantakan kantorku, dan kamu seperti orang gila yang mencari Aura. Adikmu nggak ada disini, jadi kenapa kamu berteriak seperti orang gila hah?"
Suara Kaisar menggelegar disana. Reynald meneguk ludahnya kasar. Wajah Kaisar saat ini benar benar merah padam. Tak terlihat jika itu hanya pura pura. Yang tandanya jika Kaisar sedang marah beneran.
Tubuh Meisya mengkerut, dia menggigil ketakutan karena suara Kaisar.
Dia mundur perlahan tapi sayangnya kakinya tersandung ujung meja dan membuat Meisya terjatuh di lantai.
"Ka-kaisar, maafkan aku, maaf.... Tadi aku lihat kamu bersama Aura naik lift." ucap Meisya lirih.
Nada suaranya gemetar penuh ketakutan. Wajah Meisya sudah pucat pasi saat ini.
"Aura? Heh, mata kamu buta. Untuk apa Aura ada disini. Aku nggak ada urusan sama dia. Jadi kenapa Aura harus ada disini?"
Mata Kaisar menyipit, lalu dia berjalan ke arah Meisya dengan wajah yang menakutkan.
"Kamu pikir aku selingkuh sama adikmu? Lucu sekali kamu Meisya, aku bukan kamu yang sering ganti ganti pasangan di luar sana!"
Mata Meisya membola, dia menggeleng pelan. Dia ketakutan karena Kaisar seperti nya tahu jika Meisya berselingkuh di luar sana.
Tangan Meisya menyentuh kaki Kaisar tapi Kaisar menendang Meisya sampai Meisya terjengkang ke belakang.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu. Selama ini aku sibuk kerja bukan karena aku nggak tahu kelakuan mu di luar sana. Aku bukan nenek yang bisa kamu tipu!"
Meisya menggeleng cepat, dia ingin meraih kaki Kaisar tapi tiba tiba ada seseorang yang tiba tiba masuk ke dalam ruangan Kaisar.
"Kai, apa yang terjadi?"
Kaisar menoleh, alisnya terangkat saat melihat Aura masuk bersama Natasya ke dalam ruangannya. Aura yang melihat wajah bingung Kaisar malah dengan tengilnya menggoda Kaisar. Aura bahkan mengedipkan matanya ke arah Kaisar.
Sejak kapan Aura barengan sama mami, bukannya dia ada di kamar? batin Kaisar bingung.
Mata Meisya membelalak saat melihat Aura ada disana bersama Natasya.
"Kaisar, jelaskan sama mami, ada apa ini? Dan Meisya, apa yang kamu lakukan di lantai?" tanya Natasya dengan raut wajah yang bingung.
"Dia nuduh aku selingkuh sama adiknya, dan kemarin dia juga bikin proyekku gagal Mam, aku udah batalin rencana pernikahan ku sama dia sebelum dia ganti rugi semua kerugian kerja sama yang dia timbulkan!"
Setelah mengatakan itu, Kaisar kembali duduk di balik meja kerjanya. Tapi matanya melirik ke arah Aura yang masih berada di belakang maminya.
"Selingkuh sama Aura? Dia ketemu mami di depan kantor. Dia lagi beli minuman." tunjuk Natasya bingung.
Aura mengangkat minuman yang dia bawa lalu di tunjukkan di depan semua orang. Kaisar memilih tak bertanya lagi karena Aura selalu mempunyai rencana di dalam rencana. Begitu juga dengan Reynald yang menggaruk kepalanya bingung. Dia merasa jika Aura ini manusia ajaib yang tiba tiba berpindah pindah tempat dalam sekejap.
"Lihat, ini sudah dua kali kamu bikin ulah Meisya. Setelah ini lebih baik kamu periksa ke dokter jiwa. Aku rasa kamu terlalu membenci adikmu sampai kamu. terus menuduhnya seperti itu."
Meisya berdiri sempoyongan, tubuhnya terasa nyeri karena terkena tendangan Kaisar. Natasya kembali diam, dia ingin tahu apa yang membuat Kaisar sampai semarah itu tadi. Dan saat ini dia sudah tahu alasannya.
"Kaisar, kenapa omongan kamu jahat sekali. Kamu pikir aku gila?"
Nada bicara Meisya sedikit meninggi tanpa disadarinya.
Dan Natasya mulai paham saat ini Meisya menunjukkan jari dirinya secara perlahan.
"Kak, sejak kemarin kamu nuduh aku bersama tunangan mu. Tapi apa kamu punya bukti jika aku merebutnya dari mu? Dan lagi untuk apa aku merebutnya darimu, bukannya kalian juga akan menikah sebentar lagi. Aku juga udah siapin uang buat biaya pernikahan mu sesuai yang kamu minta dan juga papa tempo hari."
Meisya semakin kelabakan karena Aura membuka kartu As nya di depan Kaisar.
"Apa maksud mu Aura? Mereka meminta uang kepadamu untuk biaya pernikahan?"
Untuk yang satu ini Natasya memang tak tahu menahu. Apalagi melihat wajah Aura yang tiba tiba menjadi sedih.
Meisya ingin mencegah Aura bicara tapi Reynald menghalanginya.
"Iya Tante, aku sedang bekerja di luar negeri sambil kuliah. Tapi tiba tiba mereka memaksaku pulang kemari. Dan nggak tahunya ternyata mereka minta uang buat pernikahan Kakak dengan kekasihnya. Kalau aku nggak mau kasih, papa bakal hukum aku dan pukul aku." balas Aura sedih.
Mata Natasya membola, dia lalu menatap Meisya dengan penuh amarah.
"Tidak Tante, dia bohong. Papa nggak pernah pukul dia. Aura selalu dapat kasih sayang dari papa selama ini. Jadi nggak mungkin papa tega pukul dia!" teriak Meisya keras..
Aura menarik sudut baju Natasya pelan, lalu Natasya menoleh ke arah Aura dengan kasihan.
"Kalau Tante nggak percaya aku bisa tunjukkan bekas luka dan juga luka yang masih basah." ucap Aura lirih.
Tanpa banyak berkata lagi, Natasya menarik lembut tangan Aura. Dia di bawa masuk ke dalam kamar pribadi Kaisar yang ada disana.
"Tante, tapi aku malu kalau tahu Tante tubuhku rusak."
Natasya menggeleng, lalu dengan gerakan lambat Aura membuka bajunya. Mata Natasya melebar melihat semua bekas luka itu.
"Aura, kenapa bisa seperti ini?"
to be continued