Bab 15

1312 Words
Kaisar benar benar di buat bertekuk lutut oleh Aura. Pagi itu, Aura menggodanya karena mendengar Meisya sedang mencari Kaisar di kantornya. Kaisar tahu, itu hanya alasan Aura agar Kaisar tak pergi ke kantor. Tak masalah untuk Kaisar mengikuti permainan Aura saat ini. Sejak awal bertemu Aura, dia sudah tertarik. Tatapan matanya, semua yang ada pada Aura membuat Kaisar tak peduli lagi dengan yang lainnya. Kaisar mencium Aura lebih dari yang sebelumnya. Jejak di leher Aura belum hilang tapi Kaisar kembali menambahkannya. Aura meringis saat kulitnya terasa terbakar akibat ulah Kaisar. "Kai ....eungh......" Lenguhan dari Aura membuat tubuh Kaisar semakin panas. Tapi dia tak akan membobol milik Aura saat ini. Setelah beberapa menit berlalu, Kaisar melepas ciumannya pada Aura. Terlihat jelas bibir Aura bengkak karena ulah Kaisar. Ponsel Kaisar kembali berdering, dan itu dari Reynald. Lebih baik ke kantor sekarang, Meisya mengamuk dan melukai orang orang kita! Kaisar melirik Aura, lalu terlihat anggukan kepala Aura sebagai jawaban atas telfon Reynald. Tahan dia, jangan biarkan naik ke atas. Aku kesana lewat jalur khusus. Kaisar mematikan sambungan telfonnya, lalu mengangkat tubuh Aura. Di bawanya Aura kembali ke kamar namun langsung ke kamar mandi. "Baby, kamu mandi disini. Aku mandi di kamar sebelah." Aura mengangguk, sementara Kaisar pergi ke kamar sebelah untuk bersiap. Mata Aura menatap nyalang ke depan, dia tersenyum menakutkan karena perlahan rencananya berjalan. "Meisya, jika dulu kamu berhasil mengambil semua yang aku punya, kali ini aku hanya mengambil Kaisar dari hidupmu. Tapi dengan Kaisar berasa disisiku, jelas akan membuat gila. Bukannya dari dulu kamu selalu bermimpi menjadi pendamping Kaisar untuk menggantikan ku?" gumam Aura. Aura mengguyur badannya dengan air dingin. Dia segera bersiap karena tak sabar ingin melihat bagaimana Meisya semakin menggila di perusahaan Kaisar. Kaisar dan Aura sedang dalam perjalanan ke perusahaan Kaisar. "Apa yang mau kamu lakukan kepadanya? Membuatnya mengamuk kembali?" tanya Kaisar penasaran. "Sepertinya begitu, bukannya semakin dia mengamuk semakin dia harus pergi ke psikiater." Kaisar mengangguk, dia fokus ke arah jalanan sementara Aura sedang memeriksa ponselnya. Disana beberapa kali Robert menghubunginya. Ponselnya kembali berdering dan kali ini dari Bella yang menelfonnya. Ada apa? Aura, kamu nggak mungkin lupa kan kalau Meisya akan menikah? Kenapa kamu nggak buru transfer uang buat keperluan pernikahan nya? Aur melirik Kaisar yang juga sedang mendengarkan suara Bella. Teriakan Bella membuat telinga Kaisar berdengung sakit. Aku dengar kemarin jika kekasih Meisya membatalkan pertunangan mereka. Jadi apa yang harus aku biayain lagi? Atau kalian sebenarnya hanya ingin memerasku? Bella terdiam sepersekian detik, lalu kembali terdengar suara nya yang melengking dengah keras. Aura terpaksa menjauhkan ponselnya dari dekat telinga. Itu urusan kami, jadi jangan ikut campur. Kaisar nggak akan mungkin membatalkan pernikahan dengan Meisya. Dia cinta mati pada Meisya, setiap kali mereka bersama Meisya selalu di manja oleh Kaisar. Mata Kaisar melotot sambil menggelengkan kepalanya cepat. Sedangkan Aura matanya sudah menyipit ke arah Kaisar curiga. Jangan menggangguku lagi! Aura menutup telfon itu karena kesal dengan Kaisar. Kaisar langsung menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Aura menatap Kaisar bingung kenapa Kaisar tiba tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Kenapa malah berhenti?" tanya Aura bingung. Kaisar melepas sabuk pengamannya, lalu duduk menyamping ke arah Aura. "Baby, kamu curiga sama aku?" Aura menaikkan sebelah alisnya, mendengar pertanyaan Kaisar. "Curiga? Kenapa? Memang kamu ngapain?" Aura sebenarnya tahu apa yang di maksud oleh Kaisar, tapi dia menggoda Kaisar untuk melihat seberapa jauh Kaisar perduli dengan perasaan nya. Kaisar menarik dagu Aura, mendekatkan wajah mereka. Aura terlihat menantang Kaisar saat ini. Dan itu yang membuat Kaisar dari awal tertarik dengan Aura. Sorot mata Kaisar yang tajam menembus mata indah Aura. Aura mendadak salah tingkah karena Kaisar terus menatapnya tanpa berkedip. Dia tiba tiba gugup, padahal sudah biasanya Aura bertatapan dengan Kaisar tapi kali ini rasanya berbeda. Hari ini Kaisar hanya diam melihat Aura. Tak lama jempol Kaisar mengusap bibir Aura. "Baby, kita nikah aja ya besok? Aku bener bener nggak tahan mau bikin kamu berteriak di bawah kuasaku!" ucap Kaisar serak. Glek..... Aura meneguk ludahnya kasar, dia sedikit mundur karena wajah mereka terlalu dekat. Aura bahkan bisa merasakan napas Kaisar menerpa wajahnya. "Ka-Kaisar... bisa nggak jangan dekat dekat gini? Kayaknya jantung ku nggak aman kalau kamu terlalu dekat kayak gini." Aura mencoba mendorong d**a Kaisar tapi Kaisar menangkap tangan Aura. "Kenapa hm? Bukannya kamu biasa nya kamu yang berani banget sentuh sentuh aku? Apa berdekatan sama aku kayak gini bikin kamu gugup?" Mata Aura berkedip cepat, dia rasanya tak bisa menahan diri untuk terlalu dekat dengan Kaisar. Biasanya dia yang memulai lebih dahulu tapi kali ini Kaisar yang lebih dahulu menyentuhnya. Melihat Aura yang diam dengan wajah merahnya, Kaisar terkekeh. Dia lalu mencium gemas pipi Aura yang merah seperti tomat. "Gemes banget kalau lagi malu gini." Kaisar menarik wajahnya dari depan Aura, lalu kembali menyalakan mobilnya. Ponselnya sejak tadi terus bergetar tanpa ingin Kaisar angkat. Aura menghembuskan napas panjang saat Kaisar tak lagi menggodanya seperti tadi. "Dia serem banget kalau kayak tadi. Mana jantungku nggak bisa di ajak kompromi. Astaga, Aura ayolah, kamu nggak mungkin jatuh cinta sama dia." Aura berusaha menyangkal semua perasaan yang tiba tiba muncul tanpa bisa dia cegah. Kaisar tersenyum samar saat melihat Aura yang hanya diam sejak dia menggodanya. Tapi untuk urusan pernikahan Kaisar serius. Dia akan memastikan jika Aura akan menikah dengan nya secepatnya. Mobil Kaisar memasuki area perusahaan. Sengaja dia memakai mobil yang lain dan hanya Reynald yang mengetahui itu. Saat Reynald melihat mobil Kaisar sudah memasuki area perusahaan barulah Reynald bisa tenang. Di depannya saat ini Meisya sedang di tenangkan oleh beberapa petugas keamanan. "Reynald, jangan sok jadi orang ya. Kamu itu cuma peliharaan Kaisar. Kamu itu cuma bawahan Kaisar. Nggak punyak hak kamu buat larang aku masuk ke ruangan Kaisar. Dia tunangan ku!" Lagi, Meisya berteriak keras dan menghina Reynald di depan banyak orang. Reynald hanya menatap datar pada Meisya. Tak ingin meladeni Meisya yang terus berteriak sejak tadi. Kaisar dan Aura sudah masuk ke dalam ruangan milik Kaisar. Aura diminta Kaisar untuk menunggu di ruangan itu. Sedangkan Kaisar menemui Reynald yang masih berada di lobi. "Ada apa Rey?" Kaisar berjalan menghampiri Reynald. Meisya yang melihat Kaisar ada disana, ingin melepaskan diri dari cekalan petugas keamanan. Tapi dia tak bisa kabur karena semua petugas keamanan itu adalah anak buah Kaisar khusus di tugaskan di sekitar perusahaan. Reynald menunjuk Meisya dengan dagunya. Mereka berpura pura seolah Kaisar belum tahu jika Meisya ada disana. "Mau apa lagi kamu kemari?" Meisya yang awalnya sudah senang karena Kaisar melihat ke arahnya seketika kecewa. "Kaisar, jangan batalkan pertunangan kita. Aku masih cinta sama kamu!" Kaisar berdecih kesal, bisa bisanya Meisya mengatakan itu di depan semua orang. "Sayangnya, sejak awal aku nggak berniat tunangan sama kamu. Dan juga, apa kamu lupa kalau kamu bikin aku rugi milyaran kemarin." Meisya menggeleng, dia masih berusaha untuk melepaskan diri dari petugas keamanan Kaisar. Tapi tetap tak bisa karena tenaganya jauh lebih besar dari pada Meisya. "Tidak, jangan katakan itu. Nenek Melati akan marah kalau kamu tetap batalin pertunangan kita." "Kalau kamu takut nenek marah, kamu nikah saja sama dia. Karena sejak awal aku nggak ada niat buat nikah sama kamu. Lebih baik kamu pergi dari sini. Selesaikan semua kerugian yang kamu perbuat, dan juga ganti rugi kerusakan yang ada disini. Tanggung jawab karena kamu udah bikin karyawan ku celaka!" Setelah mengatakan itu, Kaisar berbalik pergi dari sana meninggalkan Meisya yang semakin kalut. Kaisar masuk ke dalam lift yang membuat mata Meisya membelalak lebar. Di dalam lift itu, Meisya melihat Aura tengah menatapnya dengan remeh. Tak hanya itu saja, Kaisar yang masuk ke dalam lift langsung memeluk Aura bahkan mencium Aura di depannya. "Aura!!" teriak Meisya marah. Reynald yang tak tahu ada rencana itu langsung menoleh ke lift yang baru saja tertutup. Meisya yang melihat petugas itu lengah berlari ke arah lift seperti orang kesetanan. "Aura, keluar kamu!!!" teriak Meisya keras. Sedangkan Reynald masih menunggu instruksi dari Kaisar. Tak lama ponselnya bergetar, ada pesan masuk dari Kaisar. "Seneng banget bikin orang gila!" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD